
Sementara itu di dalam penjara bawah tanah yang lembab dan gelap, Tiffany sedang mencoba mendekati Gazelle dengan memancing wanita itu dengan cerita-cerita masa kecilnya dengan Calistha. Sejak awal melihat Gazelle masuk ke dalam penjara ini, Tiffany tahu jika Gazelle begitu membenci Calistha. Hal itu terlihat dari sikap Gazelle yang tampak menolak Spencer saat wanita itu akan melangkahkan kakinya ke dalam penjara. Saat itu Tiffany tanpa sadar melihat Spencer sedang membantu Gazelle untuk berjalan melewati palang jeruji besi yang cukup tinggi karena ia melihat salah satu kaki Gazelle sedang terluka. Namun, dengan kasar Gazelle langsung
menyentak tangan kokoh itu sambil berucap jika selamanya ia tidak akan pernah mencintai Spencer, karena cintanya hanya untuk Aiden. Lalu setelah itu Tiffany langsung menyimpulkan jika Gazelle pasti sangat membenci Calistha, karena sudah pasti Aiden akan memilih Calistha dibandingkan wanita itu. Dan juga, jika Gazelle adalah orang yang baik, maka ia tidak akan mungkin dijebloskan ke dalam penjara yang dingin dan kotor seperti ini. Bahkan, jika dulu ia tidak mencoba untuk menggoda Aiden dan berusaha untuk membunuh pria itu dari jarak dekat,
maka ia sendiri juga tidak akan berakhir seperti ini. Tapi, saat itu ia benar-benar merasa marah. Rasa takut yang awalnya ia tunjukan pada Aiden hanya untuk memancing pria itu agar merasa sedikit iba padanya. Lalu saat ia memiliki kesempatan, ia langsung menggunakan kesempatan itu untuk menarik pedang emas yang berada di samping pinggang Aiden untuk membunuh pria kejam itu, tapi sayangnya Aiden telah terlebih dahulu membaca gerak geriknya, sehingga pria itu dengan mudah langsung menghindar dari serangannya, dan setelah itu ia justru hampir saja dibunuh oleh Aiden karena pria itu langsung mencekik lehernya tanpa ampun. Tapi, karena ia adalah kunci satu-satunya yang akan mengarahkan Aiden pada Calistha, akhirnya Aiden memilih untuk tidak langsung meremukan lehernya dan justru mengurungnya seperti binatang di dalam jeruji besi yang kotor dan
menjijikan ini. Ia sungguh tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Aiden. Dan ia menganggap jika semua kesialan dan kesengsaraan hidupnya ini karena Calistha. Andai saja kedua orangtuanya tidak melahirkan Calistha, maka nasibnya tidak akan berakhir dengan sangat mengerikan seperti ini. Apalagi saat itu Aiden juga telah membunuh kekasihnya yang merupakan anak tertua dari raja Diamond. Saat itu ia telah merencanakan hari pernikahannya dengan pangeran Nick dan juga masa depannya dengan pria itu. Tapi, takdir berkata lain. Pangeran Nick mati terbunuh di medan perang karena ia berkorban untuk melindungi harga diri kerajaan dan juga dirinya, karena pada saat itu seluruh penghuni istana Diamond mengetahui, jika raja Aiden akan selalu mengambil seluruh wanita-wanita dari kerajaan yang diserangnya untuk dijadikan santapan hewan buas atau untuk disiksa saat jiwa membunuh pria itu sedang bergejolak. Dan tentu saja, pangeran Nick tidak ingin jika wanita yang dicintainya akan berakhir seperti itu, sehingga ia nekat pergi ke medan perang meskipun Tiffany telah melarangnya.
"Seberapa besar rasa bencimu pada Calistha?" tanya Tiffany dengan wajah ceria pada Gazelle. Sekilas Tiffany tampak seperti seorang psikopat yang menyembunyikan kekejamannya dibalik wajah ceria dan wajah tenangnya yang menipu.
