
Malam ini Tiffany kembali berjalan mengendap-endap menuju penjara bawah tanah untuk mengunjungi
Gazelle. Hari ini ia akan menceritakan pada Gazelle jika rencananya untuk menyakiti Calistha berhasil. Namun ada satu masalah yang timbul setelah itu, dan ia merasa harus membicarakan hal ini pada Gazelle karena mungkin saja
wanita itu memiliki solusi yang berhubungan dengan Aiden, mengingat mereka pernah memiliki hubungan dekat di masa lalu.
Satu persatu Tiffany mulai menuruni undakan batu yang berlumut dan licin itu. Di ujung anak tangga, Tiffany dapat melihat para penjaga sedang tertidur pulas sambil mendengkur dengan cukup keras. Perlahan-lahan, Tiffany mulai melewati para penjaga itu tanpa suara. Ia tidak ingin para penjaga itu bangun karena ia sedang malas memberikan alasan untuk mereka. Selain itu mereka akan merasa curiga padanya karena ia beberapa kali datang ke penjara itu dengan alasan yang sama.
"Akhirnya kau datang juga."
"Aku berhasil melukai Calistha hari ini. Dia benar-benar terluka dan pingsan di tengah-tengah acar berdansanya dengan Aiden. Andai saja kau dapat melihatnya, kau pasti juga akan bersorak girang sepertiku." ucap Tiffany puas. Gazelle tampak begitu berminat dengan cerita Tiffany dan langsung menyuruh wanita itu untuk menceritakan semua kronologi kejadian malam ini.
"Ceritakan padaku semuanya. Aku benar-benar ingin mendengarnya."
"Dasar tidak sabaran." cibir Tiffany geli, namun ia tetap menceritakan semuanya pada Gazelle. Semua hal yang telah ia lakukan hari ini hingga Calistha terluka dan pingsan di tengah acara berdansanya dengan Aiden.
Flashback
Sore hari Tiffany tampak mengendap-endap untuk masuk ke dalam kamar Calistha yang luas dan mewah. Tiffany melongokan kepalanya sedikit ke dalam sambil mengamati setiap sudut kamar Caslistha yang sepi. Sore ini dua pelayan setia Calistha sedang membantu Calistha untuk melakukan ritual sebelum acara pesta nanti, sehingga kamar itu kini tampak benar-benar sepi dan seperti tidak berpenghuni. Dengan penuh keyakinan, Tiffany mulai melangkah masuk ke dalam kamar itu sambil menggenggam beberapa paku yang telah disiapkannya pagi ini. Semua paku itu ia dapatkan dari gudang penyimpanan alat-alat perkebunan yang berada di taman belakang. Sebelumnya Gazelle telah memberitahunya jika tukang kebun istana pasti memiliki banyak persediaan paku di dalam gudang karena mereka selalu membutuhkan paku untuk membuat rak-rak bunga. Dan berkat informasi yang didapatkannya dari Gazelle, ia dapat mendapatkan paku itu dengan mudah untuk melukai Calistha.
Sambil tersenyum licik, Tiffany mulai mengambil sepatu putih Calistha yang telah disiapkan oleh Yuri di
sudut ruangan. Sepatu itu tampak begitu cantik dengan taburan batu-batu permata yang akan langsung berkilau saat tertimpa cahaya. Namun siapa sangka jika dibalik sepatu yang cantik itu tersembunyi beberapa paku tajam yang siap melukai Calistha. Tiffany kemudian menancapkan paku-paku itu di dalam bagian sepatu yang memiliki sol yang cukup tebal agar paku-paku itu dapat tersamarkan dan akan benar-benar melukai kaki Calistha saat wanita itu telah menginjak sol sepatu itu dan melangkah menuju ke aula. Setelah semuanya selesai, Tiffany langsung meletakan sepatu itu ke tempat semula dan ia segera pergi dari kamar itu. Selain meletakan paku-paku di dalam sepatu yang akan dikenakan oleh Calistha malam ini, ia masih memiliki rencana lain yang akan membuat peristiwa malam ini menjadi lebih mencekam. Ia akan menyuruh para pelayan untuk membentangkan karpet merah disepanjang pintu masuk aula istana agar mereka semua tidak menyadari jika kaki Calistha sedang terluka. Ia yakin, karpet merah itu akan menyamarkan noda darah yang menetes dari kaki Calistha. Dan saat mereka menyadarinya, semuanya telah terlambat. Kaki Calistha sudah benar-benar terluka dan ia akan kehilangan banyak darah karena paku-paku itu.
