Queen Of Time

Queen Of Time
Time That We Used (Fourty Four)


__ADS_3

            Aiden bersedekap angkuh di depan mayat Gazelle yang sedang dibawa oleh para pengawalnya menuju alun-alun kota. Akhirnya satu parasit pengganggu berhasil ia lumpuhkan. Setidaknya Tiffany akan merasa lebih kesulitan tanpa adanya Gazelle di pihaknya. Tapi meskipun begitu ia tetap harus mewaspadai Tiffany karena wanita


itu sudah mulai menggunakan sihir hitam untuk menyerangnya dan Calistha. Ia harus segera mencari keberadaan penyihir itu dan membunuhnya agar penyihir itu tidak membantu Tiffany untuk menjalankan rencana jahatnya.


            "Kau, cari tahu mengenai penyihir hitam yang tinggal di dekat pasar." perintah Aiden pada seorang pengawal yang berdiri tak jauh darinya. Pengawal itu langsung mengangguk patuh dan segera pamit undur diri untuk menjalankan perintah dari sang raja.


            Setelah memerintahkan pengawalnya, Aiden segera berjalan pergi untuk mencari keberadaan Spencer. Setelah semalam ia membiarkan Spencer membersihkan semua kekacauan yang dilakukan olehnya, Aiden sama sekali belum melihat pria itu lagi pagi ini. Ia pikir saat ini Spencer sedang meratapi nasib karena ia baru saja membunuh wanita yang sangat dicintainya. Tapi ia harus segera menyadarkan Spencer agar pria itu tidak terus menerus berkubang dalam kesedihannya yang sia-sia itu, karena sampai kapanpun pria itu juga tidak akan mendapatkan hati Gazelle, bahkan hingga ajal menjemput wanita itu, satu-satunya pria yang dibayangkannya adalah Aiden.


Sringgg!


Srakk srakkk!!


Sring!


Bruk


            Aiden melihat Spencer sedang berlatih pedang di halaman belakang. Saat ini pria itu tampak kacau dan


hanya berlatih pedang secara asal-asalan untuk melampiaskan seluruh emosi yang bersarang di dalam hatinya. Ia kemudian berjalan mendekati Spencer sambil berdeham nyaring pada pria itu.


            "Permainan pedang yang sangat kacau. Lebih baik kau melawanku agar kau benar-benar bisa menyalurkan rasa marah dan bencimu padaku." ucap Aiden santai. Spencer mendongakan kepalanya tak percaya sambil menatap Aiden dengan tatapan penuh kesedihan.


            "Apakah anda yakin Yang Mulia?"


            "Aku sangat yakin. Majulah, dan lawan aku." tantang Aiden. Pria itu kini telah siap dengan pedang di tangannya. Spencer yang memang merasa marah, kesal, sedih, dan benci pada Aiden langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalurkan semua rasa sesak yang bergumul di dalam dadanya. Mungkin saja ia dapat melukai Aiden di beberapa titik untuk mengurangi rasa marahnya pada raja kejam itu.


Trakk


            Spencer mengarahkan mata pedangnya tepat ke wajah Aiden, namun Aiden langsung menangkis serangan pedang itu dan dapat membaliknya dengan mudah hingga Spencer sedikit terhuyung ke belakang.


            "Kau terlalu kacau untuk melawanku Spencer." ucap Aiden meremehkan. Pria itu tampak memandang rendah Spencer dengan seringai meremehkan yang membuat Spencer semakin berambisi untuk menyerang Aiden. Dengan penuh perhitungan Spencer kembali mengarahkan mata pedangnya pada Aiden, dan kali ini sasarannya adalah bagian betis sebelah kanan Aiden karena ia pikir Aiden tidak akan membaca gerakannya yang akan menyerang kaki pria itu. Namun ternyata saat ia hendak menyabetkan pedangnya pada kaki Aiden, pria itu sudah terlebihdulu menghindar dan justru berhasil memukul punggungnya dengan pedang yang digenggamnya dengan keras.


