Queen Of Time

Queen Of Time
Time That We Used (Fourty Three)


__ADS_3

            Setelah puas memandangi Calistha dalam diam, Aiden memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melihat bagaimana kerja Spencer malam ini. Sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya, Aiden memerintah semua pengawalnya untuk menyingkir dari lorong yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Calistha. Malam ini ia tidak ingin membuat keributan dengan berita kematian Gazelle yang mengenaskan. Ia ingin kematian Gazelle hanya menjadi rahasianya dan Spencer, lalu esok pagi ia akan menggantung mayat Gazelle di tengah alun-alun kota. Ia ingin seluruh keluarga Gazelle malu karena memiliki seorang anak murahan seperti Gazelle. Ia ingin seluruh keluarga Gazelle menderita karena perbuatan berani Gazelle malam ini yang telah menggodanya dengan tubuh menjijikannya.


            "Kau boleh beristirahat malam ini." usir Aiden tegas. Pengawal itu tampak bergeming di tempatnya sambil menatap Aiden dengan tatapan bingung. Namun setelah Aiden mengeluarkan tatapan tajamnya yang mematikan, pengawal itu langsung membungkuk hormat dan segera pergi dari hadapan Aiden.


            "Dasar lambat!" maki Aiden gusar pada pengawalnya. Setelah itu Aiden segera masuk ke dalam kamarnya untuk melihat mayat Gazelle, namun pemandangan yang tersaji di hadapannya sungguh sangat membuatnya marah.


            "Sial! Apa yang mereka lakukan di ranjangku! Dasar keparat! Besok aku harus meminta Spencer membakar ranjang itu dan membersihkan seluruh kamarku yang ternoda ini!" umpat Aiden murka. Saat ini ia melihat Spencer dan Gazelle tengah bergumul intim di atas ranjangnya sambil mengeluarkan suara-suara desahan yang sangat menjijikan. Ingin rasanya ia melemparkan tubuh Spencer dari atas ranjangnya dan membunuh mereka berdua dengan pedang emasnya. Tapi tidak! Hal itu tidak akan menyiksa Spencer dan justru akan membuat hukuman Spencer menjadi lebih mudah. Sebaiknya ia tetap bersabar dengan semua kemuakan ini sambil memberikan ancaman pada Spencer untuk cepat membunuh Gazelle sekarang karena ia sudah tidak tahan mendengar suara desahan yang menggelikan itu.


           "Aiden...hahhhh, peluk akuhhhh.."


            Menjijikan! Apa yang ****** itu lakukan pada Spencer? Aku harus segera bertindak!


            Aiden berjalan dengan tenang untuk mendekati Spencer yang tengah bergerak-gerak liar sambil memeluk


Gazelle. Ia kemudian menyilangkan tangannya dengan penuh ancaman di belakang tubuh Gazelle yang saat ini sedang membelakanginya. Melihat Aiden yang sedang berdiri penuh murka di hadapannya, Spencer langsung tersadar dan sedikit menormalkan gerakan liarnya. Ia merasa benar-benar malu dengan keadaanya saat ini. Ia pikir Aiden tidak akan kembali dan akan menghabiskan malamnya di kamar Calistha hingga esok pagi. Tapi ternyata sang raja sama sekali tidak menghabiskan malamnya kali ini untuk bercinta dengan Calistha atau semacamnya. Hari ini sang raja hanya ingin melihatnya membunuh Gazelle tepat di depan matanya. Spencer kemudian melihat Aiden memberikan kode padanya jika ia telah menyiapkan pedang di bawah ranjangnya untuk membunuh Gazelle di depan matanya sekarang juga. Tapi kontak mata itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba Aiden merasakan pintu kamarnya sedang dibuka oleh seseorang. Spencer pun juga langsung mengalihkan pandangannya pada pintu besar yang tampak memancarkan cahaya lampu yang begitu terang dari luar.


            "Aiden.."


            Suara lirih Calistha berhasil membuat Aiden menjadi tegang. Ia tidak ingin Calistha melihat hal ini. Secepat mungkin ia harus menjauhkan Calistha dari kamarnya.


            "Bunuh sekarang!" bisik Aiden tegas dan langsung pergi meninggalkan Spencer untuk menjauhkan Calistha dari kamarnya. Tubuhnya yang gesit menyaru dalam kegelapan dan terus mendekat pada Calistha perlahan. Samar-samar Aiden dapat melihat suara bisikan Calistha yang tampak menahan kepedihan. Ia yakin saat ini Calistha telah salah paham. Wanita itu mengira jika pria yang sedang bercinta di atas ranjang itu adalah dirinya. Ck, mereka benar-benar manusia-manusia sial!


