
Deru langkah kaki yang terdengar ribut itu memenuhi setiap lorong-lorong istana yang menghubungkan ruangan pribadi Aiden dengan aula istana. Beberapa dayang yang melihat keributan itu langsung berhenti sejenak untuk mengintip apa yang sedang terjadi pada sang calon ratu yang tiba-tiba pingsan di dalam dekapan raja mereka.
Sementara itu Aiden sedang menunggu hasil pemeriksaan dari tabib dengan cemas. Pikirannya sejak tadi terus berkelana pada kondisi Calistha yang terlihat begitu lemah dan menyedihkan. Meskipun ia tahu jika semua ini adalah ulah Tiffany, tapi ia tidak bisa menghukum wanita itu begitu saja. Ia harus menemukan bukti yang kuat sebagai alasan untuk menjatuhkan hukuman pada Tiffany. Lagipula jika ia langsung menghukum Tiffany sekarang tanpa adanya bukti yang kuat, Calistha pasti akan kembali membencinya dan membuat hubungan diantara mereka yang telah membaik menjadi buruk kembali.
Aiden kemudian memalingkan wajahnya pada wajah pucat Calistha yang saat ini sedang tertidur damai di atas peraduannya. Sang tabib sejak tadi masih berkutat dengan kedua kaki Calistha yang terluka cukup dalam. Rupanya paku-paku itu telah menancap di dalam telapak kaki Calistha cukup lama. Dapat ia bayangkan jika sebenarnya Calistha sebenarnya telah merasakan sakit sejak berjalan keluar dari kamarnya, tapi raut kesakitan wanita itu berhasil disembunyikannya dengan sempurna karena kejadian itu juga bertepatan dengan kejadian perang dingin mereka yang berlangsung seharian ini. Tiba-tiba perasaan bersalah itu kembali menyusup ke dalam hatinya yang dingin dan beku. Tidak pernah selama ia menjadi raja ia merasakan rasa bersalah yang teramat dalam seperti ini, padahal selama ini ia sering melenyapkan banyak nyawa dengan tangan dinginnya. Tapi rasa bersalahnya benar-benar tidak pernah muncul dan hanya muncul pada Calistha. Wanita itu... semakin lama ia semakin membuatnya terlihat lebih manusiawi. Dan rasa kemanusiawian yang ia rasakan saat ini cukup membuatnya terkejut dan merasa aneh dengan perasaan itu. Apakah setelah ini ia akan semakin lemah dengan perasaan manusiawi itu atau justru ia akan semakin terlihat bijaksana dengan sisi manusiawinya yang asing?
"Yang Mulia, hamba telah selesai mengobati luka di kaki ratu Calistha."
Tiba-tiba tabib itu berdiri dan membuat lamunannya tentang Calistha buyar. Dengan wajah tak sabar,
Aiden langsung mendekat pada tubuh lemah Calistha sambil menunggu tabib itu melaporkan keadaan Calistha padanya. Dalam hati Aiden berharap semoga keadaan Calistha baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang mengerikan pada wanita itu, karena jika sampai hal itu terjadi, maka orang pertama yang akan menjadi sasaran kemarahannya adalah Tiffany. Ia bersumpah akan membuat Tiffany membayar seluruh perbuatan jahatnya pada Calistha dengan sangat keji.
"Yang Mulia ratu saat ini mengalami pendarahan yang cukup serius di telapak kakinya, tapi hamba
telah berhasil menghentikan pendarahan itu dan membebat kaki Yang Mulia ratu dengan kain putih steril dan obat-obatan herbal, kemungkinan ratu tidak akan bisa berjalan selama seminggu kedepan, jadi..."
"Apa Calistha benar-benar baik-baik saja? Selain kakinya, adakah hal lain yang perlu dikhawatirkan?" potong Aiden cepat dengan wajah tak sabar. Sang tabib tersenyum kecil dan menggeleng pada Aiden sebagai jawaban atas pertanyaan beruntun pria itu.
"Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan Yang Mulia, ratu akan baik-baik saja. Yang Mulia
ratu hanya memerlukan istirahat total selama seminggu dan saya menyarankan agar ratu tidak memaksakan diri untuk berjalan karena luka di kaki ratu Calistha cukup parah, sehingga membutuhkan sedikit waktu untuk memulihkannya menjadi seperti dulu." terang sang tabib menjelaskan. Aiden mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan langsung memandang wajah Calistha dengan penuh kelegaan. Setidaknya Calisthanya hanya mengalami luka ringan di kaki. Tapi ia yakin, setelah ini Tiffany pasti akan semakin gencar menyerang Calistha dengan berbagai macam rencana picik wanita itu. Dan sebelum hal itu terjadi, ia harus mengambil tindakan untuk mengamankan Calistha dari jangkauan Tiffany. Calistha tidak boleh berdekatan dengan Tiffany, dimanapun wanita itu berada. Dan jalan satu-satunya adalah dengan memindahkan kamar Calistha ke dalam kamarnya. Ya, setelah ini Calistha tidak akan tidur di kamarnya. Tapi Calistha akan selalu bersamanya, di sisinya.
"Kau, siapkan semua keperluan Calistha dan pindahkan semua barang-barang Calistha ke sini. Mulai sekarang ia akan tinggal di kamarku." perintah Aiden mutlak pada dayang-dayang yang saat ini tengah berkumpul di depan ruangan pribadinya.
-00-
Tiffany berjalan dengan anggun menyusuri lorong-lorong panjang menuju kamarnya dengan seringaian puas. Beberapa dayang tampak hilir mudik melewatinya sambil membawa berbagai macam barang di tangan mereka. Meskipun ia merasa cukup curiga pada dayang-dayang itu, tapi rasa senang dan bahagia yang melingkupi hatinya jauh lebih besar daripada rasa ingin tahunya, hingga ia memutuskan untuk mengabaikan para dayang itu dan hanya terfokus pada rencananya selanjutnya.
"Hmm, kira-kira apa yang akan kulakukan pada Calistha setelah ini." Tiffany mengernyitkan dahinya heran ketika ia melihat beberapa dayang sedang memindahkan beberapa barang pribadi milik Calistha keluar dari kamarnya.
"Ah, tunggu. Apa yang kalian lakukan pada barang-barang milik adikku, apa kalian akan memindahkannya ke suatu tempat?" tanya Tiffany pada seorang dayang bertubuh mungil yang sedang membawa beberapa gaun milik Calistha. Dayang itu langsung menghentikan langkahnya seketika saat Tiffanya memanggilnya sambil membungkuk hormat.
"Maaf nona, kami akan memindahkan barang-barang milik Yang Mulia Calistha ke dalam ruang pribadi
raja Aiden. Mulai saat ini Yang Mulia Calistha akan tinggal di dalam ruang pribadi raja Aiden karena kedua kaki Yang Mulia Calistha terluka cukup parah." Jelas dayang itu rinci. Tiffany langsung menggeram marah di dalam
__ADS_1
hati setelah mengetahui rencana Aiden yang akan mencoba memisahkannya dari Calistha. Sekarang ia benar-benar akan kesulitan untuk mencelakai Calistha. Ia harus segera memberitahukan hal ini pada Gazelle dan meminta saran dari wanita itu untuk menjalankan rencana berikutnya.
"Oh baiklah, terimakasih. Jika Calistha telah sadar, tolong beritahu aku. Aku akan mengganti pakaianku terlebihdahulu." pesan Tiffany pada dayang mungil itu sebelum sang dayang melanjutkan langkahnya menuju ruangan pribadi Aiden.