"Sangat besar. Bisakah kau hentikan ocehanmu yang tidak berguna itu? Aku tidak suka mendengar suaramu yang berisik itu. Jika kau tidak memiliki ide apapun untuk melakukan balas dendam pada Calistha, maka jangan pernah datang padaku dan mengatakan serangkaian omong kosongmu yang memuakan itu." bentak Gazelle kasar. Mendengar hal itu, Tiffany hanya tersenyum santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia pikir Gazelle terlalu angkuh dan sombong hingga ia berani-beraninya meragukan kelicikannya. Padahal ia yakin jika saat ini Gazelle tidak sedang memiliki ide apapun untuk membunuh Calistha, mengingat wanita itu sedang terluka dan juga tidak memiliki daya di sini. Berbeda dengannya, ia memiliki Calistha yang masih memihak padanya dan sama sekali tidak tahu jika kakaknya yang terlihat baik ini sebenarnya sangat membenci dirinya dan sedang berencana untuk membunuhnya.
"Hmm, kurasa kau bukan tipe wanita yang suka berbasa-basi. Baiklah, aku akan menjelaskan rencanaku padamu. Tapi, aku tidak yakin kau akan bersedia untuk melakukannya." ucap Tiffany santai dengan gaya mencemooh. Gazelle menatap tajam pada manik mata Tiffany dengan perasaan kesal. Dalam hati Gazelle benar-benar membenci sifat Tiffany yang sok berkuasa di penjara ini, padahal mereka berdua tak ubahnya hanya seperti seekor kecoa yang tak berdaya dengan kekejaman Aiden.
"Kau meragukanku? Apapun rencanamu, aku pasti akan melakukannya dengan sebaik mungkin, karena aku lebih berpengalaman daripada dirimu. Bahkan aku sangat hafal seluk beluk penjara ini dan jalan pintasnya agar aku dapat keluar dari penjara yang memuakan ini. Kau...”
"Sssttt, kau tidak perlu memamerkan kesombonganmu padaku, karena semua yang kau katakan itu sama sekali tidak berguna selama kau masih terjebak di dalam penjara ini dengan kaki yang mengenaskan seperti itu. Meskipun kau hafal dengan semua sudut-sudut penjara ini, tapi apakah itu tetap berguna jika pada kenyataanya kau tidak bisa keluar dari penjara ini. Jadi, kuharap kau bisa menurunkan sedikit keangkuhanmu itu untuk mengikuti rencanaku, hmm?"
Gazelle mendecih kesal pada Tiffany sambil menyingkirkan jari telunjuk wanita itu dari bibirnya. Apa yang dikatakan Tiffany benar, semua pengetahuannya mengenai kerajaan ini tidak akan berguna jika ia masih terjebak di dalam penjara sial ini dengan luka menganga di kakinya yang mungkin sebentar lagi akan membusuk. Ia kemudian sedikit mengatur emosinya yang sedang meluap-luap itu dan mencoba untuk menekan egonya yang sangat tinggi itu. Meskipun ada sedikit perasaan tidak rela yang menyusup ke dalam hatinya, tapi kali ini ia tidak memiliki pilihan lain. Saat ini ia harus mengikuti permainan Tiffany jika ia ingin melakukan balas dendam pada Aiden, karena wanita itu adalah satu-satunya kunci yang akan membawanya keluar dari sini.
"Baiklah, sebutkan rencanamu? Kuharap rencanamu bukan hanya sekedar omong kosong."
Tiffany tersenyum penuh kemenangan dan semakin menunjukan wajah berkuasanya di depan Gazelle. Padahal selama ini ia selalu berada di posisi depan untuk menjadi pemimpin di setiap peperangan yang melibatkan kaum pemberontak, tapi dengan mudahnya Tiffany langsung menginjak-injak harga dirinya dengan kelicikan yang dimiliki oleh wanita itu, dan melihat Tiffany yang sedang tersenyum bangga di depannya, membuat ia merasa marah dan benar-benar membenci wanita itu. Jika bukan karena keinginannya untuk melakukan balas dendam pada Aiden, mungkin ia sudah membunuh Tiffany dengan tangannya sendiri sejak tadi.
