Queen Of Time

Queen Of Time
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)


__ADS_3

Kriett


            Suara derit pintu kayu yang dibuka membuat Calistha langsung melompat bangun dari posisi tidurnya. Melihat Aiden yang datang, Calistha hanya mampu menundukan kepalanya tanpa berani untuk menghampiri Aiden yang saat ini sedang berjalan menghampirinya. Ia merasa tidak tahu harus melakukan apa pada Aiden. Ia masih merasa bersalah dengan semua sikap jahatnya pada pria itu.


            "Kau belum tidur?"


            "Apa? Aa belum, aku baru saja masuk." jawab Calistha seadanya. Aiden hanya mengendikan bahu ringan sambil tetap berjalan menghampiri Calistha yang masih setia berdiri di tempatnya dengan tubuh kaku.


            "Ada apa denganmu? Apa kau sakit?"


            Tangan kanan Aiden langsung terulur ke depan untuk meraba kulit dahi Calistha yang berkerut. Namun Calistha justru berjalan mundur sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan telapak tangan Aiden masih menggantung di udara.


            "Kau menghindariku?" tanya Aiden datar. Tangan kanannya ia turunkan perlahan namun langkah kakinya


tetap berjalan maju untuk menggapai Calistha. Ia tahu wanita itu saat ini merasa takut padanya karena insiden sore tadi.


            "Maafkan aku."


            Kini Calistha memberanikan diri untuk menatap manik legam Aiden dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. Wanita itu terlihat begitu terluka dam merasa bersalah dengan semua hal yang telah ia lakukan. Lalu sedetik kemudian Calistha langsung mengangkat tangannya untuk merengkuh tubuh Aiden ke dalam pelukannya. Ia sangat merindukan Aiden.


            "Maafkan aku, aku mengaku salah." ucap Calistha lirih. Aiden menepuk punggung Calistha pelan sambil menghela napas kecil. Wanita itu memang membingungkan. Ia tidak tahu bagaimana pola pikir Calistha sebenarnya, tapi Calistha benar-benar membuatnya bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah. Apakah itu karena kehamilannya?


            "Darimana saja kau?"


            "Aku hanya pergi ke luar untuk menjernihkan pikiranku." bohong Calistha dengan ragu. Saat ini ia tidak mungkin mengatakan pada Aiden jika ia berniat untuk kabur dari kerajaannya. Malam ini ia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Aiden yang sore tadi sempat terganggu, dan ia tidak akan berusaha untuk memancing konfrontasi apapun pada Aiden, kecuali jika pria itu yang memulainya.


            "Tanpa ijin dariku dan tanpa ditemani oleh Yuri dan Sunny? Apa kau berniat untuk kabur dari kerajaanku, dan dariku?" selidik Aiden sambil menelisik wajahnya. Seketika pipi Calistha menjadi bersemu merah karena jarak wajah Aiden yang begitu dekat dengan wajahnya. Meskipun mereka sudah pernah berada dalam jarak sedekat itu, tapi tetap saja Calistha akan merasa merona jika Aiden berada dalam jarak yang sedekat ini.


            "Tttidak, aku benar-benar hanya ingin menjernihkan pikiranku." elak Calistha terbata-bata sambil mencoba untuk menjauh dari Aiden. Tapi Aiden langsung menahan langkahnya karena pria itu masih belum selesai dengannya. Pria itu masih ingin menanyakan banyak hal pada Calistha sekaligus memberikan hukuman atas perbuatan nekat yang wanita itu lakukan.


            "Aku tahu kau berbohong padaku, kau berniat kabur dari istanaku karena aku membentakmu dengan sangat kasar sore tadi. Ck, ternyata kau sepengecut itu. Kau dengan mudahnya lari dari masalah yang kau perbuat dengan kabur dariku. Apakah semua keturunan raja Kairos memang seperti itu?"


