
"Kenapa kau mencegahku untuk membunuh Tiffany?" teriak Calistha kesal pada Spencer yang berjalan
di belakangnya. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di belakang Calistha sambil menatap datar pada sang ratu.
"Apakah anda ingin membuang-buang waktu anda untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu?"
"Tidak penting? Bagaimana mungkin membunuh Tiffany bukan sesuatu yang tidak penting! Dia adalah wanita jahat, saudara kandungku adalah wanita jahat yang selama ini menusukku dari belakang! Ya Tuhan, kau tidak tahu bagaimana rasanya perasaanku saat ini. Aku marah, sedih, dan benci pada diriku sendiri. Aku menyesal, aku menyesal karena telah mempercayai Tiffany dan melupakan Aiden. Bahkan aku sudah tidak bisa menangis lagi untuk menumpahkan semua kesedihanku, air mataku seakan telah kering. Aku.. aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku takut Aiden akan pergi meninggalkanku." isak Calistha lirih.
Spencer menatap ratunya itu dengan pandangan bersimpati. Ia tahu jika apa yang baru saja dialami oleh Calistha sangat berat dan terkesan mendadak, tapi bagaimanapun juga Calistha harus menghadapinya dengan tenang dan jangan bertindak gegabah. Apalagi saat ini para prajurit di istana Khronos sedang tidak berdaya untuk menghadapi sang penyihir dan Tiffany, bisa gawat jika sang penyihir justru memberikan kutukan yang mengerikan pada Calistha dan seluruh rakyat Khronos. Saat ini satu-satunya hal yang menyebabkan Sybil tidak melakukan tindakan jahatnya adalah karena ia merasa berhutang budi pada Calistha dan sebagian kekuatannya telah berhasil
disegel oleh Zurich. Bagaimanapun juga wanita itu pernah menolongnya yang sedang dalam keadaan sekarat, meskipun ia sendiri juga membenci perilaku Aiden yang telah membakar rumahnya dan hampir membunuhnya, tapi ia masih menghargai usaha Calistha untuk menolongnya dan merawatnya.
"Anda harus menghadapinya dengan kepala dingin Yang Mulia, jangan terlalu bertindak gegabah atau anda justru akan membahayakan nyawa anda sendiri. Saat ini Yang Mulia Aiden sedang membutuhkan anda, jadi saya harap anda bisa menahan diri anda untuk tidak melakukan hal-hal membahayakan dan ceroboh sebelum raja benar-benar pulih. Lagipula saat ini anda justru harus berada di samping raja, karena mungkin saja Tiffany akan melakukan rencana jahatnya lagi untuk membunuh raja Aiden secara cepat. Bukankah anda sudah tahu bagaimana sikap Tiffany yang sebenarnya?"
"Tapi aku masih merasa tak habis pikir, mengapa Tiffany menjadi sangat jahat seperti itu? Selama ini aku selalu dirundung rasa bersalah pada keluargaku, dan aku berharap dapat menebus semua rasa bersalahku pada satu-satunya keluarga yang kumiliki. Tapi aku tidak menyangka jika saudaraku adalah wanita yang jahat. Ia ternyata selama ini menyimpan dendam padaku atas kehancuran Kairos dan kematian kedua orangtuaku. Spencer, apakah lebih baik aku mati?" tanya Calistha dengan wajah linglung.
"Apa yang anda katakan Yang Mulia, raja Aiden telah banyak berkorban untuk anda. Anda tidak seharusnya menyia-nyiakan semua pengorbanan raja. Kematian bukan jalan untuk menyelesaikan masalah."
Spencer dengan emosi mengguncang-guncangkan bahu Calistha dengan keras agar wanita itu segera sadar dengan kebodohannya. Meskipun sikapnya itu memang tidak sopan, tapi ia merasa harus melakukannya. Apa yang dipikirkan oleh ratunya itu benar-benar berhasil memancing emosinya. Bagaiman mungkin ratunya itu ingin mati, sementara rajanya selama ini selalu berusaha mati-matian untuk melindunginya dari kematian.
"Lebih baik anda segera masuk dan temui raja. Saat ini raja sedang kritis. Jika sekiranya anda memiliki rencana untuk menyembuhkan raja, saya pasti akan membantu."
