Queen Of Time

Queen Of Time
Still Stuck In That Time (Fifty One)


__ADS_3

Kriett


            Suara derit pintu yang nyaring membuat Aiden langsung mendongakan kepalanya dari setumpuk perkamen yang sedang dibacanya. Di ujung pintu Calistha tampak tersenyum lembut sambil melambaikan tangannya ceria ke arahnya, namun hal itu hanya dibalas Aiden dengan tatapan datar dan piasnya yang sama sekali tidak bersahabat.


            "Ada apa? Aku sedang sibuk."


             Aiden langsung menyerang Calistha dengan kata-kata datarnya sebelum wanita itu menyampaikan maksud kedatangannya menemui dirinya. Merasa kehadirannya tak diharapkan, wajah Calistha langsung berubah murung sambil menghentak-hentakan kakinya ke atas lantai marmer ruangan Aiden.


            "Maafkan saya Yang Mulia Raja Aiden yang terhormat, saya tidak bermaksud untuk mengganggu anda, saya hanya ingin meminta ijin untuk berjalan-jalan keluar bersama Sunny dan Yuri, apakah diperbolehkan?" tanya Calistha gusar dengan nada ketus. Aiden mengernyitkan dahinya tidak suka dan merasa gusar dengan kehadiran Calistha yang selalu mampu memecah konsentrasinya. Sekarang semua pekerjaan itu harus terabaikan begitu saja karena ia tidak bisa mengacuhkan Calistha terlalu lama. Wanita itu benar-benar telah berhasil merusak seluruh konsentrasinya yang sudah ia bangun dengan susah payah pagi ini.


            "Kemana kau akan pergi?"


            "Hanya di sekitar istana. Aku hanya ingin melihat sudut-sudut istana yang lain, yang belum pernah kukunjungi. Apakah boleh?"


            Kali ini Calistha bertanya dengan penuh perasaan dan tersirat nada penuh permohonan disetiap kalimatnya. Ia sangat berharap jika Aiden akan langsung mengijinkannya tanpa memikirkan banyak pertimbangan lagi.


            "Hmm, apa aku bisa mempercayaimu untuk pergi dengan selamat dan pulang dalam keadaan selamat juga?"


            "Ya Tuhan Aiden, aku hanya pergi keluar untuk jalan-jalan, bukan untuk berperang. Bisakah kau sedikit saja mempercayaiku dan menghilangkan sikap skeptismu padaku?" erang Calistha frustasi. Aiden hanya menaikan kedua alisnya singkat dan setelah itu ia tampak mulai berpikir. Terakhir kali ia membiarkan Calistha keluar bersama


Yuri dan Sunny, Calistha justru pingsan karena kehamilannya. Sekarang ia merasa sedikit sulit untuk mengijinkan Calistha pergi bersama pengawal-pengawalnya keluar dari istana. Wanita itu terkadang suka membahayakan dirinya sendiri dan membuatnya menjadi panik luar biasa karena keadaan wanita itu yang selalu di luar dugaannya. Tapi tidak mengijinkan Calistha keluar pun bukan solusi yang baik, justru membuat Calistha semakin stress dengan keadaanya. Jadi... sekarang ia merasa dilema.


            "Apa aku bisa mempercayaimu?"


            Calistha memutar bola matanya jengah dan tampak kehabisan kesabaran dengan sikap over protektif yang diberlakukan Aiden. Memangnya apa yang akan dilakukannya di luar sana, ia hanya ingin berjalan-jalan. Tidak lebih!


            "Aku janji akan baik-baik saja. Kau bisa mempercayaiku Aiden." ucap Calistha geram. Rasanya ia sangat gemas pada Aiden dan ingin mencubit kedua pipi Aiden untuk menyadarkan pria itu jika ia akan baik-baik saja.


            "Hati-hati Cals, aku masih bisa membaca pikiranmu." peringat Aiden ketika Calistha mulai merencanakan banyak hal di dalam kepalanya. Seketika Calistha langsung tersipu malu karena semua hal yang dipikirkannya memang berhubungan dengan Aiden.


            "Jadi.. apa kau mengijinkanku?" tanya Calistha penuh harap. Aiden menghela napas berat, namun akhirnya ia menganggukan kepalanya pada Calistha sebagai tanda bahwa ia mengijinkan Calistha untuk keluar dan berjalan-jalan di sekitar istana.


            "Aaaa, terimakasih Aiden."

__ADS_1


            "Tapi.."


