
Sepanjang jalan menuju ruang pribadi Aiden, wajah Calistha tak henti-hentinya menebarkan senyum pada setiap pelayan atau prajurit yang ditemuinya di sekitar lorong. Hari ini hatinya sedang bahagia dan ia merasa ingin tersenyum pada siapapun yang ditemuinya di jalan. Padahal ia hanya ingin menemui Aiden, tapi kebahagiaan itu terasa berbeda dari semua kebahagiaan yang selama ini sering dirasakannya.
"Apa raja kalian ada di dalam?" Tanya Calistha ramah pada prajurit yang berjaga di depan ruangan Aiden. Sambil menunduk hormat, prajurit itu segera memberikan jalan untuk Calistha agar sang calon ratu dapat masuk ke dalam ruangan pribadi rajanya. Namun, tanpa disadari oleh Calistha, sebenarnya prajurit itu sedang mengernyit heran dibalik wajahnya yang tertunduk karena tidak biasanya Calistha bertanya dengan begitu sopan padanya seperti itu. Selama ini ketika hendak menemui Aiden, Calistha akan terkesan sinis dan dingin sambil membentak bentaknya dengan suara kerasnya, membuatnya selalu berpikir jika Calistha adalah calon ratu yang jahat. Tapi, penilaiannya pada Calistha langsung berubah seketika setelah melihat sikap Calistha siang ini. Dalam hati prajurit itu berdoa semoga Calistha akan terus bersikap lembut dan ramah seperti itu.
-00-
"Luka anda akan segera sembuh Yang Mulia, jadi anda tidak perlu khawatir."
Saat Calistha masuk ke dalam ruangan Aiden, pria itu sedang berbicara pada tabib kerajaan sambil mengamati luka di punggungnya yang saat ini telah dibebat dengan perban. Dengan bertelanjang dada, Aiden terus menatap luka-luka yang bersarang di tubuhnya dengan wajah dingin. Entah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Aiden, yang jelas pria itu tampak sedikit terganggu dengan adanya perban-perban yang akan mengganggu pergerakannya nanti.
"Ehem, permisi. Aku datang membawakan teh untuk Yang Mulia raja Aiden." ucap Calistha sopan sambil meletakan nampan yang berisi secangkir teh di atas meja kayu yang berada di tengah-tengah ruangan. Melihat sang ratu datang, tabib istana segera pamit undur diri untuk memberikan waktu pribadi bagi raja dan ratunya. Lagipula tugasnya untuk mengobati Aiden telah selesai, sehingga ia tidak memiliki alasan lagi untuk berlama-lama berada di dalam ruangan pribadi rajanya.
"Selamat datang Yang Mulia, kebetulan saya sudah selesai mengobati luka raja Aiden. Yang Mulia Aiden, hamba mohon diri untuk keluar sekarang. Hamba akan datang lagi besok pagi untuk mengganti perban anda."
Aiden menganggukan kepalanya pelan tanpa melepaskan pandangannya dari Calistha, membuat Calistha menjadi salah tingkah dan tampak kikuk berada di ruangan itu. Lalu, ketika tabib istana berjalan melewatinya, Calistha langsung menggunakan kesempatan itu untuk memalingkan wajahnya dari Aiden dan menganggukan kepalanya pelan pada tabib istana yang menunduk hormat di hadapannya.
"Jadi, kau hanya ingin mengantarkan secangkir teh?" tanya Aiden tiba-tiba pada Calistha yang sejak tadi hanya berdiam diri di dekat meja. Wanita itu terlihat bagaikan patung yang sama sekali tidak bergerak setelah kepergian tabib istana, padahal sejak tadi Aiden sudah menunggu wanita itu untuk berjalan mendekat ke arahnya.
"Emm, sebenarnya tidak juga. Aku datang untuk melihat keadaanmu. Apa kau sudah merasa lebih baik?"
"Ya, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Tabib istana telah mengobati luka-lukaku dengan baik, jadi kau tidak perlu khawatir." ucap Aiden santai. Pria itu kemudian berjalan ke arah ranjang untuk meraih kemejanya yang telah disiapkan oleh dayang istana. Lalu degan gerakan cepat, Aiden segera mengenakan kemeja itu di depan Calistha sambil melangkah mendekat ke arah Calistha.
