
Malam ini Tiffany resmi keluar dari penjara bawah tanah kerajaan Khronos. Sejak melangkahkan kakinya ke
dalam istana Khronos, Tiffany tak henti-hentinya berdecak kagum sambil menitikan air mata haru karena akhirnya ia dapat bebas dan keluar dari penjara yang kotor itu. Calistha yang sejak tadi terus menemaninya juga merasa begitu bahagia, karena ia dapat membebaskan Tiffany dari sifat tirani Aiden yang memang sangat semena-mena itu. Ketika keluar dari penjara, hal pertama yang dilakukan Calistha adalah membawa Tiffany ke kamarnya untuk membersihkan diri. Selama berada di penjara, Tiffany tidak pernah memiliki kesempatan untuk membersihkan diri. Bahkan saat ingin buang air kecil atau besar, Tiffany harus memohon-mohon pada para penjaga terlebihdahulu agar ia diijinkan untuk memakai toilet penjara yang juga sama-sama kotor. Hidup di penjara tak ubahnya seperti
kehidupan seekor binatang. Dan itu benar-benar sangat memuakan untuk Tiffany
yang sudah terbiasa hidup bersih di kerajaan Diamond.
"Tiffany, kau bisa menggunakan semua pakaianku sesukamu. Setelah ini kau akan tinggal di kamar ini bersamaku, jadi anggap saja semua barang-barang ini adalah milikmu sendiri."
Calistha menunjukan satu persatu gaun miliknya yang diberikan oleh Aiden pada Tiffany. Ia pikir Aiden pasti tidak keberatan jika Tiffany juga mengenakan gaun-gaun pemberiannya. Lagipula gaun-gaun itu terlalu banyak, hingga terkadang tidak memiliki waktu untuk menggunakannya.
"Terimakasih banyak Calistha, kau baik sekali. Kalau begitu aku meminta ijin untuk menggunakan bak berendam milikmu untuk membersihkan diri. Sudah lama sekali aku tidak mandi dan membersihkan diriku, jadi.. kau bisa lihat jika tubuhku ini sangat kotor dan bau." ucap Tiffany dengan ekspresi wajah jijik pada dirinya sendiri. Calistha menganggukan kepalanya lembut sambil mengantarkan Tiffany menuju ke dalam kamar mandinya.
Sementara Tiffany sedang membersihkan diri, Calistha mulai mendudukam dirinya di depan perapian
untuk membaca sebuah buku sejarah yang diambilnya dari ruang pribadi Aiden. Ketika ia berada di dalam ruang pribadi milik Aiden, ekor matanya tak sengaja melihat banyaknya tumpukan buku yang tersusun rapi di dalam rak-rak raksasa yang memenuhi sudut-sudut ruangan Aiden. Melihat banyaknya tumpukan buku yang sangat menggiurkan itu, membuat Calistha merasa berbinar-binar, dan ia langsung meminta ijin pada Aiden untuk meminjam beberapa buku untuk dibaca. Dan tentu saja, Aiden langsung mengijinkannya untuk membaca semua buku-buku miliknya yang sangat jarang ia sentuh setelah ia sibuk menjadi raja.
Calistha mulai membaca lembar pertama buku tersebut yang berjudul asal usul kerajaan Khronos. Satu persatu kalimat panjang itu dibaca oleh Calistha dengan seksama. Dari buku itu, Calistha dapat menyimpulakan jika dahulu kerajaan Khronos hanyalah sebuah hamparan bukit yang luas dengan sungai dan pohon-pohon besar yang tumbuh di dalamnya. Lalu, seorang pangeran yang berasal dari kerajaan barat tak sengaja menemukan lokasi yang sangat subur tersebut, hingga akhirnya pangeran itu merasa tertarik untuk mendirikan sebuah kerajaan di sana. Sepuluh bulan sejak kerajaan itu berdiri, pangeran hanya memiliki sedikit sekali rakyat dan juga prajurit. Kerajaanya yang baru saja berdiri itu benar benar menuai kesulitan dalam mengumpulkan sejumlah penduduk dan prajurit. Tapi berkat kegigihan dari pangeran itu, ia dapat mengembangkan kerajaanya menjadi kerajaan besar yang sukses. Kerajaan pertama yang dapat ditaklukan oleh pangeran muda itu adalah kerajaan kecil yang letaknya berada di barat daya kerajaan Khronos. Tapi, meskipun pangeran itu telah berhasil merebut kerajaan itu, sang pangeran tidak
menyadari jika putra mahkota dari kerajaan itu telah berhasil kabur dari
kerajaan itu dengan membawa sebuah dendam di hatinya.
__ADS_1
"Dendam akan membawa kehancuran."
