Presdir ku Suami ku

Presdir ku Suami ku
Memilih Untuk Mandiri


__ADS_3

"Ma.. maafkan rendra ya sudah membuat mama seperti ini" rendra melepaskan pelukan nya.


"Seperti apa nak? mama baik-baik aja kok, mama hanya sedang menunggu kedatangan kamu kembali di rumah ini" ucap mama yg masih terlihat tegar.


"Mama hanya memikirkan bagaimana kondisi kamu di luar sana. Apakah kamu bisa makan dengan enak, apakah kamu punya tempat tinggal yg layak, karena kamu melepaskan semua fasilitas yg selama ini kamu gunakan, semua itu mama pikirkan nak. Papa mencari mu kemana-mana, tapi kamu seperti angin, hilang tanpa jejak" mama mulai mengatakan isi hati nya.


"Yaudah, sekarang rendra kan sudah di hadapan mama. Mama janji ya nggak akan sedih lagi, mama harus kuat, harus sembuh. Rendra nggak mau kalau sampai mama nggak hadir di pernikahan rendra" tiwi langsung melotot kan mata nya dengan mulut yg ternganga.


"Apa sayang? kamu mau nikah? Kamu sudah punya calon istri? Dimana calon istri kamu?" bertubi-tubi mama bertanya, namun hanya di balas dengan senyuman oleh rendra.


"Mama do'ain rendra ya, biar nanti dengan segera rendra bawa calon istri rendra kesini" ucap rendra dengan percaya diri.


"Percaya diri sekali dia" tiwi menatap rendra dengan jengah.


"Baiklah, mama akan menunggu sampai kamu siap membawa calon menantu mama kerumah" mama terlihat bahagia saat mendengar pengakuan dari rendra.


"Tapi ma, ada yg ingin rendra katakan pada mama dan juga semua nya" Rendra bergantian menatap mama dan juga yg lain nya.


"Apa itu nak?" tanya papa Penasaran.


"Izinkan rendra untuk tetap tinggal di rumah yg saat ini rendra tempati ma, pa" papa mengkerut kan kedua alis nya.


"Maksud kamu nak?" tanya mama.


"Maksud nya, rendra nggak bisa tinggal dirumah ini mah. Rendra masih ada kontrak dengan perusahaan tempat rendra bekerja saat ini" rendra berharap agar mama nya mengerti.


"Tapi kenapa nak? Jadi selama ini kamu tinggal dimana?" mama sepertinya belum bisa terima jika rendra lagi-lagi meninggalkan nya.


"Rendra hanya ingin hidup mandiri ma. Tolong izinkan rendra ya ma.." rendra mencoba meyakinkan mama nya.


q


"Yaudah, tapi kamu harus janji, kamu akan kerumah setiap hari sabtu, dan wajib menginap disini sampai hari minggu nya ya nak" mama mengizinkannya tapi memberikan nya syarat.


"Baik ma.." rendra tersenyum sambil mengelus kedua tangan mama nya.


"Yaudah lebih baik kita sarapan dulu ya.." sahut papa.


***

__ADS_1


"Jadi, siapa gadis itu nak?" pak sanjaya bertanya di sela-sela waktu sarapan bersama semua anggota keluarga. Namun pertanyaan pak sanjaya membuat tiwi tersedak.


"Tiwi, kamu nggak apa-apa? Ini di minum air nya" tiwi langsung menerima air pemberian dari rendra.


Papa dan mama hanya bisa menyaksikan perlakuan manis rendra terhadap tiwi.


Sekar dan Aufar saling menatap lalu tersenyum melihat kearah mama dan papa nya.


Papa bertanya pada aufar dengan menggunakan bahasa isyarat. Aufar hanya mengangguk membenarkan pemikiran papa nya. Mulut papa langsung membulat dengan sempurna, lalu dia pun membisikkan sesuatu ke telinga istri nya. Mama juga melakukan hal yg sama seperti suami nya.


"Ekhem.." papa berdehem, agar rendra segera melepaskan pandangan nya kepada tiwi.


"Apa masih sakit tenggorokan nya nak?" mama bertanya dengan ramah pada tiwi.


"Sudah lumayan bu.." jawab tiwi dengan ramah.


"Yasudah, mari di lanjutkan makan nya" ucap mama dengan tersenyum.


Rendra dan juga tiwi jadi terlihat canggung. Tiwi malu saat Rendra dengan sigap memberikan air padanya, namun sekaligus tiwi juga merasa bahagia karena rendra begitu perhatian pada nya.


"Duh.. bikin aku malu aja deh" tiwi ngedumel dalam hati.


Tiwi kebingungan saat ingin mandi di kamar tamu, karena kamar mandi nya berbeda dengan kamar mandi yg ada di rumah sekar.


