
Tiffany berjalan tenang menyusuri lorong-lorong sepi di dalam istana Khronos sambil menyembunyikan
sebuah kantung kutukan di dalam jubah tidurnya yang panjang. Beberapa penjaga yang berjaga di sepanjang lorong istana tampak tak menaruh curiga sedikitpun pada Tiffany. Mereka justru mengangguk hormat dan sesekali menyapa Tiffany dengan ramah. Tiffany pun juga sesekali membalas sapaan mereka dengan sapaan
hangat sekenanya. Tapi semua itu semata-mata untuk membangun citra dirinya dihadapan para pengawal itu agar mereka tidak mencurigainya dan tetap melihatnya sebagai wanita baik yang hangat.
"Selamat malam nona, apa yang anda lakukan di sini malam-malam seperti ini?"
Seorang pelayan berusia setengah baya berhenti sejenak di depan Tiffany sambil menyapa Tiffany ramah. Pelayan tua itu sedang membawa sepiring makanan ringan di atas nampan dan ia sepertinya baru saja keluar dari dalam kamar milik Calistha.
"Aku ingin bertemu dengan Calistha, apa ia sudah tidur?"
"Sudah nona, Yang Mulia telah terlelap sejak beberapa jam yang lalu. Saya baru saja mengambil piring berisi makanan ringan yang diinginkan nona Calistha tadi siang, tapi sepertinya nona Calistha tidak terlalu berselera karena makanan ini hanya berkurang sedikit." terang pelayan itu sedikit sedih. Tiffany menganggukan kepalanya
mengerti. Ia kemudian segera berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada pelayan itu. Rasanya akan membuang-buang waktu jika ia terus menanggapi ucapan tidak penting pelayan tua itu dan tidak segera meletakan kantung kutukan itu di bawah ranjang Calistha. Lagipula ia yakin saat ini Yuri dan Sunny pasti tidak sedang berada di dalam kamar Calistha karena baru saja ia melihat kedua wanita itu berjalan keluar dari kamar Calistha sambil menguap lebar dan merentangkan tangannya ke udara.
Krieeettt
Perlahan-lahan Tiffany mulai membuka pintu kayu itu sambil melongokan kepalanya ke dalam. Di ujung ruangan Tiffany dapat melihat adiknya sedang tertidur lelap dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Wajah cantiknya yang biasanya selalu bersinar cerah, malam ini tampak sedikit pucat. Calistha malam ini benar-benar telah kehilangan ronanya. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Tiffany menjadi mengurungkan niatnya untuk mencelakai Calistha, ia justru semakin berambisi untuk menyakiti Calistha setelah melihat bagaimana menderitanya Calistha hari ini karena Aiden yang tidak ada di sampingnya untuk mengucapkan berbagai kata
cinta untuknya dan untuk menyambut kehadiran sang penerus yang saar ini sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahim Calistha.
"Adikku sayang, semoga kau menjadi lebih tenang setelah beristirahat selama tiga hari. Kuyakin rasa kesalmu pada Aiden akan berkurang setelah malam ini." bisik Tiffany pelan sebelum menyelipkan kantung kutukan itu di bawah ranjang besar Calistha. Setelah itu Tiffany segera pergi dari kamar itu dengan seringaian penuh kepuasaan di matanya.
-00-
__ADS_1
"Erghh.."
Calistha mengerang pelan sambil perlahan-lahan membuka matanya. Mata bulatnya yang masih belum sepenuhnya terbuka tampak mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk menyesesuaikan diri dengan suasana remang-remang yang terjadi di kamarnya. Sekilas Calistha tampak bingung dan masih mencoba membiasakan diri dengan suasana kamarnya yang baru, dan saat ia tersadar jika ia berada di dalam kamarnya sendiri, bukan di kamar Aiden, hatinya menjadi mencelos. Selama seminggu tinggal di kamar Aiden membuat Calistha telah terbiasa berada di sana. Kini terbangun di tengah-tengah kamarnya sendiri rasanya begitu aneh dan ia merasa dingin. Malam-malam yang lalu Aiden selalu ada di sampingnya untuk memeluknya dan memberikan rasa nyaman di dalam tidurnya sehingga ia tidak pernag merasa kosong seperti malam ini. Calistha kemudian mengusap setitik air mata yang turun membasahi ujung matanya dengan kasar, ia tidak boleh menangis! Ia tidak boleh terlihat lemah dan terlalu bergantung pada Aiden karena Aiden tidak selamanya ada untuknya. Aiden bisa saja pergi dari sisinya kapanpun pria itu mau, jadi ia harus bisa membesarkan hatinya sendiri dan membiasakan diri tanpa Aiden.
"Aku haus."
