Queen Of Time

Queen Of Time
My Mysterious One (Fifty Two)


__ADS_3

             Spencer berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri Aiden yang sedang berbicara serius dengan


menteri ekonomi. Wajahnya tampak menyiratkan kepuasaan karena hari ini ia berhasil melakukan perintah dari Aiden dengan lancar, dan tanpa ada suatu kendala apapun. Justru hari ini ia seperti mendapatkan dua keberuntungan sekaligus karena telah membuat penyihir itu mati dan membuat Tiffany menjerit histeris di tengah-tengah kerumunan rakyat Khronos. Dan bayangan Tiffany yang sedang menjerit-jerit di tengah-tengah pasar tadi semakin menambah rasa puas dalam dirinya.


            "Yang Mulia."


            Spencer memanggil Aiden pelan dan membuat Aiden langsung menoleh pada sang pengawal setia yang tengah menatapnya dengan serius. Raja arogan itu memberikan isyarat agar menunggunya sebentar, kemudian ia kembali berbicara serius dengan sang menteri ekonomi. Kira-kira lima menit kemudian, menteri ekonomi itu pamit undur diri dan tak lupa membungkuk hormat pada Aiden untuk memberikan penghormtan. Lalu saat berjalan melewati Spencer, menteri itu menyempatkan diri untuk menepuk pundak Spencer pelan sambil tersenyum penuh ketenangan.


            "Semoga harimu menyenangkan nak." ucap menteri tua itu ramah pada Spencer dan segera berjalan pergi meninggalkan sang raja dengan sang pengawal setia untuk berbicara empat mata.


            "Jadi apa yang kau bawa untukku hari ini?"


            Tanya Aiden akhirnya di atas singgasananya yang megah. Pria itu terlihat begitu berkuasa dengan jubah kebesarannya yang berkibar pelan diterpa angin siang yang cukup terik yang berhembus dari fentilasi atap. Mendengar rajanya bertanya, Spencer langsung menunduk hormat sambil menatap Aiden penuh percaya diri.


            "Saya berhasil melakukan tugas saya dengan baik. Penyihir itu kini telah mati, bahkan saya sempat melihat Tiffany yang sedang meraung-raung di depan rumah penyihir itu sambil meminta tolong pada siapapun yang ditemuinya untuk menyelamatkan penyihir itu. Tapi tidak ada satupun yang bisa melakukannya karena api sudah berkobar cukup besar, dan tentu saja mereka tidak mau membahayakan nyawa mereka untuk menolong penyihir itu yang terjebak di dalam rumahnya yang terbakar."


              Aiden mendengarkan semua penjelasan Spencer dengan seksama sambil menyeringai senang. Rasanya saat ini ia ingin menemui Tiffany dan mencemooh wanita licik itu karena sikap bodohnya yang telah mempermalukan dirinya sendiri di depan seluruh rakyat-rakyatnya. Ahh, ia benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah Tiffany hari ini. Pasti akan sangat menyenangkan melihat wajah marahnya yang dipenuhi oleh api dendam.

__ADS_1


            "Bagus. Sekarang kau bisa pergi, hari ini kau bebas untuk melakukan apapun. Aku memberimu libur karena kerja kerasmu hari ini."


             Spencer mendongakan wajahnya senang dan langsung menunduk dalam pada Aiden. Akhirnya ia mendapatkan waktu libur untuk bersenang-senang. Setidaknya hari ini ia akan pergi ke hutan untuk berburu dan merasakan menjadi pria bebas yang tidak terikat pada raja.


              "Terimakasih Yang Mulia, kalau begitu saya permisi." pamit Spencer sopan sambil membungkuk hormat. Pria itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Aiden dengan senyum cerah yang mengembang di bibirnya. Berbagai macam rencana telah ia susun di dalam kepalanya untuk mengisi waktu liburannya hari ini. Dan ia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka yang jarang sekali diberikan oleh rajanya yang arogan.


