Queen Of Time

Queen Of Time
Red Heart (Fourty)


__ADS_3

            Suasana pasar siang ini tampak ramai dan riuh. Banyak pedagang yang saling menjajakan barang-barang


dagangan mereka dengan keras, hingga menciptakan suara keributan yang khas. Tiffany, wanita dengan gaun sutra berwarna merah dan jepit rambut bunga berwarna senada tampak  menyusuri jalanan pasar yang ramai bersama dengan seorang pelayan setianya. Beberapa pria dengan terang-terangan memandang Tiffany dengan penuh minat sambil berdecak kagum karena kecantikan Tiffany yang terlihat begitu mencolok di tengah-tengah


suasana hiruk pikuk pasar yang ramai. Dari kejauhan, Tiffany dapat melihat sebuah rumah dengan gaya kuno yang sangat mencolok, berdiri diantara bangunan-bangunan modern yang lainnya. Rumah itu sekilas tampak seperti rumah kosong yang menyeramkan, namun di dalam rumah itu tinggalah seorang penyihir tua yang sangat sakti. Menurut kabar burung yang tersebar diantara penduduk Khronos, wanita itu dulunya adalah seorang penyihir hitam yang diusir dari kelompoknya. Karena frustrasi dan menyimpan dendam, akhirnya penyihir itu memutuskan untuk menjadi peramal di kerajaan Khronos. Namun, diam-diam penyihir itu dapat membantu siapapun yang memiliki dendam yang sangat kuat pada orang lain. Dan penyihir itu dengan senang hati akan membantu siapapun yang akan membalaskan dendam mereka pada orang yang mereka benci.


            "Kau tunggu di sini, aku akan mengambil barang pesananku di dalam." ucap Tiffany pada pelayan wanitanya. Pelayan itu mengangguk dengan patuh dan memilih untuk menunggu di depan rumah sang penyihir tua itu. Sedangkan Tiffany langsung masuk kedalam rumah penyihir itu dengan penuh percaya diri. Dua hari yang lalu ia sudah datang dan memesan sebuah kantong kutukan untuk mencelakai Calistha. Dan hari ini ia akan menyerahkan kunci terakhir dari kantong kutukannya, sehelai rambut milik Calistha. Untung saja hari ini Aiden melonggarkan pengawasannya pada Calistha, sehingga ia dapat mendekati adik bungsunya itu dan mengambil sehelai rambutnya secara diam-diam.


              "Akhirnya kau datang juga, kau membawa barang yang kubutuhkan?" tanya penyihir wanita itu sambil berjalan tertatih-tatih menghampiri Tiffany. Suara ketukan tongkat kayunya yang berisik langsung menggema di dalam rumahnya yang gelap dan penuh dengan barang-barang kutukan.


            "Ini, aku telah mengambil sehelai rambut milik Calistha. Apa kau sudah menyiapkan kantung kutukannya?"


            "Bersabarlah anak muda, kau benar-benar wanita yang tidak sabaran. Aku perlu menyelesaikan ritual terakhirku sebelum kantung kutukan itu dapat berfungsi sepenuhnya. Masuklah." ajak penyihir tua itu sambil berjalan mendahului Tiffany untuk masuk ke bagian lain dari rumahnya. Sembari berjalan di belakang penyihir tua itu, Tiffany tampak memandang penuh kengerian pada benda-benda aneh yang dilihatnya di sepanjang ruangan yang dilewatinya. Tapi ia langsung menyeringai licik ketika ia membayangkan tubuh Calistha yang perlahan-lahan akan melemah karena kutukan dari penyihir tua itu. Ia sangat yakin, setelah ini Aiden pun tidak akan bisa menyelamatkan Calistha dari kutukan sang penyihir.


            "Sebentar lagi kau akan menjadi bibi bukan? Apa raja tidak mengadakan pesta besar untuk menyambut kehadiran penerus tahtanya?"


            Tiba-tiba penyihir itu berucap di depan Tiffany. Sambil tersenyum mengerikan, penyihir itu berbalik ke arah Tiffany sambil mengangkat kantung kutukan yang telah ia siapkan di atas mejanya.


            "Aiden? Sepertinya ia tidak akan pernah mengadakan pesta untuk menyambut kehadiran penerus tahtanya, bahkan ia hanya bersikap biasa saja ketika tabib mengatakan padanya jika Calistha sedang mengandung. Kupikir Aiden tidak menyukainya." jawab Tiffany tidak peduli. Penyihir itu terkekeh pelan sambil menyampurkan rambut


Calistha ke dalam cawan yang berisi barang-barang terkutuk yang telah dipersiapkannya. Penyihir itu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aiden, apa yang menyebabkan raja itu terlihat tidak bahagia dengan kehamilan Calistha. Dan penyihir itu merasa sangat tidak sabar untuk memberitahukan hal ini pada Tiffany karena ia yakin, Tiffany pasti akan semakin bersemangat untuk melakukan balas dendam pada Calistha.


