Queen Of Time

Queen Of Time
Haste Makes Waste (Twenty One)


__ADS_3

        Di halaman istana, para prajurit Khronos sedang bertempur melawan pasukan kerajaan Bibury dan para kaum pemberontak yang ternyata jumlah mereka cukup banyak. Di barisan terdepan, Gazelle tampak begitu gigih untuk menumbangkan satu persatu prajurit Khronos yang hendak melawannya. Dengan menggunakan topeng, Gazelle berhasil menipu para musuhnya yang sama sekali tidak mengetahui jati dirinya.


Sring


        Gesekan pedang milik Gazelle dengan salah satu prajurit kerajaan Khronos terdengar begitu nyaring di tengah-tengah kekacauan yang terjadi di kerajaan Bibury. Gazelle kemudian menendang prajurit itu sambil mengarahkan pedangnya pada wajah sang musuh. Namun, dengan sigap prajurit itu berhasil menghindar dan langsung menebaskan pedangnya pada tangan Gazelle, namun Gazelle berhasil menangkisnya dengan tameng yang berada di tangan kirinya.


        "Sudah cukup main-mainnya, aku akan segera membunuhmu." teriak Gazelle marah. Wanita itu lalu mengerahkan segala tenaganya untuk mencari titik lemah prajurit itu, dan saat prajurit itu benar-benar lengah, Gazelle berhasil menusuk dada prajurit itu dengan pedangnya hingga pedang itu menembus ke belakang.


        "Huh, dasar lemah!" maki Gazelle dengan wajah sombong. Gazelle kemudian menyapukan pandangannya pada seluruh halaman istana yang telah berubah menjadi lautan darah dan manusia. Dari kejauhan ia dapat melihat Max sedang bertarung melawan panglima Heren. Melihat hal itu, Gazelle merasa merindukan masa lalunya. Dulu


ia dan panglima Heren adalah sahabat dekat. Tapi, sayangnya semua itu telah berubah. Mereka kini adalah musuh, oleh karen itu ia tidak boleh terlarut dengan masa lalunya dan segera mencari Calistha. Karena ia yakin jika wanita


itu masih berada di dalam kerajaan Bibury. Tak berapa lama, ekor matanya menangkap bayangan Calistha yang sedang melawan seorang prajurit dengan sebuah pedang emas yang ia yakini adalah milik Aiden. Dan benar saja, tak jauh dari Calistha, Aiden sedang membantai semua musuhnya sambil tetap melindungi Calistha. Dengan licik Gazelle mulai berlari mendekati Calistha untuk membunuh wanita itu. Tapi, baru beberapa langkah ia berjalan, seorang pria yang merupakan musuh terbesarnya tiba-tiba datang sambil menghunuskan pedang ke arahnya. Dengan marah Gazelle langsung menangkis pedang itu dari hadapannya karena ia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk sekedar bermain-main dengan pria itu. Karena setelah ini Aiden pasti akan langsung mengamankan Calistha


ketika posisi mereka tidak terjepit seperti itu.


        "Minggir Spencer, kau bukan targetku." ucap Gazelle dingin. Spencer segera turun dari kudanya sambil tetap menghunuskan pedangnya penuh perhitungan pada Gazelle.


        "Menyerahlah, jika kau berani melukai ratu, maka Yang Mulia Aiden tidak akan segan-segan untuk membunuhmu." ucap Spencer mencoba memperingatkan. Namun, Gazelle tampak tidak peduli dan justru menyerang Spencer ketika pria itu lengah. Kini pipi sebelah kiri Spencer tampak mengucurkan darah segar akibat tebasan pedang Gazelle yang tak berhasil dihindarinya.


        "Kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu? Aku sama sekali tidak takut Spencer. Justru aku ingin menunjukan diriku di hadapan Aiden dan membuatnya mengingat semua kesalahannya padaku. Sekarang pergilah. Atau jika kau tetap bersikeras untuk menghalangi jalanku, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu."


        "Aku tidak akan pergi kemanapun Gazelle, aku akan melindungi ratu Calistha dari wanita picik sepertimu."