"Tak kusangka jika kau akan menurunkan egomu secepat itu. Tapi, tidak masalah, kau akan tetap
menjadi sekutuku untuk melakukan balas dendam pada Aiden dan Calistha. Lalu.."
"Cepat katakan semua rencanamu sekarang sebelum aku berubah pikiran untuk menjadi sekutumu." potong Gazelle cepat. Rasanya kedua tangannya sudah sangat gatal untuk mencekik leher Tiffany agar wanita itu segera menghentikan omong kosongnya yang tidak penting itu.
"Tenanglah Gazelle, jangan terlalu terburu-buru untuk melangkah jika kau tidak ingin terjatuh. Dan jika kau ingin keluar dari sini, maka kau harus memanfaatkan kekasihmu yang bodoh itu."
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak memiliki kekasih di sini."
"Ya ampun, apa kau ini jenis wanita yang ***** yang tidak peka? Pria tampan yang kemarin membantumu untuk masuk ke dalam penjara ini, bukankah ia kekasihmu? Maksudku pria itu memiliki cinta sepihak padamu, jadi kau bisa memanfaatkannya untuk membantumu keluar dari sini."
Gazelle mengernyitkan dahinya bingung, namun sedetik kemudian ia mengerti dengan maksud ucapan
Tiffany yang menyebutkan pria itu sebagai kekasihnya. Pasti saat ini Tiffany sedang membicarakan Spencer, karena hanya pria itu yang sejak kemarin tampak gigih untuk membantunya.
"Huh, apakah yang kau maksud itu Spencer? Apa kau yakin ia akan membantuku untuk keluar dari penjara ini?"
"Aku sangat yakin. Jika kau bisa menggodanya dan sedikit membujuknya, pasti ia akan mengeluarkanmu dengan mudah dari sini. Lagipula aku telah memiliki rencanaku sendiri agar aku bisa keluar dari penjara ini." ucap Tiffany misterius. Lalu, tanpa diduga, Tiffany langsung menyerang Gazelle dan membuat wanita itu terjerembam ke atas lantai penjara yang lembab dan kotor. Tidak terima dengan perlakukan kasar dari Tiffany, Gazelle segera membalas wanita itu dengan menendang kakinya dan membuat Tiffany jatuh terlentang di atas lantai. Kemudian, dengan mudahnya Gazelle langsung menjambak rambut kusut Tiffany dan mencekik leher wanita itu hingga Tiffany tersenggal-senggal dan hampir kehabisan nafas. Tapi sebelum hal itu terjadi, dua orang penjaga yang mendengar adanya keributan dari salah satu penjara, segera datang dan langsung melepaskan Tiffany dari cengkeraman Gazelle. Wanita itu dengan membabi buta mencoba untuk melawan penjaga-penjaga itu dengan tangannya yang bebas. Tapi, dengan mudahnya penjaga itu langsung melemparkan tubuh ringkih Gazelle ke sudut penjara dan membuat punggung wanita itu terbentur dinding penjara yang kokoh hingga menimbulkan suara berdebum yang cukup nyaring.
"Cukup! Dasar
******! Jika kau membuat keributan lagi, kami akan melaporkanmu pada raja Aiden agar Yang Mulia segera memenggal kepalamu." hardik penjaga itu kasar. Sementara itu, di sudut penjara yang lain, Tiffany sedang menyembunyikan tawa kemenangannya di dalam hati. Sebentar lagi kedua penjaga bodoh itu pasti akan melaporkan kejadian ini pada Aiden. Dan saat Calistha mendengarnya, ia pasti akan memohon-mohon pada Aiden agar kakaknya yang malang ini segera dikeluarkan dari penjara.
