Queen Of Time

Queen Of Time
Time That We Used (Fourty Two)


__ADS_3

            "Cepat masuk! Bereskan semua kekacauan yang kau buat. Jika saat aku kembali kau belum memenggal kepala wanita murahan itu, kau dan Gazelle akan kubunuh dengan tanganku sendiri. Apa kau mengerti?" geram Aiden sambil menarik kerah kemeja Spencer dan mendorong pria itu kasar ke dalam kamarnya. Spencer tampak mengangguk berat di depan Aiden, dan setelah itu ia segera melangkah pergi meninggalkan Aiden untuk membunuh Gazelle. Dari ambang pintu, Aiden tampak puas menikmati wajah sendu Spencer yang terlihat muram dan sedih. Ia yakin perasaan pria itu pasti sangat hancur saat ini. Tapi Spencer memang pantas menerima hukuman ini. Pria ***** itu memang harus disadarkan dari rasa cintanya yang terlalu berlebihan pada Gazelle hingga ia rela diperbudak oleh wanita licik itu.


            Aiden kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya untuk melihat keadaan Calistha. Lagipula


malam ini ia tidak memiliki tempat untuk mengistirahatkan diri selain di kamar Calistha. Hari ini ia sangat sibuk mengurus berbagai kekacauan yang terjadi di kerajaannya. Dan rasanya saat ini ia sangat merindukan Calistha. Selama seminggu ini wanita itu berada di kamarnya, ia cukup terbiasa akan hal itu. Ia terbiasa dengan kehadiran wanita itu di dalam hidupnya. Ia sama sekali tidak bisa mengkhianati wanita itu, apalagi dengan wanita murahan seperti Gazelle. Jika ia tergoda dengan Gazelle, maka ia pasti adalah pria paling ***** dan bodoh di seluruh dunia. Sama saja ia menukarkan sebuah berlian dengan sebongkah batu yang tak berguna. Bagaimana mungkin kedudukan Calistha di hatinya dapat digantikan dengan mudah oleh Gazelle, selamanya posisi Calistha tidak akan pernah tergantikan di sisinya.


            "Bagaimana keadaanya?"


            Yuri dan Sunny langsung menunduk hormat ketika Aiden tiba-tiba berdiri di hadapan mereka sambil menatap wajah Calistha yang sedang tertidur lelap. Pria itu sejak melangkahkan kakinya ke dalam kamar Calistha tak henti-hentinya terus menatap wajah sendu Calistha yang sedang tertidur lelap di atas ranjangnya yang besar. Ia tahu, hari ini Calistha pasti sangat sedih karena ia sama sekali tidak mengunjungi wanita itu dan mengucapkan selamat atas berita kehamilannya. Tapi sekarang ia merasa menyesal dan ingin memeluk Calistha dengan erat atas kehamilan wanita itu. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat bahagia atas berita itu. Ia sangat bahagia memiliki Calistha dan calon keturunannya kelak.


            "Keadaan Yang Mulia Calistha sudah cukup stabil, tapi..."


            "Tapi apa?" potong Aiden cepat dan langsung menatap Yuri tajam. Yuri yang merasa mendapat tatapan tajam dari rajanya langsung menunduk takut sambil meremas jari-jarinya gugup. Ia takut ditatap dengan tatapan setajam itu.


           "Tapi Yang Mulia Calistha tampak murung dan lesu, semua makanan yang disediakan oleh pelayan istana hanya dimakan sedikit, dan setelah itu Yang Mulia Calistha memilih untuk tidur."


            Akhirnya Sunny memiliki inisiatif untuk menolong Yuri. Kasihan sekali sahabatnya itu karena harus mendapatkan tatapan tajam dari sang raja.


            "Ada apa dengannya? Apa ia mengeluhkan hal lain?"


            Sunny menggeleng cepat dan tampak menatap Yuri untuk memberi kode. Yuri yang mengerti maksud tatapan Sunny segera buka sura terkait dengan sikap Calistha siang ini yang terlihat murung dan lesu.