Sring


        Kedua pedang Gazelle dan Spencer saling beradu dengans sengit, menciptakan sebuah gesekan yang begitu memekakan telinga. Gazelle kemudian mulai menyerang Spencer dengan mengarahkan pedangnya pada dada kiri Spencer, namun sebelum Gazelle berhasil menusukan pedangnya pada jantungnya, Spencer langsung menangkis pedang itu dan memberikan serangan pada Gazelle dengan menendang perut wanita itu.


        "Uhuk uhuk."


        Gazelle terbatuk-batuk beberapa kali ketika ia merasakan perutnya terasa sesak dan bergejolak. Tapi, ia segera membalas serangan yang diberikan oleh Spencer dengan menebaskan pedangnya pada lengan kiri Spencer, namun lagi-lagi pria itu berhasil menghindar, membuat Gazelle semakin geram dan membenci pria itu.


        "Lebih baik kau mundur dan hentikan semua peperangan ini agar rakyat Bibury tidak semakin menderita."


        "Huh, sampai kapanpun aku tidak akan mundur, karena aku bukan pengecut sepertimu."


        Gazelle kembali menyerang Spencer dengan mengarahkan pedangnya pada kaki Spencer. Lalu dengan tamenya, Gazelle mencoba menghimpit tubuh Spencer dan menohok perutnya kuat-kuat hingga pria itu terdorong mundur, jatuh di atas tanah. Gazelle tampak menyeringai puas di hadapan Spencer, dan dengan sekali tebasan, Gazelle berhasil melukai kaki kiri Spencer hingga pria itu tidak mampu untuk berdiri atau berjalan.


        "Kali ini aku tidak akan membunuhmu, tapi lain kali mungkin aku akan membunuhmu. Sampai jumpa Spencer." ucap Gazelle mengejek sambil berjalan pergi meninggalkan Spencer yang tampak marah dengan dirinya sendiri. Seharusnya saat ia memiliki kesempatan ia langsung menghabisi Gazelle agar wanita itu tidak bisa mendekati Calistha. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, Spencer merasa tidak tega dan menaruh rasa simpatik pada wanita itu, sehingga ia menjadi lemah dan berhasil dikalahkan oleh wanita itu dengan mudah. Kini ia hanya berharap, semoga rajanya berhasil melindungi Calistha dari Gazelle dan anak buahnya, karena saat ini Gazelle sudah semakin dekat dengan posisi Calistha yang tampak kewalahan untuk membalas serangan demi serangan yang diarahkan prajurit kerajaan Bibury padanya. Dan jika Calistha sedikit saja lengah, maka Gazelle sudah siap dengan pedang yang akan mengunus jantung wanita itu.


-00-


Sring


Trang


Bruk

__ADS_1


        Berkali-kali Calistha mencoba melawan serangan demi serangan prajurit Bibury kepadanya. Sementara itu


tak jauh darinya, Aiden juga tampak begitu sibuk untuk menumbangkan lawan-lawannya. Sebagai seorang raja, ia selalu dijadikan target nomor satu oleh para musuhnya, sehingga banyak sekali prajurit kerajaan Bibury yang sedang mencoba untuk membunuhnya.


Srak


        Pedang perak milik salah satu parajurit kerajaan Bibury berhasil ditangkis Calistha hingga pedang itu jatuh ke atas tanah. Sang prajurit yang merasa tidak terima, lantas maju ke depan dengan wajah ponggah sambil mencoba untuk mengarahkan pukulan dan tendangan pada wajah Calistha. Tapi, secepat kilat Calistha berhasil menghindarinya dan membalas pria itu dengan pukulan yang cukup keras di wajah pria itu.


            "Dasar ****** pengkhianat, aku pasti akan membunuhmu karena kau telah membunuh raja kami."


        Tanpa terpengaruh dengan ucapan prajurit itu, Calistha segera maju ke depan untuk menyerang pria itu. Ternyata Aiden benar, mereka sekarang tidak lagi berada di pihaknya, maka ia boleh membunuh mereka semua satu persatu jika mereka juga menghinanya dan juga menyerangnya.


        "Aku bukan jalanga seperti yang kau tuduhkan. Kupastikan setelah ini kau akan membayar semuanya dengan membusuk di neraka."


        Dengan marah Calistha mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah prajurit itu, dan dalam sekalin tebasan, Calistha berhasil melukai dada depan pria itu hingga terluka cukup parah.


