
Hari ini para penghuni kerajaan Khronos terlihat begitu sibuk untuk menyiapkan pesta penyambutan bagi sang ratu. Sejak pagi-pagi sekali, saat matahari masih enggan untuk menampakkan wujudnya, juru dapur telah sibuk meracik berbagai macam masakan untuk dihidangkan saat pesta penyambutan ratu baru mereka nanti. Sementara itu di dalam kamarnya, Calistha sedang sibuk memilih gaun yang akan dikenakannya nanti pada saat pesta penyambutannya. Yuri yang bertugas sebagai penata busananya telah menyiapkan lusinan gaun yang siap untuk dipilihnya, dan hal itu justru membuatnya semakin bingung dan pusing, karena gaun-gaun itu terlihat sangat cantik, sedangkan ia hanya bisa mengenakan satu.
"Yang Mulia, anda hanya harus memilih salah satu dari gaun ini." ucap Yuri frustrasi. Sejak tadi Calistha terus mengeluh padanya bahwa ia tidak bisa memilih gaun-gaun itu karena semuanya terlihat indah.
"Aku tidak bisa Yuri, rasanya aku ingin mengenakan semua gaun itu karena semuanya terlihat
cantik. Tiffany, bagaimana menurutmu? Apa kau bisa memilihkanku satu?" tanya Calistha beralih pada Tiffany. Sejak tadi kakaknya itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dan hanya bungkam atas keributan kecil yang dilakukan oleh sang adik. Sepertinya ia sedang menyusun rencana di dalam kepalanya yang cantik itu.
"Entahlah, semua gaun itu terlihat cantik." ucap Tiffany dengan cengiran polos. Calistha mendengus kesal pada kakaknya yang sama sekali tidak membantu itu. Justru sang kakak semakin membuatnya pening karena ia harus segera memillih salah satu gaun itu sebelum Yuri dan Sunny akan membantunya untuk berendam dengan air bunga mawar sebagai salah satu ritual sebelum upacara penyambutannya nanti.
"Yang Mulia, bagaimana jika Yang Mulia menanyakannya pada raja Aiden? Saya rasa raja akan senang jika anda menggunakan gaun yang dipilihkan olehnya." usul Yuri cepat. Calistha langsung mengangguk setuju sambil berlari keluar dari kamarnya. Ia harus menyeret Aiden dari ruang pribadinya untuk memilihkan salah satu gaun
itu untuknya. Tak peduli Aiden sedang sibuk atau tidak, raja arogan itu harus memilihkan satu gaun untuknya sekarang, karena jika tidak, ia tidak akan datang ke pesta penyambutan itu.
Calistha megetuk pintu kayu di depannya perlahan sambil menunggu seseorang di dalam ruangan itu menyuruhnya masuk. Dan perilakunya yang tak biasa itu berhasil membuat salah satu prajurit yang berdiri di samping ruangan Aiden mengernyit heran pada Calistha.
"Apakah raja berada di dalam ruangannya?"
Prajurit itu segera menegakan tubuhnya sigap sambil menoleh cepat pada Calistha. Ia kemudian
menggelengkan kepalanya dan menjawab jika sang raja masih berada di dalam ruangannya.
"Pagi ini raja sama sekali belum keluar dari ruangan pribadinya Yang Mulia ratu."
"Oh, baiklah. Terimakasih." ucap Calistha ramah. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang pribadi Aiden tanpa menunggu pria itu mempersilahkannya masuk. Sepertinya akan sangat lama jika menunggu Aiden untuk mempersilahkannya masuk.
"Aiden." panggil Calistha pelan. Namun, ia sama sekali tak melihat Aiden dimanapun di dalam ruangan itu, padahal prajurit itu mengatakan jika sang raja masih berada di dalam ruangannya.
"Aiden." panggil Calistha sekali lagi.
"Kyaaaaa!! Aiden, turunkan aku."
Tiba-tiba Calistha memekik keras ketika tanpa diduga Aiden muncul di belakangnya sambil menggendongnya dengan cukup tinggi. Reflek, Calistha langsung mengalungkan tangannya ke leher Aiden sambil berteriak-teriak keras untuk menurunkannya.
