Queen Of Time

Queen Of Time
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)


__ADS_3

            Saat ini seluruh penghuni istana tampak sibuk mencari dimana keberadaan Calistha. Seluruh prajurit juga dikerahkan untuk menyisir ke setiap penjuru kerajaan Khronos demi mencari Calistha yang telah kabur. Sementara itu Aiden tampak bersedekap dengan gusar karena para prajuritnya sama sekali belum memberikan kabar mengenai keberadaan Calistha, padahal mereka sudah mencari-cari keberadaan Calistha selama satu jam lamanya. Akhirnya Aiden memutuskan untuk ikut mencari Calistha karena ia merasa jengah dengan kerja anak buahnya yang tidak becus. Padahal seharusnya mencari keberadaan Calistha adalah perkara yang mudah, mengingat ia juga tengah hamil. Tapi kenyataanya prajurit prajuritnya sama sekali tidak bisa diandalkan untuk


mencari Calistha. Mereka hanya terus berputar-putar tanpa membuahkan hasil sama sekali. Benar-benar payah!


            "Yang Mulia, anda mau pergi ke mana?"


            Tiba-tiba Spencer muncul sambil menatap heran pada Aiden. Pria itu berjalan mendekat pada Aiden sambil membungkuk hormat dengan wajah yang langsung ia tundukan dalam. Ia tahu saat ini Aiden sedang dalam mood yang buruk. Salah sedikit saja bisa-bisa ia langsung mendapat amukan yang dahsyat dari rajanya yang kejam itu.


            "Aku akan turun tangan untuk mencari Calistha, mereka benar-benar tidak becus dan tidak bisa diandalkan. Lalu bagaimana denganmu, apa kau sudah menemukan keberadaan Calistha?"


            "Maafkan saya Yang Mulia, saya belum mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Yang Mulia Calistha, tapi saya akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari Yang Mulia ratu."


              "Ck, kau sama saja dengan prajurit-prajurit lambat itu. Kalau begitu aku memang harus turun tangan untuk menemukan wanita bodoh itu dan menyeretnya pulang ke istana. Kau, lanjutkan pencarianmu ke daerah perbatasan, mungkin saja ia memang ingin pergi keluar dari Khronos karena sikapku yang terlalu keras padanya."


            "Memangnya apa yang anda lakukan pada Yang Mulia Calistha?"


            "Kau tidak perlu tahu, bukan urusanmu." jawab Aiden datar. Spencer yang mengetahui ucapannya salah langsung merasa salah tingkah, dan selajutnya ia langsung menunduk sambil meminta maaf pada Aiden.

__ADS_1


            "Maafkan saya Yang Mulia, saya akan segera menemukan Yang Mulia Calistha."


               Setelah itu Spencer langsung berlalu pergi meninggalkan Aiden sendiri yang masih tampak gusar dengan sikap ingin tahu Spencer yang sangat menyebalkan.


              "Dasar, sekarang ia mulai berani padaku. Aku harus memperlakukannya lebih keras lagi." gumam Aiden kesal. Pria itu kemudian berjalan pergi menuju aula utama untuk bersiap mencari Calistha. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, sosok wanita yang sejak tadi menjadi objek pencariannya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah takut dan juga mata sembab. Wanita itu terlihat begitu canggung berada di hadapannya sambil memilin ujung gaunnya berkali-kali. Tak lama kemudian munculah Tiffany dari balik tubuh rampingnya yang sedang menatap matanya dengan tatapan tajam dan juga senyum licik yang terpatri di wajah cantiknya.


            "Oh, akhirnya kau kembali." ucap Aiden datar tanpa menatap Calistha. Kedua matanya saat ini tengah fokus menatap kedua manik Tiffany sambil menguarkan aura mengintimidasi dari tubuhnya. Namun seakan-akan tak terpengaruh dengan semua itu, Tiffany justru membalasnya dengan tatapan  yang tak kalah tajam sambil menyeringai samar dibalik bahu Calistha.


            "Mmmaafkan aku, aku tahu aku salah." Calistha berseru takut-takut dengan suara bergetar. Seketika perhatian Aiden langsung teralihkan pada Calistha.  Wanita ini memang benar-benar merepotkan. Emosinya mampu dijungkirbalikan begitu saja oleh wanita itu dengan mudah. Bahkan kemarahannya yang sejak tadi meluap-luap dan terasa panas di sekujur tubuhnya, tiba-tiba saja hilang dan digantikan dengan perasaan lega yang begitu menenangkan. Tadi ketika Spencer memberitahukan padanya jika Calistha dan Tiffany tidak ada di dalam istana, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan tegang. Ia sangat takut jika Tiffany akan mencelakakan Calistha di luar sana, tapi syukurlah semua itu tidak terjadi. Saat ini Calistha berdiri di hadapannya dengan keadaan sehat dan tampak baik-baik saja. Hanya matanya yang tampak sembab dan bengkak, tapi ia yakin itu bukan karena perbuatan Tiffany, tapi karena perbuatan kasarnya.


                "Aaaku... aku.. maafkan aku."