Kau memang cerdas dan licik Tiffany.batin Tiffany bangga. Saat penjaga itu telah selesai dengan Gazelle dan beralih padanya, Tiffany mulai menjalankan sandiwaranya dengan terlihat sedang menahan sakit pada
sisi-sisi lehernya yang telah dicekik oleh Gazelle.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja nona?"
"Tuan, wanita itu
sangat mengerikan. Ia hampir saja membunuhku. Aku takut." ucap Tiffany dengan gaya ketakutan dan suara yang dibuat-buat. Gazelle mendecih kesal dengan sikap Tiffany yang menurutnya sangat munafik itu. Padahal jelas-jelas Tiffany yang telah menyerangnya terlebihdahulu hingga ia jatuh terjerembam di atas lantai, namun dengan liciknya wanita itu mengatakan pada penjaga-penjaga itu jika ia telah diserang oleh dirinya. Benar-benar seperti ular berkepala dua.
"Kau tenang saja nona, kami akan melaporkan kelakuannya yang mengerikan itu pada raja agar raja segera menghukumnya dengan hukuman penggal. Dan jika ia mencoba untuk menyakitimu lagi, maka berteriaklah dengan kencang, kami akan datang untuk menolongmu."
"Terimakasih tuan, anda sungguh sangat baik. Jika ia menyerangku lagi, aku pasti akan langsung memanggil kalian."
Setelah itu, para penjaga segera kelar dari dalam penjara yang pengap itu dan menguncinya kembali dari luar. Sementara itu, Gazelle terus menatap Tiffanya dengan wajah muak dengan tangan terkepal yang sedang menahan marah.
"Dasar ular! Kau sengaja menyerangku dan menuduhku agar para penjaga itu melaporkan kelakuanku pada Aiden? Keparat kau!"
"Hahaha, maafkan aku Gazelle sayang, tapi ini adalah satu-satunya cara yang dapat kulakukan agar
aku dapat keluar dari penjara yang menjijikan ini. Para penjaga bodoh itu pasti akan melaporkanmu pada Aiden, dan secara tidak langsung Calistha pasti juga akan mendengar berita ini dari para penjaga itu. Lalu, ia pasti akan memohon-mohon pada raja sial itu untuk mengeluarkanku dari penjara ini karena ia sangat menyayangiku. Adikku yang ***** itu tidak tahu jika kakaknya ini sebenarnya sangat membencinya dan ingin membunuhnya. Kemudian, tugasmu setelah ini adalah menggoda Spencer, karena kuyakin Spencer pasti akan segera datang ke sini setelah berita mengenai perilakumu yang kasar itu tersebar luas di atas sana. Jadi, kuharap kau dapat memanfaatkan keadaan ini dengan sebaik-baiknya. Kuncimu adalah Spencer dan kunciku adalah Calistha. Apa kau paham?" tanya Tiffany angkuh setelah wanita itu menjelaskan seluruh rencana liciknya pada Gazelle. Gazelle tersenyum licik dan menganggukan kepalanya mengerti. Meskipun ia tidak sudi untuk mengakuinya, tapi rencana yang disusun oleh Tiffany benar-benar sempurna. Ia yakin, kesempatannya untuk melakukan balas dendam pada Aiden akan segera terlaksana dengan adanya Tiffany sebagai sekutunya.
"Hmm, aku mengerti. Kuharap rencanamu akan berjalan sesuai perkiraanmu."
"Tentu saja. Aku berani bersumpah, tidak lama lagi Calistha pasti akan segera datang untuk mengeluarkan." ucap Tiffany yakin dengan wajah sombong. Gazelle berjalan mendekat ke arah Tiffany sambil berdiri ponggah di depan wanita itu dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Kita lihat saja nanti, partner."