            Calistha langsung merasa tersinggung dengan ucapan Aiden. Meskipun ia pengecut karena berniat untuk kabur dan menghindari masalahnya dengan Aiden, tapi ia tidak suka jika kerajaannya dan kedua orangtuanya harus dilibatkan dalam masalah ini. Jelas-jelas semua ini tidak ada hubungannyaa dengan mereka, untuk apa Aiden menyeret mereka ke dalam masalah ini? Apa karena Aiden sangat membenci keluarganya dan kerajaanya yang telah menyebabkan hidupnya menderita selama ini?


            "Mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini. Semua sikapku ini bukan karena aku adalah keturunan dari kerajaan Kairos, tapi karena sikapmu yang menyebalkan." ucap Calistha geram. Aiden tampak menyeringai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia suka melihat Calistha dalam keadaan marah seperti ini. Karena


Calistha akan terlihat lebih cantik dan juga seksi saat marah.


            "Tentu saja mereka berhungan dengan semua ini, karena mereka telah menyumbangkan salah satu sifat menyebalkanmu yang pembangkang dan suka berbuat semaumu sendiri. Memangnya siapa lagi yang akan mewariskan sifat itu jika bukan kedua orangtuamu, raja dan ratu Kairos."


            "Hentikan! Aku tahu jika mereka telah membuat hidupmu menjadi berantakan seperti ini, tapi kumohon jangan melibatkan mereka dalam masalah ini karena mereka memang benar-benar tidak ada hubungannya dengan semua ini. Semua ini karena sikap keras kepala dan sikap egoisku yang besar. Aku mengaku salah, aku memang berniat untuk kabur dan pergi sejauh-jauhnya darimu."


            "Kau berniat memisahkanku dengan anakku sendiri?" tanya Aiden dengan ekspresi wajah murka. Calistha tampak menghela nafas pelan sambil menatap Aiden penuh penyesalan. Ia merasa masalah ini akan sangat panjang nantinya.


            "Aku tidak bermaksud akan memisahkanmu dengan anak ini, aku hanya ingin pergi darimu karena aku merasa bersalah. Aku merasa tidak pantas menjadi ratumu karena aku tidak pernah memberikan apapun padamu. Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku. Bahkan kau memberikan posisi yang sangat tinggi untukku. Aku malu pada diriku sendiri Aiden, aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan semua itu." teriak Calistha frustrasi. Aiden menatap datar Calistha tanpa kata dan hanya memandang wajah sendu itu tanpa ekspresi. Entah apa yang saat ini tengah dipikirkan Aiden tentangnya, yang jelas ia merasa pasrah dengan semua hal yang akan dilakukan Aiden padanya. Jika Aiden memang ingin memarahinya dan menghujaninya dengan berbagai macam makian, ia akan menerima semua itu dengan lapang dada. Asalkan Aiden tidak mengungkit-ungkit keluarganya yang telah tenang di alam sana, ia tidak suka jika keluargannya dijadikan sebagai alasan atas sikapnya yang keras kepala dan pembangkang ini.


            "Kau sudah selesai? Apa kau merasa puas dengan semua hal yang kau lakukan hari ini? Apa kau puas telah membuat seluruh pengawalku kelelahan hanya untuk mencarimu ke seluruh penjuru Khronos?" tanya Aiden datar.

__ADS_1


            "Aiden, terkadang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku saat ini. Aku takut. Aku


memiliki banyak ketakutan di dalam kepalaku yang membuatku selalu takut untuk mencintaimu dan memberikan seluruh hidupku untukmu. Maaf, aku belum mempercayaimu sepenuhnya. Tapi aku juga tidak akan menampik jika aku mulai nyaman berada di dekatmu dan aku juga merasa kosong jika kau tidak muncul di hadapanku. Dan yang terpenting kau adalah ayah dari bayi yang kukandung. Kita telah memiliki ikatan yang sangat kuat dengan kehadiran bayi ini. Jadi kuharap kau bisa menungguku. Tapi jika kau tidak bisa menunggu, kau bisa mencari wanita lain yang lebih mencintaimu daripada aku." ucap Calistha lirih. Aiden jelas-jelas tidak menyukai ucapan Calistha yang terakhir karena wanita itu seakan-akan mengijinkannya untuk berselingkuh dengan wanita lain. Lalu apa artinya semua kemarahannya hari ini jika Calistha masih tetap mengijinkannya untuk mencintai wanita lain, sementara ia telah menjelaskan pada wanita itu jika ia tidak mungkin mencintai wanita lain selain dirinya.


