Queen Of Time

Queen Of Time
Blooming Flower (Thirty Six)


__ADS_3

            "Aiden."


            Suara itu menggema di dalam kegelapan malam dengan nada yang memilukan. Sedangkan pria yang dipanggil-panggil itu tampak tidak merespon dan terus memejamkan matanya dengan darah yang mengucur dari dada kirinya.


            "Aiden, jangan pergi." isak Calistha di sebelahnnya sambil mengguncang pelan tubuh pria itu. Aiden kemudian membuka matanya perlahan sambil tersenyum getir pada Calistha.


            "Aku harus pergi, maafkan aku Cals, maafkan aku."


            Suara itu tiba-tiba melemah seiring dengan pandangan Aiden yang juga meredup dan akhirnya pria itu menutup matanya rapat.


            "Tidak!! Aiden.... Aiden.... Aiden!!!" Calistha menangis terisak-isak di sebelah tubuh kaku Aiden yang sudah tak bernyawa. Wanita itu terus menangis meraung-raung tanpa mempedulikan pandangan berduka dari orang-orang disekitarnya dan juga sentuhan lembut di pundaknya yang semakin lama-semakin mengencang.


            "Calistha, sadarlah. Hey, Calistha."


            "Aidennn!! Hoshh hosh hosh.."


            Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Calistha seiring dengan nafasnya yang semakin memburu. Wanita itu menunduk dalam sambil menyapukan tangannya kearah matanya yang telah dibanjiri oleh air mata. Mimpi yang sangat mengerikan!


            "Ada apa? Kau terus memanggil namaku sambil menangis di dalam tidurmu. Apa kau baik-baik saja?"


            "Aiden."


Grep


               Tiba-tiba Calistha memeluk tubuh kokoh itu kuat dengan pelukan yang sangat erat hingga rasanya Aiden sedikit kesulitan untuk bernafas karena Calistha langsung menubruknya dengan keras. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?


            Malam ini Calistha kembali bermimpi buruk. Sejak kakinya terluka dan wanita itu tidur di kamarnya, beberapa kali Calistha mengalami mimpi buruk dan membuatnya harus menenangkan wanita itu di malam hari. Tapi selama ini wanita itu tidak mau mengaku apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam mimpinya. Wanita itu selalu menyembunyikan semuanya darinya dan menganggap semua itu hanya bunga tidur. Namun ia merasa jika mimpi itu benar-benar aneh dan seharusnya Calistha menceritakan semua mimpinya. Karena mungkin saja itu bukan hanya sekedar mimpi, tapi penglihatan di masa depan.


            "Apa kau ingin minum?" tanya Aiden lembut sambil mengelus surai coklat Calistha pelan. Wanita itu menganggukan kepalanya kecil. Dengan pelan, Aiden mencoba melepaskan pelukannya dari tubuh Calistha dan segera beranjak turun dari ranjangnya untuk mengambilkan segelas air yang berada di atas meja di sebelah ranjangnya.


            "Aiden, aku takut." Tiba-tiba Calistha berseru pelan dengan pandangan kosong. Aiden yang mendengar Calistha bergumam pelan langsung menoleh pada wanita itu dengan pandangan bertanya-tanya yang tidak mengerti.


            "Apa yang kau takutkan, aku di sini bersamamu." ucap Aiden berusaha menghibur. Namun seketika Calistha justru kembali menangis sambil menelungkupkan kepalanya di atas bantal. Ia menangis tersedu-sedu dan benar-benar tampak ketakutan.