-00-
Calistha sedang berjalan-jalan di taman istana ditemani oleh Sunny di belakangnya. Sejak pagi tadi, pikirannya terus berkelana kesana kemari memikirkan kejadian mengerikan yang terjadi di dalam mimpinya. Meskipun itu bukan kejadian berdarah atau peperangan, tapi melihat Aiden sedang bercinta dengan Gazelle di ruang pribadinya membuat Calistha terus bergidik ngeri dan merasa was-was. Ia kemudian memutuskan untuk mendudukan dirinya di sebuah kursi kayu yang berada di tengah kebun bunga mawar agar pikirannya yang kacau itu dapat tersegarkan
"Yang Mulia, apa anda ingin memetik bunga mawar untuk membuat hiasan meja?"
Tanpa pikir panjang Calistha langsung menganggukan kepalanya setuju karena kebetulan ia ingin memberikan sedikit warna pada ruang pribadi Aiden yang sangat kaku dan gelap itu. Terkadang ia berpikir jika Aiden adalah pria dengan selera seni yang sangat rendah karena selurh isi kamarnya hanya didominasi oleh warna hitam dan merah tanpa ada sentuhan hiasan atau lukisan yang dapat memperindah kamarnya. Dan hari ini ia ingin membuat hiasan meja untuk di letakan di atas meja kerja Aiden agar pria itu dapat mengamati bunga-bunga yang cantik hasil rangkaian tangannya jika ia merasa lelah dan penat dengan seluruh pekerjaannya.
"Aku ingin memberikan sedikit hadiah untuk raja, apa menurutmu raja akan suka dengan hiasan bunga yang kubuat?"
"Tentu saja, raja pasti akan senang saat menerima hadiah dari ratu. Oh, apa anda telah menyiapkan pakaian yang ingin anda kenakan saat pesta penyambutan anda besok?"
Tiba-tiba Calistha kembali teringat akan pembicaraannya tadi pagi dengan Aiden. Pria itu besok benar-benar akan mengadakan sebuah pesta rakyat yang mewah untuk upacara penyambutannya. Meskipun ia sudah mengatakan untuk tidak membuat pesta yang terkesan berlebihan, tapi Aiden dengan gigih ingin tetap mengadakan pesta yang sangat mewah untuknya. Lalu, pada akhirnya ia hanya mampu mengangguk pasrahuntuk mengikuti semua kemauan Aiden yang sangat mutlak dan tidak bisa dibantah itu. Yah, sepertinya ini ia memang harus selalu siap dengan sikap Aiden yang keras dan tak terbantahkan itu jika ia ingin menjadi seorang isteri dan ratu yang sempurna bagi Aiden.
"Ya Tuhan, apa yang baru saja kupikirkan? Isteri? Rasanya sedikit aneh memikirkan hal itu, tapi terasa cukup menyenangkan untuk dibayangkan."
"Yang Mulia, apa anda melamun?"
Calistha mengerjap-ngerjapkan matanya cepat sambil tersenyum malu pada Sunny. Baru saja ia tertangkap basah sedang melamunkan Aiden dan memikirkan tentang menjadi isteri dari pria itu. Meskipun ia menyukainya, tapi sebisa mungkin ia tidak terlalu terbawa suasana dan terlalu gembira dengan hal itu, karena ia merasa sedikit jahat saat pikiran mengenai Max tiba-tiba menyusup ke dalam kepalanya. Tak dapat ia bayangkan bagaimana keadaan ratu saat ini, ia pasti sangat sedih mendengar berita kematian putranya. Tapi, menurut Spencer tadi pagi, seluruh rakyat Bibury yang tidak terlibat dalam peperangan telah dipindahkan ke desa Hora untuk selanjutnya akan menetap di sana selamanya. Jadi besar kemungkinan jika ibunda Max saat ini sedang berada di desa Hora dan akan melanjutkan hidup di sana sebagai rakyat biasa.
"Aku hanya memikirkan sesuatu. Ayo, bukankah kita akan memetik bunga mawar?"
"Baik Yang Mulia, saya akan mengambil keranjang bunga di rumah kaca itu. Apa ratu tidak keberatan jika saya tinggalkan sebentar di sini?"