            "Raja sebenarnya sangat bahagia, tapi hanya khawatir."


            "Khawatir? Kukira setiap hari Aiden selalu khawatir. Kau pasti tahu jika selama ini ia memiliki banyak musuh di luar sana. Bagaimana mungkin ia dapat hidup tenang dengan banyak musuh seperti itu." cibir Tiffany sambil lalu. Wanita itu tampak sedang mengagumi setiap benda-benda hitam yang berada di dalam rumah si penyihir tanpa mengetahui jika sang penyihir tengah menatapnya dengan tatapan serius dari balik mata tuanya yang sayu.


            "Raja Aiden bukan khawatir dengan musuh-musuhnya. Ia saat ini sedang mengkhawatirkan keselamatan ratu dan anaknya. Apa kau tahu jika raja Aiden memiliki kekuatan besar di dalam dirinya?"


            Seketika Tiffany langsung berbalik arah sambil menatap penuh minat pada penyihir tua itu. Selama


ini ia tidak pernah tahu jika Aiden ternyata memiliki sebuah kekuatan di dalam dirinya. Ia pikir Aiden hanyalah pria biasa yang penuh kutukan dan jalan hidup yang menyedihkan.


            "Aiden memiliki kekuatan? Kenapa aku tidak pernah mengetahui hal itu? Kekuatan apa yang tersembunyi di dalam tubuhnya?"


            "Ia memiliki kekuatan besar di dalam tubuhnya. Kutukan yang diberikan kepadanya, bukan semata-mata hanya sebuah kutukan. Kutukan itu bagaikan dua mata pedang yang dapat merugikannya, namun juga dapat menguntungkannya. Selama ini Aiden dapat melihat masa depan, dapat hidup kembali, dan dapat menghabisi musuh-musuhnya dengan mudah karena kutukan itu. Namun semua kekuatan itu akan lenyap perlahan-lahan seiring dengan wanita yang ditakdirkan untuknya mengandung. Seharusnya raja Aiden dan adikmu tidak melakukan hal yang tidak seharusnya sebelum mereka menikah, karena sudah pasti kondisi kerajaan masihlah belum stabil seperti saat ini. Masih banyak orang-orang jahat yang mencoba untuk melukai Raja dan pasangannya, sehingga raja seharusnya masih memiliki kekuatan itu untuk menangkal setiap kejahatan yang berusaha melukainya dan sang ratu. Tapi karena saat ini adikmu sedang mengandung, kekuatan raja Aiden semakin lama semakin melemah, ia tidak bisa memprediksi pergerakan musuhnya lagi, dan seiring dengan bertambahnya usia kandungan adikmu, raja Aiden akan dapat dibunuh dengan mudah. Kau bisa membunuh raja Aiden dan adikmu tanpa mereka bisa


hidup kembali." jelas sang penyihir panjang lebar. Tiffany tampak begitu terkejut dengan sebuah fakta yang baru saja ia ketahui. Pantas saja kelicikannya selama ini selalu diketahui oleh Aiden, ternyata ia memang selalu kalah langkah dengan pria itu. Namun sekarang semua itu tidak akan terjadi lagi, dengan kondisi Calistha yang sedang mengandung, Aiden tidak akan bisa membaca pergerakannya lagi. Ia dapat melakukan apapun dengan mudah tanpa perlu khawatir rencananya akan gagal. Tapi, itu berarti ia tidak boleh membunuh Calistha sekarang. Ia harus tetap mempertahankan kandungan Calistha agar kekuatan Aiden benar-benar semakin lemah dan lenyap.

__ADS_1


            "Kalau begitu, aku tidak bisa membunuh Calistha sekarang. Setidaknya aku harus menjaga kandungan


Calistha hingga benar-benar besar, sehingga Aiden dapat dikalahkan dengan mudah. Berikan aku kantung kutukan yang ringan, setidaknya kantung kutukan itu sifatnya hanya menyiksa, tidak menyakiti. Apa kau bisa?"


