Presdir ku Suami ku

Presdir ku Suami ku
Minta pulang


__ADS_3

Merasa ada yg aneh, sekar langsung menemui Aufar di tempat gym. Disana sekar memberitahu kan masalah yg di alami tiwi tadi. Aufar juga bingung harus ngomong apa ke sekar. Karena yg biasanya lebih peka terhadap wanita, itu adalah rendra.


"Gimana ya sayang, aku juga bingung. Coba deh kamu tanya dulu baik-baik sama tiwi masalah nya apa. Nanti baru kita cari solusi nya".


"Huft, yaudah deh. Nanti aku coba bicara dengan tiwi dulu".


"Kamu masih lama mas di sini?" Aufar langsung menghentikan aktifitas nya lalu menghampiri sekar dengan raut wajah yg tak bisa di artikan oleh sekar.


"Mas.. kalau kamu masih lama, nggak apa-apa kok. Aku balik ke kamar dulu ya.." sekar langsung mundur perlahan karena pikir nya jika suami nya sedang marah padanya karena pertanyaan nya tadi.


Aufar langsung menangkap pinggang kecil sekar, dan menarik nya agar lebih dekat dengan nya. Aufar menjadi kecanduan saat melihat istri nya sekarang. Apalagi setelah melihat kehebatan istri nya dalam memberikan servis untuk nya di ranjang. Hal itu yg semakin membuat nya semangat dalam meminta hak nya tiap hari.


"Mas, kamu mau apa?" tanya sekar dengan gugup.


"Mas nggak akan bisa nge-gym Kalau kamu terus berada di hadapan mas" Aufar mendekatkan wajah nya tepat di depan mata sekar.


Sekar langsung menutup mata nya perlahan, karena dia tau apa yg akan terjadi setelah nya. Deruh nafas Aufar sangat terasa di permukaan wajah nya.


Aufar mengelus bibir sekar dengan lembut, dan setelah nya kalian pasti sudah tau apa yg akan terjadi.


Untung nya gym itu masih dalam kawasan kamar hotel mereka, jadi tidak ada yg akan melihat kemesraan mereka.


***


Hari sudah hampir malam, sekar maupun Aufar sedang bersiap untuk pergi makan malam di bawah. Tak lupa, sekar juga memanggil tiwi untuk pergi makan malam bersama mereka.


Tiwi kelihatan nya sudah sedikit membaik, tapi wajah nya masih seperti orang yg sedang kecewa. Entah lah, sekar tidak tau apa yg sudah terjadi dengan tiwi, tapi dia juga nggak ingin banyak bertanya, takut tiwi merasa tersinggung.


"Oh iya wik, besok pagi-pagi sekali kita sudah harus berangkat ke kantor ya. Karena kita akan meeting dulu sebelum siang nya lounching. Dan kakak harap kamu bisa selesai kan berkas-berkas yg akan kakak presentasi kan ke mereka" Aufar berkata di sela-sela makan malam nya.


"Iya kak" hanya jawaban itu yg keluar dari mulut tiwi.


Sekar dan Aufar saling menatap, merasa ada yg aneh dengan sikap tiwi hari ini.


"Wik, kamu belum siap makan ya?" sekar bertanya dengan sangat hati-hati.


"Belum. Kalau kalian mau ke kamar, duluan aja. Aku masih ingin disini" ucap tiwi dengan acuh.


"Oh gitu, yaudah deh. Kita masuk duluan yaa. Jangan kemana-mana wik, ini udah malam". sekar merasa cemas dengan sikap tiwi hari ini, lalu dia pun memperingati tiwi agar berhati-hati.


"Iya". Jawaban yg sangat singkat.


Ting..


Terdengar bunyi sebuah pesan masuk di handphone tiwi. Dengan malas, tiwi mengambil handphone itu dan membaca nya.


Pria Misterius


"Bisa kita bicara sebentar? aku janji nggak akan lama"


"Nggak penting" pikir nya.


Tiwi pun melanjutkan makan malam nya kembali. Dia merasa telah di bohongi oleh rendra. Niat nya hanya membantu agar rendra bisa kembali ke rumah utama, namun tiwi tidak menyangka jika rendra sejahat itu padanya.


