
Calistha membebat setiap inchi luka Tiffany dengan lembut dan hati-hati. Wanita itu sebisa mungkin berusaha untuk berhati-hati dalam mengobati luka Tiffany agar saudara kandungnya itu tidak terlalu kesakitan dengan setiap luka yang ditorehkan oleh Aiden. Berkali-kali Calistha melayangkan kata maaf atas nama Aiden pada Tiffany untuk semua kesalahan yang dilakukan Aiden hari ini. Meskipun ia belum tahu pasti apa yang menjadi penyebab Aiden marah dan hampir membunuh Tiffany, tapi ia yakin jika saudaranya itu pasti tidak bersalah. Ini semua pasti hanya sebuah kesalahpahaman yang berujung mengerikan karena sikap tempramen Aiden. Ya, kira-kira begitulah apa yang dipikirkan Calistha saat ini.
"Tiffany, jadi apa yang sebenarnya terjadi?"
Setelah Calistha selesai dengan semua perban di tubuh Tiffany, wanita itu mulai bertanya untuk mengetahui akar permasalahan antara dua manusia itu. Tiffany sendiri ketika Calistha mulai bertanya langsung memasang mimik wajah ketakutan sambil menitikan air matanya pilu. Dalam hati ia tersenyum menang saat membayangkan wajah marah Aiden yang sangat tidak terima dengan keputusan sepihak Calistha yang hendak membatalkan pernikahan mereka. Rasanya ia benar-benar bahagia dengan kekalahannya hari ini.
"Sssbbernarnya... sbbenarnya..."
Calistha mengelus lengan Tiffany pelan untuk menenangkan wanita itu agar lebih tenang. Ia tahu saat ini Tiffany merasa trauma dan terpukul dengan kejadian mengerikan yang menimpanya hari ini.
"Tenanglah, ceritakan perlahan padaku." ucap Calistha lembut. Tiffany tampak menghembuskan nafasnya berkali-kali sebelum akhirnya ia menceritakan semua cerita bohongnya pada Calistha.
"Sssbbernarnya... sebenarnya aku hanya meminta Aiden untuk lebih peduli pada rakyatnya. Hari ini
salah satu rumah penduduk Khronos terbakar, dan tidak ada satupun rakyat Khronos yang mau menyelematkan pemilik rumah itu saat kebakaran sedang berlangsung, sehingga dapat dipastikan jika pemilik rumah itu mati terbakar di dalam rumahnya. Lalu aku melaporkan kejadian itu pada Aiden, tapi.. tapi Aiden justru marah dan menduhku sebagai wanita jahat. Ia menuduhku sebagai dalang dari kekacauan yang selama ini terjadi di kerajaannya, lalu.... lalu.. lalu ia ingin membunuhku."
Tiffany menangis histeris diakhir kalimatnya sambil menelungkupkan kepalanya di atas pangkuan Calistha. Wanita itu terlihat begitu meyakinkan dengan sandiwara picisannya yang sangat murahan, namun berhasil memperdaya Calistha. Sedangkan Calistha tampak percaya begitu saja dengan cerita Tiffany dan langsung membawa tubuh wanita jahat itu ke dalam pelukannya. Ia berkali-kali membisikan kata-kata menenangkan sambil meminta maaf pada Tiffany atas semua sikap jahat yang dilakukan Aiden padanya. Ia tidak menyangka jika ketakutan berlebih Aiden pada hal-hal jahat yang menurut pria itu sedang terjadi disekitarnya akan membawa
dampak yang sangat parah seperti saat ini. Sekarang ia benar-benar harus memperingatkan Aiden dengan tegas, sebelum pria itu semakin bertambah brutal dengan keyakinannya yang tak masuk akal.
"Tenanglah, setelah ini Aiden tidak akan menyakitimu lagi. Aku kan memperingatkan Aiden dengan tegas dan membuatnya sadar dengan semua ketakutan berlebihannya yang tidak masuk akal itu."
