Queen Of Time

Queen Of Time
My Mysterious One (Fifty Three)


__ADS_3

            Aiden melangkah lebar-lebar di sepanjang koridor menuju sayap kanan istana. Perasaanya benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu Calistha. Ia merasa perlu menanyakan pada Calistha perihal wanita asing yang dibawa oleh wanita itu ke dalam istananya. Dan jika wanita itu terbukti bersikap gegabah lagi, mungkin ia akan memberikan hukuman yang lebih keras pada wanita itu.


            "Calistha." Aiden berseru lantang saat melihat Calistha yang sedang berjalan bersama Yuri dan Sunny di depannya. Wanita terlihat cukup terkejut saat menatapnya, namun sebisa mungkin Calistha bersikap tenang sambil melambaikan tangannya ringan ke arah Aiden.


            "Aiden, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Calistha heran. Aiden tampak bersikap datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sementara itu, Yuri dan Sunny langsung pamit undur diri karena mereka tidak mau mengganggu waktu pribadi sang raja dan ratu.


            "Siapa yang kau bawa ke dalam istanaku?" tanya Aiden langsung tanpa basa-basi. Seketika raut wajah Calistha menjadi pucat. Ia pikir berita mengenai wanita asing itu tidak akan secepat itu terdengar oleh Aiden, tapi nyatanya pria itu langsung mengetahuinya dan sekarang ia tengah menuntut penjelasan darinya.


Kenapa cepat sekali? "Eee.. jadi begini, aku.. aku membawa seorang wanita yang sedang sekarat untuk kuobati. Ia


sepertinya baru saja dirampok, ia terlihat sangat menyedihkan dan tak berdaya. Dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di luar sana." jelas Calistha dengan wajah memelas. Aiden masih menatap kedua manik Calistha datar tanpa berniat untuk mengalihkan tatapan matanya yang menusuk pada objek lain. Kali ini ia harus lebih keras lagi pada Calistha agar wanita itu tidak terus-menerus hidup dengan sesuka hati tanpa menghormatinya sebagai raja.


            "Kau langsung membawanya ke istanaku? Apa kau pikir kau mempunyai kuasa di sini?" tanya Aiden datar penuh amarah. Calistha meneguk salivanya susah payah sambil terus mencoba untuk mempertahankan dirinya yang sedang diintimidasi oleh Aiden. Meskipun pria itu adalah raja dan memiliki hak penuh di sini, tapi ia tidak akan membiarkan Aiden menguasainya. Sebisa mungkin ia akan menunjukan pada Aiden jika ia bukan wanita lemah yang mudah ditindas oleh kearogansian pria itu. Dan soal kuasa yang dipertanyakan oleh pria itu, ia memang tidak memilikinya. Tapi secepatnya ia akan segera memiliki kuasa itu.


            "Aku memang tidak memiliki kuasa apapun di sini, tapi aku menolong wanita itu berdasarkan hati nurani. Bukankah kau menyayangi rakyatmu? Kau tidak ingin mereka terluka bukan? Jadi biarkan wanita itu tetap tinggal di sini, aku yang akan merawatnya."


             "Aku tidak menanyakan hati nuranimu ataupun kebaikanmu pada wanita itu, tapi aku menanyakan kuasamu? Kau tidak seharusnya memasukan wanita asing itu ke dalam istanaku tanpa persetujuan dariku? Apa kau tidak sadar dengan banyaknya bahaya yang berkeliaran di sekitarmu? Mungkin saja wanita itu jahat dan salah satu dari orang-orang yang menginginkanmu mati. Apa kau tidak pernah memikirkan hal itu?"


                Aiden berseru lantang dengan penuh kemurkaan. Sedangkan Calistha tampak sudah bersiap untuk membalas pria itu. Ia pikir Aiden sudah berlebihan dan terlalu ketakutan dengan keadaanya yang sebenarnya baik-baik saja. Ia merasa wanita itu sama sekali tidak berbahaya. Dan ia yakin wanita itu tidak akan mencelakakannya.


            "Kurasa kau sudah terlalu berlebihan Aiden. Kau terlalu takut dengan bayang-bayang masa lalumu yang kelam. Padahal semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Jelas-jelas wanita itu bukan wanita jahat yang akan mencelakaiku, wanita itu adalah wanita lemah yang perlu ditolong dan diselamatkan. Kuharap kau mengerti dengan


maksudku dan tidak perlu terlalu berlebihan dalam menjagaku, aku bisa menjaga diriku sendiri." ucap Calistha tegas. Aiden tampak terdiam di tempat dengan jawaban Calistha. Dan sedetik kemudian pria itu langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Calistha.


