
Bab 27
"Ada api!" teriak seorang laki-laki yang melihat munculnya api kecil pada mobil Naresh
"Menjauh dari mobil! Cepat!" teriak seorang laki-laki kepada orang-orang yang berdatangan hendak mendekati tempat kejadian perkara.
Mendengar adanya api membuat semua orang kembali berlari menjauh dari tempat kejadian. Kini hanya ada Kakek Kamandaka dan asistennya, Maheswara, dan Abimana yang masih mencoba mengeluarkan Naresh.
"Yuda, cepat selamatkan Naresh!" teriak Kakek Kamandaka dengan berteriak sangat keras.
Laki-laki itu pun menarik tubuh Naresh yang sudah tidak sadarkan diri. Begitu tubuh itu berhasil di keluarkan langsung dia gendong dan berlari menjauh dari sana. Sementara Kakek Kamandaka dibawa oleh Abimana agar bisa berlari.
Tidak lama kemudian terdengar ledakan keras yang berasal dari mobil Naresh dan asap hitam bercampur api membumbung tinggi. Orang-orang yang ada di sana memekik ketika terdengar suara ledakan keras tadi.
Maheswara pun menghubungi ambulan atas perintah Kakek Kamandaka. Dalam waktu 10 menit mobil ambulans dan disusul mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian. Naresh langsung mendapatkan pertolongan medis begitu petugas selesai memeriksa nadi dan pupil matanya.
__ADS_1
"Segera bawa korban!" titahnya kepada rekan yang membawa brankar.
***
Malaika sedang duduk di depan cermin. Kini wajahnya sudah dia rias dengan menggunakan make up meski tipis. Wanita ini tidak suka kalau memakai riasan tebal. Naresh juga tidak menyukai perempuan yang ber-make-up layaknya pemain Kabuki.
Gadis itu melirik ke arah jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 09:57 dan sebentar lagi waktu yang dijanjikan akan tiba.
"Aku sudah cantik, 'kan?" gumam Malaika sambil mematut kembali melihat riasan wajah, pakaian, dan jilbabnya.
Malaika baru menyadari kalau calon suaminya itu terlalu terlambat sampai ke sini. Jarak rumah Kakek Kamandaka ke rumah Nenek Romlah sekitar 25–30 menit dan ini sudah 55 menit semenjak Naresh menelepon dirinya tadi.
"Mungkin terjebak macet, Nek," balas Malaika agar neneknya tidak cemas.
"Apa iya jam segini macet?" gumam wanita tua itu sambil meninggalkan kamar cucunya.
__ADS_1
Rasa cemas kini menguasai hati Malaika, lalu dia pun menghubungi Naresh hendak menanyakan posisi sedang berada di mana. Hanya ada suara operator yang menjawab panggilan gadis itu. Meski sudah beberapa kali mencoba masih tetap saja sama.
"Aku coba hubungi Kakek Kamandaka, beliau katanya ikut tadi," kata Malaika bermonolog sambil mencari nomor kontak laki-laki tua itu.
Nomor Kakek Kamandaka tersambung, tetapi tidak diangkat olehnya. Malaika mencoba beberapa kali masih saja tidak respon. Maka dia pun menghubungi Maheswara. Pemuda itu selalu past respon jika dia menghubungi dirinya terlebih dahulu. Panggilan itu pun langsung tersambung.
"Halo, Malaika," sapa Maheswara begitu mengangkat panggilan dari wanita yang sudah mencuri hatinya sejak masih remaja.
"Assalamualaikum, Maheswara. Saya mau tanya, Naresh saat ini sedang berada di mana, ya?"
"Malaika, maaf kalau apa yang aku katakan ini akan membuat kamu bersedih," kata Maheswara dan itu sukses membuat jantung Malaika seakan jatuh dari tempatnya.
"Ada apa dengan Naresh? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Malaika mulai panik.
"Tidak. Dia mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit," balas Maheswara dengan pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Malaika.
__ADS_1
Mendengar ucapan Maheswara membuat jiwa Malika terguncang hebat. Dalam sekejap semua terasa gelap bagi Malaika. Terakhir yang dia ingat adalah suara teriakan Nenek Romlah.