            "Hey hey hey, ada apa? Kenapa kau menangis? Apa aku menyakitimu?" tanya Aiden mencoba menenangkan. Pria itu tampak sedikit bingung di sebelah Calistha dan hanya mampu mengelus surai kecoklatan Calistha beberapa kali agar wanita itu lebih tenang. Meskipun mereka sudah semakin dekat satu sama lain,  nyatanya hal itu tidak bisa membuatnya dapat memahami wanita itu dengan lebih baik. Aiden selalu saja merasa canggung dan bingung ketika Calistha mulai dibanjiri dengan luapan emosi yang meledak-ledak seperti ini. Kekakuan dan kebekuan hatinya membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan Calistha. Wanita seperti Calistha adalah makhluk lembut yang sangat hangat, sedangkan ia adalah seorang monster jahat yang selalu hidup di dalam kebekuan abadi dan tidak pernah merasakan kehangatan sedikitpun, kecuali kehangatan yang dipancarkan oleh Calistha beberapa bulan terakhir ini. Tapi akhir-akhir ini kehangatan itu sedikit hilang dari diri Calistha karena wanita itu lebih sering melamun sendiri di dalam kamarnya sambil memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Selain itu kemampuannya untuk melihat masa depan semakin lama semakin jarang muncul. Ia


jarang sekali mendapatkan serangan sakit kepala di malam hari seperti dulu. Walaupun sebenarnya hal itu bagus, tapi sekarang ia justru merasa khawatir. Disaat-saat seperti ini, kemampuannya itu sangat diperlukan. Namun ia justru tidak bisa melakukannya lagi karena ia terlanjur bercinta dengan Calistha. Satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk menghindarkan Calistha dari perbuatan jahat Tiffany dan Gazelle adalah dengan menjauhkan mereka sejauh mungkin dari Calistha. Selama Calistha belum benar-benar pulih, ia melarang Tiffany untuk berada di dekat Calistha. Ia juga menambah penjagaan ketat di depan kamarnya dan hanya mengijinkan Yuri dan Sunny untuk menemani Calistha selama ia berada di luar istana untuk mengerjakan tugas-tugasnya sebagai raja. Dan hal itu ternyata terbukti berhasil. Tiffany beberapa hari terakhir ini tidak pernah mencelakai Calistha. Hanya terkadang jika ia berpapasan dengan wanita itu di dalam istana, wanita itu akan memandangnya dengan tatapan membunuh yang tak ditutup-tutupi sedikitpun. Wanita itu terlihat begitu dendam padanya, namun ia tidak bisa melakukan apapun karena wanita itu tidak bisa mendekati Calistha.


            "Aiden, aku takut."

__ADS_1


            Lagi-lagi Calistha bergumam pelan dengan wajah yang telah dibanjiri oleh air mata. Aiden menghela napas pelan dan mulai membawa Calistha ke dalam pelukannya. Ia tidak tahu apakah hal itu akan membantu atau tidak, tapi nalurinya sebagai pria mengatakan untuk melakukan hal itu. Ia harus memeluk Calistha dengan erat untuk menenangkan wanita itu dari apapun yang saat ini telah mengganggu pikirannya.


            "Aiden, apa kau juga memimpikan hal yang sama denganku, atau kau melihat hal yang sama seperti yang kumimpikan beberapa hari terakhir ini?" tanya Calistha dengan suara parau. Aiden mengerutkan dahinya samar sambil memikirkan ucapan Calistha. Akhir-akhir ini ia tidak memiliki penglihatan apapapun, terakhir yang ia lihat adalah Tiffany dan Gazelle yang sedang merencanakan rencana jahat untuk Calistha, selebihnya ia tidak melihat apapun. Tiba-tiba saja semua penglihatannya dan ketajaman perasaanya semakin melemah dari hari ke hari. Padahal ia sudah terlanjur terbiasa dengan semua hal-hal aneh itu.


            "Aku tidak melihat apapun. Mungkin yang kau impikan hanyalah bunga tidur. Jadi jangan terlalu dipikirkan." ucap Aiden menenangkan. Calistha menganggukan kepalanya mengiyakan dan setelah itu mereka berdua sama sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


            "Aiden, aku ingin kembali ke kamarku. Aku bosan berada di sini. Mungkin mimpi-mimpi itu datang karena aku terlalu jenuh berada di sini. Aku ingin berjalan-jalan keluar." ucap Calistha tiba-tiba. Aiden tampak mengetatkan rahangnya untuk mencari alasan yang logis untuk Calistha. Tapi pada akhirnya Aiden menyerah dan memilih untuk mengatakan semuanya pada Calistha. Lebih baik berkata jujur meskipun menyakitkan daripada berkata bohong namun menjerumuskan.