"Oh, aku sama sekali tidak keberatan. Aku akan menunggumu di sini."
Setelah mendapatkan ijin dari Calistha, Sunny segera melangkah pergi ke dalam rumah kaca untuk mengambil beberapa keranjang bunga yang disimpan oleh tukang kebun istana di sana. Sembari menunggu Sunny, Calistha mulai mengamati satu persatu penghuni istana yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tanpa sengaja ekor matanya melihat seorang nenek-nenek tua dengan pakaian yang telah robek di
__ADS_1
beberapa sisi sedang diseret paksa oleh dua orang penjaga istana. Nenek itu denga begitu gigih terus memohon pada para pengawal itu untuk masuk ke dalam istana. Tapi, dua penjaga itu tampak tak mempedulikannya dan terus menyeret nenek tua itu agar segera keluar dari halaman istana. Meras iba, Calistha akhirnya memutuskan untuk menghampiri penjaga itu agar mereka tidak berlaku kasar lagi pada nenek kasar itu.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan tangan kalian dan biarkan nenek ini masuk."
"Maafkan kami Yang Mulia, nenek ini memaksa masuk dan ingin meminta makanan. Padahal raja Aiden telah menyediakan bahan makanan gratis yang bisa didapatkan di balai kota, tapi nenek ini tetap memaksa untuk masuk karena ia tidak bisa berjalan ke balai desa yang letaknya memang cukup jauh dari kerajaan."
"Kalau begitu biarkan nenek ini masuk, aku yang akan bertanggungjawab. Kalian kembalilah bekerja." perintah Calistha tegas dan langsung dipatuhi oleh kedua penjaga itu. Dengan lembut, Calistha mulai menyapa nenek itu dan mengajak waita tua itu untuk duduk di atas kursi kayu yang sebelumnya ia duduki.
"Tolong maafkan para penjaga itu, mereka hanya sekedar mematuhi perintah." ucap Calistha pelan. Nenek itu hanya menganggukan kepala pelan dan tersenyum lembut pada Calistha.
"Sebelumnya hamba ingin meminta maaf pada Yang Mulia karena telah mengusik ketenangan Yang Mulia, tapi hamba benar-benar tidak bisa berjalan ke balai kota karena kaki hamba pincang. Apakah hamba bisa meminta sedikit makanan di sini? Cucu hamba di rumah sedang sakit, ia membutuhkan banyak nutrisi untuk membantunya agar cepat pulih. Hamba mohon, berikan hamba sedikit makanan."
Calistha menganggukan kepalanya mengiyakan sambil mengelus lengan nenek tua itu prihatin. Sebagai
seorang calon ratu ia harus selalu memperhatikan kondisi rakyatnya yang kurang beruntung seperti ini. Lain kali ia akan meminta ijin pada Aiden untuk mengunjungi rakyat kerajaan Khronos yang miskin agar ia dapat melihat sendiri
bagaiman kondisi mereka selama ini.
"Tentu, pengawalku akan mengambilkan makanan untuk nenek dan cucu nenek yang sakit."
Lalu saat Sunny datang, Calistha segera memerintahkan Sunny untuk mengambilkan sekarung gandum, beberapa kilo telur, dan juga segelas susu untuk nenek itu karena ia melihat jika nenek itu terlihat sedikit lelah dan haus.
"Terimakasih Yang Mulia, semoga Tuhan senantiasa melindungi anda."
"Terimakasih nek, doa nenek sangat tulus. Dimana rumah nenek? Setelah ini aku akan memerinthkan salah satu pengawalku untuk mengantar nenek pulang dan juga membawakan seluruh bahan makanan itu pulang ke rumah nenek."
"Rumah hamba berada di pinggir kota dan terletak di dekat sungai semit."
