Presdir ku Suami ku

Presdir ku Suami ku
Brian


__ADS_3

...Bandara.....


"Dadah kar.. jangan lupa buat rinduin aku yaaa.. hihi.." tiwi melambaikan tangan nya saat akan memasuki pesawat.


"Aku bakal rindu sama kamu wik.. kamu baik-baik disana yaa.. jangan lupa kabari aku setiap saat.." sekar sedikit berteriak karena jarak mereka sudah agak berjauhan.


"Oke..." tiwi pun tersenyum, lalu masuk kedalam pesawat.


...Di Perjalanan........


Rendra masih berada di jalan di antar oleh supir keluarga. Namun kali ini suasana akan tampak berbeda dari yg dulu saat dia berada di kampung halaman sekar. Entah mengapa perasaan nya sedikit tidak tenang karena memikirkan ucapan Aufar padanya.


"Pak, bisa sedikit lebih cepat? saya sudah terlambat ini". Untung rendra bisa membeli tiket pesawat dadakan, tentunya karena orang tua rendra adalah orang yg sangat terkenal di Jakarta, jadi dengan mudah nya dia mendapatkan tiket pesawat.


"Baik pak." jawab supir itu yg bernama pak deny.


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya rendra telah sampai di bandara. Dia pun dengan segera masuk kedalam awak pesawat. Jarak kepergian tiwi dan rendra hanya 1 jam.


...***...


Tiwi mulai merasa gelisah mengingat ayah nya mengatakan jika akan ada tamu spesial malam ini.


"Maksud ayah apa ya ngomong gitu ke aku? Apa benar ayah berniat mau jodohkan aku dengan pria pilihan nya? Jika memang itu benar, aku harus bilang apa ke ayah? Aku nggak mau jika harus menikah dengan pria yg belum aku kenal sama sekali" eluh tiwi dalam lamunan nya.


"Permisi, boleh saya duduk disini?" tanya seorang pria pada tiwi yg seketika langsung membuyarkan lamunan tiwi.


"Ha? Oh boleh kok, silahkan.." tiwi mempersilahkan pria itu duduk di sebelah nya. Namun Tiwi tidak mau terlalu bertanya kenapa pria itu duduk di sebelah nya. Karena yg ada di pikiran tiwi hanya ada ayah nya.


"Ekhem, kenalin nama saya Brian. Kamu?" pria itu mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan tiwi.


"Tiwi" sahut nya dengan tersenyum sambil merapatkan kedua tangan nya. Namun tidak membalas jabat tangan pria itu.


"Maaf, kalau boleh tau, kenapa anda duduk disini? Bukannya anda sendiri sudah mempunyai kursi?" tiwi merasa penasaran juga, dan akhirnya bertanya pada brian.


"Sebelum nya saya minta maaf jika membuat kamu nggak nyaman karena aku berada disini. Tapi percayalah, aku jauh lebih nggak nyaman dengan kursi yg disana" brian menunjuk kearah kursi nya tadi, tiwi pun mengikuti ke arah yg di tunjuk brian padanya.

__ADS_1


"Bagaimana menurut kamu? Apa aku akan nyaman dengan itu?" tiwi langsung menahan tawa nya karena sudah melihat pertunjukkan lucu.


"Aku juga nggak yakin kamu akan nyaman. Oke baiklah, semoga anda nyaman duduk disini." tiwi masih dengan menahan tawa nya.


Bagaimana tidak, yg di lihat nya barusan itu adalah seorang wanita gemuk yg sedang mendengkur di kursi nya. Maka tiwi pun percaya jika pria itu tidak akan bisa merasa nyaman dengan kondisi itu.


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih karena sudah bersedia memberikan kursi ternyaman ini untuk ku" brian menggoda tiwi agar tiwi bisa langsung merasa nyaman dengan nya.


"Sama-sama" tiwi membalas nya dengan tersenyum.


"Oh iya, apa kamu sendiri di sini?" pria itu bertanya karena penasaran.


"Iya." jawab tiwi dengan acuh.


"Oh.." pria itu hanya bisa menjawab singkat, karena mungkin pikir nya tiwi butuh waktu untuk sendiri. Maka dia pun tidak lagi bertanya yg bukan urusan nya.


Setelah percakapan singkat itu, diantara mereka saling diam. Tiwi yg merasa lelah karena belum lagi istirahat dari pulang tadi, maka dia menghabiskan perjalanan nya untuk tidur di pesawat. Sedangkan Pria tadi sesekali melirik kearah tiwi yg terlihat sedang tertidur dengan pulas. Bahkan sudah dua kali pria itu diam-diam mengambil potret tiwi.


"Maafkan aku ya, karena sudah mengambil foto kamu secara diam-diam." gumam nya dengan pelan sambil tersenyum melihat kecantikan tiwi.