Calistha mengangguk lemah sambil menyeka bulir-bulir air mata yang turun membasahi wajahnya. Akhirnya ia bisa menangis lagi setelah ia mengeluarkan sebagian ganjalan yang mengganggu di hatinya. Dengan berat hati ia mulai melangkah masuk ke dalam aula istana. Disana banyak sekali menteri yang berkumpul untuk melihat bagaimana keadaan raja mereka. Tatapan mata iba langsung terarah pada Calistha ketika ia mulai berjalan untuk mendekati ranjang besar yang berada di tengah-tangah ruangan. Salah satu menteri tiba-tiba berjalan menghampiri Calistha dan memeluk Calistha hangat layaknya anaknya sendiri. Menteri tua itu mengucapkan kata-kata penyemangat untuk Calistha dan membisikan kata-kata penguat untuk meyakinkan Calistha jika Aiden akan baik-baik saja. Calistha kemudian membalas pelukan itu dengan perasaan haru sambil membayangkan jika menteri itu adalah ayahnya sendiri.
"Terimakasih banyak menteri Golem, kuharap Yang Mulia benar-benar akan sembuh setelah ini."
Menteri Golem tersenyum prihatin pada Calistha dan melepaskan pelukannya untuk membiarkan Calistha pergi menemui Aiden. Saat ini Aiden sedang terbaring lemah di atas ranjang besarnya dengan perban putih yang membebat seluruh dada bidangnya. Bercak darah yang cukup besar tampak tercetak jelas di atas perban putih yang membebat luka Aiden, padahal tabib istana belum lama mengganti perban itu, tapi perban itu sudah dipenuhi oleh rembesan darahnya lagi. Kekuatan dari sihir yang digunakan oleh Sybil memang luar biasa, sihir itu benar-benar tidak bisa dipatahkan oleh Zurich dan tidak ada obat yang bisa menghentikan perdarahan yang berada di dada kiri Aiden. Dan saat ini mereka seperti menunggu saat-saat kematian raja mereka yang sangat menyedihkan.
"Yang Mulia, maafkan saya."
Zurich berseru pelan sambil menundukan kepalanya bersalah. Ia benar-benar merasa menyesal karena tidak bisa menolong rajanya dari kematian yang akan menjemputnya sebentar lagi.
"Tidak apa-apa, kau sudah berusaha keras. Apa kau sudah menyegel kekuatan Sybil?"
"Saya sudah memberikan mantra unuk menangkal kekuatannya, tapi sepertinya mantra itu tidak bekerja dengan sempurna karena Sybil masih bisa menggunakan mantra-mantra ringan untuk melemahkan penjagaan prajurit Khronos. Tapi anda tenang saja, Sybil tetap tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk membunuh orang. Dan ia juga tidak akan pergi kemanapun karena saat ini ia bersama Tiffany, jika wanita itu tidak pergi dari istana, maka Sybil juga tidak akan pergi kemanapun."
"Ya, aku mengerti. Terimakasih banyak atas semua hal yang telah kau lakukan."
Dengan langkah berat, Calistha semakin berjalan mendekati Aiden. Pria itu sesekali tampak menahan
rasa sakit yang mendera dadanya sambil meraba dadanya yang terasa berdenyut. Tangan Calistha yang bergetar kemudian terulur untuk menggenggam telapak tangan Aiden yang terasa dingin. Perlahan-lahan pria itu membuka matanya dan tersenyum sayu pada Calistha.
"Aku akan mati." lirih Aiden serak. Calistha menggigit bibirnya perih sambil menahan isakannya yang hampir lolos. Setetes demi setetes air mata akhirnya meluncur turun dari kedua manik karamel Calistha yang bening. Wanita itu kemudian terisak keras di sebelah Aiden sambil menenggelamkan kepalanya pada lengan Aiden yang bebas.
"Maafkan aku Aiden, maafkan aku."
Aiden mengelus kepala Calistha kepayahan sambil menahan rasa sakit yang semakin mendera dada kirinya.
"Tttenanglah, kau tidak salah. Aakku akan baik-bbaik saja."
__ADS_1
"Aiden kumohon bertahanlah. Kau pernah mengatakan padaku jika aku bisa hidup kembali jika mati. Sekarang aku akan melakukannya, aku akan mengulang waktu untuk mencegah semua ini terjadi."
"Kkau tidak bisa melakukannya. Kau sedang mengandung, kekuatan itu sudah hilang dan tidak akan bisa kau gunakan lagi. Kau justru akan mati jika melakukan hal itu." jelas Aiden lemah. Mendengar hal itu Calistha semakin menangis fruustasi sambil menelungkupkan kepalanya di atas lengan Aiden. Satu-satunya harapan yang ia miliki musnah. Ia tidak akan bisa menyelamatkan Aiden. Ia tidak akan pernah melihat pria itu lagi setelah hari ini.