             Melihat Aiden yang langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun membuat Calistha merasa


kesal dan juga merasa bersalah disaat yang bersamaan. Ia pikir Aiden akhir-akhir ini terlalu sensitif dan mudah sekali tersinggung dengan ucapannya, padahal ia tidak berniat untuk menyinggung pria itu, ia hanya ingin menyadarkan pria itu dari ketakutannya yang berlebihan akan keselamatan jiwanya.


            "Huhh.." Calistha menghembuskan nafasnya pelan, dan kemudian ia segera pergi meninggalkan lorong itu untuk beristirahat di kamarnya. Terlalu lama berdebat dengan Aiden membuat seluruh tenaganya terkuras hanya untuk menahan seluruh emosinya pada pria itu. Dan akhirnya jalan satu-satunya untuk meredakan kekesalannya hari ini adalah dengan menghindari pria itu dan membatasi kontak dengan pria itu. Karena satu-satunya hal yang bisa meredakan perang dingin yang terjadi diantara mereka hanyalah waktu. Ya, ini hanyalah masalah waktu.


-00-


            Pria bermata gelap itu menatap wanita di depannya sambil mengerutkan dahinya bingung. Dilihatnya saat


ini sang wanita tengah tertidur dengan wajah gelisah dan dahi yang terus berkerut gusar. Entah mimpi apa yang saat ini tengah dialami oleh wanita itu, yang jelas ia terlihat begitu terganggu dan tidak nyaman.


            Dielusnya dahi itu lembut untuk menghilangkan kerutan-kerutan samar yang tercetak jelas di dahi indahnya. Kemudian ia mengecup dahi itu lembut sambil membisikan kata-kata pengantar tidur yang begitu menenangkan sambil menggenggam tangan-tangan mungil itu erat di dalam telapak tangannya yang hangat.


            "Sayang, nikmatilah semua hal yang kau rasakan saat ini. Aku akan tetap menunggumu di sini hingga kau membuka matamu untukku."


-00-


             Tiffany berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam istana Khronos dengan wajah dingin dan marah. Hari ini ia


berencana untuk menemui Aiden dan memaki pria itu dengan seluruh amarah yang dipendamnya. Ia merasa sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama untuk menyerang pria kejam itu. Setidaknya hari ini ia ingin meluapkan rasa kesalnya dengan memaki-maki Aiden sepuasnya dan setelah itu ia akan kembali berlindung dibawah lengan Calistha yang nyaman. Ya, setelah ia selesai menumpahkan seluruh kemarahannya pada Aiden ia akan berlari pada Calistha dan bersikap seperti seorang anak kecil yang memerlukan perlindungan dari pria jahat sekelas Aiden.


            "Aku ingin bertemu raja Aiden." Tiffany berseru dingin pada dua penjaga yang bersiaga di depan pintu ruangan Aiden. Penjaga-penjaga itu menatap Tiffany sekilas dan setelah itu segera mengijinkan wanita itu untuk masuk ke dalam. Setelah dua pengawal itu memberikan jalan, Tiffany tanpa ragu langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruangan pribadi Aiden, dan kedua manik karamelnya tanpa takut sedikitpun langsung menantang manik gelap Aiden yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan menusuk.

__ADS_1


            "Selamat siang adik iparku, raja Aiden yang terhormat." sapa Tiffany santai namun penuh dengan kesinisan. Aiden yang tak menyangka jika Tiffany akan mendatanginya dengan cepat seperti ini langsung menyeringai sinis dibalik kursi kebesarannya yang gelap. Tatapan matanya yang setajam tatapan elang tampak bersinar mengerikan di dalam suasana kamarnya yang selalu temaram. Pria itu memberikan isyarat pada Tiffany untuk duduk di salah satu kursi di depannya sambil memberikan tatapan penuh ejekan.


            "Jadi setelah kau kehilangan salah satu teman jahatmu hari ini kau memutuskan untuk menyerah padaku?"


            Tiffany menatap kedua manik gelap Aiden penuh kebencian sambil melipat kedua tangannya di depan dada penuh kesombongan. Bahkan meskipun ia dalam keadaan sekarat dan hampir mati sekalipun, ia tidak akan sudi untuk menyerah begitu saja pada Aiden. Selamanya ia akan tetap membenci pria itu dan menganggap pria itu sebagai musuh.