            "Memangnya siapa yang berhak memutuskan hal itu? Ini adalah hidupku, aku bebas memilih wanitaku sendiri. Dan aku sudah memutuskan untuk memilihmu, meskipun kau keras kepala, pembangkang, dan berasal dari keturunan Kairos, aku tidak peduli."


            "Hah, aku tidak tahu apa yang harus kukatan padamu selain ucapan terimakasih. Terimakasih Aiden atas ketulusan hatimu, aku... aku akan berusaha untuk mencintaimu sepenuh hati."


            Calistha kemudian memberanikan diri untuk mencium bibir Aiden sebagai hadiah atas ketulusan dan kesungguhan pria itu mencintainya. Tak pernah terbayang sebelumnya di dalam benaknya bahwa ia akan mendapatkan cinta yang begitu besar seperti ini. Betapa beruntungnya ia karena terlahir sebagi pasangan dari Aiden, karena pria yang ditakdirkan untuknya benar-benar sangat sempurna dan ia tidak yakin bisa mendapatkan pria lain yang sebaik dan setulus Aiden seperti ini.


            Aiden membalas pangutan yang dimulai Calistha dengan ciuman penuh perasaan dan menggebu-gebu. Rasanya bibir merah itu telah menjadi candu tersendiri baginya. Ia tidak bisa melupakan rasa bibir itu setiap ia sedang berada jauh dari Calistha. Menurutnya bibirnya dan bibir milik Calistha memiliki daya tarik yang begitu kuat seperti dua batang magnet yang akan terus tertarik satu sama lain dimanapun dan kapanpun mereka berada.


Kruukk


            Ciuman mereka tiba-tiba terhenti ketika Aiden mendengar suara aneh yang berasal dari tubuh Calistha. Sedangkan Calistha tampak begitu terkejut sambil menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di wajahnya. Baru saja perutnya berbunyi cukup nyaring karena siang ini ia belum memakan apapun. Sebenarnya malam ini ia berniat untuk makan, tapi ia justru bermasalah dengan Aiden hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan makan malamnya dan memilih untuk pergi dari istana Khronos. Tapi lihat saja apa yang terjadi dari hasil perbuatannya itu, ia saat ini justru merasa lapar setengah mati dan berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Aiden. Setelah ini ia yakin Aiden akan mengolok-olok suara perutnya yang berisik dan memalukan itu.


            "Kau lapar? Kau belum makan?"


            Calistha mengangguk pasrah sambil memeluk perutnya erat. Aiden kemudian kembali berdecak sambil menarik lengan Calistha untuk keluar dari kamarnya. Ia akan membawa Calistha ke dapur agar wanita itu dapat meminta pada koki istana untuk memasakan makanan sesuai dengan keinginannya. Apalagi saat ini Calistha sedang hamil, dan biasanya wanita hamil terkadang menginginkan sesuatu untuk dimakan sebagai akibat dari lonjakan hormon yang dialaminya.


            "Kita mau kemana?" tanya Calistha heran. Tiba-tiba saja Aiden menariknya keluar dari kamarnya dan diseret menuju bagian lain istana. Tapi ia sudah dapat menduga jika Aiden pasti akan menyeretnya menuju dapur karena tidak ada tempat lain yang akan didatangi Aiden setelah pria itu dengan telinganya sendiri mendengar suara perutnya yang kelaparan.


            "Dapur, kau bisa meminta koki istana untuk memasakan makanan yang kau suka." jawab Aiden datar. Kali ini Calistha memilih mengalah dengan diam dan hanya mengikuti langkah lebar kaki Aiden yang terus membawanya menuju dapur.


            "Yang Mulia, selamat malam."