"Lalu apa yang harus kulakukan? Apapun yang terjadi, kau harus hidup. Kami semua masih membutuhkanmu."
"Aku tidak bisa Cals, waktuku sudah habis. Akhirnya aku harus mati. Meskipun rasanya berat untuk meninggalkanmu, tapi aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Iini sangat menyakitkan. Berada di ambang kematian benar-benar ssssangat menyakitkan."
Calistha menggenggam tangan Aiden kuat-kuat ketika pria itu mulai mengerang kesakitan sambil memegang dada kirinya yang terasa tertusuk-tusuk. Darah segar mulai merembes keluar dari perban putihnya yang semula kering, kini sudah basah oleh darah. Luka yang tusukan yang bersarang di dada kiri Aiden semakin lama-semakin menganga dan terus mengeluarkan darah segar dari sana. Padahal tabib sudah memberikan banyak perban untuk menahan perdarahan yang terjadi pada dada kiri Aiden, namun semua itu rasanya sia-sia saja. Karena luka itu semakin lama justru semakin terbuka lebar.
"Aiden kumohon bertahanlah, aku akan mencari cara untuk menyembuhkan lukamu." isak Calistha lemah. Aiden tersenyum getir pada Calistha sambil mengulurkan tangannya susah payah untuk mengelus kepala Calistha. Ini adalah saat-saat terakhirnya untuk bertemu Calistha. Sebentar lagi ia tidak akan bisa melihat wajah cantik itu atau mengelus surai kecoklatannya yang lembut lagi. Semua yang ia lihat saat ini sebentar lagi akan pergi dan akan menjadi kenangan yang sangat indah untuk selamanya.
"Iiini sudah waktunya Cals, aku tidak bisa lagi bertahan. Berjanjilah padaku untuk selalu hidup dengan baik dan jangan bertindak bodoh. Aaaku telah menyuruh Zurich untuk melindungimu dan membawamu pergi dari Khronos jika keadaan di sini menjadi memburuk. Aaaaku.."
"Tidak Aiden, jangan katakan itu. Kau akan tetap hidup dan memimpin kerajaan ini seperti biasanya. Kau harus hidup untuk melindungiku dari Tiffany dan penyihir jahat itu." sela Calistha histeris. Wanita itu langsung menghambur ke dalam pelukan Aiden dan menenggelamkan wajahnya di atas dada Aiden yang tidak terluka. Saat Calistha bersandar di dadanya, nafas Aiden terdengar tersenggal-senggal dan tampak tidak stabil. Kedua matanya juga semakin mengabur dan tampak tak fokus lagi. Sudah saatnya...
"Ccals, dengarkan aku. Kau harus ttetap hidup, apapun yang terjadi. Sekarang aaku ttidak bisa lagi mmelindungimu dari Tiffany dan Sybil. Tugasku untuk menjagamu telah selesai. Sekarang saatnya kau untuk membuka matamu."
Calistha mengernyit bingung sambil menyela bulir-bulir air mata yang mengaburkan pandangannya.
Wanita itu menatap Aiden dalam dengan perasaan bingung. Berkali-kali Aiden terus menyuruhnya untuk membuka mata. Dan seruan itu semakin lama-semakin melemah seiring dengan nafas Aiden yang terhenti.
"Aiden... Tidakkkk!! Jangan pergi..."
Calistha berseru kencang dengan air mata yang terus menganak sungai dari kedua matanya. Ia menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya sambil terus menangis dengan histeris. Suara tangisnya yang memilukan terdengar begitu menyayat hati dan menyedihkan. Hari ini ia sedang berduka, ia benar-benar telah kehilangan Aiden dari hidupnya. Kebodohan yang terus menerus ia lakukan selama ini akhirnya berakhir dengan sangat buruk, ia menyesal.
Seseorang memegang pundak Calistha lembut dan sedikit menariknya untuk bangkit. Tarikan itu begitu
kuat dan keras hingga membuat Calistha langsung tertarik begitu saja dengan pasrah. Lalu dengan penuh perasaan orang itu memeluk Calistha dengan erat sambil mengelus surai-surai kecoklatan Calistha dengan lembut.
"Akhirnya kau membuka matamu."
Seketika tubuh Calistha langsung membeku. Ia melepaskan pelukan itu dengan paksa sambil menatap tak percaya pada Aiden yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan datar khas pria itu, namun menenangkan. Calistha kemudian menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang saat ini sedang ditempatinya. Aku berada di kamarku?