"Pelayan, tolong bentangkan karpet merah disepanjang jalan ini untuk menyambut kedatangan ratu dan raja, ini perintah dari tuan Spencer." ucap Tiffany setengah mengancam pada seorang pelayan yang tengah mendekorasi aula istana. Mengetahui jika perintah itu berasal dari Spencer, pelayan itu langsung mengangguk patuh dan segera membentangkan sebuah karpet mereka yang begitu panjang dan melintang di tengah-tengah ruangan. Melihat hal itu, Tiffany langsung berseru girang sambil tersenyum sinis pada karpet merah yang terbentang di hadapannya.
"Hmm, sempurna. Bersiaplah untuk menghadapi penderitaanmu Calistha."
Flashback End
__ADS_1
"Cerdas, kau memang sangat cerdas Tiffany, dan juga licik." puji Gazelle kagum sambil bertepuk tangan di depan Tiffany. Tiffany tersenyum sombong di depan Gazelle sambil mengibaskan rambutnya dengan gaya angkuh yang sangat menyebalkan.
"Tapi kita masih memiliki masalah lain. Aiden sekarang lebih memperketat penjagaan Calistha. Ia tidak mengijinkan Calistha untuk menempati kamarnya, dan malam ini Calistha langsung ditempatkan di kamar pribadinya."
"Apa? Ini gila! Aiden berani menempatkan Calistha di dalam kamarnya, sedangkan mereka belum resmi menikah? Sial! Ia pasti akan menggoda Aiden dengan tubuhnya setelah ini. Kau harus memikirkan sesuatu!" teriak Gazelle kelabakan di depannya. Tiffany memutar kedua bola matanya malas sambil menatap jengah pada Gazelle. Harus berapa kali lagi ia mengatakan pada Gazelle untuk berhenti mencintai Aiden dan berharap pada pria itu. Jelas-jelas Aiden sama sekali tidak mencintainya. Ia benar-benar wanita bodoh yang keras kepala!
"Jika kau menyuruhku berpikir hanya untuk melegakan hatimu, maka aku tidak mau! Sudah
berapa kali kukatakan padamu jika Aiden sama sekali tidak mencintaimu. Berhentilah berharap pada Aiden dan cobalah untuk melihat pria lain yang lebih memperhatikanmu, seperti Spencer mungkin. Kau tidak bisa terus menerus berharap pada Aiden, sedangkan pria itu telah memiliki mainannya sendiri. Lagipula aku tidak yakin jika Aiden belum menyentuh Calistha. Mereka berdua setiap hari tampak dekat, namun juga tidak pernah jauh dari percekcokan. Jadi lupakan saja Aiden!"
Gazelle menatap kesal pada Tiffany sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mudah memang
bagi wanita itu untuk menyuruhnnya melupakan Aiden, tapi ia tidak bisa! Semua itu tidak semudah yang dikatakan. Setiap hari hatinya selalu mendambakan Aiden dan berharap suatu saat nanti pria itu akan berbalik padanya dan meninggalkan Calistha.
"Ck, lupakan saja. Kau tidak berhak memaksa hatiku untuk menerima Spencer jika pada kenyataanya aku masih mengharapkan Aiden. Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?" tanya Gazelle mengalihkan pembicaraan. Tiffany mendengus pelan dan kembali membahas topik mengenai Calistha pada wanita itu.