"Aiden, turunkan aku!" perintah Calistha tegas dengan wajah gusar. Aiden tertawa terbahak-bahak di depan Calistha dengan wajah mengejek. Rasanya menggoda Calistha hingga wanita itu berteriak-teriak marah akan menjadi rutinitasnya setelah ini karena ia cukup menikmati melihat wajah cantik itu berteriak-teriak kesal padanya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku? Kau masuk dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, apa kau ingin mencuri sesuatu dari ruanganku sayang?"
"Mencuri? Yang benar saja. Aku datang ke sini karena aku memerlukan bantuanmu. Tolong bantu aku untuk memilih gaun, aku benar-benar bingung karena semua gaun itu terlihat sangat cantik. Bahkan jika aku bisa melakukannya, aku ingin menggunakan gaun itu sekaligus." keluh Calistha terlihat frustrasi. Aiden tampak mengernyitkan dahinya heran sambil menurunkan Calistha dari gendongannya.
"Kau memintaku untuk memilih gaun yang akan kau kenakan nanti? Yang benar saja?" ucap Aiden meniru gaya bicara Calistha, membuat wanita itu mendengus kesal dan ingin memukul lengan kekar Aiden dengan keras sekarang juga, tapi urung ia lakukan.
"Dasar menyebalkan. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu Aiden, jika kau tidak mau, maka aku tidak akan datang ke pesta itu." sungut Calistha kesal. Aiden terkekeh geli melihat sikap Calistha yang semakin terlihat manja padanya. Dan hal itu berhasil membuat hatinya menjadi hangat.
"Kau tahu, aku pun tidak pandai memilihkan gaun untuk wanita. Bahkan aku hanya memiliki dua warna pakaian di lemari pakaianku, hitam dan merah. Jadi, keputusanmu untuk meminta pendapatku sama sekali tidak akan menolongmu. Lebih baik kau meminta saran dari pengawal-pengawalmu atau Spencer, karena aku harus menyelesaikan tugas-tugasku hari ini sebelum aku pergi ke desa untuk melihat persiapan pesta rakyat malam ini." ucap Aiden santai sambil berjalan menuju ke mejanya. Pria itu terlihat sudah siap dengan berbagai macam perkamen yang diberikan oleh Spencer untuk dibacanya hari ini. Perkamen-perkamen itu berisi hasil panen bulan ini, data keuangan dan aset kerajaan, serta beberapa keluhan masyarakat terkait dengan saluran air di pinggir desa yang tersumbat. Tapi, kali ini Calistha tidak akan mau mengalah dengan perkamen-perkamen bodoh itu. Apapun yang terjadi ia harus bisa menyeret Aiden untuk datang ke kamarnya dan memilihkan salah satu gaun untuknya.
"Kau tetap harus memilihkan gaun untukku, meskipun seleramu rendah sekalipun, aku tidak peduli!"
"Aku adalah raja, dan kau tidak memiliki hak untuk memerintahku semaumu." tegas Aiden dengan sorot mata tajam. Ia tidak suka mendengar Calistha berbicara padanya dengan suara setengah membentak seperti itu, karena hal itu mengingatkannya pada peristiwa beberapa minggu yang lalu saat Calistha melawannya dan mencoba untuk kabur darinya.
Kedua manusia itu saling beradu tatap satu sama lain sambil mengibarkan bendera permusuhan yang tak kasat mata. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka mengatakan jika mereka akan saling melengkapi satu sama lain dan akan menjadi pemersatu bagi kedua kerajaan yang berseteru, tapi hanya karena sebuah gaun saja, janji itu seolah lenyap terbakar oleh api kemarahan diantara mereka.
"Raja? Bukankah raja adalah pelayan masyarakat? Tugasmu adalah melayani rakyatmu dengan baik, termasuk aku. Jadi, apapun yang terjadi kau harus membantuku memilihkan satu gaun untukku. Lagipula memilih gaun itu..."
