
Sementara itu saat ini Aiden sedang menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan Gazelle. Sebelum ia
melangsungkan acara pernikahannya besok, ia harus menyelesaikan semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi diantaranya dan Gazella agar kehidupannya nanti tidak dipenuhi dengan orang-orang jahat yang ingin melakukan balas dendam padanya dan membunuh ratunya.
Dengan satu kali dorongan Aiden berhasil membuka pintu kayu yang berdiri menjulang di hadapannya. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, hari ini tepat pukul sebelas, ia akan bertemu dengan Gazelle di dalam ruangannya.
"Gazelle." Gazelle berjengit terkejut ketika tiba-tiba Aiden berdiri di hadapannya dan menghalanginya untuk keluar dari kamarnya. Di belakang Gazelle, Aiden dapat melihat Spencer yang tengah menatap punggung tegap Gazelle dengan pandangan nanar. Refleks pria itu menundukan kepalanya ketika sang raja saat ini sedang berada di depannya.
"Maafkan atas kelancangan saya Yang Mulia, saya ke sini karena saya ingin memperingatkan Gazelle." ucap Spencer dengan kepala tertunduk. Aiden mengangguk sekilas dan meminta Spencer untuk keluar dari ruangannya. Ia membutuhkan privasi untuk berbicara empat mata dengan Gazelle.
"Kau bisa keluar sekarang, aku ingin berbicara serius dengan Gazelle."
Spencer mengangguk mengerti dan langsung berjalan pergi tanpa bertanya-tanya lebih lanjut. Dan ketika ia berpapasan dengan Gazelle di ambang pintu, pria itu sempat menatap sinis pada Gazelle sambil tersenyum mengejek karena sebentar lagi wanita itu akan mendapatkan masalah karena penyamarannya telah diketahui oleh Aiden.
"Lama tak berjumpa, bagaimana kabarmu Gazelle?"
Aiden mempersilahkan Gazelle duduk di atas sofa yang berada di sudut ruangannya sambil tetap bersikap santai, seolah-olah mereka tidak memiliki masalah yang buruk di masa lalu. Sementara itu, Gazelle tampak menatap was-was pada Aiden yang terlihat tenang namun menguarkan aura menakutkan dari tubuhnya. Meskipun perasaan itu masih bercokol di dalam hatinya, tapi tidak serta merta perasaan itu membuatnya menjadi wanita bodoh yang akan dengan mudah masuk ke dalam jebakan yang diabuat oleh Aiden. Ia tidak akan mungkin tertipu lagi seperti dulu.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak perlu duduk di atas sofamu yang mahal itu, aku lebih baik berdiri di sini." tolak Gazelle mentah-mentah. Aiden menatap datar pada Gazelle sambil mengendikan bahunya acuh, sampai kapanpun wanita itu akan tetap keras kepala, jadi tidak ada gunanya jika ia mencoba memaksa Gazelle
untuk mendudukan dirinya di atas sofa yang ia gunakan. Toh ia sama sekali tidak dirugikan dengan kekeras kepalaan wanita itu. Justru wanita itu yang akan menyesal jika menolak kebaikan hatinya yang mempersilahkannya untuk duduk dengan nyaman.
"Aku ingin membicarakan banyak hal padamu, terkait dengan kaum pemberontak, penyamaranmu hari ini, dan juga masa lalu kita yang tidak menyenangkan." ucap Aiden datar dengan sorot mata tajam yang mengarah tepat di kedua manik mata Gazelle. Gazelle sendiri langsung membeku di tempat ketika Aiden menyebutkan semua
kepentingan pria itu padanya. Apalagi mengenai masa lalunya dengan pria itu yang sangat membekas di hatinya, membuat Gazelle kembali berharap lebih pada Aiden.
"Kau boleh membicarakan semua hal itu padaku, tapi mengenai masa lalu kita... bukankah itu sudah selesai? Tidak ada yang bisa kita bahas lagi saat ini Aiden."
Aiden menggeram marah dalam diam ketika mendengar penolakan dari wanita itu. Ia pikir sekarang Gazelle telah berubah menjadi sosok lain yang lebih pembangkang dan sama sekali tidak sopan padanya, meskipun dulu mereka memang memiliki hubungan yang dekat satu sama lain.