***


Brian mencoba mencari tiwi, namun dia tidak menemukan tiwi di bandara.


"Kemana dia pergi? padahal tadi keluar nya juga barengan. Ah, sial. Gara-gara koper gue sialan ini, jadi gue nggak bisa bareng dia. Mana tadi belum minta no WA nya lagi. Ah, Sial !!!" nggak habis-habis nya brian mengumpat dirinya sendiri. Akhirnya dia pun pasrah dan segera memasuki mobil yg sudah di jemput oleh supir Ibunya.


"Apa kabar den?" tanya kang asep supir ibu nya brian.


"Baik kang. Gimana mama sama papa?" brian bertanya sambil menyandarkan kepala nya di kursi mobil.


"Alhamdulillah Tuan sama nyonya sehat den"


"Oh iya den, selamat ya den yg sebentar lagi mau menikah. Kang asep ikut bahagia mendengar nya" tutur kang asep.


"What?? Menikah? siapa yg bilang kalau saya akan menikah?" tanya brian tak percaya.

__ADS_1


"Loh, bukan nya aden sendiri sudah tau mengenai ini?" kang asep jauh lebih terkejut dengan pernyataan brian.


"Mama sama papa nggak ada bilang ke saya kang"


"Tunggu dulu, kang asep tau semua kan? tolong beritahu saya kang." brian berharap jika kang asep mau menceritakan rencana orang tua nya.


"Jadi begini den. Sebulan yg lalu, saya di suruh tuan untuk mengantarkan nyonya ke sebuah desa. Saya nggak tau tujuan nyonya ke desa itu untuk apa. Tapi, setelah saya mendengar pembicaraan nyonya dan orang yg di desa itu, saya jadi mengerti jika tuan sama nyonya sudah berniat untuk menjodohkan aden dengan anak gadis nya den. Tapi den, aden jangan lapor ke tuan sama nyonya ya den kalau saya menceritakan hal ini ke aden. Nanti saya bisa di pecat den.." kang asep memohon agar tidak memberitahu kan masalah ini pada orang tua brian.


"Baiklah kang, saya nggak akan memberitahu kan hal ini ke mama. Tapi bisakah kang asep menunjukkan dimana rumah gadis itu?" kang asep langsung mengangguk dan tersenyum pada brian.


"Saya yakin den, jika aden melihat wajah gadis itu, aden pasti langsung jatuh cinta dengan gadis itu." tutur kang asep mengingat wajah gadis itu di dalam bingkai foto.


"Emang nya kang asep sudah melihat gadis itu?" tanya brian dengan penasaran.


"Belum den. Tapi ayah nya gadis itu memberikan sebuah bingkai foto, yg kemungkinan jika yg ada di foto itu adalah gadis itu den. Dan kang asep punya kesempatan bisa melihat nya secara jelas den, karena waktu itu posisi kang asep ada di belakang nyonya." kang asep menjelaskan dengan tersenyum.


"Oke baiklah, sekarang juga tolong antar saya ke rumah gadis itu."


"Tapi den.. Nanti jika saya terlambat membawa aden pulang kerumah, tuan akan memarahi saya den. Lebih baik kita pulang dulu ya den." kang asep tidak mau mengambil resiko karena mengikuti arahan brian.


"Nanti saya yg akan bilang ke papa kang. Jadi akang nggak perlu takut." ucap brian berusaha meyakinkan kang asep.


"Lagian den, jika aden bertemu dengan nya sekarang, itu nggak akan menjadi kejutan buat aden nanti. Kang asep jamin, jika aden nggak akan menyesal karena di jodohkan dengan gadis itu. Jadi aden bersabar aja dulu, sampai waktu malam nanti tiba. Kan aden masih punya waktu tiga jam lagi untuk bertemu dengan nya. Yg sabar ya den.." kang asep berusaha membujuk brian.


"Baiklah. Saya akan tunggu."


***


Tiwi yg saat ini sedang berada di dalam bus hanya bisa menghela nafas nya sesekali saat dia melihat beberapa foto rendra di akun instagram nya.


"Kenapa aku terlambat menyadari ini? seharusnya jika aku nggak egois waktu itu, mungkin nggak akan seperti ini ceritanya. Mungkin pada saat itu juga aku akan memberitahu kan pada ayah jika aku sudah mempunyai kekasih pilihan ku sendiri" debat nya dalam hati.


"Tapi yasudah lah. Semua nya juga sudah terlambat. Kita liat aja nanti gimana ending nya." tiwi langsung menatap kearah jendela.


Jangan lupa untuk di like ya readers ku😘 di vote juga yg banyak.. Insyaallah jika nggak ada halangan apa pun, author akan menyempatkan menulis dan update per 2 hari nya ya..

__ADS_1


Maaciii 🥰🥰


__ADS_2