Calistha berjengit kaget ketika tiba-tiba Aiden telah berada di sampingnya sambil melingkarkan tangannya
di pundaknya yang kecil. Pria itu melirik sekilas pada buku yang dibaca oleh Calistha sambil mengamati wajah Calistha yang masih setia menunjukan wajah keterkejutannya di hadapannya.
"Putra mahkota itu kemudian mendirikan kerajaannya sendiri di hulu sungai Broke dan kemudian membangun kekuatan untuk membalas perbuatan keji leluhurku yang telah memporak porandakan kerajaanya."
"Aiden, apa yang kau lakukan di sini? Tunggu, apa kau baru saja mengatakan mengenai sungai Broke? Sungai itu..."
"Sungai itu adalah sungai yang mengalir di sepanjang kerajaan Kairos. Sebenarnya kerajaan Khronos
dan Kairos sudah sejak lama bermusuhan. Lebih tepatnya karena sebuah dendam yang terus menerus menelurkan kebencian. Lalu saat kedua orangtuaku mengambil tahta kerajaan Khronos, mereka telah mengajukan permohonan pada kedua orangtuamu agar mereka saling memaafkan satu sama lain dan hidup damai tanpa adanya dendam. Awalnya kedua orangtuamu setuju, ayahmu dengan terang-terangan menyambut usulan ayahku dengan wajah sumringah dan tangan terbuka. Tapi, ternyata itu hanya janji palsu belaka. Ayamu mengkhianati ayahku dengan
mengirimkan kutukan padaku untuk menghacurkan kerajaanku secara perlahan, lalu ayahmu juga membunuh kedua orangtuaku ketika mereka datang ke kerajaan Khronos untuk memintamu menjadi pasanganku. Dendam, memang sangat sulit untuk dihentikan. Mata rantainya akan terus berputar seperti lingkaran setan yang akan sangat sulit untuk diputus. Sekarang, setelah kau mengetahui semuanya, apakah kau akan berbalik membenciku dan mengikuti jejak kedua orangtuamu? Maafkan aku karena saat itu aku membunuh kedua orangtuamu, tapi aku benar-benar tidak memiliki cara lain selain membunuh mereka karena mereka telah menghancurkan hidupku terlebihdahulu. Bisa kau bayangkan bagaimana hancur dan terpuruknya hidupku setelah kedua orangtuaku meninggal? Saat itu korupsi dan kekacaun terjadi dimana-mana. Pemberontakan juga terus muncul silih berganti untuk menggulingkan posisiku sebagai putra mahkota. Saat itu bahkan aku pernah berpikir untuk mati daripada harus hidup dengan siksaan yang seperti tak bertepi ini. Tapi, sayangnya aku tidak bisa mati dengan mudah. Setiap aku menghunuskan pedang perak ke jantungku, maka keesokan harinya aku akan terbangun di ranjangku kembali dengan keadaan utuh. Akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa aku memang ditakdirkan untuk menjadi pemersatu bagi dua kerajaan besar yang berthun-tahun telah mengalami konflik. Aku kemudian mulai menyusun pemerintahanku sendiri dengan tegas dan tanpa mengenal belas kasihan. Anak-anak atau orang dewasa, kedudukan mereka sama. Jika mereka berbuat salah, maka aku akan langsung menghukum mereka sesuai dengan bobot kesalahan mereka. Perlahan-lahan keadaan di kerajaanku mulai membaik. Jumlah pemberontak dan pejabat yang korup semakin berkurang dari hari ke hari dan pada akhirnya mereka semua benar-benar hilang dari kerajaanku. Hidupku sejak awal sangat sulit Cals, jadi tolong mengertilah dengan sikapku yang mungkin tidak sesuia dengan dirimu. Kutukan dan peliknya hidup telah merubahku menjadi sesosok monster yang sangat mengerikan seperti ini, aku..."
Tiba-tiba Calistha langsung memeluk tubuh Aiden erat hingga Aiden hampir saja jatuh terjengkang ke belakang, jika ia tidak dengan sigap menahan tubuh kecil yang kini telah menempel sempurna di tubuhnya.
"Aku mengerti sekarang. Tolong maafkan sikap orangtuaku di masa lalu. Aku janji tidak akan menjadi kejam seperti mereka. Meskipun awalnya aku menaruh dendam padamu, tapi sekarang dendam itu telah hilang. Aku sadar jika kau bukan pria jahat yang dengan tanpa alasan akan membunuh semua orang-orang yang tak bersalah. Semua tindakanmu pasti memiliki alasan tersendiri, jadi kumohon maafkan aku. Setelah ini aku akan berusaha untuk menjadi calon ratu dan calon isteri yang baik untukmu. Kita harus berdamai dan menghapuskan sejarah kelam dari kerajaan kita. Apa kau mau memberiku kesempatan?"