"Benarkah? Lalu jika ini tidak ada kaitannya dengan masa lalu, untuk apa kau datang ke kerajaanku dan berniat untuk membawa kabur ratuku untuk kau bunuh? Dan jika semuanya telah selesai, mengapa kau memutuskan untuk pergi dari kerajaanku? Apa kau sadar jika perbuatanmu itu telah melukai kedua orangtuamu dan membuat mereka kecewa padamu?" tanya Aiden telak. Gazelle terlihat tidak mampu berkata-kata dan hanya bungkam dengan semua pertanyaan yang dilontarkan Aiden padanya. Rupanya selama ini pria itu memperhatikannya.
"Selama ini kau memperhatikanku?"
Gazelle menatap sendu pada Aiden yang saat ini juga tengah menatapnya. Wanita itu perlahan-lahan menurunkan topeng angkuhnya dan kembali menjadi sosok Gazelle yang dikenal oleh Aiden. Wanita itu kemudian menyerah dengan egonya dan memutuskan untuk duduk di atas sofa yang berada di seberang Aiden.
"Sayangnya ya, selama ini aku selalu memperhatikanmu, aku sangat prihatin dengan keadaanmu."
"Tapi kenapa kau hanya diam? Kau tidak melakukan apapun untuk mencegahku, dan kau justru mencintai wanita lain yang jelas-jelas selalu menolakmu! Kau jahat Aiden!" maki Gazelle keras dengan napas terengah-engah. Aiden yang melihat kemarahan itu dari diri Gazelle hanya mampu membungkam bibirnya rapat-rapat sambil memikirkan ucapan selanjutnya yang akan ia ucapkan pada Gazelle. Hari ini ia tidak boleh membuat masalah baru dan harus menyelesaikan semua masalahnya agar keinginannya untuk hidup bahagia setelah hari pernikahannya dapat menjadi nyata.
"Karena kau yang membuatku memilih hal itu. Bukankah kau tahu jika aku sangat tidak suka dengan wanita murahan, dan kau justru menggodaku dengan sangat menjijikan. Apakah semua itu karena salahku?"
"Ya, semua itu karena salahmu dan perasaan sial ini. Andai aku tidak mencintaimu dan mencintai pria lain, aku pasti tidak akan melakukan perbuatan yang sangat menjijikan seperti itu. Apa kau tahu bagaimana beratnya perasaanku sebelum melakukan hal yang sangat menjijikan itu? Aku sangat malu Aiden, aku malu! Tapi demi mendapatkan cintamu, aku rela melakukan apapun hingga sejauh itu. Bahkan aku sudah menyiapkan surat permintaan maaf untuk kedua orangtuaku yang kusimpan di dalam lemari barang-barang berhargaku, tapi mungkin mereka tidak menemukannya sehingga mereka terus terlihat sedih dan seakan-akan begitu terpuruk dengan kepergiaanku. Andai saja mereka menemukan surat itu, mereka pasti akan sangat membenciku dan tidak akan mengharapkan aku kembali pada mereka."
Aiden bergeming kaku di tempatnya dengan semua fakta baru yang ia ketahui. Selama ini ia terlalu sibuk dengan pencariannya pada sang ratu yang ditakdirkan untuknya hingga ia sama sekali tidak mempedulikan Gazelle dan perasaan hancur wanita itu. Tapi sebagai seorang pria ia tidak ingin menjadi pihak yang dipersalahkan, ia ingin menjadi pihak yang selalu benar.
"Itu semua adalah karena ambisimu dan obsesimu padaku, kau tidak benar-benar mencintaiku."
Brakk
Gazelle memukul keras meja kayu yang berada di depannya. Menjadi makhluk bernama wanita itu memang sulit, dan ia sangat membenci pria angkuh yang saat ini sedang menyalahkannya atas perasaan cinta yang ia miliki. Bukankah cinta itu adalah anugerah?
"Kau sejak awal hanya ingin mengejekku dengan segala tingkah tololku di masa lalu yang terlalu menggilaimu. Lebih baik aku pergi dari sini, tidak ada gunanya kita bicara jika semuanya tetap sama saja."