            "Tunggu, aku sedang tidak ingin memintamu untuk memasakanku makanan. Aku dan bayiku ingin memakan masakan yang dibuat oleh raja Aiden." ucap Calistha lembut pada pelayan itu. Seketika Aiden langsung mendengus di sebelah Calistha dan tetap meminta koki itu untuk memasak.


            "Jangan bercanda Cals, kau akan memakan masakan dari koki istana." geram Aiden jengkel. Jika Calistha terus menguji kesabarannya seperti ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Calistha nanti. Ia merasa benar-benar sudah kehabisan kesabaran dengan sikap Calistha yang kelewat menyebalkan hari ini.


            "Aku tidak mau, aku hanya ingin makanan yang dibuat olehmu. Entah mengapa aku sangat ingin melihatmu memasak. Aiden, kumohon... aku dan bayiku membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, dan sekarang kami merasa lapar." rengek Calistha kekanakan. Aiden tampak menipiskan bibirnya jengkel sambil menatap penuh intimidasi pada koki istana yang sedang menatapnya dan juga Calistha dengan tatapan mata geli.


            "Apa yang kau lihat? Kau ingin aku mencongkel kedua matamu yang lacang itu, hah?" bentak Aiden mengerikan. Koki istana itu langsung menundukan kepalanya dan tampak tidak berani menatap Aiden dan Calistha lagi. Sementara itu, Calistha langsung terkikik pelan ketika melihat reaksi koki istana itu yang sangat lucu. Padahal Aiden tidak mungkin melakukan hal itu, tapi ia sudah sangat ketakutan dan bergetar seperti itu. Lain kali ia akan menasehati Aiden agar ia jangan terlalu keras pada pelayan-pelayannya.


            "Maafkan saya Yang Mulia, saya tidak bermaksud seperti itu. Jika anda ingin memasak untuk Yang Mulia Calistha, anda bisa menggunakan dapur sekarang." ucap koki itu masih dengan kepala menunduk. Aiden menatap Calistha dengan sorot datar, sedangkan Calistha tampak memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Sambil membuang nafas gusar, Aiden lalu memerintahkan koki itu untuk membawanya ke lemari penyimpanan bahan makanan, karena ia akan memasak makanan untuk Calistha dan bayinya.


            "Tunjukan dimana letak lemari penyimpanan bahan makanan padaku." titah Aiden penuh kuasa. Mendengar hal itu Calistha langsung bersorak girang sambil berjalan mengikuti Aiden yang telah terlebihdahulu berjalan meninggalkannya. Salah satu tangannya yang bebas refleks mengelus perutnya yang rata sambil bergumam pada calon bayinya jika hari ini mereka akan memakan masakan Aiden yang sangat lezat.


            "Nak, sebentar lagi kita akan memakan masakan buatan ayahmu." celoteh Calistha riang.


            Sementara itu Aiden yang berada di depannya tampak mendengus kesal pada sikap Calistha yang terus menerus merepotkannya. Wanita itu benar-benar telah membuatnya harus merasakan emosi yang meluap-luap di dalam hatinya dan juga membuatnya harus ekstra bersabar dalam menghadapi kehamilannya yang mulai aneh. Sekarang Calistha lebih cengeng dan suka merajuk padanya jika ia sudah mulai berlaku keras pada wanita itu. Dan dengan seenaknya wanita itu menyuruhnya untuk memasak makanan, padahal ia sama sekali tidak pernah memasak. Satu-satunya resep masakan yang diketahuinya adalah cara membuat sup jamur yang pernah diajarkan oleh mendiang ibunya bertahun-tahun lalu. Tapi ia berharap semoga Calistha menyukainya, karena ia benar-benar tidak bisa memasakan makanan lain selain itu. Lagipula jika Calistha tidak menyukainya, sudah pasti ia akan memarahi wanita itu habis-habisan dan menghukumnya karena telah mempermalukannya di depan seluruh koki istana. Bagaimana tidak, seorang raja yang selalu dingin dan arogan tiba-tiba masuk ke dalam dapur untuk membuat semangkuk sup jamur, rasanya itu terlihat aneh dan menggelikan.