"Berhenti Calistha, kau membuatku merasa jengkel dengan sikapmu hari ini. Bukan karena kau adalah calon ratuku kau berhak memerintahku dengan sesuka hatimu. Kau, tetap harus tunduk pada perintahku." potong Aiden cepat dengan suara mendesis. Calistha mengepalkan tangannya marah pada sikap sok berkuasa Aiden
yang sangat menyebalkan. Tapi, ia pasti akan membalas Aiden dengan sikapnya yang lebih menjengkelkan daripada sikap pria itu, karena ia memiliki darah leluhur Kairos yang terkenal licik dan kejam.
__ADS_1
"Baik, aku tidak akan meminta bantuanmu lagi. Dan hubungan kita berakhir sampai di sini. Persetan dengan semua ikatan omong kosong yang kau katakan padaku atau semua kutukan menggelikanmu itu. Aku tidak peduli!" marah Calistha berapi-api dan langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan pribadi Aiden dengan membanting keras-keras pintu kayu di belakangnya.
Aiden mendengus kesal sambil tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Egonya sebagai pria dan sebagai seorang raja benar-benar sangat tinggi hingga ia merasa marah pada Calistha yang telah bersikap sesuka hati di kerajaanya. Sebagai seorang pria, Aiden tidak ingin dikendalikan oleh wanita, meskipun wanita itu adalah Calistha sekalipun, ia tidak akan pernah mau. Biarkan saja Calistha marah dan menghancurkan seisi kerajaan sesuka hatinya, ia tidak peduli! Dan mengenai ancaman wanita itu, ia yakin jika Calistha tidak akan benar-benar melakukannya, karena wanita itu sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Hanya ia yang dimiliki oleh Calistha, sehingga ia yakin cepat atau lambat Calistha pasti akan segera kembali padanya, meminta perlindungannya, dan bergantung padanya.
"Yang Mulia saya membawakan laporan hasil panen dari kerajaan Bibury."
Seorang menteri tua yang dulunya bekerja pada kerajaan Bibury datang menghadap pada Aiden untuk membicarakan masalah hasil panen di kerajaan Bibury. Pria tua itu adalah satu-satunya menteri yang selamat dari peperangan beberapa hari yang lalu karena menteri itu tidak bisa bergabung dalam peperangan dan memilih untuk tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Khronos. Namun, menteri itu sama sekali bukan pengkhianat, ia hanya sudah terlalu tua untuk melakukan berbagai macam peperangan yang melelahkan. Ia tidak menyukai peperangan, ia lebih menyukai kedamaian dengan jalan mengalah.
"Seberapa parah kerusakan yang terjadi di kerajaan Bibury yang diakibatkan oleh peperangan?" tanya Aiden langsung sambil membaca kertas perkamen itu dengan seksama. Melalui kertas buram itu Aiden dapat menyimpulkan jika kerusakan yang terjadi di kerajaan Bibury sangat parah karena jumlah panen yang didapat sangatlah sedikit, bahkan hasil panen itu tidak dapat mencukupi kebutuhan nustrisi para pengungsi dari kerajaan Bibury. Aiden kemudian beralih pada menteri tua itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sangat parah Yang Mulia."
"Hmm, aku tahu. Kalau begitu kau temui Spencer untuk mengatur semua keperluan yang dibutuhkan un...."
Prangg!
Pyarrrr!
"Suara apa itu?" bisik menteri tua itu terkejut.
Sementara itu Aiden sedang mengepalkan tangannya marah di atas meja sambil mengumpat keras pada sang pembuat keributan.
"Sial, dasar wanita! Awas saja, kupastikan ia akan menerima hukumanku setelah ini. Kau, cepat temui Spencer sekarang. Aku harus menyelesaikan urusanku terlebihdahulu." ucap Aiden cepat dengan wajah merah menahan amarah. Sedangkan sang menteri yang masih setia duduk diam di atas kursi hanya mampu menggelengkan kepalanya geli melihat tingkah sang raja dan ratu yang sedang terlibat perang dingin.