Gazelle melangkah keluar dengan perasaan marah dan terhina yang luar biasa. Pria yang sangat ia cintai dan ia puja selama ini adalah pria yang sangat egois. Pria itu dengan kejamnya menghinanya dan menyalahkannya atas semua kesalahan pria itu. Andai saja pria itu sedikit bersikap lunak dan tidak menghinanya dengan kata-kata
kasar, mungkin ia tidak akan menjadi seperti ini. Mungkin ia akan tetap bertahan di kerajaan ini dan akan mencoba mencari pria lain yang benar-benar tulus mencintainya.
__ADS_1
"Gazelle, apa yang kau katakan tentangku memang benar. Aku adalah pria yang paling egois dan sangat tidak memiliki perasaan. Aku selalu mementingkan kepentinganku sendiri tanpa menyadari perasaan orang-orang disekitarku. Aku juga sering menyakiti orang-orang yang selama ini selalu berada di sekitarku, dan juga membantuku ketika aku terpuruk. Aku ini memang bukan pria yang baik dan penuh cinta. Tapi ada satu hal yang setiap hari selalu memenuhi kepalaku, sesuatu yang tidak berhubungan dengan kerajaanku dan juga Calistha, yaitu bagaimana keadaanmu.” Aiden berhenti sejenak dan menatap mata Gazelle sungguh-sungguh. “Selama ini aku menempatkan beberapa mata-mata ke dalam kelompok pemberontak semata-mata hanya untuk mengawasi gerak-gerikmu dan memantau keadaanmu. Jika kau sudah mulai menlencerng, aku akan meminta mata-mata itu untuk menghentikanmu apapun yang terjadi. Sebenarnya aku sangat peduli padamu. Terkadang aku merindukan saat saat kita bersama, menjadi sepasang sahabat yang dipenuhi dengan perasaan bahagia, tapi sayangnya waktu terus berjalan, membuat kita semakin dewasa dan harus mengemban tanggungjawab masing-masing. Seiring berjalannya waktu aku harus mengambil tanggungjawab penuh atas kerajaanku yang saat itu hampir hancur. Selain itu aku juga mendapatkan kutukan yang sangat menyusahkan seperti ini, sehingga aku harus bekerja lebih keras untuk menghilangkan kutukan ini agar semua rakyatku tidak hidup sengsara karena sikapku yang selama ini seperti
monster. Dan meskipun aku tidak bisa menjadikanmu sebagai ratuku, tapi kau tetap memiliki tempat di hatiku, karena bagaimanapun kita adalah sepasang sahabat. Gazelle, aku minta maaf atas semua kesalahanku di masa lalu. Apa kau ingin memaafkanku?"
Gazelle membeku di tempat dan tampak tak kuasa untuk berbalik menghadap Aiden. Semua kata-kata
yang diucapkan pria itu berhasil membuatnya merasa sesak dan ingin menangis dengan sekencang-kencangnya. Mengapa pria itu selalu bisa menjungkirbalikan semuanya?
"Gazelle."
Cukup lama Gazelle membeku di tempat tanpa membalikan tubuhnya sedikitpun hingga membuat Aiden
merasa khawatir dengan keadaan wanita itu. Apa yang diucapkannya hari ini adalah gambaran dari perasaanya selama ini. Meskipun ia sangat menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang pria, tapi ia akhir-akhir ini telah memikirkan semua kesalahannya di masa lalu pada wanita itu. Tak seharusnya ia bersikap terlalu keras pada Gazelle saat wanita itu sedang dibutakan oleh cinta. Karena itu bukan karena kesalahannya. Tapi saat itu ia juga tak ingin memberikan harapan palsu pada Gazelle, sehingga ia memutuskan untuk bersikap kontra terhadap perasaan yang dimiliki oleh Gazelle.
"Aku terpaksa melakukan hal itu karena aku tak ingin memberikan harapan palsu padamu. Dan sebagai seorang pria, aku tidak ditakdirkan memiliki perasaan lembut yang harus senantiasa menjaga perasaan wanita yang memiliki perasaan lebih padaku. Aku sudah terbiasa hidup di dalam lingkungan keras yang tidak mengenal belas kasih, jadi sekali lagi aku minta maaf."