             Seketika kegembiraannya yang meluap-luap terhenti begitu saja, digantikan dengan perasaan was-was saat menunggu ucapan selanjutnya yang akan dikatakan oleh Aiden. Jangan sampai kebahagiaan yang telah ia gapai adalah kebahagiaan semu yang pada akhirnya akan diruntuhkan oleh Aiden begitu saja.


            "Tapi kau harus selalu berhati-hati. Hindari semua hal-hal yang membahayakan."


            "Baiklah, aku mengerti. Sampai.. oh, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu." Tiba-tiba saja Calistha teringat pada sikap Spencer yang terlihat dingin dan tampak tidak baik-baik saja. Rasanya ia perlu membicarakan masalah ini pada Aiden karena ini menyangkut perasaan pengawal setianya.


            "Aku ingin menanyakan masalah Spencer. Apakah ia selalu menunjukan sikap tak bersahabat dan terlihat dingin?"


            "Kau berinteraksi dengannya?"


            Aiden justru menjawab pertanyaan Calistha dengan sebuah pertanyaannya yang hanya dapat dijawab Calistha dengan anggukan. Ia takut akan membuat masalah lagi dan menyebabkan Spencer dalam masalah.


            "Kau tidak melarangku untuk berinteraksi dengannya bukan?"


             "Tidak, aku hanya sebatas bertanya. Tapi menurutku kau jangan terlalu sering berinteraksi dengannya, apalagi saat ini ia sedang dalam masa-masa yang sulit. Meskipun ia mematuhi perintahku untuk membunuh Gazelle, tapi hati kecilnya masih belum menerima itu semua, sehingga akhir-akhir ini ia selalu bersikap lebih sinis dan dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya, sebelum ia membunuh Gazelle."


            "Ya, aku mengerti sekarang. Aku pasti telah menyebabkan lukanya kembali menganga. Aku merasa bersalah padanya." ucap Calistha sedih. Teringat jelas bagaimana ekspresi wajah Spencer saat ia membahas masalah Gazelle di hadapan pria itu. Sekarang ia benar-benar merasa bersalah.


menyuruhnya untuk melupakan seluruh masalahnnya dengan Spencer, tapi ia merasa tidak bisa. Ia justru ingin menemui Spencer dan meminta maaf pada pria itu karena telah menyebabkan pria itu merasa tidak nyaman dan kembali terluka dengan kematian Gazelle yang mengenaskan. Dalam hati ia bertekad akan menemui Spencer dan meminta maaf pada pria itu apapun yang terjadi. Tak peduli seberapa sinis dan galaknya sikap pria itu nanti, ia akan tetap menemui pria itu dan meminta maaf padanya atas kelancangannya hari ini.


-00-


            "Kebakaran.....Kebakaran, cepat ambilkan air!"


            "Tolong, ada kebakaran..."


            Suara teriakan para penduduk Khronos yang sedang mencoba memadamkan nyala api yang melalap salah satu rumah penduduk yang berada di tengah pasar terdengar begitu nyaring dan semakin membuat suasana disekitar pasar menjadi mencekam. Beberapa pedagang yang sedang menjajakan dagangannya langsung berlari mencari ember dan air untuk membantu warga yang lain memadamkan nyala api yang semakin membumbung tinggi ke udara. Asap pekat yang hitam membuat seluruh penduduk Khronos yang sedang memadamkan nyala api disekitar rumah itu langsung terbatuk-batuk sesak. Namun dengan sekuat tenaga mereka terus mencoba untuk memadamkan nyala api itu dan menyelamatkan salah satu penduduk Khornos yang masih terjebak di dalam kobaran api yang sangat dahsyat itu.


            Spencer mengintai dari kejauhan sambil tersenyum simpul. Pekerjaannya kali ini berjalan dengan lancar. Rumah penyihir itu kini telah habis, dilalap oleh si jago merah yang tanpa pandang bulu melahap semua material yang menyusun rumah itu. Bunyi letupan-letupan kecil yang berasal dari dalam rumah beberapa kali terdengar nyaring di pendengaran Spencer, pertanda jika seluruh rumah beserta isinya benar-benar tidak akan tersisa setelah ini.


             "Apa yang terjadi, permisi... tolong biarkan aku lewat."

__ADS_1


              Spencer menyeringai puas saat melihat wajah kaku Tiffany yang terlihat begitu terkejut dengan kebakaran besar yang melanda rumah sang penyihir. Setelah ini wanita itu tidak akan bisa mencelakakan raja dan ratu dengan sihir hitam yang berasal dari sang penyihir karena ia sangat yakin jika penyihir itu telah mati.