                Calistha tampak begitu kesulitan untuk menjawab pertanyaan Aiden. Sejak tadi ia hanya memilin-milin


ujung gaunnya tanpa berani menatap manik mata Aiden yang legam. Merasa gusar dengan sikap Calistha yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, akhirnya Aiden memutuskan untuk menyuruh Calistha pergi ke kamarnya. Ia pikir ia akan menanyai Calistha secara pribadi tanpa ada Tiffany di sana. Dan saat ini ia akan mengintrogasi Tiffany terlebih dahulu. Mengapa wanita itu membawa Calistha kembali padanya, sedangkan ia sangat ingin membunuh Calistha dan melakukan balas dendam padanya.


                "Masuklah ke kamarmu sekarang!" perintah Aiden tegas. Seperti seorang anak kecil berumur lima tahun, Calistha langsung mengangguk patuh dan segera pergi menuju kamarnya. Sementara itu Tiffany tampak tersenyum santai pada Aiden sambil menatap kepergian Calistha dengan tatapan geli yang dipaksakan.

__ADS_1


                "Haha, kehamilannya merubah Calistha menjadi wanita yang lemah seperti itu." Tiffany berucap santai sambil mengendikan dagunya ke arah Calistha. Namun tiba-tiba Aiden langsung menarik lengannya dan mencengkeramnya dengan kuat hingga Tiffany merasa kesakitan dan gusar.


                "Apa yang kau lakukan, lepaskan aku." marah Tiffany sambil meronta-ronta. Seketika tatapan geli yang sebelumnya ia tunjukan langsung berubah menjadi tatapan marah yang dipenuhi dengan kebencian. Dan justru itulah sikap asli Tiffany.


            "Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?" bisik Aiden penuh penekanan. Tiffany yang awalnya meronta-ronta langsung membalas tatapan menusuk Aiden dengan seringaian liciknya yang tak kalah mengerikan. Ia tidak takut pada Aiden.


            "Huh, kau ingin tahu apa yang sedang kurencanakan? Cobalah menerkanya dengan kekuatan ajaibmu, kau bisa melakukannya bukan?" balas Tiffany santai. Mendengar hal itu Aiden menjadi sangat marah dan langsung mencengkeram lengan Tiffany dengan lebih keras. Tak peduli jika kekuatan cengkeramannya akan meremukan lengan Tiffany, justru ia akan sangat senang jika hal itu terjadi pada wanita licik itu.


            "Jika kau berani menyentuh Calistha, maka aku akan membunuhmu dengan cara yang lebih kejam daripada Gazelle." ancam Aiden mengerikan. Namun Tiffany tampak tak terpengaruh dan hanya sibuk meronta-ronta karena lengannya terasa sakit.


                "Lepaskan, kau menyakiti lenganku." balas Tiffany tak kalah galak. Aiden kemudian langsung melepaskan cengkeraman tangannya begitu saja sambil menghempaskan tubuh Tiffany ke belakang. Lalu ia segera berjalan pergi meninggalkan Tiffany yang masih setia berdiri di belakangnya sambil menyeringai sinis ke arahnya.


                "Aiden, aku tidak takut dengan ancamanmu. Dan kau tidak akan bisa membunuhku karena sebelum kau melakukannya, aku yang akan membunuhmu terlebihdahulu, melalui Calistha." bisik Tiffany licik pada udara kosong di sekitarnya. Namun, tanpa diduga seseorang telah mendengar bisikannya sambil bersembunyi di belakang pilar. Dan saat Tiffany berjalan pergi melewati pilar, orang itu langsung bersembunyi di balik patung prajurit berbaju zirah sambil menatap Tiffany dengan tatapan yang sulit diartikan.


-00-


            Calistha masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan gamang yang begitu mengganggu di dalam dadanya. Seharusnya Tiffany tidak menuntunnya untuk kembali ke istana, tapi wanita itu terus memaksanya dan menariknya dengan susah payah agar ia segera masuk ke dalam istana.  Calistha kemudian memutuskan untuk merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi cahaya lampu yang indah. Terbayang dibenaknya bagaimana kamar Aiden yang gelap dan bagaimana kamarnya yang selalu dipenuhi oleh cahaya yang terang. Mereka berdua sebenarnya adalah dua orang individu yang berbeda. Ia adalah wanita yang penuh keceriaan dan dibesarkan dengan penuh cinta oleh orang-orang yang mencintainya. Tapi Aiden, pria itu sudah terbiasa merasakan kesakitan di masa kecilnya sehingga ia tumbuh menjadi pria kaku yang kejam. Namun perlahan-lahan ia dapat beradaptasi dengan cahaya gelap Aiden dan dapat menyesuaikan diri dengan kepribadian Aiden yang kejam. Begitu pun sebaliknya, Aiden juga dapat beradaptasi dengan kepribadiannya yang penuh warna seperti warna lampu yang dipancarkan di atas langit-langit kamarnya. Lalu apa lagi yang membuatnya ragu pada Aiden dan tidak bisa sepenuhnya memberikan cintanya pada Aiden? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya hingga membuatnya merasa pusing dan frustasi. Padahal Aiden telah banyak berkorban untuknya dan memberikan tempat yang begitu tinggi di sisinya, tapi ia dengan kejamnya selalu menyakiti Aiden dengan sikapnya yang egois. Apa aku harus meminta maaf pada Aiden lagi?

__ADS_1


__ADS_2