
Aiden menatap sendu pada pintu coklat di depannya dengan perasaan bersalah. Ingin rasanya ia masuk
ke dalam dan memeluk tubuh ringkih Calistha yang masih meringkuk di atas ranjang dengan buliran air mata yang masih membanjiri wajah cantiknya. Tapi, ia tidak bisa. Ia ingin mengajarkan Calistha untuk menjadi wanita yang penuh sopan santun dan tidak keras kepala. Meskipun hal ini cukup sulit untuknya, tapi hanya itu yang dapat dilakukannya. Sepanjang hari ini sebenarnya cukup dihantui dengan perasaan bersalah dan sesak akibat pertengkarannya dengan Calistha pagi ini. Dalam kepalanya ia berpikir jika pertengkarannya kali ini benar-benar sangat konyol dan menggelikan. Hanya karena sebuah gaun, ia dan Calistha harus berakhir seperti ini? Sungguh itu masalah yang paling tidak masuk akal sepanjang ia hidup. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa saling bermusuhan hanya karena sebuah gaun? Tapi, faktanya itulah yang terjadi. Ia dan Calistha terlibat perang dingin hanya karena sebuah gaun.
"Huh, benar-benar bodoh!"
"Yang Mulia, apa yang anda lakukan di sini?"
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Aiden, hingga membuat Aiden harus menolehkan kepalanya ke kiri untuk melihat siapa si pemanggil yang telah mengusik ketenangannya.
"Apakah itu penting?" ucap Aiden sakarstik pada Tiffany. Pria itu tampak memasang wajah tak bersahabatnya pada Tiffany secara terang-terangan. Tapi hal itu tidak membuat Tiffany gentar, justru ia semakin menunjukan keberaniannya pada Aiden dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan wajah mendongak.
"Tentu saja penting Yang Mulia, karena anda saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar adikku." balas Tiffany menantang. Aiden menipiskan bibirnya marah melihat tingkah Tiffany yang terlalu berani padanya. Ia yakin jika saat ini wanita itu sedang menyusun berbagai macam rencana picik di dalam kepalanya.
"Adikmu? Dia adalah calon ratuku dan ini adalah istanaku, jadi aku berhak berdiri dimanapun
sesuka hatiku. Lebih baik kau segera pergi dari kerajaanku sebelum aku memenggal kepalamu karena aku tahu jika kau bukan wanita baik-baik. Kau licik dan ingin membunuh adikmu sendiri bukan?"
Tiffany tersenyum sinis pada Aiden sambil melangkah mendekat ke arah Aiden. Wanita itu benar-benar
terlihat santai dan tampak tak gentar sedikitpun saat menghadapi Aiden. Darah licik Kairos benar-benar telah mengalir deras di dalam tubuhnya, membuat Tiffany memiliki banyak keberanian dan ketangguhan dalam mencapai tujuanya. Sekalipun tujuan itu tujuan jahat untuk membunuh adiknya sendiri, ia tidak peduli!
"Hmm, rupanya Yang Mulia memang sangat hebat dalam menebak isi pikiran orang lain. Kau benar, aku
memang akan membunuh Calistha, sama seperti apa yang kau lakukan pada kekasihku Nick. Aku ingin membuatmu sama menderitanya denganku saat kau membunuh Nick dengan sadis. Selain itu aku juga ingin membalaskan dendam kedua orangtuaku yang telah kau bunuh dengan sangat mengenaskan. Jadi, jangan pernah
memerintahkanku untuk mundur karena aku akan membuatmu menderita secara perlahan hingga akhir ajalmu tiba Yang Mulia Aiden." desis Tiffany penuh janji. Aiden balas menatap Tiffany dengan tajam sambil mencengkeram rahang Tiffany erat secara tiba-tiba.
"Kau, berani-beraninya menantangku. Baiklah, aku akan mengikuti alur permainanmu. Sekali kau berbuat kesalahan, maka aku akan langsung memenggal kepalamu saat itu juga tanpa ampun di hadapan semua orang, termasuk di hadapan Calistha yang telah dengan tulus menyayangimu. Kau memang jenis manusia rendahan yang harus segera dibasmi seperti hama Tiffany." ancam Aiden tak kalah mengerikan. Tiffany berusaha melepaskan telapak tangan besar itu dari rahangnya yang terasa akan remuk. Lalu tanpa pikir panjang ia mencoba untuk menendang perut Aiden yang berada tepat di depannya, tapi dengan sigap Aiden berhasil menghindarinya, dan ia langsung membalas Tiffany dengan memelintir tangannya dan mengunci tangannya ke belakang dengan tubuhnya.
