
Aiden kembali ke kerajaannya setelah ia cukup lama berada di alun-alun untuk menebarkan ancaman pada rakyatnya atau pemberontak yang kebetulan menyusup diantara kerumunan rakyatnya. Ia tidak peduli jika setelah ini para anak kecil akan mendapatkan trauma dari perbuatannya hari ini, karena menurutnya pendidikan kedesiplinan memang harus diajarkan sejak dini, jika tidak mereka akan tumbuh menjadi penjahat-penjahat kejam yang akan memporak-porandakan kerajaanya yang damai.
"Aiden." Suara Calistha yang mengalun di belakangnya dan suara derap langkah kaki yang begitu berisik dari arah belakang membuat Aiden cepat-cepat berbalik untuk memperingatkan Calistha agar tidak berlari.
"Berhenti disana. Jangan berlari." perintah Aiden tegas. Calistha yang mendengar suara Aiden yang sama sekali tidak bersahabat langsung menghentikan langkahnya di tempat dengan gugup. Ia tahu jika hari ini Aiden mengalami berbagai peristiwa yang menguras emosi, untuk itu ia tidak ingin menambah penat kepala Aiden dengan
sikap menyebalkannya ataupun sikap membangkangnya yang sering ia lakukan di kerajaan ini.
"Maaf, aku hanya refleks ingin mengejar langkahmu yang lebar-lebar." ucap Calistha pelan dengan wajah menunduk. Aiden mendengus kasar melihat sikap Calistha yang tiba-tiba berubah menjadi penurut dan sedikit lunak. Tapi menurutnya itu bagus, ia harap Calistha akan tetap seperti itu dan tidak membuatnya sakit kepala dengan tingkah menyebalkannya nanti.
"Kau sedang hamil, jangan terlalu banyak bergerak dan berlari, kasihan anakku di dalam sana. Ia akan terguncang-guncang karena kelakuan ibunya yang tidak mencerminkan kaum bangsawan." sindir Aiden tajam. Calistha awalnya merasa bahagia dengan sikap Aiden yang begitu manis dengan menyebut anaknya sebagai anakku, tapi kalimat terakhir pria itu berhasil membuat hatinya menjadi jengkel dan ingin memaki-maki pria itu karena telah menghinanya.
"Aku tidak mungkin akan melukai anakku, aku tahu apa yang kulakukan." balas Calistha sengit. Aiden berusaha untuk tidak menghiraukan sikap defensif Calistha dan memilih untuk mengalihkan kemarahan Calistha dengan hal lain.
"Ada apa kau memanggilku?"
Calistha tiba-tiba langsung teringat akan tujuan awalnya untuk memanggil Aiden, ia ingin menanyakan reaksi rakyat Khronos siang ini.
"Bagaimana? Apa mereka tidak ketakutan melihat mayat Gazelle berada di tengah-tengah alun-alun?"
__ADS_1
"Mereka memang harus takut. Jika mereka tidak takut padaku, mereka akan menjadi pemberontak seperti Gazelle yang tidak tahu malu." jawab Aiden datar namun sarat akan kemarahan di sana. Calistha menelan ludahnya susah payah sambil membayangkan bagaimana takutnya rakyat Khronos melihat mayat Gazelle yang digantung di tengah alun-alun. Meskipun Gazelle pernah melukainya dan hampir membunuhnya, tapi ia tidak pernah berpikir untuk membalas perbuatan Gazelle dengan sangat keji seperti itu. Mereka berdua sama-sama wanita, ia dan Gazelle sedikit banyak memiliki kesamaan dan ia sangat tahu bagaimana perasaan Gazelle yang tidak bisa mendapatkan cinta dari pria yang sangat dicintainya. Wanita itu pasti sangat hancur, bahkan hingga akhir hidupnya pun ia masih berjuang untuk tujuan yang sama, mendapatkan hati Aiden.
"Menurutku kau terlalu berlebihan, mereka hanya anak kecil. Mereka tidak akan tumbuh seperti Gazelle. Lebih baik kau makamkan saja tubuh Gazelle dengan layak, aku kasihan melihat menteri perang yang pasti sangat terpukul melihat anaknya mati dengan cara mengenaskan seperti itu." saran Calistha bijak. Namun karena Aiden sudah terlalu lelah dengan seluruh masalah yang menimpanya, pria itu justru marah dan mengguncang-guncangkan tubuh Calistha berkali-kali hingga Calistha bergetar ketakutan.