"Aa ada apa?" tanya Calistha gugup karena tiba-tiba Aiden berjalan mendekat ke arahnya dengan memakain kemeja yang belum dikancingkan sepenuhnya.
"Kau bisa membantuku mengancingkannya, lengannku masih sedikit sakit untuk mengancingkannya sendiri." ucap Aiden datar. Calistha kemudian segera maju selangkah untuk mendekati Aiden sambil mengulurkan tangannya untuk mengancingkan kancing kemeja itu satu persatu. Aroma musk yang begitu maskulin langsung tercium di indera penciuman Calistha saat jarak antara hidung dan dada bidang milik Aiden hanya sejauh beberapa inci. Dengan tangan bergetar, Calistha mencoba berkonsentrasi untuk mengancingkan kemeja Aiden sambil menyingkirkan berbagai macam pikiran aneh yang bersarang di kepalanya. Tapi, seakan bisa membaca isi kepalanya, Aiden langsung mengulurkan tangannya untuk memeluk Calistha dengan posesif hingga mau tidak mau Calistha harus menempelkan kepalanya di atas dada telanjang Aiden yang belum sepenuhnya tertutup oleh kemeja yang digunakan pria itu.
"Calistha, aku bisa membaca pikiranmu."
"Aapa? Aku tidak sedang memikirkan apapun." kilah Calistha gelagapan. Padahal sudah jelas jika saat ini Calistha sedang memikirkan dada bidang Aiden yang akan sangat nyaman bila digunakan untuk bersandar. Tapi, dengan munafiknya ia masih mengelak di hadapan Aiden jika ia sama sekali tidak memikirkan apapun. Benar-benar bodoh!
"Benarkah? Sepertinya aku baru saja mendengar suara bisikan yang mengatakan jika dadaku sangat nyaman untuk digunakan bersandar." ucap Aiden santai.
"Diam! Aku tidak mengatakan apapun di dalam kepalaku, jadi jangan pernah mengarang cerita seperti itu. Sekarang lepaskan aku karena aku ingin beristirahat di kamarku."
"Tidak perlu terburu-buru seperti itu sayang. Lihatlah, ranjangku terlihat kosong dan tak berpenghuni, bagaimana jika kau beristirahat di sana." tawar Aiden dengan senyum menggoda. Dengan gemas, Calistha langsung mencubit perut Aiden dengan keras dan membuat Aiden langsung melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Calistha karena ia merasa cukup kesakitan dengan cubitan Calistha yang ganas itu.
"Kau ingin menyakitiku lagi? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menyakitiku lagi. Kau benar-benar bar-bar." umpat Aiden kesal yang hanya ditanggapi Calistha dengan santai. Justru sekarang Calistha merasa lebih puas karena berhasil membalas perlakuan Aiden yang menurutnya yang sedikit kurang ajar itu.
"Janji? Sepertinya aku sudah lupa. Aku merasa tidak memiliki janji apapun padamu." jawab Calistha seadaanya dengan wajah super menyebalkan yang berhasil membuat Aiden mendengus kesal. Dengan gerakan cepat, Aiden langsung menarik pergelangan tangan Calistha hingga menubruk tubuh kokohnya dengan keras. Ia kemudian menarik dagu Calistha lembut dan mengarahkannya pada bibirnya untuk dikecup. Wanita itu memang harus diingatkan dengan cara ini agar dapat mengingat semua janjinya di tengah hutan.
"Mmmphh, lepaskan. Kau membuatku kehabisan nafas." teriak Calistha gemas. Kali ini sikap Calistha sudah lebih manis daripada sikapnya yang sebelum-sebelumnya, karena sekarang wanita itu tidak pernah menggunakan kekerasan untuk menolak ciumannya. Ia hanya sedikit berteriak-teriak kesal pada Aiden, dan setelah itu ia langsung menjauh dari Aiden dengan mendudukan dirinya di atas sofa empuk yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Aku ke sini untuk melihat keadaanmu dan menanyakan beberapa hal padamu. Jadi, jangan coba-coba untuk mengacaukannya dengan sikapmu yang kurangajar itu."