Gazelle akhirnya berbalik dan menatap Aiden dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh air mata. Semua hal yang diucapkan pria arogan itu berhasil membuat hatinya tersentuh dan terasa teriris. Selama ini ia juga telah salah karena ia ingin memaksa Aiden untuk mencintainya, padahal jelas-jelas Aiden bukan pria yang ditakdirkan untuknya. Pria itu memiliki pasangan sendiri yang akan membebaskannya dari kutukan yang selama ini membelenggu jiwanya hingga terkadang ia berubah menjadi monster kejam.
"Aiden... apa yang kulakukan selama ini semata-mata karena aku marah padamu karena kau begitu kasar padaku. Dan sebenarnya selama ini aku hanya mengharapkan permintaan maaf darimu. Aku... aku hanya ingin mendengar kata-kata maaf itu darimu." ucap Gazelle terbata-bata masih dengan air mata yang menganak sungai di pipinya. Aiden tersenyum lembut pada Gazelle dan segera merengkuh Gazelle ke dalam pelukannya. Ini adalah pelukan dari seorang sahabat untuk sahabat lama yang telah ia sakiti. Ia harap setelah ini ia tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dan lebih menghargai orang-orang yang berjasa di dalam hidupnya. Dan setelah ini ia hanya ingin hidup bahagia bersama Calistha dan keluarga kecilnya kelak.
-00-
"Hmm, Yang Mulia anda hari ini tampak cantik sekali." puji Yuri takjub sambil membantu Calistha memasangkan tiara kecil di atas kepalanya. Calistha kemudian balas tersenyum lembut pada Yuri sambil memegang pipinya yang bersemu merah. Dulu saat seperti ini adalah saat-saat yang paling menyengsarakan untuk Calistha, bahkan saat itu ia terlihat seperti seorang mayat hidup. Tapi sekarang lihatlah, ia tampak begitu cantik dengan mata berbinar-binar dan pipi yang bersemu merah. Kali ini ia siap menjalankan pernikahannya bersama Aiden.
"Yuri, aku sangat gugup. Bagaimana ini?" tanya Calistha cemas. Yuri dan Sunny yang berada di dalam ruangan itu langsung menenangkan Calistha dan mengatakan pada Calistha jika semuanya akan baik-baik saja.
"Tapi aku akan berjalan di antara ribuan rakyat Khronos yang akan menyaksikan pernikahanku, aku takut akan melakukan kesalahan, seperti tersandung karpet atau menginjak gaunku sendiri." racau Calistha konyol. Yuri dan Sunny saling terkikik geli dengan kelakukan ratu mereka yang tampak ajaib itu. Padahal semalam Calistha terlihat santai dan lebih banyak bersenda gurau dengan Gazelle dan juga Max. Ngomong-ngomong mengenai mereka berdua, tiba-tiba Calistha teringat jika hari ini Gazelle akan menjadi pembawa cincin di acara pernikahannya nanti, tapi sejak tadi ia belum melihat wanita itu berada di dalam kamarnya. Kira-kira dimana keberadaannya saat ini?
"Sunny, apa kau tahu dimana keberadaan Gazelle? Sejak tadi aku belum melihat batang hidungnya
di sini?" tanya Calistha heran. Kedua dayang itu kompak langsung menunjuk pada pintu kamarnya yang terbuka lebar, di sana terlihat jelas sosok Gazelle sedang beradu mulut dengan Spencer.
"Tapi aku tidak tahu apakah kau akan mencelakakan sang ratu atau tidak."
"Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya akan mengambil kotak cincin yang akan kubawa nanti di altar."
"Tidak! Kau tidak boleh masuk sebelum Yang Mulia ratu mengijinkanmu masuk."
Spencer terus menahan Gazelle untuk masuk ke dalam kamar Calistha dan membuat Gazelle tampak sangat konyol dengan sikap pria itu. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap berdiri di luar pintu kamar Calistha sambil menyilangkan kedua tangannya kesal.
"Spencer, biarkan Gazelle masuk. Ia hanya akan mengambil ini."
Calistha berseru lembut dari balik tubuh Spencer dan membuat Gazelle langsung tersenyum sumringah. Wanita itu reflek langsung menjulurkan lidahnya dan melenggang masuk melewati Spencer yang sedang bersungut-sungut kesal di belakangnya.