"Sejujurnya aku belum memiliki rencana sama sekali. Oleh karena itu aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu. Bukankah kau sangat hafal dengan semua sudut istana ini, mungkin saja aku bisa menyelinap masuk ke dalam kamar Aiden untuk mencelakai Calistha." ucap Tiffany ringan. Gazelle menggelengkan kepalanya cepat sambil menatap kedua iris mata Tiffany serius. Seluruh sudut istana ini memang memiliki celah yang telah diketahui oleh Gazelle, tapi kamar pribadi Aiden? Kamar itu sama sekali tidak memiliki jalan rahasia. Hanya ada satu pintu yang menghubungkan kamar itu dengan ruangan lain di istana, sehingga Tiffany tidak akan bisa menyelinap masuk selain melalu pintu utama. Sudah pasti Tiffany tidak akan bisa masuk dengan mudah, karena Aiden pasti akan menjaganya dengan ketat.
"Benarkah? Ah, sayang sekali." keluh Tiffany kecewa. Tapi Gazelle masih mencoba untuk memikirkan hal lain. Ia yakin, ada banyak cara yang bisa mereka lakukan untuk mencelakai Calistha. Dan ia pasti akan menemukan cara itu.
"Pasti ada cara lain untuk mencelakai Calistha tanpa diketahui oleh Aiden. Bukankah Calistha belum mengetahui kelicikanmu? Kau bisa mendekatinya saat Aiden tidak sedang bersamanya. Aiden tidak akan mungkin terus menerus menemani Calistha karena ia memiliki banyak pekerjaan untuk mengatur kerajaan Khronos dan kerajaan jajahannya yang lain. Gunakan kesempatan itu untuk mendekati Calistha dan melukainya, kau pasti bisa."
"Huh, mudah memang mengucapkannya, tapi hal itu sangat sulit untuk dilakukan." Cibir Tiffany dengan wajah kesal. Gazelle menatap Tiffany kesal dan meninggalkan wanita itu begitu saja untuk berpikir.
"Hey, apa yang kau lakukan? Cepat pikirkan sesuatu."
"Selamat malam tuan Spencer."
"Kalian semua tertidur? Bagaimana jika ada tahanan yang kabur saat kalian tidur! Apa kalian ingin raja Aiden menghukum kalian dengan hukuman mati?" bentak Spencer keras. Tiffany dan Gazelle langsung bertatapan satu sama lain sambil membelalakan mata terkejut. Mereka tidak menyangka jika Spencer akan datang
__ADS_1
malam ini ke dalam penjara untuk mengunjungi Gazelle. Dengan sigap Tiffany langsung bersembunyi di balik pilar yang berada tak jauh dari sel tahanan Gazelle. Sedangkan Gazelle langsung bersikap seolah-olah ia sedang tertidur sambil menghadap pada tembok penjara yang kotor.
Langkah kaki Spencer yang berat semakin terdengar nyaring seiring dengan posisinya yang semakin dekat dengan sel tahanan Gazelle. Dari balik pilar, Tiffany tampak sedang menahan nafas gugup. Meskipun ia licik dan jahat, tetap saja ia bisa merasakan rasa gugup saat ia sedang terpojok. Selain itu, ia masih memiliki banyak ambisi untuk mencelakai Calistha dan melukai Calistha, sehingga ia tidak ingin Spencer mencurigainya dan menangkapnya sekarang karena ia belum sepenuhnya merealisasikan semua ambisinya.
"Gazelle."
Suara nyaring namun lembut itu menggema keras di dalam penjara bawah tanah yang sunyi dan senyap
itu. Gazelle tampak menggeliat kecil dan hanya menatap sekilas pada Spencer yang telah berdiri sempurna di depan sel tahanannya. Pria itu terlihat begitu sedih saat melihat bagaimana keadaanya saat ini sambil menggenggam jeruji besi itu kuat-kuat. Ia merasa tak berguna dan bodoh karena tidak bisa menyelamatkan wanita yang dicintainya dan justru membiarkan Gazelle hidup menderita di dalam penjara yang pengap dan kotor ini. Andai saja ia bisa memohonkan sedikit keringanan untuk Gazelle pada Aiden, maka ia akan melakukannya dengan penuh sukacita. Sayangnya saat ini suasana di istana sedang tidak mendukung. Yang Mulia ratu hari ini sedang terluka, sudah pasti raja akan lebih sibuk untuk mengurusi sang ratu daripada mendengarkan permohonannya untuk meringankan hukuman Gazelle.