"Ya allah, kenapa ini malah lebih ribet dari punya sekar. Begini amat jadi orang kaya. Punya rumah gedongan, melebihi gedung tempat pernikahan pula lagi. Gitu yg datang orang miskin kayak aku, hahaha!! Luar biasa" tiwi cengar cengir sendiri sambil melihat pantulan dirinya di cermin yg ada di wastafel toilet.


"Di coba aja deh, mana tau aku pintar, haha..." tiwi terbahak-bahak karena kekonyolan nya sendiri.


Tapii tiwi seperti nya salah tekan tombol deh, dan akhirnya...


"Aaaaa!!! panas.. panas.." tiwi berteriak, namun tidak ada yg mendengar karena sekar dan Aufar kamar nya berada di atas. Orang tua Rendra juga kamar nya di atas. Tapi tiba-tiba..


"Kamu kenapa? Ya ampun kok bisa kek gini.." rendra datang tepat waktu, dia langsung mematikan tombol yg menghubungkan air panas itu.


Untung aja tiwi belum membuka pakaian nya, kalau tidak... mungkin saat ini juga mereka akan di nikahkan sama pak sanjaya.


"Kamu mau ngapain tekan tombol itu! itu kan untuk air panas" rendra panik karena melihat bahu kiri sekar yg sedikit melepuh.


"Tadi aku mau mandi, tapi nggak ngerti caranya. Aku kira tombol itu untuk air dingin, ternyata aku salah.." tiwi merasa bersalah sekaligus kesakitan karena bahu nya yg terasa perih, akhirnya dia pun menangis.

__ADS_1


"Tunggu disini, aku ambil obat nya dulu" rendra beranjak dari duduk nya untuk mencari kotak obat di dalam kamar itu.


"Kamu tahan ya, mungkin ini sedikit perih, tapi ini harus di obati" rendra seakan mengerti dengan apa yg di rasakan tiwi saat ini.


"Maafin aku rendra. Aku nggak tau cara menggunakan nya. Aku ini kan orang kampung, jadi nggak ngerti dengan barang-barang yg di miliki orang kaya seperti kamu. Maaf karena aku sudah merepotkan mu" tiwi menangis sesenggukan.


"Seharusnya aku yg minta maaf sama kamu. Karena kamar mandi itu, kamu jadi terluka seperti ini" ucap rendra sambil terus mengobati luka tiwi.


"Terimakasih ndra.." tiwi menatap Rendra dari dekat. Dia baru menyadari, jika melihat nya dari dekat seperti ini, ternyata dia jauh lebih tampan dari pada yg sebelum nya.


"Sama-sama" rendra pun menatap tiwi dengan dekat.


"Eh tunggu deh, kamu kok bisa langsung datang kesini? kamu ngikutin aku ya!!" tatapan halu tiwi langsung berubah menjadi tatapan singa yg sudah siap menerkam mangsa nya.


Rendra menarik nafas nya dengan panjang.


"Kamu lihat itu? Pintu yg disebelah sana" tiwi mengikuti arah jari telunjuk rendra.


"Iya aku lihat. Ada apa dengan pintu itu? Oh.. mau cari alasan supaya nggak ketahuan kalau kamu sebenarnya ngikutin aku? Iyaa!!" tiwi mengira jika rendra hanya mengarang.


"Ya allah.. sampai kapan sih kamu bisa percaya sama aku? Salah paham terus dari kemarin" rendra terlihat kesal karena lagi-lagi rendra terus di salahkan oleh tiwi.


"Lalu? hubungan dengan pintu itu sama tuduhan aku tadi ke kamu apa? Kalau ngomong itu yg jelas dong" ucap tiwi seenak nya.


"Nih, dengarin aku baik-baik. Pintu itu terhubung langsung ke kamar aku. Karena kamar aku berada disebelah kamar ini, sudah paham?" tiwi hanya mengangguk dan tersenyum kikuk.


"Yaudah ini sudah aman kalau harus kena air, tapi kalau mandi jangan lama-lama. Nanti takut nya luka kamu ini semakin melepuh" rendra pun berdiri bersiap ingin keluar dari kamar tiwi.


"Terimakasih" hanya kata-kata itu yg bisa di ucapkan oleh tiwi pada nya.


Setelah nya, tiwi pun langsung bergegas mandi, dan berganti pakaian yg tadi ia bawa. Tubuh nya yg merasa sangat lelah, meminta hak nya untuk beristirahat sejenak. Tiwi pun merebahkan tubuh nya di kasur empuk bak cheesecake itu.


Dan akhirnya tiwi masuk ke alam mimpi yg indah di pagi hari ini..


🌹🌹🌹


Jangan lupa di like, komen, di jadikan favorit juga ya..😊


Oh iya, tips nya juga jangan lupa readers kesayangan akuhh🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2