            "Ini adalah lemari penyimpanan bahan sayuran dan daging. Sedangkan lemari berwarna abu-abu itu adalah tempat penyimpanan bahan-bahan kering seperti jamur dan bumbu-bumbu. Lalu lemari coklat yang berada di ujung ruangan adalah tempat untuk menyimpan gandum." terang koki itu menjelaskan. Seluruh penghuni dapur yang awalnya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing langsung menegang kaku di tempat sambil mencuri-curi pandang pada Aiden dan Calistha yang tiba-tiba datang ke dalam area mereka. Melihat hal itu, Calistha langsung tersenyum lembut pada mereka dan menyuruh mereka untuk tetap berkonsentrasi pada pekerjaan mereka. Namun Aiden, pria itu justru memasang wajah galaknya yang mengerikan sambil menebarkan aura mengintimidasi pada seluruh penghuni dapur yang berani mencuri-curi pandang padanya.


            "Apa yang kalian lihat? Kembali pada pekerjaan kalian! Apa kalian ingin pedangku ini melayang di kedua mata kalian." teriak Aiden galak. Seluruh tatapan mata yang awalnya sibuk mencuri-curi pandang langsung beralih begitu saja tanpa berani untuk menatap Aiden dan Calistha lagi.


                "Sediakan aku satu tempat untuk memasak sup jamur, dan aku akan mengambil bahan-bahan makanan yang kuperlukan sendiri." ucap Aiden pada koki istana. Setelah itu Aiden langsung berjalan begitu saja menuju lemari penyimpanan sayur dan daging untuk mengambil bahan masakan yang akan ia masak.

__ADS_1


            Sementara itu Calistha tampak sedang mendudukan dirinya di atas kursi kayu sambil bertopang dagu. Ia merasa benar-benar bahagia karena Aiden mau menuruti keinginannya untuk memasakan makanan. Saat ini ia sudah merasa tidak sabar untuk mencicipi masakan hasil buatan Aiden, dan tentu saja karena ini pertama kalinya Aiden membuatkan sesuatu untuknya, Calistha merasa gugup. Sejak tadi ia terus menerkan-nerka masakan apa yang kira-kira akan dimasak oleh Aiden, karena ia sendiri merasa tidak yakin dengan kemampuan memasak Aiden, mengingat ia selamat ini tidak pernah menyentuh area dapur dan hanya disibukan dengan pekerjaan-pekerjaannya yang menggunung dan juga berperang. Sudah pasti kemampuan memasaknya tidak akan sebaik kemampuan berperangnya.


            "Kau menyukai wortel dan brokoli?"


            Tiba-tiba Aiden berjalan mendekatinya sambil membawa dua buah brokoli dan wortel di dalam genggaman tangannya yang lebar. Pria itu tampak aneh dengan sayur-sayuran itu, membuat Calistha ingin tertawa terbahak-bahak di depan pria itu. Tapi ketika ia melihat raut muram Aiden yang tampak semakin muram, akhirnya Calistha


mengurungkan niatnya untuk tertawa. Ia hanya tersenyum kecil sebagai bentuk penghargaan pada pria itu.


            "Aku suka keduanya."


            Pria itu kemudian disibukan dengan memotong-motong kedua sayur itu, sementara para penghuni dapur tampak seperti patung di tempat mereka masing-masing karena mereka begitu ketakutan dengan ancaman Aiden yang tidak mungkin main-main. Calistha sendiri sebenarnya merasa cukup iba, tapi ia tidak bisa berbuat apapun karena ia tidak memiliki kuasa di sini. Ia hanyalah wanita biasa yang diberikan kedudukan tinggi oleh Aiden.