Sepeninggal dayang itu, Tiffany kembali melangkahkan kakinya ke dalam menuju kamar Calistha. Kini kamar itu tampak lebih kosong dari sebelumnya. Sebagian barang-barang milik Calistha benar-benar telah dipindahkan ke dalam ruang pribadi Aiden. Di dalam kamar itu hanya tersisa beberapa potong gaun dan barang-barang besar seperti meja rias dan kursi santai yang tidak ikut dipindahkan ke dalam ruang pribadi Aiden. Lalu saat Tiffany hendak mengambil gaun yang lebih sederhana dari dalam lemari pakaian milik Calistha, tiba-tiba Yuri masuk ke dalam kamar Calistha dengan raut wajah sedih yang sangat kentara di wajahnya. Wanita itu tampak tidak
memperhatikan keberadaan Tiffany di sana dan hanya fokus pada sepatu-sepatu milik Calistha yang belum sepenuhnya dipindahkan ke dalam ruang pribadi Aiden. Malam ini ia benar-benar merasa sedih karena ia merasa menjadi penyebab dari semua kekacauan yang terjadi di pesta penyambutan Calistha. Seharusnya ia mengecek sepatu itu terlebihdahulu sebelum ia memberikannya pada Calistha, sehingga Calistha tidak akan terluka cukup parah seperti saat ini.
Yuri terlihat mengusap air matanya sekilas dengan kasar sambil membawa tumpukan kardus-kardus di tangannya. Namun saat ia hendak berjalan kelur, Tiffany telah terlebihdahulu menghadang jalannya dan dengan sengaja menyenggolkan lengannya pada lengan Yuri, membuat kardus-kardus yang berada di dalam genggaman Yuri jatuh berhamburan di atas lantai dan menimbulkan suara berisik yang cukup nyaring.
"Ups, aku telah menyenggol lenganmu. Maaf." ucap Tiffany ringan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Yuri tampak menggeram marah pada Tiffanya, tapi sebisa mungkin ia menahan seluruh amarahnya agar ia tidak semakin memperparah keadaan. Saat ini sang ratu sedang sakit, ia tidak ingin menambah daftar kekacuan yang dibuatnya hari. Cukup menjadi penyebab dalam insiden mengerikan hari ini, dan ia tidak ingin menambahnya lagi dengan berdebat dengan Tiffany.
"Tolong singkirkan kaki anda, saya ingin merapikan sepatu-sepatu milik Yang Mulia Calistha." ucap Yuri sinis dan mulai berjongkok untuk mengumpulkan sepatu-sepatu milik Calistha yang berceceran di atas lantai. Tiffany menatap sinis pada Yuri dan ikut berjongkok di depan wanita itu. Sepertinya memancing kemarahan Yuri akan sangat menarik untuknya, terutama mengenai masalah kaki Calistha yang terluka, karena Yuri adalah pelayan yang menyiapkan semua keperluan Calistha hari ini, termasuk menyiapkan sepatu untuknya.
"Hmm, apa kau yang memberikan sepatu berpaku itu pada Calistha?"
Yuri tampak diam di tempat untuk beberapa saat, namun setelah itu ia memilih untuk mengabaikan Tiffany. Ia sedang tidak ingin membahas hal itu sekarang, terutama pada Tiffany.
"Hey, apa kau tuli? Kau pasti mendengar pertanyaanku bukan?" tanya Tiffany gusar karena
"Ada apa? Apa kau ingin tahu mengenai sepatu-sepatu itu?" tanya Yuri tanpa menggunakan bahasa formal. Tiffany menyeringai senang ketika pada akhirnya Yuri mau menjawab pertanyaannya. Ia akan menjebak Yuri dan membuat Yuri menjadi tersangka utama dalam peristiwa malam ini.
"Huh, akhirnya kau mengeluarkan suara emasmu juga. Jadi, apa sepatu yang digunakan Calistha hari ini kau yang menyiapkannya?"
