
Waktu di Indonesia menunjukkan pukul 06.30 wib. Selama itu perjalanan yg di tempuh sekar, Aufar maupun tiwi.
Setelah hampir 1 jam lamanya di perjalanan dari bandara Soekarno Hatta ke rumah mamah, akhirnya mereka pun sampai dengan selamat.
Rendra mematung saat melihat rumah yg selama ini ia rindukan. Tanpa sadar, air mata rendra keluar dari pelupuk mata nya. Dia pun menyeka air mata nya dengan segera karena takut di lihat oleh Aufar dan yg lain nya.
"Ma..Pa.. Rendra pulang. Rendra udah sangat merindukan masakan mama.." ucap rendra dalam hati sambil terus menatap rumah megah di hadapan nya itu.
"Yok adik ipar, kita masuk. Bismillah yah.." ajak sekar.
Tiwi juga masih mematung di tempat nya. Dia terperangah saat melihat gedung Putih yg megah itu. Merasa kagum dengan setiap design yg ada di rumah orang tua rendra tersebut.
"Aku ngerasa seperti mimpi bisa berada di sini. Rumah sebesar ini gimana cara nya merawat nya? Kelihatan dari luar nya aja sudah sempurna, gimana di dalam nya nanti? Aku nggak sanggup melihat nyaa.." tiwi nggak sadar saat rendra terus melihat kekonyolan nya. Rendra merasa gemas melihat kepolosan tiwi.
Tiwi pun berjalan dengan gontai memasuki rumah, rendra mengikuti nya dari belakang. Saat sudah masuk kedalam, tiwi lagi-lagi di buat takjub dengan seluruh design yg ada di dalam rumah milik orang tua rendra.
"Nggak perlu syok gitu, nanti kamu juga akan tinggal disini. Bersama ku tentunya.." rendra menampilkan senyum tampan nya pada tiwi, sedangkan tiwi hanya mematung merenungi setiap perkataan yg ucapkan rendra barusan padanya.
"Apa?? Oh..kamu ngarep ternyata.." tiwi pun menyeringai, namun dalam hati nya merasa senang dengan perkataan rendra tadi.
***
"Assalamualaikum ma.." Aufar membuka pintu kamar mama nya dan di susul oleh sekar dari belakang.
"Kamu sudah pulang nak? kemarilah" mama yg masih terbaring di kasur dengan syal yg dia lingkarkan di leher nya sudah menunjukkan jika mama nya sedang sakit, wajah nya yg tampak pucat dan lesuh itu membuat nya tidak bersemangat menjalani keseharian nya.
"Gimana kesehatan mama? Apa sudah membaik ma?" tanya Aufar memastikan kondisi mama nya.
Mama pun tersenyum sambil memegang telapak tangan anak nya, Aufar.
__ADS_1
"Dari awal mama selalu baik-baik aja nak, nggak ada yg perlu di cemaskan. Mama hanya...merindukan adik kamu, rendra" air mata mama berhasil lolos keluar, namun dia langsung menyeka nya.
"Ma, Aufar tau sejak kepergian rendra, kesehatan mama menurun" Aufar membero jeda pada ucapan nya.
"Tapi sekarang mama nggak perlu bersedih lagi, Aufar punya kejutan untuk mama, mama pasti seneng" Aufar menatap mama nya dengan tersenyum.
"Iya ma, kita punya kejutan buat mama. Mama jangan sedih lagi ya..." ucap sekar dengan bahagia.
"Kejutan apa nak?" mama bertanya dengan penasaran.
Sedangkan di ruang keluarga, rendra sudah lebih dulu bertemu dengan papa nya. Pak Sanjaya terlihat syok saat melihat anak nya kembali ke rumah.
Tanpa mengucapkan sesuatu, mereka berdua seperti nya sudah tidak bisa lagi membendung rasa rindu diantara mereka. Rendra menghampiri papa nya lalu memeluk nya sambil menangis karena rindu. Begitupun papa nya, dia berjalan menghampiri anak nya dan dengan segera memeluk nya dengan erat.
Setelah beberapa menit mereka berpelukan, pak sanjaya melepaskan pelukan nya dan sedikit meninju dada rendra.