            Perhatian Calistha tiba-tiba teralihkan dengan suara desisan minyak yang beradu dengan bumbu-bumbu


yang ditumis oleh Aiden. Seketika Calistha merasa terpana dengan kemampuan memasak Aiden. Ia pikir sebelumnya Aiden tidak bisa memasak, ternyata ia salah. Kemampuan memasak Aiden terlihat sangat baik. Pria itu tampak luwes saat memegang pan yang ia gunakan untuk menumis bumbu. Merasa diperhatikan, Aiden tiba-tiba mendongak dan langsung bertatapan dengan kedua manik karamel Calistha. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama, dan pada akhirnya Aiden yang memutuskan kontak mata itu dengan seringaian mematikannnya yang berhasil membuat jantung Calistha berdegup kencang.


            "Kau ternyata pintar memasak." komentar Calistha ringan. Saat ini ia telah berjalan mendekati Aiden sambil memberikan mangkuk keramik berwarna putih untuk menuangkan sup yang dibuat oleh Aiden. Pria itu mengangkat bahunya ringan dan tampak tidak peduli dengan komentar Calistha. Setelah dirasa supnya telah matang, Aiden kemudian langsung menuangkan sup itu di atas mangkuk yang telah di siapkan oleh Calistha. Lalu ia meraih sebuah gelas tinggi yang berada tak jauh darinya untuk mengambil jus jeruk yang telah disediakan pelayan di dalam teko.


            "Kau tidak keberatan jika meminum segelas jus jeruk?" tawar Aiden sambil mengangkat gelasnya. Calistha menggeleng tidak masalah sambil mengangkat mangkuk supnya ke atas meja. Beberapa penghuni dapur sesekali masih mencuri pandang ke arah Calistha sambil melirik hasil masakan raja mereka yang selama ini sama sekali tidak pernah memasak.


            "Silahkan ratu, selamat makan." bisik Aiden menggoda di sebelah telinganya. Tangan kekar pria itu kemudian terulur untuk meletakan segelas jus jeruk yang telah ia tuang dari dalam teko. Calistha kemudian menolehkan kepalanya ke samping dengan wajah berbinar-binar bahagia. Tanpa diduga Aiden langsung ******* bibirnya lembut di tengah-tengah penghuni dapur yang tampak terlihat syok dengan kegiatan yang dilakukan oleh raja dan ratu mereka. Sedangkan Aiden yang merasa tidak nyaman dengan tatapan para penghuni istana langsung melepaskan tautan bibirnya dari Calistha dan segera menebarkan aura mengancam pada mereka semua agar mereka tidak terlalu mencuri-curi kesempatan untuk menonton kegiatan berciumannya dengan Calistha.


            "Kembali pada pekerjaan kalian masing-masing jika kalian masih menyayangi nyawa kalian." Gertak Aiden. Para penghuni dapur itu satu persatu berjalan keluar dari dapur karena pekerjaan mereka sebenarnya telah selesai. Kini di dalam dapur yang sepi itu hanya tersisa Calistha dan Aiden yang masih asik dengan kegiatan berciuman mereka.


            "Aiden, kau menakuti mereka." gumam Calistha tepat di depan bibir Aiden. Aiden melirik sekilas kondisi dapur istana yang saat ini telah kosong, tanpa ada pengganggu yang akan mengganggu kegiatan mereka.


            "Mereka telah pergi? Bagus, mereka tidak akan mengganggu kita." ucap Aiden santai sambil mendudukan dirinya di sebelah Calistha. Pria itu mengangsurkan sebuah sendok pada Calistha dan meminta wanita itu untuk segera mencicipi masakannya.


            "Cobalah. Ini adalah satu-satunya masakan yang bisa kubuat."


            Aiden tanpa malu mengakui hal itu di depan Calistha. Sambil mengamati Calistha memasukan sup ke dalam mulutnya, Aiden mulai mengingat kenangan masa kecilnya bersama mendiang ibunya. Saat itu ia benar-benar merasa bahagia. Meskipun ia telah mendapatkan kutukan, tapi ia seakan-akan tidak mendapatkan kutukan karena kedua orangtuanya selalu memperlakukannya seperti anak-anak biasa. Ia dibiarkan bermain dan belajar tanpa dibatasi oleh apapun. Sesekali ayahnya juga akan mengajaknya berburu di hutan, dan jika mereka mendapatkan hewan buruan seperti kelinci atau rusa, ibunya pasti akan memasakan mereka olahan daging kelinci atau daging rusa yang sangat nikmat. Rasanya ia sangat merindukan saat-saat masa kecilnya yang bahagia.