            Aiden terus meruntuki kelakuan Spencer dan Gazelle di dalam hati. Tangan kokohnya kemudian terulur dan langsung menarik Calistha ke dalam pelukannya. Bersamaan dengan itu, Spencer tampak sedang bersiap untuk membunuh Gazelle dan...


Crashh!


            Darah segar menyiprat ke seluruh penjuru ruangan bersamaan dengan kepala Gazelle yang terputus dari tubuhnya. Kini wanita itu telah mati di tangan Spencer. Ditangan pria yang sangat mencintainya.


            "Lepaskan aku!" bisik Calistha parau di dalam rengkuhan Aiden. Namun wanita itu justru bersikap sebaliknya dengan memeluk Aiden semakin erat sambil menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Aiden.


            "Tenanglah, aku di sini." ucap Aiden menenangkan. Calistha masih terus menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Aiden sambil meluapkan seluruh emosinya. Hari ini ia telah melewati berbagai macam kesedihan karena Aiden, dan sekarang ia ingin meminta ketenangan dari pria itu karena telah berhasil memporak-porandakan hatinya karena ketidakhadirang pria itu hari ini.

__ADS_1


            "Aiden.. hikss, apa yang terjadi?" tanya Calistha terbata-bata. Aiden memejamkan matanya sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk Calistha. Ekor matanya tak sengaja melihat raut wajah Spencer yang terluka. Saat ini pria itu sedang menangis dalam diam di depan mayat Gazelle yang tampak mengenaskan. Tapi Aiden justru tengah tersenyum puas sekarang dengan reaksi Spencer yang sangat sesuai dengan dugaanya. Setelah ini pria itu tidak akan berani bermain-main di belakangnya lagi, ia yakin!


            "Aiden.."


            Suara Calistha yang lirih kembali menyadarkan Aiden dari euforianya akan kematian Gazelle. Perlahan-lahan Aiden menarik Calistha keluar dari kamarnya tanpa melepaskan pelukan diantara mereka. Calistha sendiri juga tampak pasrah ketika Aiden menariknya keluar dari kamarnya karena ia merasa telah kehilangan banyak tenaga hari ini. Ia pikir Aiden akan mengkhianatinya dengan bercinta dengan wanita lain. Tapi syukurlah hal itu tidak terjadi. Ternyata Aiden sama sekali tidak mengkhianatinya. Pria itu tetap mencintainya dengan caranya sendiri yang unik.


            "Sebaiknya kau kembali tidur di kamarmu."


            Calistha langsung menghentikan langkahnya seketika ketika Aiden justru menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya. Sekarang yang ia butuhkan bukan tidur, tapi penjelasan dari pria itu mengapa Gazelle bisa berada di atas ranjangnya dan sedang bercinta dengan seorang pria yang ia kira adalah Aiden. Lalu bagian yang paling mengerikannya adalah saat pria itu membunuh Gazelle dengan pedangnya yang panjang di depan matanya. Mungkin setelah ini ia akan dibayangi mimpi buruk tentang Gazelle dan darah yang menyiprat ke mana-mana dari tubuhnya.


           "Kau berhutang penjelasan padaku, raja?" desis Calistha kesal. Aiden menoleh pelan ke arah Calistha sambil menatap wanita itu datar. Sekarang ia sedang tidak berada dalam mood yang baik. Ia lelah dan ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak, dan ia tidak ingin memulai konfrontasi malam ini!


            "Calistha, aku lelah. Mari kita saling berkompromi untuk tidak memulai perdebatan malam ini. Aku hanya ingin beristirahat sekarang." jawab Aiden datar dengan wajah piasnya. Calistha dapat melihat sorot mata lelah yang terpancar dari kedua mata Aiden. Ia kemudian memutuskan untuk mengalah dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Sepertinya malam ini ia harus menjadi seorang wanita penurut.


            "Baiklah, malam ini aku tidak akan mengganggu moodmu yang buruk, tapi katakan padaku, siapa pria yang sedang.... bercinta di atas ranjangmu? Rasanya itu sangat menjijikan." komentar Calistha dengan ekspresi wajah tidak suka. Aiden mengangkat sebelah alisnya heran sambil mengendikan bahunya acuh. Sejujurnya ia juga merasa tidak suka dengan sikap Spencer malam ini yang menurutnya terlalu berani dalam mengambil keputusan. Tapi ia tahu, Spencer melakukan hal itu karena ia sangat mencintai Gazelle dan ia merasa tidak akan memiliki kesempatan lagi setelah ini, sehingga ia nekat melakukan hal itu. Mungkin besok ia akan memberi sedikit


pelajaran pada Spencer atas kelancangannya. Tidak seharusnya pria itu memutuskan untuk bercinta di atas ranjangnya, mengingat ranjang itu miliki rajanya sendiri.