"Baiklah. Silahkan ajukan pertanyaan padaku, dan aku akan menjawabnya dengan jawaban yang jujur." ucap Aiden santai. Saat ini salah satu hal yang sedang dipikirkan oleh Calistha adalah bagaimana keadaan Max. Setelah ia memenggal kepala pria itu kemarin, ia belum sempat menanyakan lagi pada Aiden perihal jasad Max yang
apakah telah dimakamkan dengan layak atau belum. Karena ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika ternyata jasad Max tidak dimakamkan dengan layak, atau sekarang justru menjadi santapan harimau-harimau buas peliharaan Aiden.
"Bagaimana jasad Max, apa kalian telah memakamkannya dengan layak?" tanya Calistha sungguh-sungguh. Aiden mengangkat kedua alisnya ringan dan hanya mengangguk pelan setelahnya. Sejujurnya ia sangat malas membahas pria itu sekarang. Pria yang, meskipun ia malas untuk mengakuinya, tapi ia adalah saingan terberatnya dalam mendapatkan hati Calistha.
"Dia sudah mendapatkan tempat yang layak. Jika kau tidak mempercayaiku, maka kau bisa menanyakannya pada Spencer."
Calistha kemudian tampak menimbang-nimbang untuk mengutarakan pertanyaan selanjutnya. Ia yakin, pria itu pasti tidak akan suka mendengar pertanyaannya yang selanjutnya.
"Kenapa kau diam. Katakan saja, aku akan menjawab semua peryanyaanmu dengan jujur."
"Apa aku bisa memutar waktu untuk menyelamatkan Max? Aku tidak ingin hidup dengan bayang-bayang saat sedang memenggal kepala Max. Itu benar-benar pengalaman yang sangat mengerikan."
"Apa maksudmu kau ingin mati dan memutar segalanya agar menjadi lebih baik? Kau tidak bisa melakukannya Calistha. Takdir sebenarnya tidak akan pernah berubah meskipun kau mati dan mengulangnya lagi seperti semula. Max akan tetap mati meskipun kau mati dan hidup kembali disaat Max masih hidup. Saat kau hidup kembali, kau
hanya mengubah sedikit jalan hidupnya, seperti bagaimana cara ia akan mati. Apa kau masih ingat bagaimana Max mati sebelum kau memenggal kepalanya, bukankah ia mati di tanganku? Jika kau memutuskan untuk mati dan mengulang semuanya, Max tetap akan mati dalam waktu dekat, tapi mungkin cara kematiannya saja yang
berbeda. Jadi, jangan pernah berpikiran bodoh untuk bunuh diri dan memperbaiki semuanya, karena kau tidak bisa melawan takdir." jelas Aiden panjang lebar disertai dengan emosi. Calistha mengerucutkan bibirnya kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia kesal pada pria itu. Mengapa ia tidak boleh mengulang semuanya dan setidaknya memberikan Max sebuah kematian yang lebih baik. Ia janji kali ini ia tidak akan melakukan pemberontakan dan akan menurut pada Aiden, demi Max.
"Tidak akan ada kematian yang layak untuk Max karena pria itu akan tetap mati dengan mengenaskan sebanyak apapun kau mengulang kehidupanmu. Jadi, lebih baik kau segera melupakan Max dan segala pikiran bodohmu itu. Pertanyaan berikutnya?"
Calistha mengepalkan kedua tangannya kesal sambil memukul-mukul bantal di sampingnya untuk menyalurkan seluruh rasa marahnya yang membuncah di dada. Tiba-tiba di tengah rasa marah yang membuncah di dalam dadanya, Calistha teringat akan Gazelle dan Tiffany. Jika Max telah mati, maka seharusnya mereka juga akan mati dalam waktu dekat. Tapi, rasa-rasanya hal itu seperti tidak akan terjadi mengingat mereka berdua saat ini sedang mendekam di dalam penjara, yang sebenarnya justru merupakan tempat teraman untuk mereka karena dengan berada di dalam penjara, mereka akan terhindar dari berbagai macam ancaman yang akan membahayakan keselamatan mereka.
"Lalu bagaimana dengan Gazelle, bukankah seharusnya ia mati?"