"Kenapa kamu lakukan itu nak? Apa kamu tau betapa menderita nya mama kamu setelah kepergian kamu dari rumah ini? Setiap hari papa mencari keberadaan mu, tapi papa gagal ndra"
"Pa.. jangan seperti ini, rendra nggak suka liat papa nangis" ucap rendra sambil melepaskan kedua tangan papa nya.
"Kenapa kamu nggak suka liat papa nangis, hm?" tanya pak sanjaya dengan polos nya.
"Karena kalau papa nangis, muka papa seperti badut yg ada di sirkus itu pa.." rendra menggoda papa nya agar tersenyum kembali.
"Kamu ini, bisa-bisa nya bikin papa senyum lagi" papa pun kembali merangkul rendra dengan hangat.
Lalu pak sanjaya melihat seorang gadis berdiri di belakang rendra. Dia pun menghampiri gadis itu.
"Siapa dia nak?" tanya papa sambil berjalan kearah tiwi.
__ADS_1
"Nama nya tiwi pa" Rendra memperkenalkan tiwi pada papa nya.
"Assalamualaikum om.. saya tiwi, sahabat nya sekar dari kampung" tiwi menyapa dengan hormat, sambil meraih tangan pak sanjaya untuk menyalami nya.
Pak sanjaya pun tersenyum, Lalu berkata..
"Apakah kamu juga kekasih nya rendra, anak saya?" pertanyaan papa membuat rendra menjadi salah tingkah.
"Maaf pak, saya juga baru mengenal beliau kemarin. Sebenarnya sudah 2 minggu saya menetap di rumah kak Aufar dan juga sekar, namun saya belum pernah bertemu dengan bapak" tiwi berkata dengan sangat sopan. Hal itu tak lepas dari pandangan rendra, dia melihat tiwi yg menghormati orang tua, membuat nya semakin yakin ingin menikahi tiwi.
"Oh begitu.. Yaudah lebih baik kita lihat mama di kamar" pak sanjaya pun berjalan sambil merangkul pundak rendra dengan kuat.
Setelah mereka sampai di depan kamar. rendra mendengar setiap perkataan yg keluar dari mulut mama nya. Dia nggak menyangka akan jadi seperti ini keadaan nya. Bagaimana jika dia tidak pulang dalam waktu yg lama, mungkin rendra akan menjadi anak yg durhaka karena sudah membiarkan mama nya menderita selama itu.
"Maa... Rendra pulang ma.." Rendra masuk dan berjalan kearah mama nya. Dada nya terasa sesak melihat kondisi mama nya yg seperti ini.
"Anak mama.. kamu kembali sayang? Mama rindu sama kamu nak.. kenapa mama hubungi kamu nggak pernah mengangkat nya? sebesar itukah kesalahan yg mama berikan ke kamu nak?" mereka berdua saling berpelukan melepas rindu yg terasa sesak di dada.
Aufar melihat itu membuat nya terharu dan juga bahagia. Dia tidak menyangka jika dia akan menjadi sosok yg lembut kepada keluarga. Lalu dia menatap sekar dengan tatapan yg teduh. Tatapan itu mengisyaratkan jika dia sangat berterimakasih pada istri nya.
"Sayang.. Terimakasih banyak karena kamu, kita semua bisa kumpul seperti ini, karena kamu, mas bahkan lebih jauh lebih dekat dengan mereka" Aufar menggenggam sebelah tangan sekar.
"Mas, ini semua juga berkat kamu.. Kamu hebat sayang.." sekar memuji kemuliaan hati suami nya.
Tanpa menjawab, Aufar lebih memilih memeluk sekar dengan hangat. Tiwi yg melihat pemandangan ini juga merasa bangga dengan rendra. Mungkin dia melakukan itu karena perasaan nya terhadap sekar yg teramat dalam.
"Begitu besar kah rasa cinta mu terhadap sekar waktu itu? Aku harap sekarang rasa cinta yg kamu miliki terhadap sekar sudah benar-benar hilang ndra, sehingga aku bisa membuka hati ku untuk mu" tiwi berkata dalam hati.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa di like, komen, dan kasih tip yg banyak buat author yaa...😘😘