"Ehem, anda dan Gazelle sepertinya cocok, bagaimana jika setelah ini anda menikah." goda Sunny jahil. Sontak kedua manusia itu langsung berteriak keras ke arah Sunny dan membuat wanita mungil itu langsung menutup telinganya rapat-rapat.
"Cih, tidak sudi!!"
-00-
Suara musik klasik yang khas dan taburan bunga warna warni tampak meramaikan suasana pernikahan Aiden dan Calistha yang terlihat begitu mewah. Ribuan rakyat Khronos dari berbagai kota juga tampak hadir di sana untuk memberikan doa pada ratu dan raja mereka yang sebentar lagi akan dipersatukan oleh ikatan pernikahan.
Calistha berdiri dengan gugup di depan pintu masuk aula istana ditemani oleh Gazelle dan Max. Kali ini yang akan menjadi walinya dalam pernikahan ini adalah Max karena ia sudah menganggap Max seperti kakak kandungnya sendiri.
"Cals, tanganmu sangat dingin."
"Max, aku sangat gugup. Oh Tuhan, bagaimana jika kita tidak perlu melewati bagian ini dan hanya langsung melakukan janji suci di depan altar. Aku takut melakukan kesalahan saat berjalan di sepanjang karpet merah." racau Calistha dengan tangan yang menggenggam erat lengan Max. Pria itu kemudian menenangkan Calistha dan membelai kepala Calistha agar wanita itu tidak semakin gugup.
__ADS_1
"Tenanglah Cals, semuanya akan baik-baik saja. Kau pasti tidak akan sempat memikirkan langkah kakimu atau pikiran konyolmu yang lain karena kau akan langsung terpana dengan ketampanan Aiden."
Tiba-tiba pintu coklat di depan Calistha terbuka seiring dengan Max yang menyelesaikan kalimatnya. Ribuan mata yang memadati aula itu tampak berdecak kagum dengan kecantikan Calistha yang begitu menakjubkan. Dari kejauhan Calistha dapat melihat Aiden sedang menunggunya di atas altar dengan menggunakan setelan tuxedo berwarna putih. Dan seketika Calistha langsung terpana dengan ketampanan Aiden. Apa yang dikatakan oleh Max benar, ia tidak sempat memikirkan hal-hal konyol yang berada di dalam kepalanya dan hanya sibuk memandangai Aiden yang saat ini sedang tersenyum lembut ke arah dengan tangan yang telah terulur untuk meminta jari-jari tangannya.
"Tolong bahagiakan Calistha dan jaga Calistha." pesan Max bersungguh-sungguh sebelum ia memberikan Calistha pada Aiden. Dengan tegas Aiden menganggukan kepalanya dan langsung menarik tangan Calistha untuk berdiri bersisian dengannya.
"Apakah Yang Mulia raja Aiden dan ratu Calistha telah siap?" tanya sang tetua sambil mempersiapkan kitab pernikahan di atas podium.
Kedua manusia itu saling bertatapan satu sama lain sambil berseru dengan lantang pada sang tetua.
"Ya, kami siap."
Akhirnya Aiden dan Calistha berhasil melangsungkan pernikahan mereka dengan khidmat dan penuh sukacita. Semua orang kini turut bahagia atas pernikahan Aiden dan Calistha. Meskipun semua kebahagiaan ini tidak dilalui dengan mudah, tapi nyatanya mereka mampu melewati setiap kepahitan itu dengan kepala terangkat dan penuh keteguhan. Dan walaupun awalnya rasa benci itu begitu pekat menyelimuti hati Calistha, tapi pada akhirnya cinta dan kesabaran Aidenlah yang berhasil menyatukan mereka ke dalam ikatan suci yang begitu sakral dan khidmat.
~1 Tahun kemudian~
"Wahh, bayi kalian sangat manis. Lihat, ia sedang menghisap jempolnya dengan hisapan yang lucu. Ahh, aku ingin segera memiliki bayi yang lucu seperti ini." bisik Gazelle heboh sambil memandangi bayi Calistha dan Aiden yang sedang tertidur lelap di dalam box bayinya.
"Kalau begitu kau harus segera menikah, bukankah kau sudah memiliki kekasih?" goda Calistha geli di sebelah Gazelle. Wanita muda itu sontak menatap horor pada Calistha sambil mendecih kesal.