"Tidak akan lama lagi ia memang akan mati. Kita lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan." jawab Aiden misterius. Rasanya Calistha benar-benar merasa kesal pada takdir yang sama sekali tidak berpihak padanya. Jika ia merupakan bagian dari kutukan Aiden, seharusnya ia juga memiliki kemampuan yang sama dengan Aiden. Tapi, satu-satunya keistimewaan yang dimilikinya adalah ia tidak dapat mati dengan mudah. Selebihnya ia tidak dapat melakukan apapun. Bahkan, ia tidak bisa membaca pikiran atau melihat keadaan di masa depan sama seperti yang Aiden lakukan. Lalu, untuk apa ia menjadi bagian dari kutukan Aiden? Apakah semua itu untuk membayar semua kejahatan kedua orangtuanya di masa lalu? Benar-benar tidak adil.
"Apa kau mencintai Gazelle?"
Tiba-tiba saja Calistha ingin bertanya pada pria itu mengenai perasaanya pada Gazelle. Meskipun akal sehatnya sejak tadi terus berteriak jika hal itu tidaklah penting untuk diketahui, tapi hati kecilnya begitu ingin tahu dan terus menjerit-jerit untuk menanyakannya pada Aiden.
"Aku tidak mencintainya. Aku hanya menganggapnya sebagai rekan dan juga adik, karena usia kami terpaut beberapa tahun. Lebih tepatnya ia berada empat tahun di bawahku."
"Hmm, apa kau pernah melecehkannya, karena ia terlihat begitu membencimu saat ia bercerita padaku mengenai masa lalunya."
"Melecehkannya? Mungkin." jawab Aiden ambigu yang berhasil membuat Calistha menggeram marah. Ternyata apa yang diceritakan oleh Gazelle bukan bualan semata. Pantas saja jika wanita itu begitu membenci Aiden dan sangat ingin melakukan balas dendam pada pria itu, jika pada kenyataanya Aiden pernah melecehkannya.
"Dasar brengsek! Jadi kau benar-benar menyutubuhinya di kamar ini. Kau pria menjijikan. Aku tidak mau menikah denganmu!"
__ADS_1
"Jadi jika aku tidak menyetubuhi Gazelle, maka kau akan menikah denganku? Menarik." ucap Aiden santai. Calistha kemudian mengambil salah satu bantal besar yang berada di sampingnya, dan dengan marah ia langsung melemparkan bantal itu tepat mengenai wajah Aiden.
Bugh
"Berani-beraninya kau melempariku dengan bantal. Memangnya apa salahku, hah?" tanya Aiden mulai tersulut emosi. Tanpa gentar Calistha langsung berdiri sambil berkacak pinggang tepat di depan Aiden.
"Salahmu? Apa kau jenis pria idiot yang tidak bisa berpikir? Kesalahanmu tentu saja sangat banyak. Salah satunya kau telah menyakiti Gazelle dengan melecehkannya dan juga menyakiti harga diriku sebagai wanita. Meskipun Gazelle jahat dan licik, tapi aku tetap tidak terima jika pada kenyataanya kau telah menodainya dengan perilakumu yang bejat itu. Lebih baik kau nikahi Gazelle dan pertanggungjawabkan semuanya. Aku tidak mau menikah dengan pria yang telah menyetubuhi wanita lain."
Sret
Aiden menarik tangan Calistha dan menjatuhkan wanita itu tepat di pangkuannya. Meskipun beberapa kali Calistha sempat meronta, tapi Aiden tidak peduli. Ia hanya perlu meluruskan semua kekeliruan ini dan menyadarkan wanita itu jika semua yang dipikirkannya sama sekali tidak benar.
"Aku bersumpah, jika kau mengetahui semuanya setelah ini, kau pasti akan menyesal karena telah
menghinaku dan memerintahkanku dengan sesuka hatimu seperti ini, karena semua yang kau pikirkan tentangku selama ini sama sekali tidak benar. Sekarang dengarkan baik-baik semua penjelasanku, karena aku tidak akan mengulang dua kali untuk menjelaskannya padamu. Apa kau paham?"
"Cepat jelaskan! Aku akan mendengarkannya dengan serius di depanmu."
Aiden menyeringai mengerikan sambil mencengkeram dagu Calistha keras agar wanita itu mendongak padanya. Persetan dengan reaksi wanita itu nantinya yang akan merasa kesakitan. Ia hanya ingin memberikan pelajaran pada wanita itu agar ia tidak mudah terprovokasi oleh orang lain, apalagi oleh Gazelle, karena wanita itu adalah ular berkepala dua yang begitu mengerikan.