            “Cepat padamkan apinya! Kau, masuklah ke dalam rumah itu. Kau harus menemukan wanita tua yang berada di dalam sana." teriak Tiffany emosi sambil mendorong-dorong tubuh seorang pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu tampak enggan untuk menyanggupi perintah Tiffany karena ia tidak mungkin bisa menerobos masuk ke dalam rumah yang hampir rubuh, dilalap oleh api besar yang berkobar-kobar di atas langit. Jika ia nekat masuk, ia justru tidak akan bisa keluar lagi dan berakhir mengenaskan bersama dengan penghuni rumah itu yang kemungkinan telah mati.


            "Saya tidak bisa nona, apinya terlalu besar. Apalagi bangunan ini sebentar lagi akan rubuh, saya benar-benar tidak bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan wanita tua yang tinggal di dalam sana."


            "Dasar penakut! Siapapun, tolong masuk dan selamatkan wanita tua yang terjebak di dalam sana. Hey, apa kalian mendengarkanku?"


            Tiffany berseru lantang layaknya orang gila yang berseru pada siapapun yang ditemuinya. Tapi tidak ada satupun yang berani masuk ke dalam rumah itu untuk menyelamatkan Sybil, sang penyihir hitam. Kini Tiffany hanya mampu berlutut pasrah di depan puing-puing rumah Sybil yang tak berbentuk. Rencana besarnya yang ia rencanakan dengan Sybil kemarin malam harus pupus begitu saja karena bencana kebakaran ini. Sambil berlutut dan meratapi rencananya yang gagal, Tiffany tampak mengepalkan tangannya murka dan bersumpah akan menemukan siapapun yang telah mengganggu rencananya dan membunuh Sybil dengan keji.


            "Siapapun itu, aku pasti tidak akan membiarkannya hidup tenang."


-00-


            "Ratu, apakah ratu ingin kembali ke istana sekarang?" tanya Yuri yang berjalan di sebelahnya. Calistha menggelengkan kepalanya pelan sambil menunjuk gumpalan asap hitam tebal yang membumbung di atas langit. Ketiga wanita itu sama-sama mengamati asap hitam itu dengan berbagai pertanyaan yang berkelebat di dalam hati mereka.


            "Asap itu berasal dari pusat kota, sesuatu pasti sedang terjadi di sana." ucap Sunny khawatir. Yuri menganggukan kepalanya setuju sambil menggandeng tangan Calistha untuk mengajak wanita itu kembali ke istana.


            "Lebih baik Yang Mulia segera kembali ke istana, di sini tidak aman untuk ratu." ajak Yuri dengan sedikit memaksa. Calistha pun hanya berjalan pasrah mengikuti Yuri dan Sunny yang telah menarik pergelangan tangannya menjauh. Namun, pergerakan kakinya tiba-tiba terhenti karena ia mendengar suara-suara berisik yang berasal dari balik semak-semak yang berada di belakangnya.


            "Ssstt, apa kalian mendengarnya?" tanya Calistha tiba-tiba. Yuri dan Sunny saling bertatapan satu sama lain sambil mengendikan bahunya bingung, karena mereka berdua sama sekali tidak mendengar apapun.


            "Suara? Kami tidak mendengar suara apapun?"


Srek srekk


             "Ssstt, suara itu berasal dari semak-semak di sebelah sana."


            Tanpa mempedulikan larangan Sunny dan Yuri, Calistha langsung melangkah begitu saja menghampiri semak-semak belukar yang berada di depan matanya. Ia sangat yakin jika suara berisik itu berasal dari balik semak-semak itu, dan ia merasa jika sesuatu yang tidak beres pasti telah terjadi di sana.


              "Kyaaaa...!"


            Yuri dan Sunny langsung berteriak nyaring saat mereka melihat sebuah tangan yang tampak mengerikan menjulur keluar dari balik semak-semak yang rimbun. Tak berapa lama, sesosok wajah yang juga tampak mengerikan menyembul keluar dari balik semak-semak, membuat Calistha yang melihatnya merasa cukup terkejut, namun sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak ikut berteriak seperti Yuri dan Sunny.

__ADS_1


            "Ttoo Tolong aku....." rintih wanita tua itu parau sebelum ia jatuh tak sadarkan diri di hadapannya dengan mengenaskan.


__ADS_2