"Cih, jika yang kau maksud adalah Spencer, maaf-maaf saja, aku tidak berminat."
"Sepertinya aku baru saja mendengar seseorang menyebut namaku."
Tiba-tiba Spencer muncul dari balik pintu bersama Aiden. Untuk sesaat Gazelle cukup terpana dengan penampilan Aiden saat ini. Pria itu kini tampak lebih berwibawa dan juga lebih tenang setelah menikah. Namun hal itu sebatas rasa kagum antar sahabat, tidak lebih. Ia sekarang sudah tidak memiliki perasaan itu lagi. Semenjak ia
tinggal di kerajaan Hora bersama Max dan ikut membantu pria itu memulihkan kondisi kerajaannya, perasaan itu lama-lama terabaikan dan kini sudah sepenuhnya hilang dari hatinya.
"Gazelle, lama tak berjumpa, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Hmm, aku baik Yang Mulia." canda Gazelle sambil memeluk tubuh Aiden hangat.
"Kau sudah lama sekali tidak datang ke sini, setiap hari Spencer selalu resah karena memikirkanmu."
Kali ini Aiden mulai ikut menggoda Spencer dan Gazelle hingga kedua manusia itu mendengus kesal. Rupanya kejahilan isterinya selama ini telah menular kepadanya.
"Ck, jangan memulai lagi Aiden, aku ke sini karena ingin melihat keponakan tampanku, bukan ingin bertemu dengan pria lemah itu."
"Apa kau bilang, lemah? Lalu siapa yang menolongmu dulu saat kau terjatuh dari kuda dan menenangkanmu saat kau patah hati? Kau tidak berhak menghinaku seperti itu." balas Spencer tidak terima. Gazelle kemudian mulai membalas setiap ejekan demi ejekan yang dilontarkan oleh Spencer dengan suara berisik, hingga membuat Cal-el kecil menangis karena suara nyaring mereka.
"Kalian telah mengganggu tidur anakku, lebih baik kalian keluar dari kamarku." usir Aiden kesal sambil meraih tubuh putranya ke dalam dekapannya. Sedangkan Gazelle dan Spencer saling menyalahkan satu sama lain sambil melangkahkan kaki mereka keluar dari kamar pasangan Aiden dan Calisha.
"Sssshhh, tenanglah nak, ayah dan ibumu ada di sini." ucap Aiden lembut. Calistha tersenyum kecil memperhatikan sikap Aiden yang semakin hari semakin mengalami kemajuan. Apalagi setelah kelahiran Alistair seminggu yang lalu, sikap Aiden kini semakin lembut dan juga semakin perhatian pada keluarga kecilnya. Tak
jarang Aiden mengajaknya berjalan-jalan ke pasar bersama Alistair tanpa ditemani pengawal. Kini Aiden telah berubah menjadi raja yang bijaksana dan semakin disegani oleh rakyat-rakyatnya.
"Sayang, seprtinya Alistair haus." panggil Aiden pelan. Calistha kemudian mengambil alih Alistair dari dekapan sang ayah dan segera memberikan apa yang dibutuhkan oleh putra kecilnya.
"Ohh, dia selalu rakus sepertimu." canda Calistha dengan kikikan ketika Alistair langsung menghisap putingnya kuat-kuat. Sedangkan Aiden hanya tersenyum kecil sambil mengecup puncak kepala isteri dan anaknya secara bergantian.
"Kalian adalah harta terindah dalam hidupku. Terimakasih Cals, kau telah memberikan kebahagiaan untukku setelah hampir tiga puluh tahun aku hidup sebagai monster."
"Hmm, kurasa kita saling melengkapi satu sama lain. Kau juga telah membuatku menjadi istri yang paling beruntung dan menjadi ibu dari seorang anak yang hebat, terimakasih Aiden. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Cals. Jadi bolehkah aku mendapatkan ciuman manis sekarang?"
__ADS_1
Pernyataan cinta dari masing-masing pasangan kasmaran itu akhirnya ditutup dengan ciuman penuh cinta dari keduanya dengan Alistair yang berada di tengah-tengah mereka dan sedang tersenyum bahagia dengan kebersamaan kedua orangtuanya yang manis.