            "Ini enak, sangat enak. Kau ingin mencobanya juga?" tawar Calistha dengan sendok yang diarahkan di depan mulutnya. Tanpa ragu Aiden melahap sesendok sup yang diberikan oleh Calistha sambil memejamkan matanya nikmat. Rasa ini mengingatkanku padamu ibu.


            "Aiden, darimana kau belajar memasak sup ini? Rasanya sangat enak. Aku menyukainya." komentar


Calistha bahagia. Aiden kemudian menolehkan kepalanya pada Calistha sambil tersenyum lembut pada wanita itu. Malam ini moodnya tiba-tiba kembali cerah setelah ia memasak sup jamur yang dulu pernah diajarkan oleh ibunya. Hatinya pun kini dipenuhi oleh perasaan hangat dan bahagia. Ia tidak lagi merasa marah pada Calistha dan ingin menghukum Calistha, justru ia ingin selalu membelai Calistha agar wanita itu merasa nyaman berada di dekatnya.


            "Ibuku yang mengajariku. Saat aku sakit ibuku pernah memasakan sup jamur untukku dan keesokan harinya ia mengajariku untuk membuatnya agar aku bisa membuat sendiri saat aku sakit. Dan ternyata pengalaman itu sangat berharga, sekarang aku bisa membuatkannya untukmu meskipun kau tidak sakit." Jelas Aiden dengan senyum lembutnya. Calistha merasa begitu tersentuh dengan cerita Aiden hingga akhirnya ia memutuskan untuk memeluk tubuh kokoh Aiden yang berada di sampingnya.


            "Terimakasih Aiden, aku sangat menyukainya. Ini adalah masakan terenak yang pernah kumakan."


            Aiden tersenyum sekilas dan membalas pelukan Calistha yang begitu erat pada tubuhnya. Andai saja setiap hari hubungannya dengan Calistha sebaik ini, pasti akan sangat menyenangkan. Tapi sayangnya hubungan mereka selalu diwarnai oleh konflik dan masalah sehingga mereka tidak bisa selalu bersikap hangat satu sama lain seperti ini. Tapi meskipun begitu Aiden sudah cukup bersyukur. Menurutnya kehidupan tanpa sebuah konflik akan terasa membosankan untuknya. Namun kehidupan hanya diisi dengan konflik juga akan menjenuhkan. Memang seharusnya kehidupan itu diwarnai dengan berbagai keadaan. Ia membutuhkan saat-saat manis seperti ini, dan juga saat-saat berkonflik yang menguras tenaga dan emosi. Dan yang terpenting ia membutuhkan Calistha sebagai pelengkap hidupnya.


            "Sayang, tapi ini semua tidak gratis. Kau harus membayarnya dengan harga yang sepadan." bisik Aiden tiba-tiba dengan seringaian. Seketika Calistha langsung melepaskan pelukannya dari Aiden sambil memandang pria itu dengan tatapan tidak percaya.


            "Apa? Kau memungut biaya untuk semangkuk sup dan segelas jus jeruk yang akan kau berikan pada anakmu sendiri? Kau ini ayah macam apa, benar-benar perhitungan." cibir Calistha kesal. Namun hal itu hanya ditanggapai Aiden dengan kekehan kecil karena ia merasa cukup geli dengan tanggapan Calistha yang diluar dugaan.

__ADS_1


            "Aku bukan ayah yang perhitungan Calistha, tapi aku hanya ingin meminta apa yang seharusnya kau berikan padaku. Aku menginginkanmu malam ini." bisik Aiden lembut di depan bibir Calistha sebelum pria itu meraup bibirnya dan melumatnya dengan penuh nafsu yang menuntut. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk pasangan Aiden dan Calistha, karena ikatan batin diantara mereka hanya dapat dibangun dengan malam-malam panas mereka yang menggairahkan seperti ini.


__ADS_2