        "Itulah akibatnya jika kau mengejekku." geram Calistha marah sambil menginjak tubuh pria itu sadis. Lalu Calistha mulai berjalan lagi untuk mencari Aiden. Tapi, sayangnya pria itu masih disibukan dengan berbagai macam musuh yang tengah mengepungnya. Ia kemudian bergerak mendekat ke arah Aiden sambil bersiap untuk menebas seorang pria yang berdiri membelakanginya.


Srak


        Dalam sekali tebasan, Calistha berhasil memenggal kepala pria itu dan membuat tubuh tak berdaya itu jatuh terkulai di atas tanah. Namun, betapa terkejutnya Calistha setelah ia mengetahui jika pria yang baru saja dibunuhnya adalah Max.


        "Max!" teriak Calistha histeris di depan mayat Max yang tampak mengenaskan. Sungguh ia sama sekali tidak tahu jika pria itu adalah Max. Calistha kemudian menangis meraung-raung di depan tubuh kaku Max sambil memeluk tubuh pria itu tanpa mempedulikan orang-orang jahat disekitarnya yang sedang berusaha untuk membunuhnya.


        Aiden menoleh sekilas pada Calistha yang sedang menangis meraung-raung di depan tubuh Max. Pria itu dengan konsentrasi yang sudah terbagi mulai mendekati Calistah sambil menangkis setiap serangan yang diarahkan ke arahnya atau ke arah Calistha. Lalu saat tubuhnya sudah berada di samping Calistha, pria itu segera menyambar tangan Calistha dengan kasar agar wanita itu tidak terus menerus menangisi jasad Max karena musuh-musuhnya sedang mengincar mereka saat ini.


        "Aku telah membunuh Max." racau Calistha berkali-kali seperti sebuah kaset rusak. Dengan gusar Aiden mencoba menyadarkan Calistha dengan mengguncang-guncangkan tubuh wanita itu. Dan tanpa mereka sadari, Gazelle sudah berada tepat di sebelah Calisha dengan pedang yang sudah terayun, hampir menebas kepala


Calistha, namun Aiden berhasil menarik Calistha ke dalam pelukannya sehingga pedang itu tidak mengenai Calistha dan justru mengenai punggungnya.


        Darah segar merembes keluar membasahi jubah kebesaran yang dikenakan oleh Aiden, tapi pria itu sama sekali tidak peduli dan justru menatap tajam pada si penyerengnya yang bersembunyi di balik topeng hitam yang dikenakannya.


        "Aiden, punggungmu terluka." jerit Calistha histeris. Tapi Aiden seolah-olah tuli, dan langsung menyembunyikan Calistha di balik punggungnya.


        "Berani-beraninya kau menyerang ratuku. Kupastikan kau akan mati di tanganku." geram Aiden marah. Calistha dengan sigap memungut pedangnya yang tergletak di atas tanah. Ia kemudian mencoba untuk membalas serangan si penyerangnya, tapi ia gagal dan pedangnya justru terjatuh kembali di tanah dengan mudah.


        "Berlindung di belakangku dan tetap waspada."


Trang


        Aiden mengarahkan pedangnya pada leher Gazelle, namun Gazelle berhasil menangkisnya. Lalu dengan sigap Aiden mulai memberikan serangan pada kaki Gazelle. Kali ini serangan Aiden tepat mengenai kaki Gazelle hinga wanita itu hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan, tapi ia berhasil menopang tubuhnya dengan pedang perak yang ia bawa.


        "Buka topengmu dan tunjukan jati dirimu padaku." ucap Aiden lantang. Tapi Gazelle sama sekali tidak mau melakukan hal itu dan justru menyerang Aiden dengan gerakannya yang mulai kepayahan karena kaki kanannya terluka. Melihat musuhnya terluka, Aiden langsung menggunakan kesempatan itu untuk menyerang musuhnya dengan mengarahkan pedangnya pada topeng yang dikenakan oleh si penyerang karena orang itu terlihat begitu mencurigakan menurutnya.


Trak


        Aiden berhasil menangkis serangan yang diarahkan pada pinggang sebelah kirinya. Dan dalam sekejap ia langsung mengetahui siapa sosok si penyerang itu sebenarnya.