Bahkan dengan lantang rendra mengatakan hal-hal yg buruk tentang nya. Dan hal itu yg membuat tiwi merasa sangat marah dan kecewa.


"Tunggu sampai besok. Maka aku akan langsung meminta mereka untuk cepat pulang ke Indonesia" tiwi berkata sambil memainkan garpu nya dengan menusuk-nusuk garpu itu ke arah makanan yg ada di piring nya.

__ADS_1


Setelah merasa puas saat menyantap makanan tadi, tiwi langsung bergegas untuk pergi ke kamar nya lagi. Namun saat di tengah jalan, sebuah tangan menahan lengan siku tiwi agar dia berhenti di tempat.


Tiwi menoleh kebelakang dan melihat siapa yg berani menahan lengan siku nya.


"Lepasin" ternyata orang itu adalah rendra.


"Izinkan aku bicara sebentar" rendra sudah melepaskan tangan nya dan bicara dengan lembut.


"Nggak ada lagi yg mau di bicarakan" ucap tiwi lalu melenggang pergi dari hadapan rendra.


"Dengar kan aku dulu, tiwi" rendra merasa sangat bersalah dengan perlakuan nya tadi pada tiwi.


Namun tiwi tetap melanjutkan langkah nya untuk menuju lift.


"Bagaimana cara ku untuk meminta maaf pada nya, aargghhh!!!" rendra menendang sebelah kaki nya kedepan. Padahal didepan nya tidak ada benda apa pun, hanya angin yg dia tendang tadi.


***


"Sayang, kami berangkat ya.. Do'ain agar acara nya lancar". Aufar pamit pada sekar saat sekar mengantar mereka ke mobil.


"Oh iya, kak. Aku mau setelah acara nya selesai nanti, kita langsung pulang ke Indonesia. Bisa kan?" Sekar menarik nafas nya dengan berat.


"Kamu kenapa wik? kalau ada masalah itu cerita ke kita. Karena dari kemarin sikap kamu aneh" sekar menggenggam tangan tiwi dengan lembut.


"Aku nggak apa-apa. Cuma ngerasa nggak enak badan aja". alibi tiwi, agar sekar percaya.


"Kamu sakit wik? Kenapa nggak bilang ke aku. Kalau gitu, lebih baik tiwi nggak usah ikut kamu kerja ya mas" sekar bertanya pada Aufar.


"Yaudah nggak apa-apa. Kamu istirahat aja dulu di kamar. Nanti di sela-sela kerjaan kakak, kakak akan pesan tiket untuk kita pulang ke Indonesia" sebegitu perhatian nya Aufar pada tiwi.


"Terimakasih kak".


Bisa-bisa nya Aufar mencium sekar di depan tiwi. Nggak tau apa kalau tiwi sedang galau tingkat dewa.


"Yaudah yuk kita masuk" sekar menggandeng lengan tiwi untuk masuk ke dalam hotel.


***


Di kantor, lagi-lagi Aufar bertemu dengan rendra. Namun seperti nya rendra tidak menolak saat Aufar mengatakan sesuatu padanya.


"Ren, gua harap lo bisa pulang dan kembali kerumah mamah" Aufar memberi jeda pada ucapan nya.


"Dan setelah acara lounching nanti selesai, kami akan langsung pulang malam nya. Kalau lo mau ikut, silahkan ikut sama kita. Karena tiwi lagi sakit, makanya kita percepat untuk pulang"


"Cuma itu yg ingin gua sampek'in sama lo, semoga lo bisa berubah pikiran" setalah mengatakan banyak hal, Aufar langsung pergi ke ruangan yg sudah di siapin sama pihak kantor nya.


"Apa? tiwi sakit?"


Setelah Aufar pergi, rendra masih mematung di tempat nya, sepertinya dia sedang berfikir keras. Lalu tiba-tiba..


"Mas Rendra"


"Suara itu?" tubuh rendra seketika menegang, lalu dia berbalik dan melihat apa kah benar dugaan nya tadi.


"Sekar.." namun ada yg aneh, kenapa jantung nya nggak berdetak kencang saat melihat sekar. Biasanya dia selalu merasa deg-degan saat menatap mata sekar.