            "Kau tidak boleh kembali ke kamarmu jika Tiffany masih berada di istana ini." ucap Aiden dingin. Calistha mengernyit heran dengan jawaban Aiden dan langsung mendongak pada Aiden untuk meminta penjelasan.


            "Saudara perempuanmu adalah wanita yang jahat. Tiffany bukan wanita yang baik seperti yang kau lihat selama ini. Paku-paku yang melukai kakimu seminggu yang lalu adalah perbuatannya. Dia ingin melukaimu karena ia ingin melakukan balas dendam padaku."


                "Kau tidak sedang menipuku karena kau tidak menyukai Tiffany bukan?" tanya Calistha penuh selidik. Merasa tersinggung dengan ucapan Calistha, Aiden langsung melepaskan rengkuhan tangannya dari Calistha dan sedikit menggeser tubuh Calistha menjauh darinya. Sungguh ia tidak suka dengan reaksi Calistha yang seakan-akan telah menuduhnya berbohong. Walaupun ia kejam dan berhati dingin, tapi ia sangat menjunjung tinggi kejujuran.


                "Kau pikir aku berbohong? Lagipula apa keuntunganku berbohong padamu, semua ini kulakukan semata-mata untuk melindungimu dari keparat-keparat jahat itu agar mereka tidak melukaimu. Semua ini untukmu Cals!" desis Aiden dengan penekanan disetiap kalimatnya. Merasa telah melakukan kesalahan, Calistha mulai mencoba untuk mengembalikan mood Aiden yang buruk dengan meminta maaf dan menggenggam tangan pria itu erat. Namun Aiden sudah terlanjur marah dan Calistha tidak bisa mengembalikan mood pria itu dengan mudah.


            "Maafkan aku, bukan maksudku untuk menuduhmu berbohong. Tapi Tiffany adalah saudaraku, ia adalah kakakku. Kumohon Aiden, aku tidak ingin kita bertengkar lagi hanya karena masalah kecil seperti ini."


              "Ini bukan masalah kecil Cals, ini masalah besar. Wanita iblis itu saat ini sedang mencoba untuk mencelakaimu dan membunuhmu. Apa kau pikir aku akan bersikap sedefensif ini jika wanita itu tidak sedang mengusik apa yang menjadi milikku. Dia ingin memisahkanmu dariku!" bentak Aiden keras penuh emosi. Calistha sebisa mungkin tetap tenang dan tidak terpancing emosi, meskipun ia sendiri merasa tidak terima dengan tuduhan Aiden yang tak terbukti itu. Lagipula ia yakin jika Tiffany tidak mungkin akan melakukan hal itu padanya. Ini semua karena Aiden begitu ketakutan akan kehilangan dirinya akibat insiden paku-paku kemarin.


            "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membantah apapun kemauanmu. Tapi tolong ijinkan aku untuk berjalan-jalan keluar esok pagi. Luka di kakiku juga sudah pulih, kakiku sudah tidak sesakit dulu. Kumohon."


            Aiden menatap Calistha sekilas. Ia belum bisa memutuskan untuk mengabulkan permintaan Calistha sekarang karena ia tidak tahu apakah membiarkan Calistha berkeliaran di luar istana akan aman untuk wanita itu. Tapi ia juga tidak bisa terus menerus mengurung Calistha di dalam kamar ini. Bagaimanapun juga Calistha harus tetap keluar karena ia adalah calon ratu. Lalu apa yang harus ia lakukan?


                Aiden masih tampak berpikir untuk mengijinkan Calistha keluar dari kamarnya atau tidak. Tapi pada akhirnya Aiden menganggukan kepala dengan berat hati karena Calistha yang terus memohon di hadapannya dengan tatapan memelas yang sangat tidak disukainya.