Tiba-tiba Calistha menggumam pelan ketika ia merasakan kerongkongannya kering dan tercekat. Dilihatnya meja kecil di sebelah ranjangnya telah kosong, ia berasumsi jika pelayan telah membersihkan semua piring makanannya dan gelas minumnya sore tadi untuk di bawa ke dapur. Calistha kemudian menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kamarnya yang luas, namun ia tidak dapat menemukan apa yang ia cari. Kemana Yuri dan Sunny?
Kedua pelayannya itu tampak tak berada di dalam kamarnya, padahal mereka sudah berjanji akan menemaninya malam ini karena Aiden telah memerintahkan mereka untuk selalu menjaga Calistha dan melindungi wanita itu selama Aiden tidak berada di sisinya.
Merasa semakin haus, akhirnya Calistha memutuskan untuk mengambil minumannya sendiri di dapur.
Lagipula ia sudah sering melakukannya. Ia bukan wanita manja dan lemah yang harus selalu bergantung pada pelayan. Ia adalah wanita mandiri dan kuat.
tampak lebih sepi dari biasanya. Tapi kemungkinan hal itu hanya asumsinya karena selama ini ia tidak pernah berjalan-jalan di dalam istana malam-malam seperti ini. Hanya beberapa kali ia pernah berjalan keluar dari kamarnya saat dulu hubungannya dengan Aiden masih sangat buruk. Saat itu ia menemukan hal-hal
aneh di luar kamarnya dan setelah itu ia memilih untuk tidak melakukan hal itu lagi jika tidak ada Yuri atau Sunny. Tapi karena sekarang ia sudah terbiasa dengan keanehan-keanehan yang terjadi di sekitarnya, rasanya hal ini sama sekali tidak menyeramkan sedikitpun. Berjalan-jalan sendiri di sepanjang lorong yang panjang benar-benar mampu memacu adrenalinnya. Selain itu ia tidak perlu memasang topeng kepalsuan dengan selalu tersenyum dengan setiap pelayan karena saat ini pelayan-pelayan itu telah tidur.
Tidak ada penjaga? Calistha membatin pelan ketika ia berada beberapa meter dari pintu ruangan Aiden. Biasanya di samping kanan dan kiri pintu itu selalu terdapat dua orang penjaga atau tiga orang penjaga yang bertugas untuk berjaga di depan kamar Aiden. Namun kini ia mendapati pintu itu kosong tanpa kehadiran seorang pun prajurit. Merasa aneh, akhirnya Calistha memilih untuk masuk ke dalam ruangan Aiden dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Ia pikir hari ini suasana di istana juga sedikit sepi, lebih sepi dari suasana malam biasanya yang selama ini ia rasakan.
Calistha menjulurkan tangannya ke depan dan mencoba untuk mendorong pintu kayu itu perlahan. Suara
derit pintu yang samar terdengar begitu jelas di telinga Calistha. Ketika ia melihat suasana gelap di kamar Aiden, sudut bibirnya tampak melengkung sedikit, membayangkan jika ia pernah menjadi bagian dari kegelapan ini. Selama satu minggu berada di dalam ruangan Aiden, nyaris setiap malam Aiden tidak pernah menyalakan penerangan di ruangannya. Pria itu benar-benar lebih menyukai kegelapan pekat daripada suasana terang yang katanya akan menyakiti matanya. Padahal menurutnya suasana terang jauh lebih baik daripada suasana gelap yang mencekam seperti ini. Tapi sekarang ia mulai terbiasa dengan suasana gelap. Ia mulai terbiasa dengan semua hal-hal yang disukai Aiden. Dan sekarang ia merasa begitu tidak sabar untuk mengejutkan Aiden dan sedikit melupakan rasa hausnya yang sejak tadi terasa mencekik kerongkongannya.
"Aiden..."
__ADS_1
Calistha memanggil Aiden pelan. Ia mencoba mencari Aiden di sudut kanan ruangannya, tempat dimana Aiden selalu menghabiskan waktunya untuk membaca berlembar-lembar perkamen dan menyelesaikan pekerjaannya. Tapi sayangnya sudut itu kosong, hanya menyisakan satu set meja dan kursi yang tampak tak berpenghuni. Calistha kemudian berasumsi jika saat ini Aiden sedang tidur di atas ranjangnya. Pria itu meskipun terlihat kejam dan arogan, tapi ia tetap pria biasa yang membutuhkan tidur. Dulu ia sempat berpikir jika Aiden tidak membutuhkan tidur karena Aiden adalah sesosok monster baginya, dan ia pikir monster seperti Aiden tidak perlu tidur, namun ia salah. Aiden tetap saja manusia yang terkadang merasakan kesedihan dan kerapuhan, bahkan ia juga tetap pria normal yang membutuhkan wanita untuk memuaskan sisi liarnya, tapi Calistha sendiri tidak tahu apakah selama ini Aiden selalu melakukannya dengan wanita-wanita murahan di luar sana, atau hanya bersama dirinya. Yang jelas Aiden terlihat begitu hebat dan sangat berpengalaman saat bercinta bersamanya.