"Kau terus menerus memikirkan perasaan mereka, orang-orang yang sama sekali tidak berjasa dalam hidupmu. Tapi kau sama sekali tidak pernah memikirkan perasaanku! Aku tersiksa dan tidak suka dengan sikap menjijikan Gazelle yang selalu mencoba menggodaku. Apa kau tahu apa yang dilakukan Gazelle sebelum aku memutuskan untuk membunuhnya? Ia datang ke dalam kamarku sambil membelai seluruh tubuhku, lalu ia
telanjang di hadapanku sambil meliuk-liukan tubuhnya agar aku tergoda padanya dan mengkhianatimu. Wanita seperti Gazelle memang pantas untuk mati! Tak ada tempat di kerajaan Khronos dan seluruh kerajaan jajahanku untuk wanita ****** yang tak tahu malu seperti Gazelle! Aku sungguh kecewa padamu. Kau terus menerus mengecewakanku dengan sikapmu yang seakan-akan menggantungkan perasaanku, padahal aku telah mengorbankan seluruh hal yang kumiliki di dunia ini untukmu. Bahkan sekarang kekuatanku perlahan-lahan mulai menghilang karena kau dulu tidak mau menikah denganku. Andai saja kau tidak melakukan kekacauan dan kebodohan serta kabur dari kerajaanku bersama Max dan Gazelle, semua ini tak akan terjadi. Petaka ini dan seluruh kekacauan ini adalah ulahmu. Semua ini karena sikap egoismu yang terlalu mementingkan diri sendiri hingga kau lupa pada orang-orang disekitarmu yang kau sakiti, termasuk aku!"
Aiden menghempaskan Calistha keras ke belakang hingga Calistha hampir saja menubruk tembok di
belakangnya. Tapi untung saja ia mampu menyeimbangkan pijakannya sehingga tubuhnya tak sampai sakit menubruk dinding kokoh itu. Tapi saat ini justru hatinya yang terasa sakit dan perih karena ucapan Aiden yang kasar dan keras padanya. Ia tahu ia memang egosi, ia telah membuat kekacauan di kerajaan Khronos dan menyebabkan banyak nyawa melayang sia-sia di kerajaan Bibury. Aiden pantas membencinya. Pria itu pantas marah dan menyalahkannya atas semua kekacauan yang dilakukannya selama ini. Tapi yang paling membuatnya terpukul adalah, ia telah mengecewakan Aiden. Ia telah membuat Aiden terluka karena sikapnya dan perasaanya yang tidak pasti. Seharusnya ia tidak menggantungkan pria itu dan bersikap baik pada Aiden, karena Aiden selama ini selalu melindunginya dari orang-orang jahat yang hendak mencelakainya. Lalu mengenai Gazelle, Aiden pasti juga marah padanya karena ia dengan terang-terangan membela Gazelle yang telah menggoda Aiden. Pria itu pasti telah melakukan banyak hal agar ia tidak menkhianati dirinya, namun ia justru menyalahkan pria itu dan menganggap semua kesalahan ini berasal darinya. Sekarang ia merasa Aiden pantas membencinya. Ia bukan wanita yang baik untuk Aiden, ia tidak bisa mendampingi Aiden dan menjadi ratu di kerajaan Khronos. Aiden, maafkan aku.
Malam hari, Tiffany kembali mengendap-endap keluar dari istana Khornos untuk bertemu sang penyihir
di rumahnya. Hari ini ia harus segera meminta kantong kutukan yang baru untuk mencelakai Calistha dan bayinya. Kemarin rencana yang disusunya benar-benar gagal total dan Gazelle justru mati sia-sia di tengah kebodohannya untuk menjerat Aiden. Oleh karena itu kali ini ia tidak boleh gagal lagi. Ia harus menyiapkan rencana yang matang agar semua rencana balas dendamnya berhasil. Dan yang terpenting ia harus membuat Aiden kehilangan kekuatannya perlahan-lahan karena pria itu adalah dalang dibalik semua kegagalan rencananya.