            "Sudah kuduga kau akan meminta hal ini. Aku sudah menyiapkan kantung kutukan yang akan membuat adikmu tertidur selama tiga hari. Letakan kantung kutukan ini di bawah ranjang milik adikmu, dan ia tidak akan terbangun hingga tiga hari ke depan." ucap penyihir itu sambil memberikan sebuah kantung kecil berwarna hitam kusam yang di dalamnya telah terisi berbagai macam barang-barang terkutuk dan sehelai rambut milik Calistha. Tiffany langsung menyeringai licik ketika menerima kantung kutukan itu dan membayangkan bagaimana wajah panik Aiden saat Calistha tidak terbangun dari tidurnya selama tiga hari. Meskipun kedengarannya kutukan itu sangat ringan, tapi efeknya akan sangat mengerikan. Jika Calistha tak kunjung bangun dari tidurnya selama tiga hari, maka ia tidak akan bisa makan dan ia akan lemas saat terbangun nantinya. Dan itu sudah cukup menyiksa untuk ukuran seorang wanita yang sedang mengandung.


            "Baiklah, aku akan segera meletakan kantung kutukan ini di bawah ranjangnya. Ini upah untukmu, tiga hari lagi aku akan datang untuk meminta kantung kutukan yang lainnya. Sampai jumpa." pamit Tiffany pada si penyihir sambil tersenyum puas. Penyihir itu hanya memandang punggung tegap Tiffany dengan kekehan jahat yang tampak mengerikan. Akhirnya setelah sekian lamanya ia tinggal sendiri di kerajaan Khronos tanpa memiliki satupun penerus, akhirnya ia menemukan seorang penerus yang tepat untuk mewarisi semua kelicikannya dan ilmu hitamnya. Perlahan-lahan ia akan menggiring Tiffany mendekat padanya, lalu ia akan membuat Tiffany menjadi muridnya dan ia akan mengajari semua ilmu hitam yang dikuasainya pada Tiffany. Ia yakin, wanita itu pasti akan mewarisi kejahatannya dengan sempurna.


-00-


            Di istana Khronos, Aiden tampak sedang kalut sambil menyesap winenya sendiri di dalam ruangannya yang gelap. Berita tentang kehamilan Calistha yang ia terima hari ini cukup mengganggu pikirannya. Ia merasa belum siap untuk memiliki penerus, karena ia dan Calistha masih dikelilingi oleh orang-orang jahat. Ditambah lagi saat ini


Gazelle telah berhasil kabur dari penjara bawah tanahnya berkat bantuan Spencer, semakin menambah daftar orang-orang jahat yang harus ia singkirkan dari Calistha. Aiden kemudian melirik jam dindingnya sekilas sambil mengusap wajahnya frustrasi. Jam telah menunjukan pukul tujuh malam, dan ia sama sekali belum melihat kondisi Calistha lagi semenjak pagi tadi. Tapi seorang pelayan telah mengabarkan padanya jika saat ini kondisi Calistha tampak sehat dan wanita itu telah sadar dari pingsanya. Ia juga telah menugaskan Yuri dan Sunny serta pengawal-pengawalnya yang lain untuk memberikan penjagaan ekstra di dalam kamar Calistha sehingga ia tidak perlu membawa Calistha ke dalam kamarnya malam ini. Ia ingin setidaknya berpikir jernih untuk mencari jalan keluar bagi seluruh masalah-masalahnya yang sangat rumit. Dan ia berharap seluruh kekuatannya tidak akan lenyap seiring dengan kandungan Calistha yang akan semakin membesar, karena ia masih memerlukan seluruh kekuatan itu.


Tok tok tok


            Ketukan nyaring yang berasal dari pintu langsung membuat Aiden kembali waspada dan mulai menegakan


tubuhnya dengan sigap. Dengan suara nyaring, Aiden mempersilahkan sang pengetuk untuk masuk ke dalam ruangannya. Tak berapa lama, pintu coklat besar itu langsung terbuka separuh, dan menampilkan sosok seorang pelayan yang sedang membawa sebuah nampan yang berisi secangkir teh. Tanpa ragu, Aiden langsung


            "Silahkan Yang Mulia."


            Aiden hanya menatap datar pelayan itu dan setelahnya ia kembali berkutat pada perkamen-perkamennya yang tampak berceceran di atas meja. Hari ini sebenarnya ia cukup sibuk dengan berbagai macam pekerjaanya, tapi semua pikirannya justru teralihkan pada Calistha dan calon anaknya hingga membuat semua pekerjaanya tak kunjung terselesaikan.


            "Untuk apa kau masih berdiri di sana?"


            Tiba-tiba Aiden berseru datar saat ia melihat pelayan wanita itu tak kunjung keluar dari kamarnya dan


justru terus berdiri di depan mejanya sambil memeluk nampan yang dipegangnya. Mendengar Aiden sedang menatapnya dengan tajam, Gazelle mulai berseru senang dalam hati karena siasatnya untuk menarik perhatian Aiden berhasil. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menjerat Aiden ke dalam perangkapnya.