            "Yang Mulia terus mencari anda, Yang Mulia Aiden." ucap Yuri penuh semangat. Entah mengapa wanita itu begitu mengharapkan pasangan Aiden dan Calistha itu segera bersatu dan memimpin kerajaan Khronos dengan penuh kedamaian. Bahkan ia adalah orang pertama yang sangat bahagia ketika tabib berbisik padanya pagi tadi jika Calistha sedang mengandung, ketika raja dan para pelayan yang lain belum datang ke kamar itu untuk melihat kondisi Calistha. Ia benar-benar berharap bahwa kehamilan Calistha akan membawa pengaruh baik bagi hubungan sang raja dan calon ratunya.


            "Hmm, aku mengerti. Kalian berdua bisa keluar sekarang. Malam ini aku akan menjaga Calistha di sini."


            Kedua pelayan itu langsung mengangguk patuh dan segera melangkah keluar dari kamar sang ratu. Namun sebelum mereka benar-benar keluar dari kamar itu, Sunny dan Yuri tampak menyempatkan diri untuk melihat raja mereka yang sedang menggenggam tangan ratu mereka dengan erat. Mereka berdua lantas saling tersenyum penuh arti sambil menutup pintu besar itu pelan.


            "Kuharap ratu dan raja segera mendapatkan kebahagiaan mereka." bisik Yuri pelan di sebelah Sunny. Wanita mungil itu terkikik geli membayangkan bagaimana sikap Aiden pada Calistha. Ia merasa rajanya terlihat aneh jika bersikap sangat lembut seperti itu.


            "Ya, kuharap juga begitu. Dan ternyata raja Aiden sangat mencintai ratu. Apa kau lihat bagaimana


sikap raja tadi? Rasanya aku benar-benar gemas dengan kedua pasangan itu." celoteh Sunny di sepanjang lorong istana. Yuri yang mendengar itu langsung mengangguk-anggukan kepalanya semangat.


            "Raja sebenarnya adalah pria yang baik, hanya saja ia memiliki jalan hidup yang mengharuskannya untuk


menjadi sosok kejam seperti itu. Andai saja mendiang ratu dan raja terdahulu tidak dibunuh dengan kejam, mungkin raja Aiden tidak akan tumbuh menjadi raja kejam dan bertangan dingin."


            "Aku juga cukup prihatin dengan masa lalu raja Aiden yang sulit. Yah semoga saja Yang Mulia Calistha dapat membawa kebahagiaan abadi bagi raja Aiden." tutup Sunny sebelum mereka berpisah di persimpangan jalan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.

__ADS_1


            Hari ini mereka telah bekerja keras untuk menemani Calistha dan menghibur Calistha yang terus menerus murung. Dan malam ini mereka akan tidur dengan nyenyak untuk menyambut pagi yang indah besok. Pagi yang indah dan damai.


-00-


            "Maafkan aku."


            Aiden mencium dalam punggung tangan Calistha sambil memejamkan matanya penuh penghayatan. Saat ini jantungnya tengah berdegup kencang karena semua emosi yang dirasakannya. Bertemu dengan Calistha malam ini membuatnya merasa ingin meluapkan seluruh emosinya yang membingungkan. Ia rasanya ingin memeluk tubuh ramping wanita itu dan berteriak keras di depannya bahwa ia bahagia. Ia bahagia memiliki wanita itu di sisinya dan ia ingin wanita itu terus berada di sisinya selamanya. Tapi bayangan mengenai Gazelle dan Tiffany yang sedang berusaha mencelakakan Calistha langsung merusak semua bayangan bahagianya dengan Calistha. Aiden kemudian mengangkat kepalanya perlahan sambil mengamati wajah damai Calistha dalam diam. Aiden kemudian kembali memikirkan perilaku Gazelle yang sangat menjijikan beberapa menit yang lalu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita itu. Mengapa sekarang ia berubah menjadi sosok yang sangat tidak dikenalnya? Wanita itu benar-benar asing untuknya sekarang. Ia telah kehilangan sosok sahabatnya yang ceria dan juga baik hati. Ia telah kehilangan sosok Gazellenya yang dulu.