"Mas, bisa kita bicara sebentar?" rendra langsung mengangguk dan mengikuti langkah sekar sampai di depan perusahaan.

__ADS_1


"Kenapa kamu kesini sekar? kamu nggak takut jika Aufar marah?" Rendra sepertinya camas jika Aufar akan salah paham lagi dengan nya.


"Aku bisa menghadapi mas Aufar, tapi aku nggak bisa melihat mamah sakit karena merindukan kamu mas" sekar sedikit menunduk karena merasa bersalah dalam hal ini.


"Ini semua karena aku mas. Karena aku, kamu sama mas Aufar pisah. Karena aku, kamu meninggalkan kedua orang tua mu. Dan aku akan bertanggung jawab atas semua ini mas"


"Ku mohon kembali lah mas.. aku nggak ingin jika kamu menjadi anak yg durhaka terhadap orang tua mu mas" dilihat nya rendra hanya diam tanpa bicara, sekar pun melanjutkan ucapan nya.


"Jika mas nggak kembali, aku yg akan pergi. Aku akan pergi dari hubungan ku, aku juga akan pergi meninggalkan jakarta dan kembali ke kampung" sekar sedikit mengancam agar rendra mau kembali ke rumah?


"Hey.. kamu ngomong apa sih barusan? mas mohon jangan seperti ini, sekar". rendra seperti nya mulai terpengaruh dengan ancaman yg sekar ucapkan tadi.


"Oke, mas akan ikut kamu pulang. Tapi mas mau nanya sesuatu sama kamu" kelihatan dari raut wajah rendra seperti nya sedang serius.


"Mas mau nanya apa?"


"Siapa tiwi?" dia langsung menaikkan alis nya sebelah, bingung dengan pertanyaan yg di ajukan rendra.


"Mas nanya siapa tiwi?"


"Iya, sekar".


"Tiwi itu teman aku dari kampung mas. Dia datang ke jakarta karena aku yg meminta nya untuk datang. Lalu mas Aufar juga meminta tiwi untuk ikut bekerja di kantor nya sebagai staff management". sekar menjelaskan dengan detail pada rendra.


"Kenapa mas tanya tentang tiwi?"


"Oh, nggak apa-apa. Mas nanya aja".


"Gimana kabar kamu?" tanya rendra dengan senyum hangat.


"Alhamdulillah aku sehat mas.. Mas gimana kabar nya?" tanya sekar balik.


"Alhamdulillah, sekarang mas jauh lebih baik dari yg sebelum nya".


"Ehm, gimana kabar bayi kamu?" sekar langsung menunjukkan raut wajah sedih.


"Aku keguguran mas, aku nggak bisa jaga bayi aku. Maafin aku mas.." sekar menundukkan wajah nya.


"Kenapa kamu harus minta maaf sama mas?"


"Karena dulu mas yg ingin menjadi ayah dari bayi ini" ucap sekar dengan senduh.


"Semua nya sudah berlalu sekar. Yg seharusnya lebih pantas menjadi ayah dari bayi kamu itu adalah Aufar. Dan ternyata allah jauh lebih sayang pada bayi kamu. Jadi kamu harus mengikhlaskan semua nya ya.." Rendra berusaha untuk menghibur sekar dengan menepuk pundak sekar dengan lembut.


Tanpa mereka sadari, ternyata Aufar melihat semua nya. Namun kali ini dia merasa kesal dan marah. Bahkan Aufar bersyukur mempunyai adik yg rela melakukan segalanya untuk kebahagiaan keluarga nya.


Hallo semua nya.. Ani yura balik lagi nih. Maaf ya sudah beberapa minggu terakhir author nggak update cerita lagi..


Harap maklumi author ya..


Author seorang ibu rumah tangga yg mempunyai 2 orang anak yg masih kecil, dan masih tinggal dengan mertua.. Dan kebetulan mertua author juga pedagang, jadi author harus ikut bantuin.


Dan sudah 2 minggu ini author lagi sakit karena kecapek'an jualan juga..


Jadi mohon dukungan nya ya😊 di like yg banyak, di share ke grup manapun juga boleh..


Bikin author semakin semangat buat update cerita nya..

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah selalu membaca cerita ini..


Semoga kalian semua sehat selalu yaaa🤗


__ADS_2