Aiden melepaskan pelukannya pada Calistha sambil tersenyum lembut. Senyum lembut yang benar-benar tulus hingga Aiden terlihat lebih manusiawi dan lebih tampan. Selama ini wajah Aiden selalu dihiasi dengan awan mendung yang selalu membuatnya tampak kejam dan mengerikan. Tapi, saat Aiden telah tersenyum seperti itu, ia sungguh-sungguh terlihat seperti pria tampan pada umumnya yang baik hati.
"Selalu ada kesempatan untukmu sayang, kita akan membuktikan pada leluhur kita jika kerajaan Khronos dan Kairos dapat bersatu untuk melahirkan kejayaan yang lebih besar."
__ADS_1
"Ya, aku setuju denganmu. Kita akan membuat para leluhur bangga pada kita." ucap Calistha yakin disusul dengan pangutan mesra bibirnya dengan bibir Aiden. Kedua manusia itu saling menyalurkan rasa cinta masing masing tanpa menyadari kehadiran Tiffany yang sejak tadi telah mendengar seluruh pembicaraan mereka.
"Dasar pengkhianat, aku akan menghancurkanmu terlebihdahulu sebelum kau bisa bersatu dengan raja busuk itu Calistha." gumam Tiffany penuh amarah dan kebencian.
-00-
Malam hari saat semua
penghuni istana sedang terlelap dengan mimpi mereka masing-masing, Spencer tampak mengendap-endap keluar dari kamarnya untuk melihat kondisi Gazelle di penjara. Sudah dua hari ini Spencer sering mengendap-endap ke dalam penjara bawah tanah untuk mengamati kondisi Gazelle di sana. Terkadang saat sedang mengamati Gazelle dari kejauhan, Spencer tampak merasa iba dan ia ingin menolong Gazelle utuk keluar dari penjara mengerikan itu, tapi ketika pikirannya melayang pada Aiden, maka niatnya itu akan segera hilang dengan sendirinya, digantikan dengan perasaan bersalah yang luar biasa pada Aiden. Tapi terkadang ia merasa khawatir dengan perasaanya yang terombang ambing itu, ia takut suatu saat nanti perasaanya akan berbalik menyerangnya dan melemahkannya.
"Argghh, kakiku."
Samar-samar Spencer mendengar suara erangan tertahan yang berasal dari salah satu sel tahanan di penjara itu. Dengan langkah cepat, Spencer mulai menuruni satu persatu undakan batu itu dengan perasaan cemas.
"Gazelle, apa kau baik-baik saja?" tanya Spencer khawatir ketika ia telah berada di depan sel tahanan Gazelle. Wanita itu saat ini sedang mengerang tertahan pada kondisi kakinya yang terluka. Melihat kondisi Gazelle yang sangat menyedihkan seperti itu, membuat Spencer merasa ingin menghancurkan jeruji besi itu dan membawa Gazelle keluar dari dalam penjara yang lebab dan kotor itu. Tapi, ia tidak bisa. Ia telah bersumpah di hadapan seluruh rakyat Khronos dan Aiden jika hidupnya akan ia habiskan untuk mengabdi pada kerajaan Khronos, itu berarti seluruh jiwa dan raganya terikat pada kerajaan ini dan ia sama sekali tidak boleh melanggarnya. Jika ia melanggarnya, maka ia harus siap dengan konsekuensi yang akan ia dapatkan, yaitu hukuman mati dan seluruh keluarganya akan diusir dari kerajaan Khronos dengan tidak terhormat.
"Ssspencer, tolong aku. Kakiku arghh, sakit. Tolong keluarkan aku dari sini." erang Gazelle dengan kondisi mengenaskan di atas lantai. Merasa kalut, Spencer hanya mampu mengulurkan tangannya penuh permohonan pada Gazelle karena pria itu tidak dapat mengeluarkannya dari penjara itu.
"Maafkan aku Gazelle, aku tidak bisa. Tapi, aku pasti akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sini, jadi tolong bersabarlah."
"Dasar pria sialan! Untuk apa ia datang ke sini jika ia tidak bisa menolongku dan mengeluarkanku dari penjara kotor ini. Lebih baik ia mati daripada hidup di kerajaan ini tapi tidak bisa menolongku keluar dari sini." batin Gazelle kesal. Wanita itu kemudian segera berbalik memunggungi Spencer dengan perasaan marah dan dongkol yang luar biasa. Besok jika Tiffany datang untuk mengunjunginya, maka ia akan meminta pertanggungjawaban wanita itu atas nasib sialnya di sini.
"Gazelle, tunggulah sebentar lagi, aku pasti akan mengeluarkanmu." janji Spencer sebelum ia beranjak pergi dari penjara itu untuk menyusun rencana.
__ADS_1
Setelah kepergian Spencer, Gazelle tersenyum penuh kemenangan sambil berdiri angkuh di depan jeruji besinya yang dingin.
"Kita lihat, seberapa tangguh dirimu Spencer."