Presdir ku Suami ku

Presdir ku Suami ku
Mengalah


__ADS_3

Hay guys...😊


Hari ini aku update lebih banyak ya 🤭


Yuk ah di like dulu sebelum membaca..😘


Terimakasih cuyungg 🤗🤗


🍃


🍃


Malam pun tiba, saat nya tiwi memberi keputusan untuk kehidupan nya. Dia terus saja mondar mandir di dalam kamar nya, Merasa gelisah dan cemas dengan apa yg akan menjadi keputusan nya nanti.


Suara mobil terdengar sampai ke dalam kamar nya. Hal itu semakin membuat tiwi merasa gugup. Dia terus bercermin melihat dirinya di pantulan kaca.


"Assalamualaikum.." seorang bapak paruh baya yg tampan mengetuk pintu rumah kami. Di yakini tiwi, bahwa mereka pasti orang yg di maksud oleh ayah nya.


Tiwi mengintip di balik kain jendela kamar nya, melihat ada 2 orang yg masuk kedalam rumah. Dia pun sedikit lega karena di pikirnya orang yg akan di jodohkan oleh ayah nya tidak ikut hadir. Namun pada saat dia ingin menutup kain jendela nya, dia melihat seorang pemuda tampan keluar dari mobil dengan gaya nya yg cool.


Saat melihat wajah pemuda itu, begitu terkejut nya dia melihat wajah itu. Dia pemuda yg terus mengganggunya saat di Perjalanan tadi.


"What?? cowo itu? apa dia?? nggak mungkin, ini pasti salah."


Tok..tok..tok..


"Tiwi, keluar lah nak. Tamu kita sudah datang." bunda mengetuk pintu kamar tiwi dan meminta nya untuk keluar.


"Iya bun.. sebentar." sahut tiwi dari dalam. Ia pun kembali menutup kain jendela, dan membukakan pintu.


"Yuk nak, tamu ayah kamu sudah datang. Bantu bunda untuk menghidangkan cemilan dan teh buat tamu kita." bunda pun langsung merangkul tiwi untuk ikut bersama nya ke dapur.


Setelah selesai membantu, tiwi diminta oleh bunda untuk mengangkat dan menyajikan hidangan itu kepada calon besan nya.


Setelah sampai di ruang tamu, sekar menyuguhkan hidangan nya tadi pada ketiga tamu nya. Saat hidangan terakhir dia suguhkan pada pria tampan yg ada di hadapan nya saat ini. Hal itu sontak membuat


pandangan pria itu teralihkan ke wajah tiwi, wajah yg sangat dia sukai sejak pertama mereka bertemu.


"Kamu?" tiwi yg sudah tau dari awal saat dia mengintip di jendela tadi hanya bersikap biasa, seolah tidak saling mengenal.


"Silahkan diminum mas teh nya." tiwi pun tersenyum pada pria itu.


"I-iya." jawab nya terbata-bata. Tiwi pun kembazli duduk di sofa tepat di sebelah bunda nya, namun posisi nya berhadapan dengan pria tampan itu, sehingga membuat pria itu lebih mudah untuk menatap nya.


"Jadi ini, tiwi kecil yg dulu selalu minta gendong padaku wo?" tiwi hanya menunduk dan tidak merespon apapun.


"Iya wan. Dia anakku, tiwi." jawab ayah yg tersenyum melihat ku.


"Nak, apa kamu masih ingat dengan pak irawan? beliau adalah teman ayah sedari dulu. Dulu dia punya putra yg sangat aktif dan bijak, nama nya brian. Dan kamu sering main dengan nya. Apa kamu ingat nak?" tanya ayah yg seperti nya berharap agar aku menjawab iya.


"Iya yah, tiwi ingat" jawab tiwi dengan datar, sambil melirik kearah pria tadi.


"Dan anak itu adalah dia nak, brian teman kecil kamu dulu." ayah menunjuk pria itu. Sontak membuat pria tadi kebingungan, karena dari awal percakapan dia sama sekali tidak fokus mendengarkan ayah tiwi bercerita.


"Maksud om?" tanya brian dengan bingung.


"Kamu masih ingat dengan tiwi? anak perempuan yg selalu kamu cemburui saat papa menggendong nya?" tanya pak irawan pada brian.


"Iya pah, brian ingat"


"Apa yg di maksud om dewo tadi adalah dia pa?" tanya brian tak percaya.


"Iya nak. Dia adalah tiwi, anak nya om dewo." jelas pak irawan.


"Jadi, kamu tiwi? bertemu untuk kedua kali nya." brian tersenyum menatap tiwi yg hanya diam menunduk.


"Hay, senang bertemu dengan mu, lagi." brian mengulurkan tangan kanan nya untuk bisa berjabat tangan dengan tiwi. Tiwi pun mau tidak mau membalas nya, dan tersenyum seadanya.

__ADS_1


"Senyum yg sama saat pertama kali kita bertemu di pesawat. But, it's okey, so far so good" jawab brian dengan sedikit meledek.