"Tapi apakah cara itu akan berhasil? Aiden benar-benar sangat mengerikan. Ia hampir saja membunuhku Cals. Untung saja aku menemukan belati di dalam ruangannya, sehingga aku dapat bertahan cukup lama di dalam sana hinga kau datang." ucap Tiffany mendramatisir. Calistha terus mengelus lembut puncak kepala Tiffany
untuk menenangkan wanita itu. Sesekali ia juga membisikan kata-kata penyemangat dan janji-janji untuk menenangkan Tiffany dan menghilangkan trauma wanita itu pada Aiden. Menurutnya saat ini jiwa Tiffany sedang benar-benar tergoncang.
"Sekarang tidurlah. Aku akan berbicara pada Aiden dan menyelesaikan masalah ini secepatnya."
"Terimakasih Cals, kau memang adikku yang sangat baik. Aku menyayangimu Cals." ucap Tiffany parau sambil menghambur ke dalam pelukan Calistha. Calistha menghela nafas lega dan langsung membalas pelukan Tiffany dengan erat. Ia harap Aiden dalam keadaan mood yang bagus setelah ini, karena hari ini ia harus meluruskan semua masalahnya dengan pria itu.
-00-
Aiden masih bertahan di dalam ruangannya sambil mengerang frustrasi. Menghancurkan seisi kamarnya sama sekali tidak melegakan hatinya dan justru semakin membuat emosinya memuncak. Pada akhirnya ia memutuskan untuk merenung sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam waktu dekat ini, termasuk kegilaan Calistha yang ingin pergi dari sisinya dan lebih memilih Tiffany. Membayangkan
Calistha akan pergi dari sisinya membuat Aiden panik dan juga takut luarbiasa. Ia tidak mau kehilangan Calistha, sampai kapanpun Calistha harus berada di sisinya dan menjadi ratunya. Jika Calistha pergi, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya. Yang jelas ia akan menjadi pria yang kehilangan arah, sama seperti dulu.
Sembari menelungkupkan kepalanya frustrasi di atas meja, Aiden mulai memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Jika dipikir-pikir sejak kedatangan Calistha ke dalam kerajaanya, ia sering sekali dilanda keresahan dan kefrustasian yang menyakitkan kepala. Padahal dulu keruwetan yang melandannya hanya sebatas keruwetan peperangan, namun sekarang keruwetan itu berubah menjadi lebih komplek dan semakin memusingkan dirinya.
"Arghhh! Apa yang telah wanita itu lakukan padaku?"
"Yang Mulia."
Ditengah-tengah kefrustrasian yang melanda Aiden, tiba-tiba seseorang memanggil Aiden dengan panik dari ambang pintu. Orang itu, yang merupakan penyihir yang sedang menyamar menjadi pelayan tampak begitu panik dan terlihat sangat terburu-buru. Bahkan karena terlalu terburu-buru, wanita itu sampai tidak memperhatikan langkahnya yang bisa saja terkena serpihan benda tajam yang baru saja dihancurkan oleh Aiden. Sambil mengatur nafasnya yang memburu, wanita itu langsung membungkuk hormat penuh penyesalan pada Aiden atas sikapnya yang kurang sopan itu.
"Ada apa Zurich, kau datang disaat yang tidak tepat." ucap Aiden malas. Zurich kemudian mulai mengamati ruangan disekitarnya dengan pandangan ngeri. Sejak tadi ia sama sekali tidak sadar jika ruangan pribadi sang raja benar-benar sangat berantakan dan kotor. Untung saja kedua kakinya yang dilapisi sol sepatu tipis tidak terluka dan terkena serpihan benda-benda tajam yang berserakan di atas lantai.
"Yang Mulia ini gawat. Sybil ada di dalam istana ini." lapor Zurich buru-buru. Aiden yang tidak mengetahui arah pembicaraan wanita setengah baya itu hanya mampu mengerutkan dahinya bingung sambil menatap wanita baya itu penuh tanda tanya.
"Aku tidak mengerti maksudmu? Siapa Sybil?"