"Semoga Tuhan memberkati raja dan ratu." bisik menteri tua itu pelan dengan kekehan geli di wajahnya.
-00-
Calistha tampak bersungut-sungut sambil mengumpati Aiden dengan berbagai macam sumpah serapah di dalam hatinya. Entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang telah dilontarkan Calistha pada Aiden, yang jelas wanita itu benar-benar marah dan sangat membenci Aiden. Ia merasa begitu dongkol karena pria itu telah menolaknya dengan alasan ego dan derajat. Padahal menurutnya kedudukannya dan Aiden di kerajaan ini sama. Mereka seharusnya saling melengkapi satu sama lain dan juga saling membantu. Tapi, pria itu hanya mau mengambil keuntungan darinya dan memanfaatkannya untuk memuaskan nafsu binatangnya di ranjang. Ia merasa muak dengan semua itu. Ia mengingikan keadilan. Ia tidak mau menjadi wanita lemah yang bisa diinjak-injak oleh Aiden sesuka hatinya.
Seorang dayang dengan sebuah nampan yang di depan dada tampak sedang membawakan secangkir teh untuk seseorang. Dengan penasaran, Calistha langsung menghentikan dayang itu dan bertanya mengenai pemilik dari secangkir teh yang berada di atas nampan itu.
"Ini milik raja Aiden Yang Mulia. Apakah anda menginginkan secangkir teh juga?"
"Ah, berikan padaku. Aku akan mengantarkan teh ini pada raja Aiden." ucap Calistha ramah sambil mengambil alih nampan itu dari genggaman tangan sang dayang. Ia kemudian berbalik dan segera pergi menuju ruangan Aiden karena sekarang ia memiliki rencana untuk pria itu. Ia akan buktikan pada pria arogan itu jika ia juga mampu melawannya dengan cara kekerasan seperti yang dilakukan oleh pria itu padanya.
"Yyyang Mulia, anda benar-benar akan membawakannya untuk raja Aiden?" kejar dayang itu takut-takut. Calistha menghentikan langkahnya seketika sambil menatap horor pada wajah sang dayang karena ia mulai merasa jengah dengan sikap sang dayang yang terkesan menghalangi jalannya itu.
"Ya, dan kau bisa pergi sekarang." ucap Calistha tegas dan langsung melenggang pergi begitu saja dari hadapan sang dayang. Dalam hati Calistha menggerutu kesal pada dayang itu yang telah mengganggu rencananya untuk memberi pelajaran pada Aiden.
"Aiden, aku tidak akan membiarkanmu bersikap kasar dan sok berkuasa seperti itu!"
Prang
Pyar!!
Calistha sengaja membanting cangkir serta nampa yang dibawanya tepat di depan ruangan Aiden. Para penjaga yang berdiri di depan pintu ruangan Aiden langsung melirik terkejut pada Calistha, tapi mereka tidak berani berbuat apapun untuk menghalangi perbuatan Calistha, karena kedudukan meraka yang tidak sebanding.
Sedangkan Calistha, ia tampak sedang tersenyum puas sambil berkacak pinggang karena telah berhasil membuat keributan di depan ruangan Aiden.
"Kita lihat, apa yang bisa dilakukan oleh Aiden setelah ini." gumam Calistha menantang pada dirinya sendiri. Tak berapa lama, pintu coklat itu benar-benar terbuka lebar dan menampilkan sosok marah Aiden yang sedang menatapnya dengan kedua mata legamnya yang mengerikan. Meskipun sedikit takut, Calistha tetap berkacak
pinggang di depan Aiden sambil mendongakan dagunya acuh. Ia tidak akan kalah pada aura garang Aiden, tidak!
"Apa yang kau lakukan di depan ruanganku? Kau sedang ingin mengujiku?" desis Aiden murka. Calistha berpura-pura bersikap acuh pada Aiden dengan memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Aiden mengajaknya bicara. Ia sungguh kesal dengan pria itu dan sekarang ia ingin Aiden merasakan bagaimana kemarahannya.