                Sepeninggal Spencer, Aiden tampak termenung di atas singgasananya sambil menatap para pelayan yang hendak menyiapkan hidangan makan siang. Pekerjaanya hari ini telah selesai, dan sebentar lagi ia akan bertemu Calistha di meja makan, kira-kira apa yang sedang dilakukan wanita itu di luar sana? Pertanyaan itu melayang-layang di dalam kepalanya sambil membayangkan wajah Calistha yang selalu cantik dengan rona merah di pipinya. Aiden kemudian juga membayangkan bagaimana kehidupannya kelak setelah Calistha melahirkan keturunannya. Selama ini ia terbiasa hidup sendiri dengan kearogannya dan kekerasan hatinya. Tapi mengingat jika Calistha tengah mengandung anaknya, dan kehidupannya setelah ini akan lengkap, rasanya... ia sungguh tidak bisa menggambarkannya. Ada rasa bahagia dan hangat yang menyusup ke dalam hatinya, membuatnya ingin selalu tersenyum aneh setiap bayangan Calistha dan bayangan calon anaknya kelak melintas di dalam kepalanya. Terkadang ia berpikir, akan menjadi seperti apa calon anaknya kelak? Apakah ia akan mirip seperti dirinya ataukah ia akan mirip seperti Calistha? Tapi pada akhirnya, ia akan menjawab lantang di dalam hatinya bahwa ia tidak peduli dengan semua itu. Asalkan Calistha dan anaknya selamat, semua itu sudah cukup baginya. Justru ia tidak ingin anaknya mewarisi sifat begisnya karena ia ingin anaknya kelak dikenal sebagai raja yang baik, bukan raja yang kejam sepertinya hingga menakuti banyak orang.


            Ditengah-tengah lamunannya mengenai Calistha dan calon anaknya, seorang pelayan muda datang sambil menundukan kepalanya penuh hormat. Pelayan itu menyampaikan pada Aiden jika hidangan untuk makan siang telah siap, dan Aiden sudah bisa menyantapnya sekarang. Pria itu mengangguk mengerti dan hendak berjalan menuju ruang makan, tapi ia tiba-tiba teringat pada Calistha yang hingga siang ini belum memunculkan batang hidungnya. Ia pun memutuskan untuk menanyakan keberadaan wanita cantik itu pada si pelayan yang masih setia membungkuk di tempat tanpa bergerak sedikitpun sejak tadi.


            "Apa kau tahu dimana Calistha?"


            "Saya melihat Yang Mulia Calistha sedang bersama nona Yuri dan Sunny, mereka berdua dan Yang Mulia Calistha sepertinya akan pergi ke sayap kanan untuk membaringkan seorang wanita tua yang sedang tak sadarkan diri. Tapi saya tidak tahu siapa wanita itu karena Yang Mulia langsung menyuruh saya untuk pergi."


            Aiden mengernyitkan dahinya heran saat mendengar cerita dari si pelayan itu. Menurutnya Calistha sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan wanita itu kemungkinan akan membahayakan dirinya lagi. Lagipula mengapa Calistha tidak bertanya padanya dulu jika ia ingin membawa seseorang ke dalam istananya? Seharusnya wanita itu meminta ijin padanya, sebelum membawa seseorang yang tidak dikenalnya ke dalam lingkungan istana. Ia benar-benar harus mencari Calistha sekarang.


            "Ya, kau boleh pergi." usir Aiden dingin. Pelayan itu tampak bernafas lega sambil berjalan terbirit-birit meninggalkan Aiden. Aura iblis Aiden yang menguar dari tubuh pria itu rupanya telah membuat si pelayan merasa tertekan dan begitu takut berada di dekatnya. Tapi ia tidak peduli, karena saat ini ia harus segera mencari Calistha dan mengintrogasi wanita itu.

__ADS_1


-00-


            Di dalam sebuah kamar yang remang-remang, Calistha dengan penuh ketelatenan sedang menyelimuti wanita tua yang saat ini sedang berbaring damai di atas ranjang empuk yang nyaman. Wanita tua itu kini tampak lebih baik dan lebih bersih dari sebelumnya. Yuri dan Sunny juga telah mengganti pakaian kotor wanita itu dengan pakaian lain yang lebih bersih, sehingga wanita itu kini tidak terlalu menyeramkan lagi bagi mereka.