__ADS_1
"Sybil adalah penyihir jahat yang membantu Tiffany untuk melukai Yang Mulia Calistha. Saat ini Sybil berada di sini dan sedang berada di sayap kanan istana."
"Apa! Bagaimana bisa? Bukankah Spencer sudah membakar rumahnya dan membunuhnya?" teriak Aiden murka. Pria itu langsung menggebrak meja garang sambil berdiri murka dari singgasananya yang nyaman. Sedangkan Zurich hanya mampu menatap kegarangan Aiden dengan wajah tenang sambil berpikir. Sore ini sebenarnya ia tidak sengaja pergi ke sayap kanan istana untuk mengantarkan minuman pesanan Calistha untuk
wanita yang ditolongnya. Tapi ketika ia masuk ke dalam kamar itu, betapa terkejutnya ia karena wanita yang ditolong Calistha adalah Sybil, si penyihir hitam yang bekerjasama dengan Tiffany untuk menghancurkan Calistha. Dan pada saat ia datang, Sybil refleks membuka matanya lebar-lebar karena ia dapat merasakan auranya yang merupakan sesama penyihir. Begitu membuka matanya, Sybil langsung menyeringai licik pada wajahnya yang terlihat terkejut. Tapi sayangnya ia tidak bisa mengetahui apa yang akan dilakukan Sybil setelah ini karena ia tidak bisa membaca pikiran Sybil. Wanita itu sengaja mengunci pikirannya dari siapapun dan hanya sebatas menyapanya dengan sapaan santai.
"Anda harus segera mengusirnya dari istana ini Yang Mulia, sebelum hal buruk menimpa anda dan Yang Mulia Calistha." saran Zurich pada Aiden. Namun Aiden langsung menggelengkan kepalanya keras dan justru menyuarakan ide lain yang lebih tepat untuk mengatasi Sybil.
"Kita tidak bisa hanya mengusirnya begitu saja, kita harus membunuhnya sebelum ia melakukan hal-hal jahat padaku dan Calistha."
Dengan penuh tekad Aiden langsung berjalan pergi keluar dari ruangannya, disusul oleh Zurich di belakangnya. Wanita itu terlihat begitu kepayahan untuk mengejar langkah Aiden yang lebar-lebar. Para pengawal yang berjaga di sepanjang lorong langsung menunduk hormat ketika Aiden berjalan melewati mereka sambil membawa pedang emasnya dalam keadaan terhunus. Dalam hati mereka menerka-nerka, siapa yang malam ini akan dieksekusi oleh Aiden, karena biasanya Aiden hanya membawa pedangnya dalam keadaan terhunus jika Aiden tidak sedang diharuskan untuk membunuh para pesakitan yang semakin menjengkelkan di penjara bawah tanah. Tapi kali ini tentu saja Aiden tidak akan mengeksekusi para pesakitan, kali ini Aiden benar-benar akan mengeksekusi seseorang yang seharusnya sudah mati hari ini, sang penyihir.
-00-
Calistha berjalan penuh antisipasi menuju ruangan Aiden. Berbagai macam pertanyaan telah ia siapkan di dalam kepalanya untuk menuntut penjelasan dari Aiden. Meskipun ia mengganggap Aiden berlebihan dengan sikap over protektifnya, tapi ia merasa tidak adil pada pria itu karena ia sama sekali belum memberikan Aiden kesempatan untuk membeladiri. Ia yakin, sebenarnya Aiden pasti memiliki maksud tersendiri dibalik sikap kasar dan arogannya, oleh karena itu ia akan memberikan kesempatan pada Aiden untuk menjelaskan semuanya. Dan jika pria itu telah menjelaskannya, setelah ini ia akan mengambil keputusan, apakah ia akan tetap berada di sini atau tidak.
