
"Yang Mulia, keadaan Yang Mulia Aiden semakin parah."
Dengan berat hati Spencer mengabarkan berita itu pada Calistha setelah tabib istana selesai mengobati luka Aiden.
Calistha yang saat ini tengah berada di dalam kamarnya semakin menenggelamkan wajahnya di atas bantal sambil menangis tersedu-sedu membayangkan keadaan Aiden saat ini. Ia tahu jika Aiden memang tidak akan sembuh. Obat-obatan yang diberikan oleh tabib istana sama sekali tidak berpengaruh apapun pada luka Aiden. Sejak awal Zurich sudah mengatakan padanya, tapi ia tetap bersikeras ingin mencobanya terlebihdahulu
setelah Sybil sendiri tidak bisa menyembuhkan luka Aiden. Penyihir licik itu benar-benar memberikan mantra yang sangat kuat hingga ia sendiri tidak bisa menarik mantra itu. Sekarang luka tusukan dari pedang itu semakin parah, luka itu tidak bisa ditutup dan semakin lama justru semakin terbuka lebar, membuat Aiden harus kehilangan darahnya perlahan-lahan. Rasanya saat ini ia benar-benar menyesal karena telah bertindak bodoh dan menyebabkan Aiden harus terluka. Tapi semua hal yang ia lakukan hari ini benar-benar murni karena rasa simpatinya pada penyihir jahat itu. Ia tidak tahu jika wanita malang yang ditolongnya adalah seorang penyihir yang justru ingin menghancurkannya dan Aiden. Andai saja ia bisa memutar waktu, ia ingin semua ini tidak pernah terjadi.
"Spencer." Tiba-tiba saja Calistha melompat turun dari ranjangnya sambil menatap manik mata Spencer dalam. Wanita itu tampak berbinar-binar ceria dan segera meminta Spencer untuk mengantarnya menemui Aiden. "Antar aku untuk menemui Aiden, kurasa aku tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka Aiden." ucap Calistha berbinar-binar. Ia kemudian segera berjalan pergi diikuti oleh Spencer di belakangnya.
Meskipun Spencer sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh calon ratunya itu, tapi ia pikir sang ratu pasti sedang memiliki jalan keluar lain untuk kesembuhan rajanya. Ia sendiri jujur belum ingin kehilangan Aiden. Meskipun Aiden memang jahat dan bertangan besi, tapi sikap kepemimpinan Aiden memang benar-benar tak tergantikan. Menurutnya tidak ada raja dari kerajaan lain yang memiliki ketegasan, kebijaksanaan, dan kebaikan yang sama beratnya selain raja Aiden. Selain itu ia juga telah menganggap Aiden sebagai saudara kandungnya sendiri, ia tidak mau kehilangan sosok Aiden dari hidupnya. Ia masih menginginkan Aiden untuk menjadi rajanya dan panutannya.
"Spencer, apa kau mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh Aiden?"
"Kekuatan? Entahlah, saya tidak yakin. Raja Aiden adalah orang yang sangat tertutup, raja jarang sekali membicarakan hal-hal pribadinya pada saya. Jadi saya tidak yakin mengenai kekuatan yang dimiliki oleh raja Aiden." terang Spencer sambil mengernyitkan dahinya. Selama ini Aiden memang tidak terlalu terbuka padanya.
Menurutnya kehidupan raja terlalu rumit untuk diceritakan dan dijalankan, sehingga ia sendiri juga tidak pernah mencari tahu jika Aiden tidak menceritakannya sendiri padanya. Hal itu jauh lebih sopan daripda ia harus mengikuti kemanapun raja pergi sambil mengamati apa saja yang dilakukan raja selama ini. Lagipula meskipun ia adalah pengawal setia Aiden, ia justru jarang berada di sekitar sang raja jika di hari-hari biasa. Ia hanya berada di sisi
raja saat sedang berperang atau saat sedang menyusun peraturan-peraturan untuk kerajaan jajahannya, jadi ia tidak pernah tahu jika Aiden memiliki kekuatan di dalam dirinya.