            "Yang Mulia, sebaiknya anda segera memberitahukan hal ini pada raja Aiden, raja pasti akan marah jika anda tiba-tiba membawa seseorang nenek tua tanpa memberitahukannya pada raja." ucap Yuri menasehati. Calistha mengangguk mengerti sambil menimbang-nimbang saran Yuri. Tapi hati kecilnya merasa tidak yakin dengan ucapan Yuri karena ia sangat tahu bagaimana sifat Aiden, ia pasti akan marah besar dan justru akan mengusir wanita tua tak berdaya ini dari istanannya. Yah, ia memang salah karena telah memasukan orang asing ke dalam istana pria itu, tapi ia sendiri tidak mungkin membiarkan wanita itu tergletak begitu saja di luar sana dengan keadaan yang sangat kotor dan mengenaskan. Menurutnya wanita itu baru saja terkena musibah, namun sayangnya ia tidak bisa menanyakan hal itu lebih lanjut karena sejak tadi wanita itu tak kunjung sadar juga.


            "Aku pasti akan memberitahu Aiden nanti. Lebih baik sekarang kita biarkan wanita ini beristirahat. Dan mungkin setelah makan siang dengan Aiden aku akan mengajak Aiden ke sini untuk melihat keadaan wanita tua yang malang ini, sekaligus mengatakan yang sebenarnya pada Aiden jika aku telah membawa masuk seorang


wanita asing ke dalam istananya. Kuharap Aiden tidak marah dengan tindakanku kali ini. Semoga saja ia mengerti dengan maksud baikku." ucap Calistha penuh permohonan pada dirinya sendiri. Ketiga wanita itu segera berjalan pergi meninggalkan sang wanita tua untuk beristirahat. Tapi siapa sangka, ketika pintu kayu itu tertutup, wanita tua itu membuka matanya perlahan sambil melirik licik pada pintu coklat yang baru saja ditutup oleh Sunny.


            "Ternyata kakak beradik itu benar-benar memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Calistha... wanita itu mungkin akan menerima sedikit belas kasihan dariku." Gumam Sybil pada dirinya sendiri.


-00-


                Tiffany masih berdiri mematung di depan puing-puing reruntuhan rumah Sybil. Sore ini api yang melalap rumah Sybil berhasil dipadamkan oleh seluruh penduduk Khronos yang sejak siang tadi terus berupaya untuk memadamkan kobaran api yang terus menjilat-jilat ke udara dengan sangat mengerikan. Tapi meskipun kobaran api itu kini telah padam, Tiffany tetap merasa sedih karena lagi-lagi ia kehilangan partner yang akan membantunya untuk menghancurkan Calistha dan Aiden. Padahal menurutnya keberadaan Sybil akan aman, karena jauh dari jangkauan Aiden, tapi nyatanya saat ini Aiden telah membakar rumah Sybil dan membunuh wanita tua itu hidup-hidup di dalam sana. Andai saja waktu dapat diputar, ia ingin datang lebih cepat ke rumah Sybil dan memperingatkan wanita itu jika Aiden hendak membakar rumahnya. Tapi sekali lagi, semua itu hanya angan-angannya. Angan-angan yang tidak akan pernah terwujud karena semua telah terjadi. Sybil telah mati di dalam sana, wanita malang yang licik itu telah pergi.


                Tiffany kemudian memutuskan untuk kembali ke istana dan menyusun rencana lain untuk membunuh

__ADS_1


Aiden. Saat ini tekadnya telah bulat. Ia tidak akan menunggu-nunggu lagi lebih lama dan akan langsung menghabisi Aiden saat pria itu lengah. Persetan dengan kehamilan Calistha yang akan melemahkan pria itu. Ia tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk menghabisi Calistha dan Aiden, karena saat ia memiliki kesempatan, ia akan langsung melakukannya dengan cepat, dengan kejam, dan dengan bersih. Lalu ia akan mengambil alih tahta Khronos untuk kebebasannya dan untuk kebebasan seluruh kaum pemberontak yang ditindas oleh Aiden.


__ADS_2