            "Calistha, aku sangat mencintaimu." bisik Aiden penuh kesungguhan di telinga Calistha. Calistha menggeliat pelan dalam tidurnya dan sesekali bergumam pelan dengan gumaman yang sulit untuk dipahami. Melihat hal itu, Aiden tersenyum kecil sambil membelai surai coklat Calistha lembut. Wanitanya rupanya sudah tertidur dengan nyenyak. Ia harap ia dapat melindungi Calistha dan calon anaknya dengan baik dari orang-orang jahat yang mengincar nyawa mereka. Tak bisa ia bayangkan hidupnya nanti jika ia kehilangan Calistha, mungkin ia akan menjadi sosok Aiden yang tersesat lagi seperti dulu.


            "Cals, maafkan aku. Hari ini aku akan membunuh Gazelle. Kau pasti tidak setuju dengan hal itu, tapi aku sudah tidak memiliki cara lain untuk menghadapi wanita itu. Ia terlalu jahat dan berbahaya untuk dibiarkan hidup. Bahkan ia sudah menggodaku dengan tubuhnya yang menjijikan itu. Tapi aku tidak mungkin akan mengkhianatimu, kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil menjeratku dan mengubah hatiku. Kau adalah keajaiban dalam hidupku."


            Aiden membisikan kata-kata itu seakan-akan Calistha benar-benar mendengarnya. Hari ini ia sedang dipenuhi oleh emosi yang terasa begitu bergejolak di dalam dadanya. Ia sangat ingin mengeluarkan semua itu pada Calistha, tapi sayangnya Calistha saat ini sedang tertidur lelap di hadapannya. Tidak masalah Calistha tidak mendengar semua curahan hatinya, yang terpenting ia telah mengungkapkan semua isi hatinya pada Calistha.


            Aiden kemudian kembali mengecup kening Calistha dalam sambil menggenggam tangan mungil Calistha. Ia merasa genggamannya dengan tangan Calistha dapat membuatnya merasa nyaman dan hangat.


Krieett


            Aiden seketika langsung mendongak waspada ketika tiba-tiba pintu kayu di kamar Calistha berderit pelan.


Seorang pelayan dengan sebuah nampan di kedua tangannya tampak melangkah masuk ke dalam kamar Calistha, namun rupanya pelayan itu belum menyadari keberadaan Aiden di kamar itu. Setelah menutup pintu di belakangnya, pelayan itu refleks membuka topi pelayannya untuk memudahkannya melihat seluruh isi kamar Calistha, dan betapa terkejutnya pelayan itu saat ia menemukan Aiden telah berada di hadapannya sambil menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh.


            "Maafkan saya Yang Mulia, saya tidak tahu jika anda sedang berada di sini." ucap pelayan itu apa adanya. Aiden menatap pelayan itu dengan tatapan menelisik tidak suka. Ia tahu, pelayan itu bukan penghuni istanannya. Pelayan itu adalah penyusup.


            "Untuk apa kau menyusup ke dalam kerajaanku? Tidak puaskah kau menghancurkan hidupku?" tanya Aiden sakarstik.


            "Maafkan saya Yang Mulia, saya tahu jika saya dan leluhur saya bersalah pada anda. Oleh karena itu saya ingin menebusnya sekarang. Saya tahu, saat ini pun leluhur saya tidak bisa tenang di alam sana karena telah memberikan kutukan pada orang sebaik anda dan menyebabkan kedua orangtua anda meninggal."


            "Memangnya apa yang akan kau lakukan di istanaku? Apa yang akan kau lakukan untuk menebus semuanya? Semuanya sudah terlambat, semua kekacauan ini sudah terjadi."


            Pelayan yang merupakan keturunan ke tiga dari penyihir yang telah memberikan kutukan pada Aiden kembali didera rasa bersalah yang sangat besar. Bertahun-tahun ia hidup dengan perasaan tidak tenang karena mendiang ibunya berpesan padanya untuk segera menyelesaikan masalah yang dilakukan oleh mendiang kakeknya. Tapi selama ini ia terlalu bingung untuk memikirkan berbagai cara agar semuanya dapat kembali


seperti dulu, karena pada kenyataanya semuanya telah terlanjur rusak dan kacau. Ia kemudian memutuskan untuk menunggu kemunculan sang ratu yang telah diramalkan kakeknya untuk mempermudah rencananya. Dan sekarang setelah sang ratu itu muncul, ia benar-benar merealisasikan niatnya untuk menyelesaikan semua masalah yang dilakukan oleh mendiang kakeknya, karena ia tahu sang ratu tidak akan luput dari incaran bayang-bayang kejahatan yang selama ini juga membayangi kehidupan Aiden. Oleh karena itu di sinilah ia sekarang, menjadi pelayan di istana Khronos untuk mengawasi gerak gerik Calistha dan orang-orang yang sedang mengincar nyawa Calistha.