Ketika tiba di depan ruangan pribadi Aiden, pintu coklat itu tampak menganga lebar dengan berbagai macam kekacauan yang terlihat jelas di dalamnya. Calistha kemudian memutuskan untuk masuk sambil sebelumnya ia melongokan kepalanya terlebihdahulu untuk mencari keberadaan Aiden. Namun berkali-kali ia menelusuri ruangan itu untuk mencari keberadaan Aiden, ruangan itu tampak kososng. Aiden sama sekali tidak
berada di dalam sana. Ia kemudian bertanya pada salah satu prajurit yang berdiri tak jauh dari pintu ruangan Aiden karena pasti tahu dimana keberadaan Aiden sekarang.
"Apa kau tahu dimana raja Aiden berada?"
"Raja baru saja pergi menuju sayap kanan istana sambil membawa sebuah pedang dalam keadaan terhunus, sepertinya raja akan mengeksekusi seseorang."
Mendengar hal itu, Calistha langsung berjalan pergi menyusuri lorong-lorong panjang untuk menuju sayap kanan istana. Saat ini pikirannya benar-benar panik karena penjaga itu baru saja mengatakan jika Aiden keluar dari ruangannya sambil membawa pedang dalam keadaan terhunus. Berbagai macam bayangan jika Aiden akan mengeksekusi seseorang langsung berputar-putar di dalam kepalanya dan membuatnya ngeri. Apalagi pengawal-pengawal itu mengatakan jika Aiden berjalan menuju sayap kanan istana yang saat ini ditempati oleh wanita tua yang siang tadi ditolongnya. Meskipun ia mencoba untuk menepis semua kemungkinan terburuk yang mungkin saja dapat terjadi, tapi hati kecilnya terus berteriak jika sebenarnya Aiden saat ini hendak mengeksekusi wanita malang yang siang tadi ditolongnya. Meskipun jika dipikir-pikir, untuk apa Aiden mengeksekusi wanita itu tanpa alasan yang
jelas? Tapi hal itu mungkin saja dapat terjadi, mengingat bagaimana kegilaan Aiden hari ini yang hampir saja membunuh Tiffany, jadi tidak menutup kemungkinan jika Aiden juga akan melakukan hal yang sama pada wanita malang itu.
itu. Dengan langkah cepat yang semakin khawatir, Calistha langsung menuju ruangan itu sambil terus berkomat-kamit dalam hati semoga wanita itu baik-baik saja.
"Aiden!" panggil Calistha histeris ketika ia melihat Aiden sedang menarik paksa wanita malang itu dari atas ranjangnya dalam keadaan lemah. Cepat-cepat Calistha berlari menyerbu Aiden dan mendorong tubuh pria itu kuat-kuat agar menjauh dari wanita malang yang siang tadi ditolongnya.
"Minggir Calistha, kau menghalangiku untuk membunuh penyihir itu!"
"Apa yang kau lakukan? Kau gila! Dia bukan penyihir, dia hanya wanita malang yang baru saja tertimpa musibah. Berani kau maju dan menghunuskan pedangmu padanya, aku akan pergi dari kerajaan ini." ancam Calistha bersungguh-sungguh. Dibelakangnya Sybil tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Zurich dengan tatapan mengejek. Saat ini ia merasa sangat diuntungkan karena Calistha mempercayainya. Bahkan saat ini Calistha berada tepat di depannya, akan sangat mudah baginya jika ia ingin membunuh Calistha dari belakang seperti ini.
"Yang Mulia anda harus pergi sekarang, dia bukan wanita baik-baik, wanita itu adalah penyihir hitam yang akan mencelakai anda."
Akhirnya Zurich memutuskan buka suara untuk membantu Aiden. Dilihatnya saat ini Aiden telah kehabisan kesabaran dan ingin sekali menerjang Calistha, tapi Zurich masih memintanya untuk bersabar karena Zurich khawatir, penyihir itu justru akan menyerang Calistha langsung jika Aiden nekad untuk maju dan menyerang penyihir itu.
"Siapa kau? Kenapa kau justru membela Aiden, apa kau tidak bisa melihat bagaimana lemahnya wanita ini? Dia baru saja tertimpa musibah."
"Persetan denganmu Cals, aku tidak peduli jika kau akan pergi dari sisiku."