            "Huh, menyerah? Kau pikir aku selemah itu? Aku tidak akan menyerah begitu saja padamu. Justru kedatanganku ke sini karena aku ingin menegaskan padamu jika aku masih tetap kuat walaupun kau telah menghancurkan seluruh rencanaku dan membunuh semua orang-orang yang berada di pihakku. Aku tidak akan pernah menyerah di bawah kuasamu. Tanpa mereka, aku akan tetap membunuhmu dan menghancurkan


Calistha." ucap Tiffany penuh keyakinan. Nafasnya tampak memburu, seolah-olah ia baru saja berlari dengan jarak ribuan kilometer jauhnya. Wanita itu saat ini sedang dalam kondisi yang benar-benar tidak bersahabat. Jika Aiden terus memancingnya dengan kata-kata sinis dan mencemoohnya, tidak menutup kemungkinan Tiffany akan bertindak nekat dan menyerangnya saat ini dengan brutal.


            "Begitukah? Tapi aku tidak yakin. Memangnya apa yang bisa kau lakukan tanpa mereka? Selama ini kau hanya menjadi bayang-bayang mereka. Kau tak ubahnya seperti seekor kutu yang selalu hinggap di rambut orang-orang. Kau parasit yang menjijikan Tiffany."


              Aiden mencemooh wanita itu habis-habisan dengan kata-katanya yang tajam dan menyakitkan. Sementara itu Tiffany sudah terlihat begitu marah sambil mengepalkan kedua tangannya di balik tubuhnya. Ingin rasanya ia menyerang pria arogan yang saat ini tengah menyeringai licik di depannya sambil melayangkan tatapan mencemooh yang begitu menyebalkan. Ekor matanya memindai seluruh ruangan Aiden untuk mencari sebuah senjata yang kira-kira dapat ia gunakan untuk menyerang Aiden. Rasanya momen kali ini akan sangat pas untuknya menyerang Aiden karena saat ini mereka berdua benar-benar sedang saling berhadapan satu sama lain. Jika ia dapat menemukan pedang atau sebuah benda runcing lain, ia dapat melukai Aiden dengan mudah.


            "Kau mencari sebuah senjata? Tepat di bawah kakimu aku menyimpan sebuah belati. Jika kau ingin menggunakannya untuk menyerangku, maka ambilah. Aku akan sangat senang sekali jika kau ingin melawanku sekarang. Bukankah waktunya sudah sangat pas? Kita, berada di dalam sebuah ruangan yang sunyi dan gelap, tanpa ada seorangpun di sini selain kita berdua. Jika kau berhasil melukaiku, tidak akan ada satupun yang melihatnya. Kau bisa menceritakan cerita omong kosongmu pada orang-orang dan meyakinkan mereka jika kau bukan pelaku yang melukaiku. Dan yang terpenting kau bisa meracuni pikiran Calistha dengan kata-katamu yang seperti racun itu." ucap Aiden menyindir. Tiffany melirik sekilas lantai marmer yang berada di bawah kakinya. Tepat di sebelah kanan kakinya, ia melihat sebuah belati kecil yang terselip di bawah ruang penyimpanan tersembunyi di bawah kursi yang ia duduki. Ternayata pria itu tidak main-main dengan kata-katanya. Ia benar-benar menantangnya untuk menyerangnya saat ini.


            "Jadi kau baru saja membaca pikiranku? Hebat! Kau memang sangat tahu apa yang kuinginkan saat ini adik ipar. Kalau begitu, aku akan mengambil belati ini sekarang."


            Tiffany segera menundukan tubuhnya untuk mengambil belati itu dari bawah kursinya. Pasti akan sangat menyenangkan jika ujung runcing belati itu dapat menancap di dada sebelah kiri Aiden. Dirabanya ujung belati yang dingin itu perlahan. Pada sentuhan pertama Tiffany dapat merasakan bagaimana tajam dan berbahaya belati itu jika digunakan untuk menyerang lawannya. Dan ia yakin belati itu dapat digunakan untuk membunuh Aiden.


Sringg


            Sebuah benda dingin tiba-tiba menempel di leher Tiffany dan membuat wanita itu langsung menyeringai


sinis. Pria itu, tentu saja bukan pria bodoh dan ***** yang akan membiarkannya menggunakan belati itu dengan mudah. Pria itu sebenarnya pasti telah memiliki rencana lain di dalam kepalanya.


aku tidak memiliki senjata apapun dibalik jubah kebesaranku ini bukan?"


                Tiffany mendongakan kepalanya santai dan tersenyum remeh pada Aiden. Apakah pria itu mengira jika


ia sebodoh itu? Tentu saja ia sudah memperkirakannya. Seorang Aiden tidak mungkin tidak menyembunyikan pedang dibalik jubah kebesarannya yang mewah. Apalagi selama ini pria itu selalu dikelilingin oleh orang-orang jahat yang sudah siap untuk membunuhnya, sudah pasti pria itu selalu menyembunyikan senjata untuk melawan setiap musuhnya yang hendak mendekat dan menghabisinya dengan keji.