"Oh, berarti kalian sudah saling kenal ya.." tanya pak irawan.


"Kan kenal nya sudah lama pa, pasti lah brian masih ingat dengan wajah nya. Yakan wik?" goda brian pada tiwi. Tidak sesuai harapan , tiwi hanya membalas nya dengan tersenyum.


"Alhamdulillah kalau begitu, mama seneng denger nya. Jadi bisa mempercepat proses nya, yakan pa?" sahut mama dengan senang.


"Insyaallah ma berjalan lancar." jawab pak irawan dengan antusias.


****


Setelah percakapan basa basi itu, pak irawan langsung melamar tiwi untuk anak nya. Hal itu membuat brian terkejut namun dia merasa senang karena jodoh nya adalah tiwi. Namun tidak dengan tiwi, dia bersikap biasa aja, walaupun dia tau kenyataan nya dia harus menerima perjodohan yg sama sekali tidak dia ingin kan.


"Gimana sayang? Apa kamu bersedia menerima brian sebagai calon suami kamu?" tanya bu irawan, ibu nya brian.


"Tiwi.." ucapan nya terjeda.


"Tiwi, menerima nya bu." tiwi menjawab sambil menutup kedua mata nya dan meremas ujung jilbab nya.


"Assalamualaikum..." tiwi langsung mengangkat wajah nya saat dia Mendengar suara yg sangat tidak asing di telinga nya.


"Mas rendra?..."


Semua nya terdiam saat rendra hadir di tengah-tengah obrolan mereka. Rendra seakan mengerti dengan situasi yg sedang di hadapi tiwi, namun beberapa detik kemudian, dia melihat ada brian, CEO tempat dia bekerja selama ini. Seketika itu kaki nya terasa lemas, lidah nya pun terasa kelu, seakan takdir telah mempermainkan jodoh nya.


"Waalaikum salam" sahut brian lalu berdiri menyambut rendra di depan pintu.


"Kamu kesini rendra? ada perlu apa? apa kamu mengenal mereka?"


"Maaf pak, saya kesini di utus oleh ayah nya pak Aufar untuk menjemput tiwi."


"Mari kita bicara diluar." ajak brian.


***


"Jadi kamu anak dari pak sanjaya? kenapa kamu nggak bilang dari awal" brian seakan tak percaya dengan apa yg dia dengar.


"Ya kalau memang kamu sudah memutuskan untuk keluar, tidak masalah buat saya. Tapi selama ini kamu sudah sangat membantu saya mengurus perusahaan dan memenangkan tender bulan ini. Dan saya bangga pada kamu."


"Terimakasih pak atas pujian nya."


***


Setelah percakapan itu, brian mengizinkan rendra untuk ngobrol dengan tiwi di luar. Brian sama sekali tidak mencurigai kedekatan mereka.


"Kenapa kamu nggak bilang ke saya wik?" tanya rendra tanpa basa basi.


"Maaf mas, aku hanya ingin menjadi anak yg berbakti pada ayah dan bunda" jawab nya dengan sendu. Sayang nya rendra melihat itu, dia pun semakin yakin bahwa tiwi tidak bersungguh-sungguh menerima lamaran itu.


"Kamu kan bisa menolak nya wik. Apa aku aja ya yg terlambat ngelamar kamu?" tanya rendra putus asa.


"Nggak mas. Kamu sama sekali tidak terlambat, hanya aku aja yg bodoh nggak bisa melihat ketulusan kamu" jawab tiwi dengan cepat.


"Tapi semua nya sudah terjadi. Kamu sudah menerima nya wik. Dia Brian atasan saya, dia pemimpin yg baik dan bertanggung jawab. Semoga kamu bahagia ya bersama nya. Mas hanya bisa mendo'akan yg terbaik untuk kamu" tiwi hanya diam tanpa kata, dia seakan sedang menangis dalam hati.


"Kalau gitu, mas pamit ya" bukan nya di jawab tiwi hanya bisa diam menatap kepergian rendra.


***


"Assalamualaikum.." sapa tiwi saat masuk kedalam rumah.


"Rendra nya mana wik?" tanya brian saat dia melihat tiwi masuk hanya sendiri.


"Beliau sudah pulang. Dan dia hanya menitipkan salam buat yg lain, katanya dia ada urusan mendesak, sehingga dia pergi tanpa pamit." alibi tiwi, agar brian dan yg lain nya percaya.


Di sisi lain, rendra pergi dari rumah tiwi dengan perasaan hancur dan kecewa. Dia sama sekali nggak menyangka jika kisah cinta nya sepahit ini.

__ADS_1


Rendra pergi menyusuri kota bandung tanpa arah tujuan. Sampai-sampai di tengah jalan dia hampir menabrak orang-orang yg Sedang melintasi jalan raya.


Seakan hilang kendali, tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita yg sedang membawa anak kecil.