Calistha mengusap pipi kirinya pelan yang terasa akan terbakar. Ia benar-benar merasa malu dengan pikirannya sendiri karena ia baru saja memikirkan malam-malam panasnya bersama Aiden. Entah betapa munafiknya dirinya sekarang, karena ia telah terjebak ke dalam pesona seorang raja Aiden. Dulu ia selalu memaki pria itu dengan berbagai sumpah serapah dan hinaan yang sangat kasar terkait dengan kehidupan seksual pria itu, namun sekarang justru ia yang terkadang menggoda pria itu untuk menyentuhnya. Ah, betapa masa depan memang sulit untuk diprediksi. Setelah ini ia harus lebih berhati-hati dalam berucap karena mungkin saja ia akan termakan dengan ucapannya sendiri suatu saat nanti.
Srekk
Calistha melihat adanya pergerakan dari ranjang besar Aiden yang berada tak jauh dari meja kerjanya.
Samar-samar Calistha dapat melihat gundukan besar yang tertutupi oleh selimut sedang tertidur membelakanginya. Gundukan besar itu sesekali bergerak dan setelah itu kembali tenang dengan irama nafasnya yang teratur. Merasa jika itu Aiden, Calistha pun memutuskan untuk menghampiri pria itu dan melihat bagaimana keadaan pria itu malam ini. Jujur, ia sangat merindukan Aiden karena seharian ini ia sama sekali tidak melihat Aiden. Namun ia terus berusaha membisikan kata-kata positif ke dalam benaknya jika mungkin saja Aiden sedang sibuk sehingga pria itu tidak bisa mengunjunginya dan melihat keadaannya hari ini.
Perlahan-lahan Calistha berjalan mendekat ke arah ranjang besar yang berada beberapa langkah di depannya. Namun sosok lain yang bergelung di sebelah Aiden berhasil mengejutkan Calistha dan membuat wanita itu menghentikan langkahnya seketika. Tatapan mata tak percaya langsung ia arahkan pada Aiden sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali kalau-kalau saat ini ia hanya sedang berhalusinasi. Tapi semakin lama, pemandangan di depan matanya semakin jelas terlihat dan sekarang ia benar-benar merasa yakin jika itu Aiden. Pria itu saat ini tengah dipeluk mesra oleh seorang wanita dan dengan terang-terangan wanita itu bergelung di atas tubuh Aiden untuk meminta Aiden bercinta lagi dengannya.
"Aiden... Gazelle...."
Suara lirih yang tercekat itu berhasil lolos dari bibir tipis Calistha dengan bulir-bulir air mata yang semakin lama semakin deras membanjiri wajahnya. Ini benar-benar sebuah fakta yang sangat menyakitkan untuknya. Tiba-tiba saja kepalanya menjadi pening dan kilasan-kilasan mengenai mimpi buruk yang ia coba lupakan akhir-akhir ini kembali menguar memenuhi rongga kepalanya. Rasanya ia tidak percaya jika mimpi-mimpi itu akan menjadi kenyataan seperti ini. Calistha kemudian mencoba untuk meraih apapun benda yang berada di sekitarnya untuk menjadi penyangga bagi tubuhnya yang sedikit terhuyung. Rasanya ia sangat lemas dan kakinya benar-benar sudah tidak kuat untuk menahan beban tubuhnya sendiri. Suara desahan yang saling bersahut-sahutan di dalam kamar itu menggema dengan cukup nyaring di dalam rongga telinga Calistha, membuatnya semakin merasa lemas dan mual. Pandangannya yang awalnya kabur karena air mata, kini semakin kabur dengan adanya suara-suara desahan yang menjijikan dan juga dentaman di kepalanya yang pening. Hampir saja ia akan terjatuh di atas lantai marmer kamar Aiden yang dingin, tapi sebuah tangan langsung menariknya dan membuatnya berbalik menabrak tubuh kokoh yang entah siapa saat ini berada di depannya.
Bruk
"Aw." Calistha merintih pelan dan ingin meronta di dalam pelukan pria itu. Tapi gerakannya langsung terhenti, karena pria itu langsung menguncinya dan membisikan kata-kata yang mengerikan di dalam telinganya.
"Pejamkan matamu, karena ini akan mengerikan."
Crashh!
Dan darah segar langsung terciprat dengan sangat mengerikan di depannya, menciptakan bercak merah yang begitu mengerikan di atas lantai marmer putih yang bersih tak bercela. Darah itu, darah pengantar kematian.
__ADS_1