            "Apakah Yang Mulia membutuhkan sesuatu yang lain? Saya dengan senang hati...."


            "Tidak, aku hanya ingin kau keluar dari ruanganku." potong Aiden cepat dengan suara dingin. Namun tanpa diduga, pelayan itu justru mendekat ke arahnya sambil meletakan nampan yang dipeluknya ke atas meja, hingga membuat sebagian pekerjaannya tertutupi oleh nampan itu.


            "Kau yakin, raja?" tanya Gazelle dengan suara meremehkan, diikuti dengan gerakan tangannya yang langsung melepaskan topi penutup kepalanya begitu saja di hadapan Aiden.


            "Hmm, jadi kau memutuskan untuk menyamar menjadi salah satu pelayan di istanaku? Tidak terkejut." komentar Aiden datar dengan wajah piasnya. Gazelle dengan berani langsung mendekati Aiden sambil menyapukan tangannya di wajah pria itu. Sudah sejak lama ia menginginkan hal ini. Menginginkan berada di samping Aiden sambil membelai wajah Aiden dengan intens. Ia ingin menunjukan pada Aiden rasa cintanya yang tidak pernah berubah meskipun pria itu telah menolaknya berkali-kali.

__ADS_1


            "Aiden, aku merindukanmu." bisik Gazelle sensual di telinganya. Aiden tampak mengetatkan rahanya sambil memejamkan matanya untuk bersabar. Biarlah kali ini ia mengikuti permainan Gazelle dan membuat wanita terperangkap ke dalam jebakannya.


            "Apa kau juga merindukanku?" bisik Gazelle lagi. Kali ini wanita itu semakin berani dengan mengelus dada bidang Aiden dengan gerakan seduktif. Lalu dengan tak tahu malunya, Gazelle langsung mengecup pipi kiri Aiden hingga menimbulkan bunyi decapan yang begitu nyaring di dalam ruangan Aiden yang senyap.


              "Aku selalu ingin melakukan hal itu sejak lama. Aiden, aku mencintaimu. Dan aku tahu kau juga mencintaiku. Kau pasti tidak akan pernah bahagia bersama Calistha. Wanita itu hanya wanita murahan yang tidak pantas bersanding denganmu, hanya aku wanita yang pantas bersanding denganmu Aiden. Hanya aku yang pantas mendampingimu."


            "Kalau begitu buktikan padaku, seberapa pantas dirimua untuk bersanding denganku, karena aku tidak bisa menerima sembarang wanita begitu saja. Wanita yang akan bersanding denganku haruslah wanita yang cantik dan yang terbaik dalam segala hal, termasuk dalam hal keturunan." ucap Aiden tenang dan tanpa ekspresi. Mendengar hal itu, Gazelle semakin bersemangat untuk mendekati Aiden karena ia merasa pria itu saat ini sedang memberinya kesempatan. Jika Aiden menginginkan bukti, maka dengan senang hati ia akan melakukannya. Ia akan melakukan apapun agar ia dianggap layak dan dapat bersanding dengan Aiden.


            "Aku akan membuktikan padamu. Apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku mengandung seperti Calistha? Aku akan membuktikan padamu jika bersamaku kau akan mendapatkan keturunan yang terbaik, karena aku memiliki gen unggul di dalam diriku." ucap Gazelle sombong dan penuh keyakinan. Kali ini Aiden mulai memalingkan wajahnya tepat ke arah Gazelle untuk melihat bagaimana kesungguhan Gazelle. Sedangkan Gazelle yang sedang ditatap Aiden dengan intens langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium bibir Aiden, namun Aiden berhasil memalingkan wajahnya, sehingga bibir merah itu hanya mendarat di sudut bibir Aiden yang dingin.


            "Aku belum mengijinkanmu untuk menyentuhku, jadi jangan coba-coba untuk menciumku jika kau tidak ingin kehilangan kesempatan langka ini." seru Aiden dingin. Gazelle langsung menjauhkan bibirnya lagi dari Aiden, tapi kedua tangannya masih terus bergerak dengan aktif membelai dada bidang Aiden dan rahang pria itu yang kokoh. Ia benar-benar terlihat murahan sekarang, ia ******!


            "Maaf, aku benar-benar sudah menantikan hal ini sejak lama. Oh, aku ingin bertanya satu hal padamu, apa kau bahagia dengan berita kehamilan Calistha? Kudengar kau terlihat datar-datar saja menanggapi hal itu, apa kau sebenarnya tidak pernah mengharapkan adanya bayi diantara kalian? Apakah kau hanya sekedar menikmati


tubuh Calistha?"