"Kau menangis dan berteriak sangat keras, apa kau baik-baik saja?"
Calistha tampak seperti orang linglung sambil memandangi Aiden tidak percaya. Ia masih berpikir jika Aiden telah mati, tapi pria itu kini justru sedang berada di hadapannya dalam keadaan sehat dan tanpa cacat sedikitpun. Aiden masih terlihat segar dan wajahnya terlihat sangat segar. Calistha kemudian meraba-raba wajah Aiden dengan tangan bergetar sambil menganga tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat. Ia pikir Aiden telah mati.
"Kkau nyata?" tanya Calistha tak percaya. Aiden yang awalnya memejamkan matanya sambil menikmati belaian tangan Calistha langsung membuka matanya lebar untuk melihat manik mata karamel yang sudah lama ia rindukan. Hari ini ia akan menjawab semuanya.
"Aku nyata, aku sudah lama menunggumu." bisik Aiden mesra sambil mengecup bibir Calistha sekilas. Pipi wanita itu seketika tampak merona merah dan ia langsung membawa Aiden ke dalam pelukannya. Ia menangis tersedu-sedu di pundak Aiden, namun setelahnya ia berteriak bahagia karena Aidennya masih hidup.
"Aiden, kukira kau benar-benar pergi meninggalkanku. Aku sangat takut. Apakah aku sudah tertidur cukup lama? Jam berapa sekarang?"
Calistha langsung melirik jam coklat besar yang berada di sudut ruangan, tapi jam itu justru terlihat mati dan sama sekali tidak berputar. Jam coklat raksasa yang selama ini tidak pernah berhenti berputar tiba-tiba berhenti berputar.
"Aiden, apa jam itu rusak?"
"Tidak. Sudah lama jam itu memang tidak berputar. Sejak kau melakukan percobaan bunuh diri di hari pernikahan kita, jam itu tidak pernah berputar lagi. Aku menghentikan waktu di sini selama kau tertidur dan bermimpi."
__ADS_1
Calistha memandang Aiden tidak percaya sambil mengernyitkan dahinya bingung. Sungguh ia tidak mengerti dengan penjelasan dari Aiden. Refleks ia memegang perut ratanya dan mencoba untuk merasakan keberadaan bayinya, tapi ia tidak bisa merasakan apapun. Ia tidak bisa merasakan adanya kehidupan di dalam rahimnya.
"Aiden aku benar-benar tidak mengerti. Dan mengapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya?"
Aiden menggenggam erat tangan Calistha dan mengecupnya dengan lembut. Penjelasannya kali ini pasti akan membingungkan untuk Calistha.
"Kau selama ini tertidur Cals, semua yang kau alami hanyalah bagian dari mimpimu. Aku sengaja membuatmu tertidur dan menghentikan waktu di sini agar kau bisa belajar dari kesalahanmu di dunia mimpi. Aku tidak mau mengambil resiko membiarkanmu bertindak ceroboh di dunia nyata. Jadi aku terpaksa melakukan hal ini padamu." jelas Aiden panjang lebar. Calistha masih terlihat bingung dengan penjelasan Aiden, namun setelahnya ia justru menubruk tubuh Aiden dan memeluk pria itu dengan erat.
"Jadi semua itu tidak nyata? Kau, Max, dan Gazelle tidak mati? Kalian masih hidup? Oh Ya Tuhan, aku sangat lega sekarang. Dan kau juga tidak menyerbu kerajaraan Bibury?"
Aiden menggelengkan kepalanya mantap dan membalas pelukan Calistha dengan lebih erat. Saat ini ia bisa merasakan bagaimana rasa senang itu meluap-luap dari diri Calistha. Ia pikir Calistha memang telah belajar dari semua kesalahannya di dalam mimpi.
"Tapi itu semua bisa saja terjadi jika kau tidak mendengarkanku dan terus bersikap sesuka hatimu."
"Aku janji akan selalu menuruti perkataanmu, aku menyesal Aiden. Aku ingin hidup bersamamu."
"Hmm, apa kau sudah menyadari perasaanmu?" tanya Aiden menggoda. Calistha menganggukan kepalanya malu dan semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pundak nyaman Aiden. Persetan dengan pikiran pria itu yang akan mengolok-oloknya, ia tidak peduli! Saat ini ia sangat memerlukan Aiden dan memerlukan tubuh pria itu untuk memeluknya. Ia sangat merindukan Aiden.
"Aiden, apakah aku bisa melihat Max? Ini hari apa?"