"Sebenarnya Aiden memiliki kekuatan. Kutukan itu selain membawa malapetaka, juga membawa berkah bagi Aiden, karena dengan adanya kutukan itu ia bisa melihat masa depan, membaca pikiran, dan hidup lagi dari kematian. Tapi sayangnya akhir-akhir ini kekuatannya semakin melemah setelah kehamilanku. Aku sebenarnya juga tidak terlalu yakin dengan dengan pemikiranku ini, tapi kurasa itu bisa dicoba." ucap Calistha sedih. Lagi-lagi ia merasa begitu ***** dan ia sebenarnya cukup malu untuk menemui Aiden. Tadi setelah tabib datang dan mengambil alih Aiden untuk diobati, ia langsung berlari menuju kamarnya untuk menumpahkan seluruh kesedihan dan rasa marah yang bergumul di hatinya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia merasa seluruh rakyat Khronos hari ini akan membencinya karena ia telah menyebabkan raja mereka sekarang. Jika Aiden hari ini mati, mungkin ia akan memilih untuk ikut menyusul Aiden. Ia lebih baik mati daripada harus hidup sendiri tanpa Aiden. Dan meskipun hal itu terkesan pengecut, ia tidak peduli! Toh selama ini ia juga selalu bersikap pengecut dengan
bersembunyi dibalik kediktaktoran Aiden atas semua kesalahannya pada rakyat Bibury, jadi menjadi pengecut sekali lagi rasanya bukan masalah untuknya.
__ADS_1
"Spencer, bukankah itu Sybil? Mengapa ia berada di sana, bukankah seharusnya... Tiffany!"
Calistha berlari cepat mengejar Tiffany yang saat ini sedang berjalan beriringan bersama Sybil. Spencer yang berada di belakangnya langsung memperingatkan Calistha dengan keras dan mencoba untuk menahan laju lari wanita itu karena saat ini ia sedang hamil.
"Yang Mulia, anda sedang hamil. Pelankan laju langkah anda."
"Tapi aku harus mengejar Tiffany, ia dalam bahaya. Penyihir itu bersama Tiffany." balas Calistha masih dengan berlari-lari kecil. Akhirnya Spencer tidak memiliki pilihan lain selain memegang bahu Calistha dan menghentikan wanita itu secara paksa. Ia kemudian berlari lebih kencang mengejar Tiffany dan menyuruh Calistha untuk menunggu di tempat.
"Saya akan membawakan nona Tiffany untuk anda."
Secepat kilat Spencer berlari mengejar Tiffany yang sedang berjalan menuju balkon istana. Ia sebenarnya
ingin mengatakan pada Calistha jika Tiffany pasti akan tetap baik-baik saja meskipun sedang bersama Sybil, tapi rasanya hal itu akan sangat sia-sia, mengingat Calistha masih berpikir jika Tiffany adalah saudara kandungnya yang
baik. Dan menurutnya hal ini adalah satu-satunya jalan untuk menyadarkan Calistha jika Tiffany adalah wanita yang jahat, yaitu dengan membawa Tiffany langsung ke hadapannya.
Tiffany menghentikan langkahnya dan tampak tidak suka dengan kemunculan Spencer. Wanita itu langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Spencer angkuh.
"Ada apa? Kau ingin menghalangi langkahku?"
"Tidak, saya sama sekali tidak ingin menghalangi langkah anda. Saya hanya ingin mengatakan jika Yang Mulia Calistha ingin bertemu dengan anda."
Tiffany dan Sybil saling bertatapan satu sama lain saat mendengar berita dari Spencer. Namun akhirnya Tiffany mengangguk dan meminta pada Spencer untuk mengantarnya menemui Calistha.
__ADS_1
"Antarkan aku padanya, kebetulan aku juga ingin memperkenalkan temanku padanya." Seringai Tiffany licik. Kedua wanita jahat itu kemudian berjalan beriringin di belakang Spencer untuk menemui Calistha yang telah menunggu mereka di sudut lorong.
"Kau ingin bertemu denganku?"
"Tiffany, apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau beristirahat di kamarmu karena luka-lukamu belum sembuh. Dan untuk apa kau berjalan beriringan bersama penyihir jahat itu? Sehrusnya penyihir itu dikurung di penjara bawah tanah, tapi kenapa ia bisa berada di sini?" Tanya Calistha panik dan ingin menjauhkan Tiffany dari Sybil, tapi Tiffany justru menghentakan tangan Calistha kuat dari pergelangan tangannya dan menatap kedua manik Calistha tajam.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak berhak mengaturku!" bentak Tiffany galak. Calistha benar-benar merasa terkejut dengan sikap Tiffany yang tiba-tiba berubah menjadi seorang yang sangat tidak dikenalnya. Wanita itu menjadi lebih kasar dan jahat, dan sama sekali tidak terlihat seperti Tiffany yang dikenalnya selama ini.