            "Itu bukan urusanmu. Kau tidak berhak menanyakan perasaanku pada Calistha, lebih baik kau pikirkan bagaimana nasibmu saat ini karena jika aku tidak puas, maka aku akan langsung memenggal kepalamu sekarang." peringat Aiden dengan nada sinis, namun ia masih tetap terlihat tenang. Entah sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Aiden saat ini. Ia terlihat menerima begitu saja setiap sentuhan yang diberikan oleh Gazelle padanya, tapi ia juga tidak sepenuhnya menerima wanita itu untuk menjadi pendampingnya, jadi ini benar-benar terlihat membingungkan.


            "Kuyakin kau akan puas dengan tubuhku, karena tubuhku jauh lebih indah daripada milik Calistha." bisik Gazelle lagi dengan lebih intens. Wanita itu semakin berani menyentuh tubuh Aiden dengan tangan-tangan kotornya. Namun Aiden tetap membiarkan hal itu hingga ia merasa jengah dan akhirnya meminta Gazelle untuk berdiri di depannya.


            "Menyingkirlah dari tubuhku dan berdirilah di sana, lepaskan pakaianmu, aku ingin menilai seberapa indah tubuhmu."


            Mendengar hal itu, Gazelle langsung melompat turun dari lengan kursi milik Aiden dan dengan semangat langsung melucuti semua pakaiannya hingga hanya menyisakan sebuah bra dan sebuah celana dalam berenda pink. Ia kemudian dengan gerakan erotis mulai meliuk-liukan tubuhnya di depan Aiden sambil membuat gerakan-gerakan yang tidak pantas untuk dilakukan. Tapi menurutnya hal itu sangat pantas untuk dilakukan karena ia ingin menarik perhatian Aiden dengan tubuhnya. Baginya tidak masalah jika Aiden hanya menyukai tubuhnya, yang penting ia dapat terus bersama Aiden, dan secara perlahan ia akan menyingkirkan Calistha nantinya.


                "Ahhh Aiden, apa kau menyukainyaaaaaa." erang Gazelle dengan suara seksi disertai desahan. Aiden menatap wanita itu datar tanpa berucap apapun. Ia bahkan tidak tanda-tanda jika ia tertarik dengan Gazelle. Namun sikapnya yang datar itu semakin membuat Gazelle menjadi liar dan kembali melakukan gerakan-gerakan erotis yang sangat menjijikan untuk dipandang..


            "Sentuh aku Aiden, aku telah siap untukmu."


            "Hmm, kau cukup menggairahkan. Sepertinya kau memang pantas untukku. Pergilah ke ranjang, aku akan mengunci pintu ruanganku agar tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu kegiatan kita." ucap Aiden datar. Gazelle yang mendengar hal itu merasa bahagia dan hendak melompat ke dalam pelukan Aiden, namun Aiden segera menghentikan gerakannya dan mengisyaratkan wanita itu untuk menunggunya di atas ranjang.


            "Jangan coba-coba menyentuhku sekarang karena aku tidak suka disentuh terlebih dulu oleh wanita."


            Gazelle langsung menggangguk mengerti dan segera berjalan menuju ranjang besar milik Aiden dengan penuh suka cita. Akhirnya penantiannya selama bertahun-tahun terbayar juga. Ia dapat menghabiskan malamnya hari ini bersama Aiden tanpa diganggu oleh siapapun, termasuk Calistha. Sebenarnya ia sangat ingin wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana pria yang dicintainya sedang bercinta dengan wanita lain, pasti rasanya akan sangat nikmat. Rasa sakit karena dikhianati adalah rasa sakit yang lebih sakit daripada rasa sakit karena sebuah luka tusukan pedang. Bahkan rasa sakit itu dapat terus mengikutimu sampai kapanpun, sampai kau mati sekalipun rasa sakit itu tetap akan kau rasakan.


                Tak berapa lama Gazelle merasakan ranjang di sebelahnya meringsek, disusul dengan sepasang lengan kekar yang langsung memeluknya.


                "Aiden, apa kau sudah siap untuk menggapai kenikmatan bersamaku?" tanya Gazelle manja dan langsung meraup bibir tipis Aiden tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Malam ini Gazelle bersumpah akan memberikan kepuasan untuk Aiden. Tak peduli pada harga dirinya yang setelah ini akan di cap sebagai wanita ******, yang penting ia bisa mendapatkan Aiden di dalam genggamannya. Yang terpenting rasa cintanya yang sudah bertahun-tahun tak terbalaskan dapat dibayar dengan persatuan mereka malam ini.

__ADS_1


__ADS_2