            "Saya akan membantu melindungi Yang Mulia Calistha dari Tiffany dan Gazelle." ucap wanita paruh baya itu tegas. Aiden tampak tersenyum meremehkan sambil mendudukan dirinya santai di atas sofa hitam yang berada di tengah-tengah ruangan. Sedangkan pelayan itu tampak jengkel dengan sikap Aiden yang menurutnya terlalu kurang ajar pada seorang wanita tua sepertinya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Aiden atas sikap pria itu karena di sini ia adalah pihak yang bersalah.


            "Yang Mulia, saya bersungguh-sungguh dengan ucapan saya. Saya akan menjaga Yang Mulia Calistha


dan bayi anda dari perbuatan jahat Tiffany dan Gazelle. Malam ini pun saya akan menggagalkan rencana jahat Tiffany yang hendak meletakan kantong kutukan di bawah ranjang Yang Mulia Calistha."

__ADS_1


            "Kantong kutukan? Bagaimana bisa? Sial! Lagi-lagi aku tidak mendapatkan penglihatan mengenai


perbuatan mereka." Geram Aiden marah sambil mengepalkan tangannya kuat. Kekuatannya dari hari ke hari terasa semakin melemah, dan hal itu benar-benar membuatnya semakin frustrasi dalam menghadapi kehamilan Calistha.


            "Saat ini Tiffany telah bekerjasama dengan seorang penyihir hitam. Penyihir itu juga telah memberitahukan semua kekuatan anda pada Tiffany, termasuk berita mengenai melemahnya kekuatan anda karena Yang Mulia Calistha mengandung. Anda harus lebih berhati-hati pada Tiffany. Dan saya dengar hari ini Gazelle juga sedang mencoba untuk menjebak anda?"


            Aiden tiba-tiba memberi isyarat pada pelayan itu untuk duduk di depannya. Meskipun ia belum mempercayai


wanita paruh baya itu sepenuhnya, tapi melihat kesungguhan tekadnya untuk membantu melindungi Calistha membuat Aiden sedikit luluh dan ingin memberikan wanita itu kesempatan. Lagipula penyamaran wanita itu belum diketahui oleh siapapun, jadi ia bisa membantunya untuk mengawasi Calistha dari Tiffany.


            "Wanita murahan itu akan segera menemui ajalnya. Aku telah memerintahkan Spencer untuk membunuhnya." awab Aiden santai namun sarat akan dendam. Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti sambil menatap Aiden dalam. Tiba-tiba ia merasakan aura Tiffany yang begitu pekat sedang berjalan menuju ke kamar Calistha. Pelayan itu cepat-cepat berdiri dari duduknya dan segera mengambil piring-piring kotor di samping ranjang Calistha secara asal.


            "Yang Mulia anda harus segera bersembunyi, Tiffany sedang menuju kemari. Ia akan meletakan kantong kutukan itu di bawah ranjang Yang Mulia Calistha." Ucap pelayan itu terburu-buru. Aiden mengernyitkan dahinya gusar, tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini.


            "Lalu apa yang harus kulakukan? Apa aku hanya akan menjadi penonton sambil melihat Calistha dibunuh secara perlahan?"


            Pelayan itu menatap Aiden tajam dan menyuruh Aiden untuk mengikuti semua instruksinya.


            "Bakar kantong kutukan itu setelah Tiffany pergi, dan Yang Mulia Calistha akan baik-baik saja. Saya permisi Yang Mulia." Ucap pelayan itu terburu-buru. Ia langsung melangkah pergi keluar dari kamar Calistha tanpa menunggu jawaban dari Aiden terlebihdahulu.


            Sementara itu, Aiden langsung berjalan ke sudut ruangan yang tampak aman untuk dijadikan tempat persembunyian. Meskipun ia belum mempercayai pelayan itu sepenuhnya, tapi ia pikir tidak ada salahnya untuk mengikuti nasihat wanita itu karena wanita itu terlihat begitu bersungguh-sungguh untuk menjaga Calistha dan calon bayinya.