            "Uhukk uhukk uhuuk."


            Spencer terbatuk-batuk keras di atas tanah sambil menahan perih pada punggungnya yang terasa ngilu. Namun ia tidak ingin menyerah begitu saja, ia masih ingin melanjutkan duel ini agar hatinya yang terbakar amarah dapat merasa lega setelah ia berhasil melukai Aiden di beberapa titik.

__ADS_1


            "Konsentrasilah, jangan sampai cinta membuatmu menjadi lemah seperti ini Spencer." teriak Aiden lantang. Merasa terhina, Spencer langsung bangkit berdiri sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara. Tak peduli jika Aiden adalah rajanya sendiri, saat ini ia hanya ingin menyalurkan seluruh rasa marahnya yang menggelegak di dalam hatinya.


            "Anda tidak perlu mengajari saya, karena anda sendiri juga telah dilemahkan oleh rasa cinta anda pada Yang Mulia Calistha." balas Spencer berani. Sesaat Aiden cukup terkejut dengan keberanian Spencer, namun ia yakin jika itu semua hanya emosi sesaat yang disebabkan oleh kematian Gazelle. Setelah beberapa hari, Spencer pasti akan kembali seperti semula.


            "Kalau begitu buktikan padaku jika kau tidak lemah. Serang aku dengan seluruh kekuatanmu."


            Tanpa menunggu banyak waktu, Spencer kembali menyiapkan kuda-kudanya untuk melawan Aiden. Aiden sendiri kali ini tidak ingin bermain-main lagi dengan Spencer, kali ini ia akan benar-benar memperlakukan Spencer sebagai musuhnya. Ia rasa Spencer segera disadarkan dari rasa cintanya yang terlalu berlebihan itu.


Srakk


Sring!


Trak


            Beberapa kali Spencer mengarahkan mata pedangnya pada tubuh Aiden untuk melukai Aiden dan membuat


pria itu kalah darinya. Tapi Aiden sendiri juga tampak begitu gigih melawan Spencer dengan seluruh kemampuannya yang hebat, ditambah lagi saat ini Spencer sedang dalam keadaan kacau, sehingga beberapa kali ia berhasil menggoreskan pedangnya pada kulit lengan dan kulit paha Spencer. Darah segar perlahan-lahan menetes membasahi tanah cokat tandus yang menjadi pijakan mereka. Keringat dan debu yang berasal dari tanah tandus di bawah mereka tampak mengotori seluruh sisi wajah mereka dan membuat pandangan mereka sedikit mengabur. Namun hal itu bukan halangan karena mereka sudah terbiasa menghadapi hal tersebut di medan perang. Sekarang adalah saatnya bagi Aiden maupun Spencer untuk saling mencari titik kelemahan masing-masing dan menjatuhkan lawan mereka dengan telak agar salah satu diantara mereka dapat menunjukan jika ego merekalah yang benar.


Trakk


            "Kau bodoh Spencer! Kau bodoh karena telah mencintai ****** itu!"


Srakk


Sring


bersikap kasar padanya, pasti Gazelle tidak akan bersikap seperti itu. Sebagai sahabat yang sudah sering mendengarkan setiap keluh kesah yang dilontarkan oleh Gazelle, ia tahu jika Gazelle adalah wanita yang baik.


            "Gazelle bukan ******, Gazelle adalah wanita baik yang terlalu terobsesi pada anda." teriak Spencer murka. Aiden tampak menyeringai mengerikan di depan Spencer karena kesabarannya untuk menghadapi sikap Spencer telah habis. Pria itu benar-benar keras kepala dengan pemikirannya yang dangkal. Padahal sudah jelas jika Gazelle


telah banyak berubah beberapa tahun terakhir ini. Gazelle yang sekarang adalah seorang wanita dengan      kepribadian mengerikan yang sama sekali tidak dikenalnya.


            "Apa kau masih ingin terus mempertahankan egomu disaat bukti nyata itu telah berada di depan


matamu. Kau harus membuang seluruh pikiran dangkalmu! Bangun dari mimpimu dan lihatlah realita!"