"Huh, dasar wanita rendahan. Kau tidak akan bisa menyakitiku dengan mudah Tiffany, jika kau tetap pada pikiranmu yang picik itu untuk membunuh Calistha, kusarankan kau untuk segera menggali lubang kuburanmu sendiri dari sekarang, karena aku tidak akan repot-repot membuatkan lubang kuburan untukmu jika kau mati. Tubuhmu akan jauh lebih berguna untuk diberikan pada seluruh hewan peliharaanku yang berada di bawah sana. Jadi, jangan pernah macam-macam padaku." bisik Aiden pelan, namun menusuk di telinga Tiffany. Kemudian pria itu segera mendorong tubuh Tiffany kasar hingga tubuh wanita itu membentur tembok dengan cukup keras. Setelah itu Aiden langsung meninggalkan tubuh Tiffany begitu saja yang tampak menahan sakit sambil berjongkok di atas lantai dengan rintihan kecil.
"Awas kau raja keparat, kau dan Calistha akan mati di tanganku."
-00-
Calistha, dibantu oleh Yuri tampak sedang mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta penyambutannya hari ini. Meskipun sebenarnya ia merasa malas, tapi ia tidak ingin mengecewakan seluruh rakyat Khronos yang telah bekerja keras untuk menyiapkan pesta penyambutannya hari ini, sehingga mau tidak mau Calistha tetap hadir pada acara malam hari ini dengan menggunakan gaun putih panjang yang terlihat pas dan cantik di tubuhnya. Namun, lingkaran hitam di matanya dan juga kelopak matanya yang bengkak masih terlihat jelas di wajah Calistha meskipun Yuri telah membubuhkan banyak-banyak makeup untuk menutupinya. Tapi, memang begitulah keadaanya. Seharian ini ia sibuk menangisi nasibnya yang sial karena telah jatuh ke dalam pesona seorang raja Aiden yang kejam, sehingga sekarang ia merasa bimbang karena ia tidak memiliki kekuatan membangkang sehebat dulu. Saat ia dengan terang-terangan mencoba untuk menantang Aiden, hatinya justru terasa sakit dan juga perih entah karena apa. Menurutnya dari hari ke hari keterkaitan yang terjadi diantara dirinya dan Aiden semakin kuat, hingga membuatnya harus merasakan rasa sesak aneh setiap ia hendak membangkang perintah Aiden.
"Yang Mulia anda terlihat cantik." puji Sunny tulus. Calistha hanya memandang masam pada Sunny sambil mengamati pantulan wajahnya melalui cermin. Di sana ia melihat seorang wanita dengan wajah yang sangat cantik, namun wanita itu tampak seperti seorang mayat hidup yang tak bernyawa. Ia akui, Yuri memang sangat berbakat
dalam hal merias wajah hingga membuatnya menjadi cantik seperti ini, tapi Yuri tetap saja manusia biasa yang tidak bisa mengubah aura tubuhnya menjadi cerah. Aura yang dipancarkan olehnya tetap saja suram dan diselimuti kesedihan yang begitu pekat. Entah bagaimana dirinya nanti saat dihadapkan oleh banyak tamu-tamu kerajaan di luar sana. Haruskah ia memasang senyum palsu di tengah suasana hatinya yang berkabut?
"Yang Mulia, anda bisa memakai sepatu anda sekarang. Saya telah menyiapkannya untuk anda."
Yuri datang dengan membawa sepasang sepatu berwarna perak dan bertumit sepuluh senti yang terlihat begitu cantik. Ia kemudian meletakan sepatu itu di depan kaki Calistha agar sang ratu dapat langsung memakainya tanpa harus beranjak dari kursinya yang nyaman itu.