                "Kau boleh berjalan-jalan keluar bersama Sunny dan Yuri, tapi ingat, jangan terlalu dekat dengan Tiffany karena wanita itu sewaktu-waktu dapat membahayakanmu." peringat Aiden dengan wajah bersungguh-sungguh. Calistha tampak bersorak girang di hadapan Aiden sambil memeluk pria itu erat hingga mereka sama-sama terjatuh di atas ranjang milik Aiden yang nyaman.


            "Terimakasih, kau memang raja yang baik." puji Calistha senang. Namun hal itu justru ditanggapi Aiden dengan dengusan kesal karena ia tahu, Calistha memujinya semata-mata hanya karena ia mengijinkan wanita itu untuk pergi keluar dari kamarnya. Jika ia tidak mengijinkannya seperti dua hari yang lalu, maka ia pasti tidak akan


mendapatkan sebuah pujian seperti itu, melainkan kemarahan yang begitu meluap-luap dengan air mata yang terlalu berlebihan. Dasar wanita!


            "Raja Aiden yang agung, kenapa anda sepertinya tidak senang, hmm?" goda Calistha jahil. Kebiasaan Calistha ketika Aiden sudah mulai kesal padanya, maka ia akan menggoda pria itu habis-habisan hingga pria itu jengah dan akhirnya memilih untuk mengalah dengan egonya yang tinggi.


            "Jangan menggodaku, Cals. Aku tidak suka." peringat Aiden mulai kesal. Namun Calistha memasang wajah tidak mengerti sambil mengernyitkan dahinya heran.


            "Menggoda? Aku tidak menggodamu Yang Mulia. Jika aku menggodamu, maka aku akan melakukan ini."


Cup

__ADS_1


                Tiba-tiba Calistha mencium bibir Aiden ringan sambil terkekeh geli di depan Aiden. Entah apa yang dipikirkan wanita itu saat ini. Tapi sikapnya yang tidak biasa itu berhasil membuat kening Aiden mengernyit karena heran. Ada apa lagi dengannya?


            "Ada apa denganmu Cals?"


            "Aku hanya ingin menciummu, sedikit. Apa itu tidak boleh?" Tanya Calistha dengan bibir mengerucut. Tentu saja hal itu boleh. Tapi sikap wanita itu yang tidak biasa berhasil mengusik pikirannya dan membuatnya berpikiran macam-macam tentang wanita itu. Karena tidak biasanya Calistha bersikap agresif seperti ini. Biasanya ia yang terlebihdahulu menggoda Calistha dengan hal-hal intim seperti itu, bukan sebaliknya. Bahkan biasanya Calistha cenderung pasif dan hanya menerima semua sentuhannya dengan wajah merona, karena malu.


            "Kau terlihat aneh." ucap Aiden jujur dengan wajah datar. Ekspresi wajah Aiden yang sangat tidak sesuai dengan harapan itu membuat Calistha kembali cemberut dan ingin segera bangkit dari atas tubuh Aiden, namun langsung ditahan oleh pria itu dengan dekapan tangannya yang erat.


            "Aku belum mengijinkanmu untuk pergi ratu."


            "Bukankah kau bilang aku aneh, lebih baik kau lepaskan aku raja." balas Calistha sengit. Melihat perubahan mood Calistha yang sangat mencolok itu membuat Aiden kembali mengernyitkan dahinya heran. Satu hal lagi yang ia pelajari dari seorang makhluk bernama wanita, mereka sangat tidak konsisten!


            "Aku memang mengatakanmu aneh, tapi bukan berarti kau bisa pergi begitu saja dariku. Kau harus menemaniku di sisa malam ini, hmm."


            Kali ini Aiden mulai melancarkan godaan sensualnya pada Calistha. Pria itu mulai mengecupi rahang Calistha dengan kecupan-kecupan kecil yang menggelikan.


                "Bercinta lagi Yang Mulia? Huh, kau memang suka sekali membuatku le.. mphhh."