            "Hahaha, tentu saja aku tidak sebodoh itu adik ipar. Aku sudah tahu semua gelagatmu yang mencurigakan itu."


Cring


Klak


            Tiffany mengayunkan belatinya dengan keras tepat ke arah pedang Aiden yang bersarang di lehernya.


Bunyi pedang yang saling beradu dengan belati terdengar begitu nyaring di dalam ruangan Aiden yang begitu sunyi. Dua mata itu kini saling bertatapan satu sama lain dengan penuh permusuhan. Mereka berdua terlihat benar-benar sudah siap untuk saling menyerang satu sama lain.


            "Aku... ingin... membunuhmu... saat... ini.. juga Aiden." desis Tiffany pelan penuh penekanan. Sementara itu Aiden hanya menanggapi wanita itu santai sambil mengendikan bahunya acuh. Apapun yang akan wanita itu lakukan padanya, ia siap untuk menerimanya. Ia akan menghadapi setiap serangan yang dilayangkan wanita itu padanya dengan penuh sukacita, karena ia sangat menyukai pertarungan yang begitu memacu adrenalin seperti saat ini.


            "Tentu, kau bisa melakukannya sekarang."


Tak

__ADS_1


Sring


             Tanpa menunggu lebih lama lagi Tiffany langsung mengarahkan belatinya pada dada kiri Aiden. TapiAiden dengan sigap langsung menangkis serangan wanita itu dengan pedangnya yang panjang dan berusaha untuk menjatuhkan belati itu dari tangan Tiffany. Sabetan demi sabetan ia layangkan pada Tiffany dan berhasil mengenai lengan kiri Tiffany hingga wanita itu merintih kesakitan. Namun luka itu tampak tidak mempengaruhi niat Tiffany untuk membunuh Aiden. Wanita itu dengan gigih tetap memberikan serangan-serangan pada Aiden meskipun saat ini lengannya terasa begitu perih dan sakit.


Sring! Brakk!


            Serangan Tiffany yang membabi buta menyebabkan meja kayu yang berada di depannya jatuh terguling karena kebrutalannya. Dan meja kayu itu sukses menimpa kaki Aiden, namun Aiden berhasil menendangnya dan menyingkirkannya dari kakinya yang berdenyut. Tak bisa ia pungkiri, jika Tiffany adalah petarung yang tangguh. Dan jiwa itu juga pernah ia lihat dari Calistha saat mereka berdua sedang bertarung melawan prajurit Bibury beberapa bulan yang lalu.


Takk


            Lagi-lagi Tiffany menyerangnya dan hampir menggoras lengan kanannya, namun ia berhasil menghindar dan menyebabkan belati itu berbenturan dengan pedangnya. Tetes demi tetes darah berjatuhan mengotori lantai marmer putih semula bersih. Kini Aiden pun juga terlihat memiliki beberapa luka di tubuhnya. Meskipun Tiffany adalah seorang wanita, namun kemampuannya dalam memegang senjata benar-benar sangat baik. Wanita itu bahkan berhasil melukai bagian-bagian tubuhnya yang sebenarnya sangat sulit untuk dijangkau dengan belatinya yang kecil dan pendek. Ia benar-benar tidak bisa meremehkan Tiffany begitu saja.


            "Hosh hosh hosh, aku tidak akan menyerah hingga kau benar-benar mati di tanganku." ucap Tiffany susah payah dengan nafas memburu. Sebagian bajunya telah robek dan kulitnya juga mengelurkan darah segar yang terus menetes di atas lantai marmer yang saat ini terlihat begitu kotor. Namun tekadnya untuk membunuh Aiden begitu kuat, hingga ia tidak mau menyerah begitu saja di bawah kaki Aiden. Ia justru semakin berambisi untuk mengalahkan Aiden dan membuktikan pada pria itu jika ia adalah wanita tangguh yang sangat berbahaya.


            "Kau memang wanita yang tangguh Tiffany, tapi aku tidak akan membiarkanmu hidup dan menang melawanku."


            Aiden kemudian kembali menyerang Tiffany dengan serangan bertubi-tubi yang mematikan. Pria itu kini tidak ingin bermain-main lagi dengan Tiffany dan ingin segera menyelesaikan duel mereka yang penuh akan dendam itu. Lagipula ia sudah tidak sabar untuk membunuh Tiffany dan membuat wanita itu berakhir hari ini juga dengan seluruh rencana liciknya. Ia rasa ini adalah saat yang tepat untuk mematahkan sayap terakhir Tiffany.