"Gazelle, bagaimana keadaanmu?"
"Untuk apa kau datang ke sini? Pergilah, Aiden pasti membutuhkanmu sekarang." usir Gazelle ketus. Spencer menghela nafas pelan sambil berjongkok di depan sel tahanan Gazelle.
"Raja sedang bersama Yang Mulia ratu, hari ini ratu mengalami musibah sehingga raja langsung membatalkan acara pesta penyambutan ratu di kerajaan Khronos. Apa kau baik-baik saja?" ulang Spencer lagi dengan gigih. Gazelle tampak sangat jengah dengan sikap Spencer yang pantang menyerah itu. Padahal ia sudah mengusir pria itu dengan berbagai macam cara dan kata-katanya yang kasar, tapi tetap saja pria itu terus mendekatinya dengan gigih.
"Oh, aku tidak tertarik untuk membahas mereka sekarang. Lebih baik kau pergi."
Tiffany mendengus kesal dibalik pilar sambil meremas-remas kedua tangannya gemas. Seharusnya disaat saat seperti ini Gazelle dapat memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Spencer agar pria itu bersedia untuk membantunya keluar dari penjara ini. Namun Gazelle justru menanggapi pria itu dengan sikap kasar dan sinisnya. Lalu kapan wanita itu akan keluar dari penjara ini jika seperti itu?
"Haruskah aku turun tangan untuk membantu wanita bodoh itu"
"Aku sedang menyusun rencana untuk membebaskanmu.”
"Membebaskanku? Kau yakin akan melakukannya?" tanya Gazelle memastikan. Spencer tampak berpkir sebentar di depannya dan kemudian ia langsung menganggukan kepalanya dengan yakin. Ia sudah memikirkan hal ini sejak kemarin, dan keputusannya sudah bulat, ia akan membebaskan Gazelle dari penjara ini, meskipun tanpa persetujuan dari Aiden.
"Bagaimana dengan Aiden? Apa kau akan mengkhianatinya?"
"Sesekali sepertinya tidak apa-apa. Selama bertahun-tahun aku telah mengabdi padanya, menjadi tangan kananya yang paling setia, tapi sebagai seorang manusia aku tetap saja memiliki kehendakku sendiri. Tidak selamanya aku harus patuh di bawah perintahnya. Dan kali ini aku ingin sedikit berkhianat untukmu. Tapi ingat, setelah aku berhasil mengeluarkanmu dari penjara ini, kau harus pergi sejauh mungkin dari Khronos dan jangan pernah muncul lagi di sekitar daerah Khronos. Aku ingin kau membangun kehidupanmu sendiri di luar Khronos. Rasanya aku tidak tega membiarkanmu di sini, menderita, dengan keadaan yang sangat mengenaskan seperti ini, sementara umurmu masih muda untuk menghadapi berbagai macam petualangan yang sangat menakjubkan di luar sana. Jadi aku memutuskan untuk membantumu keluar dari penjara ini."
__ADS_1
Tiffany dan Gazelle sama-sama termenung di tempat yang berbeda. Mereka berdua sama-sama tak habis pikir dengan sikap Spencer yang terlalu baik pada seorang wanita seperti Gazelle, padahal jelas-jelas selama ini Gazelle selalu bersikap sinis dan kasar padanya, tapi tetap saja pria itu selalu baik padanya.
Tiffany tersenyum masam menertawakan nasibnya yang ternyata jauh lebih menyedihkan dibandingkan Gazelle. Meskipun wanita itu jahat dan licik, tapi ia masih memiliki seseorang yang sangat tulus menyayangi tanpa harus berpura-pura menjadi baik sepertinya. Sedangkan ia harus selalu memakai topeng berwajah malaikatnya demi mendapatkan rasa simpati dari orang-orang disekitarnya. Betapa menyedihkannya hidupnya saat ini. Ia merindukan kehidupannya yang dulu yang penuh kedamaian. Ia benci hidupnya saat ini. Ia benci harus menjadi salah satu putri dari kerajaan Kairos. Dan ia benci pada Calistha, sumber dari setiap kesialan dalam hidupnya.