"Ya, aku memang menyiapkan semua keperlukan Yang Mulia Calistha hari ini. Kenapa? Kau ingin menuduhku jika aku yang meletakan paku-paku itu di dalam sepatunya?" tanya Yuri menantang. Tiffany tersenyum kecil di sebelahnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tentu saja wanita itu tidak akan menuduhnya, wanita itu justru akan langsung membuatnya menjadi tersangka utama dalam peristiwa hari ini. Ia akan menghasut beberapa penghuni istana dan menyebarkan berita bohong jika Yuri telah meletakan paku-paku itu di dalam sepatu Calistha. Lalu Aiden pasti akan langsung menghukumnya karena semua bukti mengarah pada Yuri.
"Aku tidak menuduhmu. Bukankah kau memang tersangka dalam peristiwa hari ini. Jadi mengakulah sekarang, sebelum raja Aiden yang akan menanyaimu dan memberikan hukuman berat padamu karena kau hampir saja membunuh ratunya." Ucap Tiffany penuh provokasi. Yuri mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia mendorong tubuh Tiffany ke belakang dan mencakar wajah wanita ular itu sekarang.
"Aku tidak mungkin melakukan hal picik itu pada Yang Mulia Calistha karena aku sangat menyayanginya. Hmm, justru aku mencurigaimu karena aku tahu jika kau sangat membenci Calistha. Jadi, apa tebakanku benar?" tanya Yuri penuh selidik. Tiffany mengumpat dalam hati karena ternyata Yuri bukan tipe wanita yang mudah
dipengaruhi. Sekarang wanita itu justru balik menyerangngnya dan membuatnya sedikit terpojok. Tapi selama bukti itu tidak ada, maka ia akan tetap selamat dari semua hukuman yang akan diterimanya.
"Aku? Huh, yang benar saja. Calistha adalah adikku, aku tidak mungkin berbuat hal selicik itu untuk menyingkirkannya. Kau pasti hanya sedang mengalihkan tuduhan yang kuberikan padamu. Dasar kau wanita iblis." maki Tiffany kejam. Yuri membelalakan matanya kaget mendengar semua makian yang ditunjukan padanya. Seumur hidup ia tidak pernah mendapatkan perlakukan yang sangat kasar seperti ini, dan ia sangat tidak suka dengan sikap Tiffany yang sangat menyebalkan itu.
Brukk
__ADS_1
Yuri akhirnya kehabisan kesabaran dan mulai menyerang Tiffany dengan mendorong tubuh wanita itu hingga terjungkal ke belakang. Wanita itu kemudian segera berdiri sambil membawa tumpukan kardus-kardus milik Calistha yang telah berhasil ia kumpulkan. Lalu sebelum ia benar-benar pergi, ia menyempatkan diri untuk menendang pergelangan kaki Tiffany hingga wanita itu berteriak kesal karena kesakitan.
"Arghh, sialan kau Yuri! Aku akan membalasmu." teriak Tiffany murka sambil mengerang tertahan di atas lantai marmer yang dingin.
-00-
Malam ini pesta untuk menyambut Calistha berakhir kacau. Spencer yang ditugaskan oleh Aiden untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi di aula langsung mengumumkan pada seluruh tamu undangan jika pesta hari ini terpaksa dibatalkan. Semua tamu undangan yang hadir di sana tampak kecewa, namun mereka juga merasa prihatin dengan keadaan ratu mereka karena mereka melihat sendiri bagaimana wajah pucat ratunya saat digendong oleh Aiden keluar dari aula. Para tamu itu satu persatu mulai meninggalkan aula istana dengan terlebihdahulu mereka mengucapkan ungkapan sedih mereka pada Spencer, selaku orang terdekat dari Aiden yang akan menyampaikan rasa simpati mereka pada sang raja.