Dengan ancang-ancang yang pasti, Aiden langsung berjalan menerjang tubuh Calistha untuk menjangkau penyihir jahat itu. Namun sang penyihir dengan sigap langsung mengarahkan sihir hitamnya untuk membalik pedang yang digenggam Aiden agar berbalik menyerang Calistha. Sebisa mungkin Aiden menahan pedang itu agar tidak menusuk Calistha. Zurich yang melihat hal itu juga langsung membantu Aiden dengan memberikan serangan pada Sybil dan membuat wanita jahat itu terjungkal jatuh ke belakang.
Sementara itu, Calistha tiba-tiba saja menjadi wanita linglung yang tampak tidak mengerti dengan semua hal-hal aneh yang baru saja terjadi. Dilihatnya Aiden, Sybil, dan Zurich yang terlihat sama-sama kepayahan. Ia merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Suara teriakan Aiden yang menyuruhnya untuk pergi sejauh mungkin dari ruangan itu, bahkan tak dihiraukannya. Ia hanya terus memandangai ketiga manusia itu bingung sambil berdiri linglung ditempatnya semula.
"Calistha..... cepat pergi!" bentak Aiden tak sabar. Pria itu sudah tidak kuat lagi untuk menahan gerakan pedang itu agar tidak menusuk Calistha, sedangkan pedang itu juga tidak bisa dilepaskan dari tangannya. Seperti ada perekat kuat yang menyatukan pedang itu dengan telapak tangan kanannya.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa menghalangi pedang itu untuk membunuh targetnya karena mantra itu adalah mantra terkuat dan tidak ada penyihir manapun yang bisa mematahkannya." ucap Sybil sambil tersenyum puas pada Aiden dan Calistha. Zurich yang merasa geram dengan kelakukan Sybil langsung melayangkan mantra mematikannya dan berhasil membuat Sybil pingsan. Zurich kemudian mencoba berbagai macam mantra yang ia ketahui dapat digunakan untuk membatalkan sihir Sybil, tapi semua mantra yang diucapkannya terasa sia-sia karena mantra itu tidak bisa digunakan untuk memecahkan mantra mematikan Sybil. Dengan nafas tersenggal-senggal, akhirnya Aiden memerintahkan Zurich untuk membawa Calistha pergi dari ruangan itu, karena tangannya sudah benar-benar tidak kuat untuk menahan gerakan pedang itu. Saat ini pedang itu sudah berada di dekat leher Calistha dan hampir menusuk urat nadi Calistha, jika saja Aiden tidak menahannya dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
"Cepat bawa Calistha pergi! Pedang ini benar-benar akan membunuh Calistha."
"Aiden, kau... aku tidak mau meninggalkanmu sendiri."
Akhirnya kesadaran Calistha kembali. Kedua matanya telah dibanjiri oleh air mata yang begitu banyak, mengalir turun membasahi kedua pipi mulusnya. Zurich pun segera menarik tangan Calistha untuk keluar dan tak membiarkan Calistha berlama-lama di dalam ruangan itu bersama Aiden. Akan sangat bahaya jika Aiden tidak bisa menahan pedang itu lagi dan justru akan membunuh Calistha.
"Lepaskan aku, aku ingin menolong Aiden." teriak Calistha meronta-ronta sambil berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya dari tangan Zurich. Berkali-kali Calistha terus menoleh ke belakang untuk melihat bagaimana kondisi Aiden saat ini. Ia merasa takut dengan semua kejadian mengerikan yang baru saja terjadi di depan matanya. Dan sekarang ia merasa menyesal karena telah membela penyihir jahat yang ternyata benar-benar akan membunuhnya.
"Yang Mulia anda harus segera pergi, raja Aiden tidak bisa menahan pedang itu lebih lama lagi. Jika anda nekad untuk berada di dalam sana, anda akan terbunuh."
"Tapi bagaimana dengan Aiden? Pedang itu juga bisa membunuhnya."
"Anda tenang saja. Saya akan...."