"Aku tidak mengaturmu, aku hanya memperingatkanmu. Wanita itu berbahaya. Mengapa ia bisa berada di sini? Pengawal! Pengawal! Dimana semua pengawal yang seharusnya menjaga sel tahanan penyihir jahat ini?" teriak Calistha gusar yang langsung ditanggapi Tiffany dengan kekehan. Wanita itu mencemooh kebodohan Calistha sambil terkikik geli bersama sang penyihir.
"Kau ini benar-benar bodoh rupanya. Pengawal-pengawal idiot itu sekarang sedang beristirahat di dalam penjara bawah tanah karena Sybil membuat mereka tertidur. Asal kau tahu saja, sebenarnya aku yang telah mengeluarkan Sybil dari penjara, karena kami berdua adalah partner."
"Partner? Apa maksudmu Tiffany? Kau pasti hanya bercanda. Kau pasti tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu bukan?"
Calistha mulai terlihat panik dengan ekspresi wajah Tiffany yang sama sekali tidak menunjukan ekspresi
main-main. Wanita cantik itu saat ini justru sedang menatap Calistha dengan tatapan datarnya yang terlihat mengerikan. Dan itu semakin menguatkan dugaan Calistha jika sebebarnya Tiffany berada di pihak sang penyihir.
"Apa aku terlihat sedang bercanda? Asal kau tahu saja Cals, aku sebenarnya sangat membencimu. Aku selalu berusaha mencelakaimu dan membunuhmu untuk membalaskan dendam ayah dan ibu padamu, tapi raja kejam itu selalu bisa menggagalkannya. Tapi saat ini raja brengsek itu sedang sekarat, itu berarti malaikat pelindungmu tidak akan bisa lagi melindungimu dan calon bayimu kelak. Kau akan mati di tanganku Cals." ucap Tiffany penuh tekad. Calistha memejamkan matanya pilu saat mendengar semua pengakuan tak terduga dari satu-satunya saudara kandung yang ia miliki. Ia pikir Tiffany tidak akan melakukan hal-hal jahat seperti yang dikatakan oleh Aiden padanya karena mereka adalah saudara. Tapi, fakta ini benar-benar mencengangkannya. Ternyata selama ini Tiffany sangat membencinya dan sangat ingin membunuhnya. Ya Tuhan, apa yang baru saja kulakukan? Aku baru saja mengacaukan kehidupanku sendiri dan Aiden.
"Kenapa kau tak pernah mengatakannya sejak awal? Selama ini aku selalu mempercayaimu sebagai saudara perempuanku, tapi kau justru mengkhianatiku dan hampir membunuh Aiden. Kau jahat Tiffany! Kau wanita licik dan kejam!"
Dengan membabi buta Calistha menyerang Tiffany dan ingin membunuh wanita jahat itu saat ini juga. Seluruh emosi yang ia pendam pada akhirnya pecah dan membuatnya berubah menjadi wanita brutal yang sangat mengerikan. Sementara itu, Spencer terlihat sibuk untuk melerai Calistha dan Tiffany yang sedang berkelahi di depannya dengan gaya bar-bar. Kedua wanita sedarah itu sama-sama memiliki watak keras yang sangat sulit untuk dipatahkan. Namun pada akhirnya Spencer berhasil menjauhkan Calistha dari Tiffany setelah salah satu pengawal menyampaikan pesan jika keadaan Aiden semakin memburuk.
__ADS_1
"Yang Mulia, lebih baik anda segera menemui Yang Mulia Aiden, kondisi raja sudah semakin kritis. Saya tidak ingin anda menjadi semakin menyesal nantinya." peringat Spencer tegas ketika Calistha hendak maju kembali untuk mencekik kakak kandungnya. Dengan kasar Calistha menghempaskan tangan Spencer yang masih berada di kedua lengannya untuk lepas, kemudian ia segera berjalan pergi meninggalkan Tiffany dan sang penyihir sambil melayangkan tatapan kebencian dan membunuh yang begitu kentara dari matanya.
"Calistha, kupastikan sebentar lagi kau juga akan mati dan membusuk di neraka bersama Aiden. Oh, dan juga dengan calon anak kalian kelak." teriak Tiffany lantang mengiringi kepergian Calistha dari hadapannya.