dan terus mamanggil-manggil namaku dengan suara kesakitan. Apa kau takut kehilanganku?" tanya Aiden bertubi-tubi. Seketika lidah Calistha menjadi kelu karena ia merasa kesulitan untuk menjawab semua pertanyaan itu. Ia merasa belum terlalu yakin pada perasaanya, tapi rasa sesak yang bergumul di hatinya tadi begitu nyata. Ia benar-benar merasa sesak dan sakit ketika ia mengira pria itu adalah Aiden. Tapi ketika ternyata Aiden berada di sampingnya dan memeluknya dengan hangat, perasaan lega itu langsung menyusup ke dalam hatinya, dan mendinginkan hatinya yang sebelumnya terasa panas. Dan kemarin ia juga menangisi Aiden di dalam mimpinya ketika Aiden mati. Apa sebesar itu perasaanku padanya?


            "Mungkin. Lagipula saat ini aku sedang mengandung anakmu, aku takut kau hanya sebatas memanfaatkanku dan setelah itu kau akan meninggalkanku dengan wanita lain yang lebih cantik." ucap Calistha lirih. Aiden hanya diam mendengar semua penjelasan itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katan sekarang. Namun ia


menyimpulkan jika sebenarnya perasaan Calistha padanya belum seratus persen mencintainya. Wanita itu masih meragukannya dan berpikir ia akan meninggalkannya, padahal pada kenyataannya tidak. Ia tidak mungkin meninggalkan Calistha begitu saja disaat wanita itu sedang mengandung anaknya. Meskipun ia kejam, tapi ia tidak akan menjadi pria yang sebrengsek itu. Apapun yang terjadi, ia pasti akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.


            "Kalau begitu kau bisa bernapas lega sekarang karena aku bukan tipe pria seperti itu. Dan aku bahagia atas kehamilanmu."


            Aiden berucap datar dan langsung berjalan pergi meninggalkan Calistha di belakangnya. Entah mengapa ia merasa sedih dengan kesimpulannya sendiri. Ia merasa menjadi seorang pria yang menyedihkan karena tidak bisa menaklukan hati seorang wanita seperti Calistha. Jika dipikir-pikir, Calistha memang satu-satunya wanita yang unik. Disaat para putri dan bangsawan, seperti Gazelle memperebutkan hatinya, wanita itu justru masih menyimpan keraguan di dalam hatinya setelah semua hal yang ia lakukan pada wanita itu. Dan ia benar-benar merasa tak habis pikir dengan jalan pikiran Calistha yang masih meragukannya hingga saat ini. Apakah pengorbanannya dan sikap perhatiannya selama ini masih belum bisa menyadarkan Calistha akan rasa cintanya yang begitu besar pada wanita itu? Lalu apa yang harus ia lakukan pada wanita itu untuk membuktikan kesungguhan hatinya? Ia benar-benar bingung dan merasa frustrasi sekarang. Ia harap suatu saat nanti Calistha benar-benar akan mempercayainya dan mencintainya sepenuh hati, seperti cintanya pada wanita itu saat ini.


-00-


            Calistha menggeliat pelan dalam tidurnya sambil merentangkan tangannya ke udara. Semalam Aiden

__ADS_1


terus memeluknya dengan erat sehingga pagi ini tangannya terasa begitu pegal. Calistha kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping untuk melihat keberadaan Aiden di sana, tapi saat ini sisi ranjang itu telah kosong. Aiden tidak ada di sampingnya. Dengan malas ia kemudian bangkit dari tidurnya dan hendak berjalan turun dari ranjangnya, tapi pergerakannya tiba-tiba terhenti dan digantikan dengan suara pekikan kaget yang terdengar sedikit nyaring di dalam kamarnya yang senyap.


            "Kyaaa!! Apa yang kau lakukan di sana? Aku hampir saja menginjakmu." teriak Calistha kaget ketika ia mendapati Tiffany sedang membungkuk di bawah ranjangnya dan terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Wanita bereyes smile itu juga terlihat terkejut dan langsung membelalakan kedua matanya lebar. Ia benar-benar terkejut dengan kondisi Calistha pagi ini, karena seharusnya wanita cantik itu tidak akan terbangun hingga tiga hari ke depan.


            "Ca... Calistha, apa yang kau lakukan di sana?"


            Calistha mengernyit bingung sambil menatap Tiffany tidak mengerti. Menurutnya pertanyaan kakak kandungnya itu sedikit aneh untuk dilontarkan padanya.


            "Aku baru saja bangun dari tidurku semalam. Memangnya ada apa? Kau ini aneh sekali, Tiffany."


Calistha terkikik geli melihat ekspresi wajah Tiffany yang tampak bodoh. Ia tahu jika kakaknya itu pasti hanya ingin mengajaknya bercanda agar ia tidak terlalu tegang pagi ini.