"Ini adalah hari sebelum pernikahan kita besok, hari dimana Max dan Gazelle datang untuk mengajakmu melarikan diri dan istanaku." Ucap Aiden menjelaskan. Tiba-tiba Calistha melepaskan pelukan Aiden dan menatap pria itu sungguh-sungguh dengan kedua matanya yang besar. Sepertinya ia sedang memiliki ide di kapalanya.
"Biarkan aku bertemu Max, aku harus mencegah Max dan Gazelle untuk masuk ke istana ini. Mereka harus pergi sejauh mungkin dari Khronos agar kau tidak membunuh mereka."
Aiden menghela nafas berat dan langsung menarik Calistha untuk berdiri. Meskipun ia belum yakin apakah Calistha benar-benar sudah berubah atau belum, tapi ia harus mencobanya. Kali ini ia akan mengantar Calistha ke halaman belakang untuk bertemu Max dan Gazelle yang seharusnya saat ini tengah bersembunyi di halaman belakang istananya.
"Ayo, mereka pasti sedang berada di halaman belakang."
Dengan penuh semangat Calistha langsung melompat turun dari ranjang besarnya yang nyaman. Gaun putih yang digunakannya langsung berkibar-kibar heboh seiring dengan gerakan tubuhnya yang benar-benar aktif. Sekilas ia mirip seperti seorang anak kecil yang baru bangung dari tidur panjangnya yang nyaman.
"Hati-hati Cals, kau hanya akan bertemu Max, bukan kekasihmu." sindir Aiden sakarstik. Calistha terkekeh geli dengan sindiran Aiden sambil merangkul bahu pria itu ringan. Dengan nakal Calistha mengerlingkan sebelah matanya jahil, dan setelah itu ia langsung ******* bibir Aiden lembut.
"Tenang saja, aku milikmu raja." bisik Calistha mesra dan langsung berlari meninggalkan Aiden. Pria itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya heran sambil melipat kedua dadanya di depan dada. Akhirnya Calisthanya kembali. Akhirnya ia dapat melihat senyum cantik itu lagi di kehidupannya yang hampa.
"Aiden, sebelum aku bertemu Max, bolehkah aku melihat Tiffany? Ia masih berada di dalam penjara bukan?"
Aiden menganggukan kepalanya mengerti dan segera menggenggam tangan Calistha untuk menuju penjara bawah tanah. Hari ini adalah hari milik sang ratu, dan ia akan akan melakukan apapun demi kebahagiaan wanita yang paling dicintainya.
"Kuharap kali ini kau tidak merengek-rengek padaku untuk mengeluarkan Tiffany dari penjara. Kau tentu masih ingat dengan semua kekacauan yang terjadi setelah kau membebaskan Tiffany bukan?"
"Tentu saja tidak, aku tidak akan memintamu untuk membebaskan Tiffany karena tempatnya memang di
sana. Membebaskannya dari penjara ternyata bukan keputusan yang tepat. Sekarang aku tahu maksudmu Aiden. Tapi sepertinya kau sangat tahu apa saja isi mimpiku, bagaimana bisa?"
Aiden tersenyum misterius di hadapan Calistha sambil berdeham pelan untuk mengurangi kegugupannya. Sebenarnya semua mimpi yang dialami Calistha sedikit banyak adalah karena ulahnya, ia yang telah mengatur mimpi itu sesuai dengan penglihatannya yang ia lihat di malam sebelum Calistha melarikan diri dari istananya. Tapi beberapa dari mimpi itu juga telah ia manipulasi agar sesuai dengan kehendaknya, termasuk mimpi dimana Calistha bersikap sangat manja dan bersikap agresif padanya, dan juga mimpi saat malam-malam percintaan panas mereka selama ini. Semua mimpi itu adalah hasil keisengannya karena ingin membuat Calistha bertekuk lutut padanya.
"Hey, jawab pertanyaanku. Kenapa kau justru tampak gugup?" kejar Calistha gigih. Aiden terus berjalan di depan Calistha tanpa menghiraukan suara nyaring Calistha yang terus menuntutnya untuk menjawabnya.
"Aiden, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku." rengek Calistha manja. Akhirnya Aiden tetap memilih untuk bungkam sambil menahan geli karena sikap Calistha yang sangat menggemaskan. Mungkin lain kali ia akan menceritakannya pada Calistha, ketika mereka telah resmi menikah, sehingga Calistha tidak akan marah padanya dan mengancam akan membatalkan rencana pernikahan mereka yang telah di depan mata.
__ADS_1