Takk


            "Akhh."


            "Aiden!"


            Tiffany merintih kesakitan, disusul dengan suara teriakan Calistha dari ambang pintu yang terlihat murka. Wanita cantik itu langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan Aiden dan menubruk Tiffany untuk menolong wanita itu yang terluka. Sedangkan Aiden hanya menatap drama picisan antara Tiffany dengan Calistha datar sambil


menendang belati tajam yang berhasil ia singkirkan dari tangan Tiffany. Padahal tinggal sedikit lagi ia dapat menebas kepala wanita licik itu dengan pedangnya, namun sayang, Calistha harus datang disaat yang tidak tepat dan merusak semua rencananya untuk membunuh Tiffany hari ini. Padahal tadi ia sudah berhasil menyerang Tiffany dan membuat pergelangan tangan wanita itu terluka karena pedangnya, tapi lagi-lagi keberuntungan belum memihak padanya. Kali ini Tuhan masih memberikan Tiffany kesempatan untuk hidup, atau untuk membuat rencana lain yang lebih jahat.


            "Apa yang kau lakukan pada saudaraku?"


            Kali ini Aiden harus bersiap untuk menghadapi kemarahan Calistha yang berapi-api. Akhirnya apa yang ia takutkan benar-benar terjadi, Calistha hari ini melihatnya sedang menyakiti Tiffany dan hampi saja membunuhnya. Ia berani bertaruh setelah ini hubungannya pasti akan semakin memburuk dan lebih terpuruk dari pertengkarang mereka selama ini.


            "Dia wanita jahat."


             Hanya satu kalimat itu yang bisa Aiden ucapkan pada Calistha. Pria itu saat ini merasa tidak bisa mengucapkan kata-kata lain selain kata-kata itu untuk mendiskripsikan sikap Tiffany selama ini. Tapi, apakah dengan kalimat itu Calistha akan percaya padanya? Jawabannya tentu saja tidak!


            "Kau hampir saja membunuh kakakku Aiden. Sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu? Kenapa menganggap semua orang yang berhubungan denganku adalah orang-orang jahat? Tidak bisakah kau menyingkirkan pikiran itu dari kepalamu? Kurasa kali ini kau sudah berlebihan Aiden. Dan jika Tiffany mengalami luka yang parah karena perbuatanmu, aku akan pergi dari kerajaan ini dan aku akan membatalkan semua


rencana pernikahan kita. Persetan dengan kutukan dan bayi yang saat ini kukandung, aku bisa membesarkannya sendiri tanpa bantuanmu."


            Aiden menggeram marah dengan keputusan sepihak yang dilayangkan oleh Calistha. Wanita itu selalu seenaknya saja memutuskan segalanya tanpa berpikir panjang terlebihdahulu. Tidakkah wanita itu melihat bagaimana wajah puas Tiffany yang saat ini tengah tersenyum penuh kemenangan dibelakangnya? Sial!!


            "Kupikir kau sudah salah menilai saudaramu Calistha? Dan untuk keputusan sepihakmu itu, aku jelas-jelas menolak. Jika kau berani melangkahkan kakimu seinchipun keluar dari istanaku, kau akan melihat kemarahanku yang dahsyat." Ancam Aiden tak kalah mengerikan.


            "Terserah apa yang akan kau lakukan setelah ini, aku tidak peduli! Bahkan jika kau ingin menyatakan perang dan menyakiti seluruh orang-orang yang tak bersalah di luar sana, aku tidak peduli! Aku sudah benar-benar muak dengan sikapmu yang kasar ini Aiden. Aku muak hidup denganmu!"


            Wanita itu mendengus marah dan segera pergi sambil memapah Tiffany yang terluka cukup parah di beberapa bagian tubuhnya. Sementara itu sembari memapah Tiffany menjauh dari ruangan Aiden, Calistha dapat mendengar suara barang-barang yang pecah dan berjatuhan dari dalam ruangan Aiden. Entah apa yang dilakukan pria itu untuk menyalurkan kemarahannya kali ini, yang jelas pria itu saat ini benar-benar marah dan sedang melampiaskan kemarahannya dengan merusak seluruh isi kamarnya dengan seluruh sisi liarnya yang mengerikan. Setelah ini ia harus memperingatkan seluruh penghuni istana agar jangan mendekat ke ruangan Aiden untuk sementara waktu, karena nyawa mereka bisa saja dalam bahaya.

__ADS_1


__ADS_2