__ADS_1
"Terimakasih Yuri, tapi aku masih ingin berlama-lama di sini. Aku... merasa malas untuk menghadiri pesta ini." ucap Calistha jujur. Sunny dan Yuri menatap wajah Calistha dengan senyum prihatin sambil mengelus pundak Calistha secara bergantian. Mereka tahu jika saat ini Calistha dan Aiden sedang dalam suasana yang tidak
menyenangkan. Dan itu pasti sangat mengganggu pikiran Calistha. Apalagi malam ini ia harus berhadapan lagi dengan Aiden di saat hati dan jiwanya belum siap untuk menghadapi pria itu. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana resahnya hati Calistha saat ini.
"Kami tahu bagaimana perasaan anda sekarang, tapi anda tetap harus menghadiri pesta ini karena pesta ini dibuat khusus untuk menyambut kedatangan anda sebagai bagian dari kerajaan Khronos. Mmm, mungkin setelah acara berdansa usai anda bisa berpamitan dengan para tamu undangan untuk beristirahat terlebihdahulu di kamar." usul Sunny yang langsung ditanggapi dengan anggukan kepala. Calistha mengangguk mengerti pada Sunny dan Yuri. Setelah itu ia segera bangkit berdiri sambil menyiapkan hati dan mentalnya untuk bertemu dengan Aiden nanti, karena ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi di hadapan para tamu undangan yang hadir.
"Terimakasih atas
dukungan kalian. Sekarang aku akan pergi ke bawah, sampai jumpa. Oh, kalian juga harus menikmati pestanya di bawah. Sunny, jangan lupa ajak kekasihnya yang tampan itu, dan kau Yuri, cobalah untuk mengajak Spencer untuk berdansa nanti." goda Calistha dengan mata mengerling jahil. Yuri yang mendengar hal itu hanya mampu tersipu malu sambil memegangi kedua pipinya yang bersemu merah. Ternyata selama ini ratunya itu tahu jika ia tertarik dan menyukai Spencer. Ah, rasanya ia benar-benar malu sekarang.
"Sampai jumpa Yang Mulia, selamat bersenang-senang." pesan Yuri dan Sunny bebarengan. Calistha kemudian mulai membuka pintu coklat itu perlahan-lahan sebelum ia melangkahkan kakinya keluar. Namun saat pintu itu terbuka sepenuhnya, ia dikejutkan dengan keberadaan Aiden yang sedang bersandar di depan dinding
sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku. Sesaat kedua manusia itu hanya saling menatap satu sama lain tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lalu sepuluh detik kemudian Aiden segera mengakhiri kontak mata dianatara mereka dan mulai berinisiatif untuk menghampiri Calistha terlebihdahulu. Kini suasana diantara mereka menjadi canggung dan aneh. Calistha tampak acuh pada Aiden sambil menyembunyikan menundukan wajahnya dalam-dalam, sedangkan Aiden sama sekali tidak bisa mencairkan suasana diantara mereka, sehingga ia hanya memberikan isyarat pada Calistha untuk menggenggam tangannya.
"Ayo, para tamu sudah berkumpul di aula untuk menunggu kehadiranmu." ucap Aiden datar dengan wajah tanpa ekspresi yang tampak pias. Namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Aiden sangat-sangat membenci sifatnya yang dingin dan kaku itu, sehingga ia sama sekali tidak bisa mencairkan suasana canggung diantara mereka yang semakin lama semakin terasa tidak nyaman untuknya.
Dilain sisi Calistha sendiri masih merasa marah pada Aiden atas perbuatan yang dilakukan oleh pria itu pagi ini. Selain itu ia juga merasa kesal dengan sifat Aiden yang terlalu arogan dan lebih mengutamakan egonya sendiri, hingga pria itu sama sekali tidak mau meminta maaf padanya. Andai saja ia tidak dalam suasana hati yang buruk, ia
pasti sudah mendebat pria itu habis-habisan atas sikapnya yang sangat kaku seperti patung.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Huh, dia menanyakan keadaanku? Apa ia tidak bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri jika hari ini aku tampak sangat buruk? Dasar tidak peka!"
"Baik." jawab Calistha singkat. Aiden menghela nafasnya pelan sambil melirik Calistha sekilas. Melihat dari jawaban sang ratu yang begitu dingin dan singkat itu ia tahu jika Calistha masihlah marah padanya. Lagipula ia sebenarnya tidak benar-benar mengetahui keadaan wanita itu, ia hanya ingin mencairkan suasana kaku dianatara mereka agar tidak terasa aneh untuk dirinya. Tapi, ternyata Calistha masih enggan untuk menanggapi setiap ucapannya, sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengunci bibirnya rapat-rapat agar ia tidak semakin mengganggu Calistha dan membuat wanita itu semakin membenci dirinya.