            Sial! Kemana kantong kutukan itu? Seseorang pasti telah mengetahui rencanaku. Aku harus meminta kantong kutukan baru pada penyihir itu!


            "Apa kau tahu dimana Aiden?"


            Tiffany mendongakan kepalanya seketika sambil menatap Calistha penuh tanda tanya.


            "Aiden? Tidak, aku tidak melihatnya. Tapi aku melihat banyak sekali pengawal di depan kamar Aiden. Memangnya ada apa?"


            Calistha menghela napasnya pelan sambil mengingat kejadian mengerikan semalam yang terjadi tepat di depan matanya. Saat ini para pengawal itu pasti sedang membawa mayat Gazelle untuk dimakamkan. Tapi ia sendiri tidak yakin, karena semalam Aiden mengatakan jika mayat Gazelle akan digantung terlebihdahulu di alun-alun kota sebagai peringatan pada rakyatnya agar mereka tidak melakukan hal-hal jahat di kerajaan Khronos. Tapi sebenarnya ia sama sekali tidak setuju dengan rencana itu dan telah meminta Aiden untuk langsung memakamkan mayatnya dengan layak, namun pria itu justru marah dan akhirnya mereka tidur dalam suasana perdebatan yang tidak menyenangkan. Tapi untunglah setelah itu Aiden sedikit melunak dan pria itu terus memeluknya dengan posesif sepanjang malam.


            "Aiden pasti sedang mengurus mayat Gazelle di kamarnya."


            "Apa? Gazelle?" teriak Tiffany tidak percaya. Baru saja semalam ia menyusun rencana jahatnya untuk mencelakai Calistha dengan wanita itu, tapi pagi ini ia sudah mendapatkan kabar jika Gazelle telah mati. Bagaimana mungkin?


                "Gazelle... Wanita yang berada di dalam sel yang sama denganku?" tanya Tiffany lagi memastikan. Calistha mengaggukan kepalanya pelan sambil menatap Tiffany sendu.


                "Semalam Spencer membunuhnya, tapi semua itu atas perintah Aiden. Entah bagaimana Gazelle bisa berada di dalam kamar Aiden dan bercinta dengan Spencer di sana. Lalu, tiba-tiba saja Spencer langsung menebas kepala Gazelle tepat di depan mataku. Rasanya aku sangat merinding mengingatnya." cerita Calistha singkat. Tiffany tanpa sadar telah mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dibalik gaunnya, saat ini ia benar-benar merasa marah pada Aiden yang telah mengacaukan semua rencananya. Sekarang ia tidak memiliki partner lagi untuk membantunya menyusun rencana jahat. Dan mungkin sekarang ia akan bertindak lebih kejam lagi pada Aiden, untuk membalaskan kematian Gazelle. Ia tidak terima jika pria itu memperlakukan Gazelle dengan sangat sadis, sementara wanita itu sangat tergila-gila padanya, hingga rela melakukan apapun demi Aiden.


            "Mengapa Aiden begitu kejam pada wanita malang itu? Menurut kabar burung yang kudengar, sebenarnya Gazelle adalah mantan kekasih Aiden." ucap Tiffany memprovokasi. Tidak ada gunanya ia terus meratapi kematian Gazelle dengan kemarahan karena wanita itu tidak akan pernah kembali lagi. Lebih baik ia menggunakan kesempatan ini untuk memanas-manasi Calistha. Meskipun ia tidak yakin Calistha akan mempercayainya, setidaknya wanita itu akan merasa sedikit terganggu.

__ADS_1


            "Aku sudah berusaha untuk memperingatkan Aiden, tapi kau tahu sendiri bagaimana Aiden. Sifatnya sangat keras dan pemarah. Bahkan semalam kami sempat bertengkar karena masalah Gazelle. Hari ini Aiden akan menggantung mayat Gazelle di alun-alun kota untuk mempermalukan seluruh keluarga Gazelle karena keluarga Gazelle adalah seorang bangsawan, ayahnya adalah menteri perang di kerajaan ini. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya nanti saat melihat mayat Gazelle yang mengenaskan di alun-alun kota dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Dan mengenai mantan kekasih Aiden, aku tidak ingin terlalu memikirkannya, karena aku mempercayai Aiden." ucap Calistha tenang dengan seulas senyum tipis. Tiffany tampak tersenyum masam dibalik rasa marahnya yang membara. Hari ini ia merasa kalah dari Aiden. Pria itu pasti sedang menyeringai puas karena telah berhasil menggagalkan seluruh rencananya. Tapi ia bersumpah akan tetap membalas pria itu secara perlahan-lahan. Dan ia tidak akan membiarkan Aiden bahagia bersama Calistha di atas penderitaannya.


__ADS_2