"Astagfirullah al azim" pekik wanita itu saat ada sebuah mobil menabrak nya.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya wanita itu pada anak kecil yg di rangkul nya.


"Nggak apa-apa umi, alhamdulillah nggak ada yg sakit umi." ucap anak tadi.


Rendra dengan cemas langsung turun menanyakan keaadaan wanita yg telah di tabrak nya tadi.


"Maaf mbak, saya salah. Pandangan saya gelap tadi, sehingga tanpa sadar, saya telah menabrak anda." Rendra memberi jeda pada percakapan nya.


"Apa ada yg terluka mbak? anak nya gimana? baik-baik aja atau ada yg terluka? kalau ada yg terluka, izin kan saya bertanggung jawab mengobati mbak dan juga anak nya." rendra sedikit berjongkok menghadap wanita dan anak itu. Wanita itu pun segera menoleh melihat rendra sekilas.


"Nggak usah mas, kami nggak apa-apa kok, hanya terluka sedikit. Lain kali hati-hati ya mas kalau sedang mengemudi, bisa bahaya untuk mas nya." wanita itu sedikit menasehati Rendra sambil mencoba untuk berdiri. Namun sayang nya, kaki wanita itu sedikit keseleo, sehingga membuat nya mengadu kesakitan. Rendra yg melihat itu langsung sigap membantu nya.


"Aaww, kaki ku" eluh si wanita tadi. Saat Rendra ingin membantu, wanita tadi menolak dengan lembut.


"Nggak usah mas, insyaallah saya bisa sendiri." tolak wanita tadi.


"Tapi kaki mbak...lebih baik saya bawa mbak ke rumah sakit ya, mana tau kaki nya parah. Mbak tenang aja, saya yg akan membiayai semua nya. Tolong ya mbak jangan menolak saya." rendra tetap teguh pada pendirian nya untuk membawa wanita dan anak tadi ke rumah sakit.


"Baik lah mas, tapi di klinik dekat sini aja ya. Saya nggak mau ngerepotin mas jauh-jauh ke rumah sakit." permintaan wanita itu.


"Baik lah. Kalau gitu mari saya bantu mbak" Rendra pun menggendong anak tadi dan membawa nya ke dalam mobil.


"Umi, kita mau ke dokter ya? Abbas takut mi.." anak yg masih berusia 5 tahun itu mengeluh karena merasa dirinya akan di suntik oleh dokter.


"Iya abbas, kita akan ke klinik ketemu dokter. tapi kamu tenang yaa, kamu nggak akan di suntik kok sama dokter. Kamu ingat nggak apa yg umi katakan waktu itu? Setiap dokter mempunyai pekerjaan yg sangat mulia, karena beliau sudah banyak menyembuhkan orang sakit, dan kita seharusnya nggak boleh takut dengan dokter, karena.. Dokter itu..Baik abbas.. kamu ngerti kan sayang.." ucap wanita tadi agar anak itu bisa merasa tenang.


"Baik lah umi.. abbas mengerti sekarang." jawab anak itu dengan tersenyum manis.


"Anak pintar.." wanita itu pun mengelus kepala anak tadi.


"Manis sekali wanita itu, walaupun dia seorang ibu, tapi wajah nya masih terlihat sangat muda dan cantik." rendra sedikit melirik mereka melalui kaca depan. Tanpa di sadari, wanita itu juga melihat nya.


"Maaf mas, boleh saya bertanya?" tanya wanita itu.


"Boleh, silahkan mbak..." rendra sengaja menggantungkan ucapan nya agar wanita itu memberi tahu siapa nama nya.


"Saya Aisyah mas." seakan mengerti apa yg di maksud Rendra, aisyah pun memberitahu kan nama nya.


"Aisyah. Nama yg indah." gumam nya


"Em, baiklah. Kamu tadi mau nanya apa Mbak aisyah?" tanya rendra.


"Jangan panggil saya mbak mas. Panggil aja aisyah, seperti nya umur mas lebih tua dari pada saya"


"Oke. Sekarang kamu mau nanya apa ke saya Aisyah?" merasa canggung, rendra bertanya dengan perasaan malu.


"Saya lihat, mas bukan orang sini. Apa mas berasal dari Jakarta?" tanya aisyah.


"Iya aisyah, saya dari jakarta"


"Lalu, tujuan mas kemari untuk apa?"


"Tujuan saya kemari untuk bertemu dengan klien penting, tapi.. saya kecewa dengan diri sendiri." alibi nya.


"Maksud mas? kenapa mas kecewa sama diri mas sendiri?"


"Saya terlambat saat ketemu dengan klien saya, beliau sudah bekerja sama dengan yg lain" mendadak tatapan rendra datar dan lurus kedepan.


"Yg sabar ya mas, insyaallah mas akan mendapatkan klien yg baru yg lebih jujur dan kompeten."


"Insyaallah.."

__ADS_1


Jangan lupa di like ya guys..


Sarangheo 💜


__ADS_2