-00-
"Selamat malam Yang Mulia Aiden, selamat malam Yang Mulia Calistha, hari ini anda berdua tampak begitu serasi satu sama lain."
"Terimakasih tuan Errol, anda dan istri anda juga tampak serasi." puji Calistha tulus pada menteri pembangunan dan isterinya. Sedangkan Aiden yang berdiri di sebelahnya hanya menampakan wajah pias yang sangat datar dan sama sekali tidak terpengaruh dengan pujian tulus dari tuan Errol, sang menteri pembangunan.
"Setelah ini anda berdua diminta untuk melakukan dansa sebagai tanda telah dimulainya pesta hari ini, apakah anda bersedia untuk melakukan dansa di hadapan seluruh rakyat Khronos?" tanya menteri itu penuh harap. Calistha sempat melirik Aiden sekilas untuk melihat bagaimana reaksi pria itu, tapi ekspresi wajah pria itu sama sekali tidak berubah dan hanya menampilkan wajah datarnya yang menyebalkan. Akhirnya Calistha mengiyakan tawaran dari tuan Errol karena ia merasa sungkan jika harus menolak tawaran itu. Apalagi para rakyat Khronos tampak begitu antusias dengan pesta penyambutannya hari ini, jadi ia merasa harus membalas semua kebaikan penduduk Khronos yang telah begitu baik padanya.
"Baiklah, kami akan berdansa sesuai dengan permintaan anda. Ngomong-ngomong, kapan kami akan berdansa?"
"Sebentar lagi Yang Mulia. Saat musik klasik telah dimainkan, maka Anda dan raja Aiden dapat langsung berdansa di tengah-tengah aula."
"Mainkan musiknya sekarang, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi."
Tiba-tiba Aiden berucap datar sambil menatap manik mata tuan Errol sungguh-sungguh. Merasa mendapatkan tatapan mata tajam dari rajanya, tuan Errol segera berlalu berlalu pergi untuk memberitahukan pada para pemain orchestra agar segera memainkan musiknya sekarang karena sang raja ingin melakukan dansa bersama ratunya.
Setelah lima menit berselang, suara alunan musi klasik yang begitu merdu sayup-sayup terdengar diantara mereka semua. Aiden yang mendengar suara musik klasik telah dimainkan, langsung membawa Calistha menju ke tengah-tengah aula untuk melakukan dansa. Awalnya Calistha merasa canggung untuk menyentuh pundak Aiden, tapi setelah Aiden merapatkan tubuhnya semakin mendekat ke arah Calistha dan meletakan tangannya di atas pinggang Calistha, wanita itu akhirnya mencoba berdamai dengan egonya dan mulai membiasakan diri dengan kedekatannya pada Aiden.
"Apa kau bahagia?" bisik Aiden pelan di tengah-tengah kegiatan dansa mereka. Calistha terlihat sedang mengerang kecil di depannya, namun cepat-cepat ia menatap wajah Aiden sambil tersenyum tulus pada pria itu.
__ADS_1
"Aku sedang berusaha untuk bahagia."
Aiden mengernyit tidak suka dengan jawaban yang dilontarkan Calistha karena seolah-olah wanita itu
menjawabnya dengan setengah hati, walaupun sebenarnya Calistha memang menjawabnya dengan setengah hati, tapi bisakah wanita itu sedikit menghargainya yang telah mencoba untuk melunakan egonya yang sekeras berlian itu.
Sementara Calistha sedang menggerutu tidak jelas di dalam hatinya, musik terus mengalun merdu mengiringi setiap gerakan gemulai mereka yang terselubungi oleh amarah. Bagaimana mungkin ia akan mengatakan jika ia bahagia, disaat masalah diantara mereka sama sekali belum terselesaikan.
"Bagus, kau memang harus selalu berusaha untuk bahagia. Apa kau marah padaku?"
Calistha menatap Aiden datar, sungguh rasanya ia ingin memperbaiki sistem kepekaan yang terdapat di dalam tubuh Aiden karena manusia arogan itu benar-benar tidak memiliki kepekaan di hatinya. Pantas saja jika pria itu dapat membunuh ratusan manusia sekaligus tanpa merasakan rasa bersalah sedikit pun.