"Brengsek, aku sedang berbicara padamu!" umpat Aiden kasar dan langsung menarik lengan Calistha cepat hingga wanita itu tertarik menghadap kepadanya. Para penghuni istana yang hendak berjalan melewati ruangan Aiden langsung mengurungkan niatnya sambil tetap mencuri-curi pandang pada pertengkaran calon ratu dan raja mereka. Salah seorang pelayan yang sering menyebarkan gosip di sekitar istana langsung mengambil kesempatan emas itu untuk mengintip pertengkaran yang terjadi antara Calistha dan Aiden. Ia pikir pertengkaran itu sangat menarik dan akan menjadi berita terhangat di istana. Sedangkan dua orang penjaga yang berada di sekitar ruangan Aiden hanya mampu berdiri mematung sambil berdoa dalam hati agar pasangan keras kepala itu segera mengakhiri konfrontasi mereka karena mereka begitu khawatir dengan nasib Calistha yang saat ini sedang berhadapan dengan kemarahan raja mereka yang dahsyat.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku! Kau tidak berhak menyentuhku." balas Calistha dengan suara yang tak kalah keras. Aiden menggeram kesal sambil menatap tajam pada kedua manik Calistha. Persetan dengan kehadiran para penjaga atau beberapa penghuni istana yang lain yang akan menonton pertengkarannya, ia tidak peduli! Yang ingin dilakukannya saat ini adalah memberi pelajaran pada Calistha agar wanita itu bersikap hormat dan tunduk padanya.
"Kau yang tidak berhak membentakku. Aku adalah raja, jadi semua perintahku adalah mutlak.
Kuperintahkan kau untuk membereskan semua kekacauan ini sekarang dan meminta maaf padaku karena telah berlaku tidak sopan pada raja."
"Cih, aku tidak mau! Kau seharusnya belajar untuk menjadi raja yang bijaksana dan tidak mengedepankan kekerasan."
"Dasar wanita, dimana sopan santunmu?"
Aiden terlihat benar-benar marah dengan sikap Calistha yang sangat keras kepala dan pembangkang itu. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Calistha di depan seluruh bawahannya. Sepertinya ia memang harus menggunakan cara kekerasan untuk menyadarkan Calistha karena wanita itu benar-benar sudah keterlaluan.
"Kau ingin aku memilihkan pakaian untukmu? Ayo, aku akan melakukannya untukmu sekarang!"
Aiden menyeret tangan Calistha kasar melewati lorong-lorong panjang yang mengarah ke kamar pribadi
Calistha. Suara rintihan serta rontaan Calistha yang terdengar berisik di belakangnya sama sekali tak dipedulikan oleh Aiden karena pria itu sudah benar-benar terbakar oleh amarahnya. Bahkan ia sama sekali tidak peduli jika ia akan menyakiti Calistha nantinya.
"Aiden berhenti! Kau menyakiti tanganku."
Brak
Aiden menendang kasar pintu kayu di depannya dan langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Calistha, membuat Yuri dan Tiffany yang sedang melakukan pertengkaran kecil di dalam langsung menoleh kaget pada kehadiran Aiden dan Calistha yang tampak tidak baik-baik saja.
"Kalian semua keluar sekarang!" bentak Aiden pada Tiffany dan Yuri yang langsung dituruti mereka dengan segera keluar dari kamar megah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, meskipun mereka berdua sama-sama bingung dengan apa yang baru saja terjadi di hadapan mereka. Namun, mereka berdua tidak mau mengambil resiko berhadapan dengan Aiden yang sedang marah seperti itu. Beberapa kali Tiffany sempat mencuri-curi pandang pada wajah Aiden yang tampak murka. Dalam hati Tiffany tersenyum senang melihat Calistha mendapatkan amukan yang cukup dahsyat dari Aiden meskipun ia tidak tahu apa penyebabnya. Menurutnya itu tidak penting. Selama Calistha menderita dan tersakiti, hal itu sudah cukup untuknya.