                Tanpa menunggu Calistha menyelesaikan ucapannya, Aiden langsung membungkam bibir merah itu dengan bibir tipisnya hingga wanita itu langsung terdiam dan membalas setiap lumatannya yang sangat memabukan. Bibir mereka saling mencari kehangatan satu sama lain dan keduanya tampak begitu menikmati pergulatan kecil mereka. Dan setelah cukup lama, mereka saling terengah satu sama lain, akhirnya mereka melepaskan tautan diantara mereka dengan seringaian tipis dari Aiden sebagai penutup dari acara pangutan mereka.


            "Hmm, kemampuanmu semakin meningkat sayang. Aku menyukainya."


            "Tentu, aku banyak belajar darimu Yang Mulia cabul." Balas Calistha sensual. Malam ini Calistha terlihat benar-benar berbeda dan lebih agresif. Dimulai dengan ciuman singkat dari wanita itu, dan kini Calistha semakin berani untuk menggodanya dan membuat Aiden semakin tersiksa dengan setiap sentuhannya.


            "Cabul? Aku merindukan panggilan itu. Apa kau sedang merajuk padaku? Malam ini kau terlihat lebih agresif Calistha."


            Calistha menggeleng kecil sambil mengerlingkan sebelah matanya nakal. Entah dari mana wanita itu belajar untuk menggoda Aiden seperti ini, yang pasti Aiden cukup terkejut dengan perubahan sikap Calistha hari ini, sekaligus ia menikmatinya.


              "Aku hanya ingin lebih dekat denganmu Aiden, bolehkah?"


                "Tentu, my queen. Sentuh aku dimanapun kau suka."


                 Calistha tersenyum sumringah dan langsung ******* bibir lembab Aiden dengan penuh nafsu. Suara decapan demi decapan yang mereka hasilkan menggema dengan begitu nyaring di dalam ruangan gelap yang tampak sepi dan senyap. Kedua tangan Calistha yang bebas mulai bergerak aktif menelusup ke dalam piyama sutra yang dikenakan oleh Aiden sambil membelai otot-otot pria itu pelan.


                "Erghhhh."


                 Suara erangan tertahan Aiden mengalun pelan saat Calistha mulai membelai otot-otot perutnya dengan


gerakan menggoda yang sangat jahil. Wanita itu benar-benar telah membangunkan iblis di dalam dirinya. Setelah ini, jangan salahkan dirinya jika ia akan bermain dengan penuh nafsu pada wanita itu.

__ADS_1


                "Kau membuatku semakin liar Cals, jangan salahkan aku jika aku menjadi cabul karenamu." bisik Aiden parau dengan gairah yang telah menguar pekat dari dalam tubuhnya. Sementara itu Calistha terlihat tampak santai, dan justru menunggu saat-saat ini dengan tidak sabar. Entah mengapa hari ini ia sangat ingin berdekatan dengan Aiden dan bergumul bersama pria itu di atas ranjangnya yang hangat dan empuk. Dorongan itu sangat kuat dari dalam tubuhnya, hingga membuatnya seharian ini terus uring-uringan tanpa sebab saat Aiden pergi meninggalkannya untuk melihat proses pembangunan jembatan yang menghubungkan perbatasan Khronos dengan perbatasan Diamond. Bahkan Yuri dan Sunny sempat merasa heran dengan perubahan moodnya yang tampak tidak stabil. Beberapa kali mereka menjadi sasaran kekesalannya dan harus bersikap ekstra sabar untuk menghadapi sikapnya yang tampak seperti seorang gadis kasmaran. Dan sialnya hari ini Aiden pulang sedikit terlambat hingga ia merasa kesal dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur terlebihdahulu sebelum Aiden pulang. Karena terlalu memikirkan Aiden dan sangat ingin bertemu dengan pria itu, ia menjadi bermimpi buruk dan menangis histeris di dalam mimpinya. Tapi untung saja saat ia terbangun, Aiden sudah berada di sisinya untuk menenangkannya. Tak terbayang bagaimana nasibnya tadi jika Aiden tidak ada di sampingnya, mungkin ia akan terus meraung-raung sendiri di dalam ruangan gelap itu sambil memaki-maki Aiden karena pria itu tidak ada di


sisinya. Aiden, kumohon tetaplah bersamaku, aku membutuhkanmu.


__ADS_2