__ADS_1


Sringg!


Bruk


            Dalam sekali tebasan, ujung pedang Aiden berhasil mengenai pergelangan kaki Spencer dan membuat pria itu terduduk tak berdaya di atas tanah. Kini darah dan pasir telah bercampur menjadi satu dan mengotori setiap jengkal tubuh Spencer. Namun dibalik semua darah dan debu pasir yang mengotori wajahnya, tersembunyi setetes air mata kepedihan yang berasal dari hatinya yang terluka. Selama ini ia memang selalu berpikir jika mungkin saja suatu saat Gazelle akan berbalik mencintainya setelah ia memperlakukan wanita itu dengan tulus, tapi apa yang dikatan oleh Aiden benar. Ia harus bangun dari semua mimpi-mimpi semu itu. Ia harus melihat fakta menyakitkan yang terpampang di hadapannya jika sampai kapanpun Gazelle tidak akan pernah mencintainya, bahkan di detik terakhir kematiannya.


            "Apa kau sudah menyadari semua kebodohanmu? Apa kau sudah meresapi semua ucapanku dengan baik?" tanya Aiden penuh emosi. Deru napas dan peluh yang membanjiri wajahnya saling berkejaran karena luapan emosi yang dikeluarkannya. Selama ini ia telah menganggap Spencer sebagai saudaranya sendiri, sehingga ia tidak ingin Spencer terus terjebak di dalam angan-angan semunya. Ia ingin Spencer menjadi pengawal kepercayaannya yang paling setia seperti dulu dengan segudang prestasinya yang membanggakan.


            "Maafkan saya Yang Mulia. Maafkan saya." ucap Spencer lirih setelah cukup lama mereka saling terdiam dalam pikiran masing-masing. Aiden menatap Spencer datar, namun terselip sebuah kelegaan dari pancaran matanya. Akhirnya Spencer menyadari semua kesalahannya dan kembali menjadi Spencer yang dulu. Aiden kemudian berjalan mendekat pada Spencer dan mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu berdiri.


            "Berdirilah. Kau sudah kuanggap seperti saudara laki-lakiku sendiri, dan aku selalu menginginkan yang terbaik untuk saudara laki lakiku. Sekarang bersihkan dirimu dan selesaikan semua tugas-tugasmu yang tertunda. Jangan membuatku kecewa."


           Spencer meraih uluran tangan itu dan langsung mengangguk patuh. Ia merasa benar-benar terharu dengan sikap Aiden yang selama ini ternyata sangat mempedulikannya. Betapa malunya ia pernah mengkhianati Aiden dan ingin melukai pria itu. Setelah ini ia bertekad pada dirinya sendiri akan selalu mengabdikan hidupnya untuk Aiden dan Khronos.


            "Terimakasih Yang Mulia atas kebaikan anda, saya sungguh minta maaf."


            Aiden menepuk pundak Spencer pelan dan segera berjalan pergi meninggalkan Spencer sendiri di arena


berlatih. Peristiwa kali ini telah memberikan pelajaran yang cukup berarti bagi dirinya maupun Spencer. Dan ia cukup bersyukur karena emosinya perlahan-lahan mulai berubah menjadi stabil. Ia tidak lagi menggunakan kekerasan dan pembunuhan pada orang-orang yang berbuat kesalahan dalam taraf ringan seperti Spencer. Tapi ketegasan itu tetap harus ia lakukan untuk orang-orang yang telah berbuat banyak kesalahan seperti Gazelle. Dan ia akan tetap berlaku kejam bagi mereka-mereka yang berani mengusik hidupnya dan juga Calistha.