"Tuan, kami turut berduka atas musibah yang terjadi pada ratu, semoga ratu segera pulih dan dapat kembali menyapa kami dengan senyum cantiknya." ucap seorang rakyat jelata pada Spencer. Spencer menganggukan kepalanya dan tersenyum tulus pada pria itu sambil menepukan tangannya pada pundak pria itu. Ia sendiri merasa begitu sedih atas kejadian tiba-tiba yang menimpa ratunya. Tapi sayangnya ia tidak menyadari jika semua kejadian ini adalah salah satu rencana licik yang sedang dijalankan oleh Gazelle, wanita yang digilainya.
"Panglima Herren, tolong umumkan pada seluruh rakyat di luar istana untuk membubarkan pesta rakyat hari ini karena ratu sedang sakit." perintah Spencer pada panglima Herren yang kebetulan sedang melintas di depannya. Panglima bertubuh besar itu langsung menganggukan kepalanya mengerti dan segera pergi untuk mengumumkan pada seluruh rakyat Khronos yang hari ini sedang merayakan pesta rakyat di alun-alun kota.
Dari kejauhan, seseorang wanita dengan jubah merah dan tudung merah yang menutupi sebagian wajahnya tampak memperhatikan Spencer dengan dahi berkerut. Wanita setengah baya itu kemudian menghampiri panglima Herren yang sedang berjalan tak jauh darinya.
"Permisi, ada apa ini? Mengapa raja membubarkan pestanya?"
Panglima Herren menghentikan langkah kakinya dan memandang heran pada wanita setengah baya yang menggunakan jubah merah itu. Ia pikir wanita itu sedikit aneh karena tidak mengetahui musibah yang baru saja terjadi pada sang ratu.
"Kau tidak tahu?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya dua kali sambil menatap panglima Herren penuh tanda tanya.
"Maaf, tapi aku baru saja datang. Sebenarnya aku bukan penduduk Khronos, aku adalah penduduk perbatasan Bibury." ucap wanita itu menjelaskan. Panglima Herren menganggukan kepalanya mengerti dan langsung memberitahukan semua yang ia ketahui pada wanita itu.
"Ratu sedang sakit, sehingga raja memutuskan untuk membatalkan acara pesta pada malam ini. Sepertinya seseorang berencana untuk mencalakai ratu dengan meletakan beberapa paku di dalam sepatunya hingga saat ini kaki sang ratu terluka dan ia kehilangan cukup banyak darah karena hal itu."
"Ratu terluka? Ya Tuhan, lalu bagaimana keadaan Yang Mulia ratu sekarang?" tanya wanita baya itu penuh keterkejutan. Panglima Herren kemudian menggelengkan kepalanya lemah karena hingga saat ini raja belum memberitahukan bagiaman kondisi ratu Calistha pasca mendapat musibah mengerikan malam ini. Tapi menurutnya Calistha akan baik-baik saja karena ia belum mendapatkan kabar buruk atau semacamnya mengenai keadaan Calistha.
"Entahlah, raja belum mengatakan apapun. Tapi aku berharap ratu akan baik-baik saja. Ia ratu yang sangat baik, dan aku sangat menyukai sifatnya yang ramah itu."
"Ya, semoga saja ratu Calistha memang baik-baik saja. Terimakasih panglima atas informasinya."
Setelah menganggukan kepalanya pelan, Panglima Herren segera berjalan pergi meninggalkan wanita baya itu di dalam aula. Sedangkan wanita berjubah merah itu tanpa diketahui oleh siapapun langsung menyaru bersama para tamu undangan yang lain dan secara diam-diam ia menyusup ke dalam lorong istana yang sepi dan temaram. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu di dalam istana karena ia langsung melepaskan jubah merahnya di dekat pilar dan menyembunyikan jubah merah itu di bawah patung Michael yang besar di sudut ruangan. Sekarang penampilannya telah sama seperti para pelayan yang lain. Ia akan menyamar menjadi salah satu pelayan.
"Yang Mulia, aku datang untukmu."
__ADS_1