Kriett


            Tiba-tiba pintu kayu itu berderit pelan dan memunculkan sosok Tiffany yang tengah melongokan kepalanya dari balik pintu. Ia kemudian langsung memfokuskan perhatiannya pada Tiffany yang sedang menggenggam sesuatu di dalam telapak tangannya. Ia kemudian melihat Tiffany yang mulai berjalan mendekat ke arah Calistha sambil tersenyum penuh kelicikan. Andai saja ia dapat membunuh Tiffany sekarang, maka ia akan langsung menebas kepala itu dan membuatnya mati seketika di sana. Tapi sayangnya ia tidak bisa. Ia tidak bisa membunuh Tiffany di depan Calistha, karena Calistha pasti akan sangat kecewa padanya dan akan kembali membencinya seperti dulu. Saat ini ia sedang ingin menjaga hati Calistha dari apapun yang akan membuatnya merasa sedih dan stress. Ia akui, saat ini Calistha adalah kelemahan terbesarnya. Selama Calistha berada di sisinya beberapa bulan terakhir ini, ia merasa sedikit kehilangan daya untuk bersikap bengis seperti dulu. Apapun yang akan ia lakukan, ia selalu memikirkan akibatnya untuk Calistha. Bahkan setiap ia akan bersikap sedikit keras pada Calistha, ia harus memikirkannya terlebihdahulu sepajang malam. Dan terkadang itu cukup membuatnya gusar dengan dirinya sendiri. Terkadang ia merasa telah diperbudak oleh perasaannya sendiri. Tapi setiap ia berpikir seperti itu, hatinya selalu mengatakan hal sebaliknya. Hatinya selalu menguatkan dirinya untuk jangan ragu mencintai Calistha karena Calistha adalah wanita yang ditakdirkan untuknya dan Calistha tidak akan pernah mengecewakannya.


            "Adikku sayang, semoga kau menjadi lebih tenang setelah beristirahat selama tiga hari. Kuyakin rasa kesalmu pada Aiden akan berkurang setelah malam ini."


            Aiden mendengar Tiffany berseru pelan di sebelah Calistha sambil menyelipkan sebuah kantong kain kecil


dengan warna lusuh di bawah ranjang Calistha. Dengan marah Aiden langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ternyata ucapan pelayan itu benar, Tiffany memang hendak mencelakai Calistha menggunakan sihir hitam. Setelah ini ia harus mengawasi pergerakan Tiffany dan memberikan penjagaan ketat pada Tiffany agar wanita itu tidak bisa menyusup keluar dari istananya dan bertemu dengan penyihir hitam yang dibicarakan oleh pelayan itu.


            Setelah Tiffany benar-benar keluar dari kamar Calistha, Aiden langsung melompat keluar dari tempat persembunyiannya untuk mengambil kantong kutukan itu. Beruntung suara sepatunya yang beradu dengan lantai tidak menyebabkan Calistha terusik, wanita itu tampak tetap damai dalam tidurnya sambil sesekali bergerak pelan menggeser posisi tidurnya.


Srakk


            Dengan penuh kemarahan Aiden langsung melemparkan kantong kutukan itu ke dalam kobaran api perapian yang menyala tenang. Seketika kobaran api itu menjadi besar dengan api yang menjilat-jilat dari dalam perapian, seakan-akan ingin melahap Aiden masuk. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena dalam beberapa menit kobaran api itu kembali tenang seiring dengan terbakarnya kantong kutukan yang berisi sihir jahat. Melihat hal itu, Aiden dapat kembali bernafas lega sambil menatap wajah damai Calistha penuh rasa syukur. Hari ini ia berhasil mencegah perbuatan jahat Tiffany, tapi ia tidak tahu bagaimana nasib Calistha setelah ini. Ia yakin Tiffany tidak akan berhenti sampai di sini. Jika kali ini gagal, wanita itu pasti akan mencoba lagi di lain waktu. Dan ia yakin itu pasti akan terjadi sebentar lagi.


            "Aku pasti akan melindungimu, selamat tidur queen." bisik Aiden lembut sambil mencium kening Calistha lama dengan penuh emosi yang meluap-luap di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2