"Arghhh!!"
Refleks mereka berdua langsung menoleh ke belakang ketika suara erangan Aiden menggema begitu nyaring di belakang mereka. Merasa Zurich sedang lengah, Calistha langsung berlari pergi untuk menghampiri Aiden yang sudah tidak bisa menahan pedang itu lagi lebih lama. Suara teriakan Zurich yang terus memperingatkannya agar jangan mendekat terdengar begitu nyaring di belakangnya, namun sama sekali tidak
dipedulikan oleh Calistha, ia lebih memilih untuk menghampiri Aiden yang terlihat sedang kepayahan untuk menahan pedang emasnya yang terlihat semakin memberontak dari genggaman tangannya.
"Cals, jangan mendekat!"
"Tidak. Aku ingin menolongmu." jawab Calistha gigih. Akhirnya Aiden tidak bisa melakukan hal lain selain mengarahkan pedang itu pada tubuhnya sendiri. Teriakan Calistha yang memilukan, meneriakan nama Aiden, terdengar begitu nyaring seiring dengan tubuh Aiden yang meluruh ke atas lantai.
"Aiden, tidak! Apa yang kau lakukan, Aiden...."
Calistha menangis pilu sambil mengguncang-guncang tubuh lemah Aiden yang telah bersimbah darah. Wanita itu kemudian mencabut pedang emas itu dari dada kiri Aiden dan menyuruh Zurich untuk menyembuhkan luka menganga Aiden dengan mantranya.
"Bukankah kau penyihir? Cepat sembuhkan Aiden dengan mantramu, Aiden terlihat sangat tersiksa." teriak Calistha tidak sabar. Zurich kemudian mencoba mantra penyembuhnya pada Aiden, tapi mantra itu hanya sebatas menghambat perdarahan yang terjadi pada dada kiri Aiden karena mantra yang digunakan Sybil ternyata memang tidak mudah untuk dipatahkan. Hanya Sybil yang bisa mematahkan mantra itu, karena ia yang telah melayangkan mantra itu pada Aiden. Namun sayangnya saat ini Sybil sedang dalam keadaan tak sadarkan diri karena Zurich baru saja menyerang penyihir itu dengan mantra mematikannya.
"Saya tidak bisa menyembuhkan luka itu, hanya Sybil yang bisa melakukannya karena ia yang melakukannya."
Calistha langsung menjerit frustasi sambil menepuk pipi Aiden berkali-kali. Ia takut kehilangan Aiden, ia benar-benar takut ditinggalkan oleh pria itu.
"Aiden.. kumohon bangunlah, maafkan aku."
"Arghhh, Cals."
Aiden memanggil Calistha pelan sambil menahan rasa sakit yang begitu dahsyat di dadanya. Ia merasa sebentar lagi ia akan mati, rasa sakit itu benar-benar tak tertahankan dan sangat menyiksa.
"Aaaiden, bertahanlah. Zurich sedang mencoba untuk membangunkan Sybil. Kau pasti akan sembuh, ya kau pasti akan sembuh."
Kata-kata itu rasanya seperti kata-kata penguat untuk dirinya sendiri, karena saat ini ia pun merasa tidak yakin dengan kesembuhan Aiden. Luka pria itu benar-benar parah dan seperti tidak bisa disembuhkan, namun hati kecilnya terus memberinya semangat agar ia tidak pesimis dan harus optimis dengan keyakinannya jika Aiden akan sembuh.
"Cals, aaku tidak bisa......"
"Aiden!! Aiden, bangunlah. Aiden! Aiden!"
__ADS_1
Kedua mata itu akhirnya tertutup sempurna dengan lemah di atas pangkuan Calistha. Ternyata kekuatannya hanya sebatas itu. Ia tidak bisa mempertahankan kesadarannya lagi lebih lama dan memilih pasrah dengan takdir Tuhan. Dan jika Tuhan menakdirkan ia mati, maka ia akan mati dengan senang hati dan dengan perasaan damai.
Jadi, seperti inikah rasanya kematian?