-00-


            Siang hari alun-alun kerajaan Khornos tampak ramai dengan pasukan pengawal yang telah berbaris rapi


sambil membawa tandu yang berisi mayat Gazelle. Aiden yang berada di barisan terdepan barisan itu langsung memerintahkan para pengawalnya untuk menyebar dan membuat palang untuk menggantung mayat Gazelle di tengah-tengah alun-alun kota yang luas dan panas. Seluruh rakyat Khronos yang melihat raja mereka datang


bersama dengan para pengawal yang berjumlah ratusan, langsung datang berbondong-bondong untuk melihat apa yang sedang terjadi di tengah alun-alun.


            "Gantung sekarang!" perintah Aiden tegas di tengah alun-alun sambil bersedekap penuh keangkuhan. Ratusan rakyat yang melihat mayat Gazelle akan digantungkan di tengah alun-alun langsung memekik histeris dengan kengerian yang mencekam di hadapan mereka. Para orangtua yang sedang bersama anak-anak mereka langsung menutup kedua mata anak mereka agar mereka tidak ketakutan dan semakin


berteriak histeris.


            Sementara para prajurit masih berkutat dengan penggantungan mayat Gazelle, kedua orangtua Gazelle, menteri perang Zach dan isterinya langsung berlari menerobos kerumunan rakyat untuk melihat mayat anak mereka yang tampak mengenaskan. Mereka berdua langsung jatuh terduduk di hadapan Aiden sambil menangis sesenggukan mempertanyakan apa yang telah terjadi pada anak mereka yang telah lama menghilang.


            "Seluruh rakyat Kerajaan Khronos, lihatlah mayat wanita ****** yang saat ini berada di hadapan kalian semua. Bagi siapapun yang melakukan pengkhianat padaku dan kerajaanku, serta mengganggu kehidupanku, maka kalian akan berakhir seperti wanita murahan ini. Mayat ini akan kugantung di sini sebagai simbol para pemberontak yang tidak tahu diri. Dan untuk menteri Zach, aku sungguh menyesal karena harus memberikan kejutan yang sangat mengerikan seperti ini. Karena kau memiliki dedikasi yang tinggi untuk kerajaanku, gelar bangsawan dan kedudukanmu sebagai menteri tidak akan kuambil. Kau tetap akan menjadi menteri perang yang disegani oleh seluruh rakyat Khornos, jadi jangan coba-coba untuk menusukku dari belakang." peringat Aiden dengan nada mengerikan. Kedua orangtua Gazelle langsung bersujud ketakutan di hadapan Aiden sambil terus menangisi kondisi putri mereka yang sangat mengenaskan. Gazelle digantung dalam keadaan tubuh yang terpisah dengan kepalanya. Kondisi tubuhnya pun masih dalam keadaan telanjang, sama persis dengan keadaan Gazelle sebelum ia merenggang nyawa. Hal ini dilakukan oleh Aiden untuk memberitahu pada rakyatnya jika wanita itu

__ADS_1


benar-benar wanita jahat yang berhak mati dalam keadaan yang tidak terhormat karena wanita itu pun sama sekali tidak menghormati dirinya sendiri.


            Dari kejauhan, Spencer hanya mampu menunduk sedih menatap mayat Gazelle dan kedua orangtuanya yang tampak terpukul. Tiba-tiba sebersit penyesalan langsung menyusup ke dalam dada Spencer dan membuat pria itu kembali sedih. Andai saja ia tidak terhasut dengan ucapan wanita itu, maka semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kini ia benar-benar merasa menyesal dengan semua perbuatan yang telah dilakukannya akhir-akhir ini. Dan ia memang pantas mendapatkan hal itu. Lalu sebersit ingatan saat ia hendak menebas pedang itu ke kepala Gazelle kembali terngiang di kepalanya. Masih teringat jelas di dalam pikirannya saat Gazelle akhirnya menyadari jika ia telah salah. Wanita itu pada akhirnya mengetahui jika ia bukan Aiden, melainkan Spencer. Namun saat wanita itu telah menyadarinya, semuanya telah terlambat. Ia sudah terlanjur mengayunkan pedangnya dan pada akhirnya semua ini terjadi. Wanita itu mati dalam keadaan menjerit lirih meneriakan namanya untuk berhenti.


__ADS_2