__ADS_1


        "Gazelle, hentikan semua ini." ucap Aiden lantang, dan bersamaan dengan itu topeng yang dikenakan oleh Gazelle berhasil dihancurkan oleh Aiden dan membuat rambut kecoklatan milik Gazelle tampak berhamburan karena tertiup angin.


        "Gazelle, apa kau baik-baik saja? Aiden hentikan, jangan lakukan."


        Dengan gegabah Calistha justru berlari ke arah Gazelle sambil merentangkan tangannya untuk melindungi Gazelle dari serangan Aiden. Dan hal itu langsung dimanfaatkan Gazelle untuk menusuk tubuh Calistha dari belakang.


Jleb


        "Argh!"


        Calistha menoleh terkejut ketika ia mendengar suara erangan yang cukup keras di belakangnya. Dan saat ia berbalik, ternyata Gazelle sudah terlihat tak berdaya karena Spencer berhasil menusuk tangan kanan wanita itu dengan pedangnya.


        "Spencer, kita hentikan peperangan ini. Umumkan pada seluruh prajurit kita dan prajurit Bibury yang tersisa." perintah Aiden tegas. Pria itu tampak menatap datar pada Gazelle yang sedang merintih kesakitan di atas tanah. Tanpa mempedulikan wanita itu, Aiden kemudian langsung membawa Calistha pergi dengan kuda hitam yang


secara kebetulan sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.


            "Calistha... Aku... akan membunuhmu. Dan kau, Aiden, kau harus membayar semua perbuatanmu padaku di masa lalu." ucap Gazelle keras sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya yang terluka. Namun, Aiden lebih memilih untuk menulikan pendengarannya dan segera bergegas pergi meninggalkan kerajaan Bibury yang kacau balau.


        "Gazelle." gumam Calistha parau dengan mata berair. Sedangkan Aiden yang berada di belakangnya hanya mampu menatap datar pada Calistha sambil memacu laju kudanya dengan kencang. Punggung dan lengannya terasa begitu sakit sekarang. Ia harus segera tiba di kerajaanya agar tabib istana dapat mengobati lukanya yang cukup parah itu.


        "Aaiden, apa yang harus kulakukan? Aku telah membunuh banyak nyawa yang tak berdosa." lirih Calistha dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya dengan deras. Saat mereka melintasi pedesaan Bibury, Calistha dapat melihat banyak anak kecil dan ibu-ibu yang menangis karena ayah atau suami mereka meninggal. Belum lagi kondisi rumah-rumah mereka yang turut hancur karena serangan prajurit Khronos dan Bibury. Dalam hati Calistha terus mengutuk dirinya sendiri. Ia merasa dirinya tidak pantas untuk hidup setelah ini. Seharunya Aiden tidak menyelamatkannya dan membiarkannya mati di tangan Gazelle. Sekarang rasanya hidup pun tidak ada gunanya. Lebih baik ia mati daripada harus hidup dengan menanggung penyesalan yang begitu besar di hatinya.


        "Bukankah ini ini yang kau inginkan? Lalu untuk apa kau menyesalinya?"


        "Aku tidak menginkan semua ini! Aku hanya ingin pergi darimu. Aku tidak ingin membunuh mereka." teriak Calistha marah. Sungguh ia sangat membenci sikap Aiden yang seakan-akan sedang menyalahkannya, padahal pria itu juga turut andil dalam masalah ini. Jika pria itu tidak terus mengusik hidupnya, maka kekacauan ini tidak akan pernah terjadi.


        "Ibu... ayah.. kumohon bangunlah." jerit seorang gadis kecil pada kedua orangtuanya yang telah mati saat kuda mereka melewati sebuah rumah yang keadaannya sudah sangat mengenaskan. Rumah itu hancur karena prajurit Khronos dan Bibury yang saling menumpahkan darah tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Melihat gadis kecil itu, hati Calistha terasa perih dan teriris-iris.


        "Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan? Aku telah membunuh banyak nyawa yang tak berdosa."