"Baiklah, dengarkan baik-baik semua penjelasan dariku. Kuakui, aku pernah melecehkan Gazelle, tapi itu bukan dengan cara menyetubuhinya, aku melecehkan Gazelle menggunakan kata-kata dengan menyebutnya ****** karena ia pernah menggodaku dengan tubuhnya yang menjijikan itu. Suatu malam, saat aku sedang menyelesaikan pekerjaanku, wanita itu menyelinap masuk ke dalam kamarku sambil melucuti pakaiannya di hadapanku karena sejak awal ia memiliki rasa padaku, sedangkan aku selama ini hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Lalu dengan rasa marah dan rasa kecewa, ia pergi dari kerajaan Khronos, meninggalkan seluruh keluarganya dengan membawa luka dan dendam di hatinya. Oleh karena itu ia begitu membenciku dan ingin membunuhmu. Ia sebenarnya ingin menyakitiku melalui dirimu. Ia tahu jika kau adalah kelemahan terbesarku, jadi ia menyusun rencana jahat dengan memprovokasimu sambil menunggu kesempatan untuk membunuhmu. Jika kau tidak percaya, maka kau bisa menanyakan hal itu pada Spencer, karena ia menyaksikan semua kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri."
Melalui mata teduh itu, Calistha dapat melihat adanya sebuah kesungguhan di sana. Pria itu sama sekali tidak bohong, dan Calistha merasa begitu lega setelah mendengar semuanya karena ternyata Aiden bukanlah tipe pria yang semenjijikan itu.
"Apa kau sudah puas sayang? Aku mengatakan hal yang sejujurnya padamu, dan kuharap kau mempercayai ucapanku." ucap Aiden sambil mengecup kecil rahang Calistha. Lalu kecupan-kecupan yang lain mulai menyusul membanjiiri seluruh wajah Calistha hingga Calistha merasa geli dan berusaha menjauhkan wajah tampan itu dari wajahnya. Tapi, semakin ia mencoba untuk menjauhkan bibir Aiden dari wajahnya, Aiden justru semakin gencar menyerang Calistha dengan menggigit jari-jari lentik Calistha yang sedang mencoba untuk menyingkirkan wajahnya agar menjauh.
"Aiden, jauhkan bibirmu dari jariku. Kau menggingitnya terlalu keras." teriak Calistha berisik dengan suara cemprengnya. Tapi, Aiden tidak peduli. Menurtnya hanya inilah satu-satunya cara yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan Calistha. Dan bentuk komunikasi seperti ini adalah bentuk komunikasi yang paling ia sukai saat sedang bersama dengan Calistha.
"Jari-jarimu manis. Aku menyukainya."
Cup
Satu kecupan ringan mendarat tepat di atas bibir Calistha, lalu disusul dengan kecupan-kecupan lain yang lebih memabukan dan semakin membuat Aiden kehilangan kendali. Tanpa sadar saat ini Calistha telah berbaring di atas sofa dengan Aiden yang berada di atasnya. Sesekali Aiden mengendus leher jenjang Calistha dan meniupkan udara-udara hangat yang terasa begitu menggelitik di leher wania itu.
"Aaaiden, hentikan. Hhhhh, kau telah membuar kissmark yang terlalu banyak di leherku." erang Calistha tertahan.
"Bercintalah denganku sayang. Kau membuatku semakin tidak bisa mengendalikan tubuhku." bisik Aiden lembut di telinga Calistha.
"Aaaiden, akuu..."
"Sshhh, aku tidak membutuhkan jawaban dari bibirmu Calistha, karena saat ini hatimu sedang mejerit ya berulang kali dengan berisik. Aku janji tidak akan menyakitimu. Dan kau akan menjadi yang pertama untukku queen." bisik Aiden sensual sebelum menenggelamkan Calistha ke dalam jurang kenikmatan bersamanya. Persetan dengan konsekuensi yang akan diterimanya setelah ini. Ia tidak peduli! Yang ia inginkan saat ini adalah Calistha, tubuhnya, dan segala kehangatan yang akan melingkupi tubuhnya setelah ini. Apapun yang terjadi nanti, ia pasti akan menhadapinya dengan dada membusung dan wajah terdongak bersama Calistha.
__ADS_1