"Aku tahu kau sedang membicarakanku di dalam hatimu. Aku... aku minta maaf."
"Apa?"
Refleks Calistha langsung mendongakan kepalanya ketika mendengar suara permintaan maaf Aiden yang terdengar seperti seorang pesakitan.
"Seberapa berat pria itu mengatakan kata maaf padaku?"
"Maaf, aku minta maaf karena telah menyakitimu hari ini. Aku memang tidak memiliki kepekaan, aku memang egois dan terlalu gila kehormatan. Tolong maafkan aku Calistha, aku tidak bisa hidup dengan perasaan bersalah yang sangat mengganggu ini. Aku benar-benar menyesal karena telah melakukanya." ucap Aiden akhirnya.
Setelah mengucapkan hal itu rasanya seluruh beban di punggungnya menjadi ringan. Ia tidak lagi dihantui oleh rasa bersalah karena telah membuat Calistha menangis. Sungguh ***** memang, seharusnya ia melakukan hal itu sejak tadi, bukan setelah semuanya terlanjur kacau seperti ini.
"Kau meminta maaf padaku? Ya Tuhan Aiden, aku sangat bahagia mendengarnya. Terimakasih karena telah menyadari kesalahanmu dan mencoba untuk berdamai dengan egomu. Kuyakin itu lebih berat daripada mengangkat batu sebesar gunung." celoteh Calistha riang. Namun, di sela-sela keriangan itu Aiden melihat ada sesuatu yang janggal dari Calistha, sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu tanpa sepengetahuannya.
"Calistha, kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat."
"Aku baik-baik saja." jawab Calistha terdengar sedikit lemah. Namun, tanpa di duga, Calistha justru mencium bibirnya lembut di tengah-tengah para tamu undangan yang datang. Teriakan para tamu undangan yang begitu riuh terdengar begitu ribut di sekitar Aiden, membuat Aiden merasa terganggu dengan suara ribut itu. Ia pikir rakyatnya hanya terlalu berlebihan karena melihat ciumannya dengan Calistha yang tak diduga itu. Tapi, ketika pada akhirnya tubuh mungil yang berada di dalam dekapannya merosot perlahan dan kehilangan kesadaranya, barulah Aiden sadar jika sejak tadi para tamunya sedang berteriak histeris karena melihat kondisi kedua kaki Calistha yang telah berdarah-darah.
"Yang Mulia, ratu terluka." teriak Spencer keras. Aiden yang melihat Calistha telah tak sadarkan diri di dalam dekapannya langsung menggendong wanita itu dan meminta Spencer untuk melepaskan sepatu yang dikenakan oleh Calistha, karena ternyata seluruh lantai yang dipijaknya telah kotor oleh bercak-bercak darah yang begitu
banyak dari Calistha. Sayangnya ia tidak menyadari hal itu karena merasa terlalu sibuk berdansa di atas karpet merah.
"Spencer, cepat buka sepatunya!" perintah Aiden tegas. Perlahan-lahan Spencer mulau menarik sepatu perak dari telapak kaki Calistha. Dan betapa terkejutnya Spencer dan Aiden karena mereka melihat tiga buah paku yang telah menancap begitu dalam di sekitar telapak kaki Calistha.
"Astaga."
"Ya Tuhan. Apa yang terjadi pada Yang Mulia ratu?"
"Astaga, ratu Calistha."
Suara teriakan-teriakan para tamu undangan saling bersahut-sahutan satu sama lain saat Aiden mulai membawa tubuh tak sadarkan diri Calistha membelah lautan manusia yang memenuhi seisi aula.
"Wanita itu. Pasti ia yang telah melakukan hal ini pada Calistha. Sial! Aku telah kehilangan sebagian visionku. Setelah ini aku harus menempatkan penjagaan ketat di sekitar Calistha."
__ADS_1
Dari kejauhan Tiffany tersenyum puas sambil menyesap anggur merahnya dengan anggun. Rencana pertamanya telah berjalan dengan mulus, setelah ini ia akan menjalankan rencana ke dua agar kehidupan Calistha semakin hancur, dan ia akan mati secara perlahan-lahan dengan cara yang menyakitkan.