        "Aiden, bunuh aku." ucap Calistha datar dengan mata sembab. Aiden tampak acuh tak acuh dan tidak ingin menanggapi kata-kata Calistha. Tapi sikap diam Aiden itu justru membuat Calistha semakin marah dan membenci pria itu. Dengan kasar, Calistha langsung menyentak tangan Aiden begitu saja dari tali kekang kuda, dan setelah itu mereka langsung jatuh terguling di atas tanah karena kuda yang mereka naiki terkejut dan melompat serampangan ke sana kemari hingga menyebabkan mereka terjatuh dengan sangat keras. Aiden yang terjatuh dengan punggung yang menghantam tanah langsung mengerang keras sambil memejamkan matanya untuk menahan setiap rasa sakit yang menggerogoti punggungnya. Ia rasa saat ini salah satu tulang punggungnya patah karena mereka berdua jatuh dengan sangat keras. Sedangkan Calistha yang terjatuh tak jauh darinya hanya mampu terdiam di atas tanah tanpa bergerak sedikitpun. Menurutnya rasa sakit yang mendera tubuhnya sama sekali tak sebanding dengan rasa sakit yang terus menjalar di hatinya. Bahkan sekarang ia justru merasa kecewa karena ia sama sekali tidak mati saat kuda itu melempar mereka dari atas pelana. Padahal ia sangat berharap untuk mati saat ini juga.


        "Apa kau puas, hah? Apa kau puas karena telah membuat orang-orang yang berada di sekitarmu menderita?" teriak Aiden marah. Pria itu kini mencoba untuk bangkit berdiri di tengah rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Namun, Calistha hanya bergeming di tempatnya tanpa berniat untuk membalas ucapan Aiden.


        "Bangun! Apa kau pikir dengan kematianmu semuanya akan kembali membaik? Apa kau pikir orang-orang itu akan hidup kembali setelah kau mati? Dasar bodoh! Kau justru semakin melukai orang-orang yang berada di sekitarmu, termasuk aku. Apa kau tidak melihat luka sayatan yang menganga disepanjang punggungku? Jika kau


menyesal, seharusnya kau tidak mengulang lagi kesalahanmu dengan menyakiti orang-orang disekitarmu!" bentak Aiden marah. Tanpa diduga, Calistha langsung bangkit sambil memeluk leher Aiden kuat-kuat, membuat pria itu


langsung tertegun dan membeku di tempat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini karena selama ini Calistha tidak pernah memeluknya dalam keadaan kacau seperti ini. Jujur, ia lebih menyukai Calistha yang berapi-api daripada Calistha yang rapuh dan lemah seperti ini.


        "Aiden, maafkan aku. Aaaku, aku menyesal. Tolong maafkan aku karena aku telah melukaimu." ucap Calistha tersenggal-senggal. Dengan kaku, Aiden mulai mengangkat kedua tangannya untuk mengelus punggung Calistha. Saat ini wanita itu sedang rapuh, maka ia harus memberikan kenyamana pada wanita itu agar ia tidak semakin pecah berkeping-keping seperti sebuah keramik. Tapi, perilaku wanita itu beberapa saat yang lalu benar-benar membuatnya sangat marah hingga tanpa sadar ia membentak wanita itu dan memakinya dengan kata-kata kasar. Ah, betapa ia menyesali perbuatannya itu.


        "Lupakan saja, aku tidak apa-apa. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Hanya satu hal yang perlu kau ingat, jangan pernah melakukan tindakan nekat lagi jika kau tidak memiliki rencana yang matang, karena semua itu akan berakhir sia-sia seperti ini."


        Calistha mengangguk-angguk di pundak Aiden sambil terus menangis. Setelah ini ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupnya, karena ia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini. Satu-satunya keluarga yang ia miliki justru ia bunuh dengan tangannya sendiri, lalu Gazelle mengkhianatinya, serta Tiffanya yang masih mendekam di dalam penjara. Apakah setelah ini ia harus tunduk di bawah kuasa pria arogan yang saat ini sedang memeluknya? Tapi, apakah hatinya siap untuk menerima Aiden sebagai takdirnya? Berbagai macam pertanyaan terus berputar putar di dalam kepalanya, dan membuatnya semakin lelah untuk menjalani kehidupannya yang rumit ini. Tapi, sebuah suara yang begitu merdu berhasil menenangkannya dari berbagai macam kekalutan yang bergelayut di dalam hatinya.


        "Tinggalah di sisiku, dan aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa dan ragaku."

__ADS_1


__ADS_2