"Anda sepertinya sangat bahagia dengan apa yang sedang terjadi pada Yang Mulia Calistha." cibir Yuri tidak suka pada Tiffany. Wanita cantik bereyes smile itu hanya tertawa sinis pada Yuri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Memangnya kenapa jika aku merasa bahagia? Pertunjukan kecil itu memang sangat menarik bukan?" balas Tiffany santai. Tak ada sandiwara palsu untuk Yuri. Biarkan saja wanita itu mengetahui semua kelicikannya, toh ia hanya seorang pelayan di sini. Ia yakin jika Yuri tidak akan membahayakan rencanannya nanti.
"Huh, saya tidak menyangka jika anda adalah seorang kakak yang sangat jahat. Padahal Yang Mulia telah membela anda mati-matian di depan raja Aiden agar raja membebaskan anda dari penjara yang kotor dan menjijikan itu. Dasar wanita ular!" sinis Yuri tanpa rasa gentar sedikitpun. Mendengar pelayan itu telah berani menghinannya, Tiffany menjadi marah. Ia menjambak rambut panjang Yuri dengan kasar, hingga membuat Yuri meronta-ronta dan merintih kesakitan.
"Rasakan! Ini adalah pembalasan untukmu karena kau telah menghinaku dan menantangku."
"Aww, lepaskan! Itu sakit. Kubilang lepaskan!"
Yuri menyentak tangan itu kuat-kuat dari rambutnya sambil mendorong tubuh Tiffany agar menjauh darinya. Dorongan kuat itu berhasil membuat Tiffany melepaskan jambakan tangannya dari rambut Yuri, sekaligus membuatnya jatuh terpelanting hingga membentur tembok yang berada di belakangnya.
"Berani-beraninya kau!" marah Tiffany tidak terima. Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Spencer muncul diantara mereka sambil mengernyit bingung memperhatikan ekspresi wajah mereka yang terlihat berapi-api. Dengan lihai, Tiffany segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi ekspresi wajah kesakitan sambil mengelus punggungnya yang terasa nyeri berkali-kali. Berbeda dengan Tiffany yang langsung memasang wajah menipu di hadaan Spencer, Yuri justru tampak canggung berada di sana dan ia memilih untuk segera pergi dari hadapan Spencer.
"Tuan tolong aku, wanita ini mendorongku hingga membentur tembok." rintih Tiffany manja. Tapi, Spencer tampak tak terlalu peduli dan justru melontarkan pertanyaan lain seputar Aiden karena ia memang ingin bertemu dengan rajanya sekarang.
"Dimana raja Aiden, apa kalian melihatnya?" tanya Spencer terburu-buru. Yuri langsung menunjuk kamar Calistha yang berada di depannya sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada Calistha di dalam sana.
"Raja berada di dalam kamar Yang Mulia ratu, raja sedang marah besar hari ini. Jadi, sebaiknya tuan tidak mengusik raja Aiden sekarang jika tuan tidak ingin mendapatkan amukan dari raja Aiden seperti yang terjadi pada Yang Mulia Calistha."
"Raja Aiden sedang marah? Ah, aku mengerti. Baiklah, terimakasih."
Spencer segera melangkah pergi meninggalkan Tiffany dan Yuri yang masih setia berdiri di depan kamar pribadi Calistha. Namun, Tiffany tampak lebih kesal karena Spencer sama sekali tidak mempedulikannya, bahkan ia sama sekali tidak melirik tubuhnya yang baru saja terbentur tembok. Benar-benar sial!
"Hmm, sepertinya tuan Spencer tidak mempedulikan punggungmu yang terluka." Ejek Yuri penuh kemenangan.
"Diam kau pelayan! Aku tidak membutuhkan komentarmu." marah Tiffany kesal dan langsung melenggang pergi dari hadapan Yuri.
Sementara itu, Yuri masih merasa khwatir dengan keadaan Calistha di dalam sana. Dalam hati Yuri berdoa semoga Tuhan selalu melindungi Calistha dari sikap kejam Aiden .
"Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apapun pada nona Calistha."
__ADS_1