"Baiklah, aku akan memerintahkan pengawalku untuk mengantar nenek. Apakah nenek masih membutuhkan
sesuatu selain makanan, seperti selimut, pakaian, atau yang lainnya?" tanya Calistha lembut. Nenek itu tampak menggelengkan kepalanya pelan. Tujuannya datang ke kerajaan ini hanya untuk meminta makanan, jadi ia tidak akan meminta apapun lagi selain makanan.
"Terimakasih Yang Mulia, tapi hamba hanya membutuhkan makanan. Yang Mulia pasti akan menjadi ratu
yang disegani oleh seluruh rakyat Khronos dan rakyat dari kerajaan yang berada di bawah kekuasaan raja Aiden. Apakah anda saat ini sedang mengandung?" Calistha tampak terpaku di tempat sambil berusaha menutupi wajahnya yang terlihat merona. Ia sebenarnya tidak masalah dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pengemis tua itu, hanya saja pertanyaan itu membuatnya kembali teringat pada percintaan panasnya dengan Aiden semalam.
"Kurasa itu tidak mungkin. Kami belum menikah, jadi aku tidak mungkin mengandung sekarang." jawab Calistha tenang, lebih tepatnya ia sedang berpura-pura untuk tenang dengan wajah yang telah merona merah.
"Oh maafkan kelancangan hamba, tapi menurut hamba Yang Mulia akan segera mengandung setelah ini. Anak itu akan membawa kebahagiaan untuk anda berdua. Tapi, beberapa kerikil tajam akan muncul silih berganti untuk menyakiti kaki anda karena kebahagiaan ini sebenarnya masih bersifat semu. Jika anda ingin kebahagiaan itu berubah menjadi kebahagiaan yang abadi, maka anda harus segera menikah dengan raja Aiden saat malam bulan purnama. Dan selama menunggu malam bulan purnama itu tiba, anda harus selalu menuruti semua perintah raja Aiden karena raja Aiden pasti akan memberikan yang terbaik untuk anda. Jangan sekali-kali melanggar perintah dari raja Aiden jika anda tidak ingin malapetaka itu datang. Apakah anda mengerti Yang Mulia?"
Calistha mengangguk-anggukan kepalanya pelan dengan tatapan mata kosong yang mengarah pada nenek tua itu. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan oleh nenek itu memang benar, tapi ia merasa begitu merinding saat nenek itu mulai menasehatinya dengan berbagai macam ucapannya yang sangat misterius itu. Tak berapa lama, Sunny tiba-tiba muncul diantara mereka, ditemani oleh seorang pengawal yang sedang memanggul sekarung beras di punggungnya. Kemudian Sunny mengangsurkan segelas susu dan memberikan sekantung telur pada nenek itu untuk dibawa pulang. Dan sebelum benar-bemar pergi, nenek itu sempat berbalik sambil menggenggam tangan Calistha dengan erat.
"Ingatlah kata-kata hamba, jangan sekali-sekali melanggar perintah raja Aiden jika anda ingin kehidupan anda bahagia."
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Calistha, nenek itu langsung pergi begitu saja, diikuti oleh seorang pengawal di belakangnya. Sedangkan Sunny yang melihat hal itu hanya mampu mengernyitkan dahinya bingung karena ia tidak mengerti dengan maksud ucapan nenek itu yang terdengar misterius.
"Yang Mulia, ada apa?" tanya Sunny pelan. Calistha segera merubah mimik wajahnya yang khawatir itu menjadi ceria kembali. Meskipun ia cukup merasa terganggu dengan ucapan nenek itu, tapi sebisa mungkin ia akan melupakannya dan tidak terlalu menganggap hal itu terlalu serius, karena menurutnya tidak akan ada apapun yang terjadi padanya. Ia pasti akan baik-baik saja hingga malam bulan purnama itu tiba bulan depan.
"Tidak apa-apa. Ayo kita masuk, sepertinya aku merasa lelah dan ingin segera beristirahat di kamar."
"Baik Yang Mulia, mari kita masuk ke dalam."
__ADS_1