Tiffany melompat turun sambil merapatkan mantel tebalnya untuk menyembunyikan wajahnya dari para
pengawal yang melakukan patroli di sekitar istana. Sesekali Tiffany menengok waspada ke arah belakang untuk memastikan apakah penyamarannya benar-benar tidak ketahuan. Lalu saat melewati alun-alun, langkah kakinya langsung terhenti di tempat. Ia belum melihat bagaimana kondisi Gazelle saat dibunuh. Siang ini ia hanya mendengar desas desus jika mayat Gazelle akan digantungkan di tengah-tengah alun-alun dengan kepala dan tubuh yang saling terpisah satu sama lain. Merasa penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk berbelok sebentar ke arah alun-alun yang terlihat begitu sepi dan gelap. Dari kejauhan Tiffany dapat melihat dua buah tiang yang menjulang tinggi di tengah-tengah alun-alun yang luas. Langkah kakinya yang panjang terus membawa Tiffany mendekat pada tiang itu. Dan saat langkahnya sudah benar-benar dekat, Tiffany langsung menganga tak percaya sambil menatap sedih pada mayat Gazelle yang terlihat sangat mengenaskan. Sebelah tangannya reflek menutup mulutnya tak percaya sambil menyeka sebulir air mata yang entah mengapa bisa jatuh membasahi pipi mulusnya. Padahal ia dan Gazelle tidak pernah memiliki kedekatan apapun selain hubungan licik yang mereka lakukan, tapi entah mengapa melihat Gazelle yang berakhir seperti ini membuat hatinya menjadi pedih dan terasa sakit. Ia merasa tidak terima jika Aiden menghukum Gazelle dengan cara keji seperti ini, sementara alasan wanita itu melakukan semua ini karena pria itu. Perlahan-lahan lelehan bening itu berubah menjadi rasa marah yang menyesakan di dalam dada. Ia pasti akan membalas perbuatan kejam Aiden yang telah memperlakukan Gazelle dengan sangat keji seperti ini. Ia pasti akan membuat Aiden merasakan penderitaan yang lebih menyakitkan daripada hukuman mati. Aku pasti akan membalaskan dendammu Gazelle. Aku pasti akan melakukannya!
__ADS_1
"Tiffany."
Suara lembut yang berasal dari balik tubuhnya membuat Tiffany membeku di tempat dan langsung membalikan tubuhnya ke belakang. Calistha kemudian melambaikan tangannya kikuk di hadapan Tiffany sambil menyeka bulir-bulir air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
Apa yang ia lakukan di sini?
"Tiffany, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Calistha dengan suara parau. Tiffany yang berhasil menguasai keterkejutannya langsung bersikap biasa dengan berjalan mendekati Calistha dan merangkul pundak Calistha hangat.
"Aku sedang melihat mayat Gazelle. Aiden benar-benar menghukumnya dengan sangat kejam." ucap Tiffany sambil mengendikan dagunya ke arah mayat Gazelle yang menggantung di atas tiang. Calistha mengangguk setuju pada Tiffany dan kembali menyeka bulir-bulir air mata di pipinya.
"Ada apa denganmu? Mengapa kau menangis dan berada di sini? Apa kau baru saja kabur dari istana?" tanya Tiffany bertubi-tubi. Calistha tampak ragu sejenak untuk menjawabnya, tapi ia langsung mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Tiffany.
"Aku ingin pergi dari istana. Aku tidak ingin merepotkan Aiden lagi." ucap Calistha lirih.
"Apa? Kau ingin pergi? Lalu bagaimana dengan Aiden? Kau akan meninggalkan pria kejam itu begitu saja?" tanya Tiffany tidak percaya. Namun saat ini hatinya sedang bersorak gembira karena ia dapat memperkeruh hubungan Calistha dan Aiden dengan rencana liciknya.
"Aku merasa tidak pantas untuk menjadi ratunya. Aku bukan wanita yang baik. Aku ingin pergi
sejauh mungkin dari Khronos."
__ADS_1
Tanpa diduga, Tiffany langsung memeluk Calistha dan menenangkan wanita itu dalam pelukannya. Namun dibalik sikap pedulinya, Tiffany tengah menyeringai puas sambil membayangkan wajah Aiden yang akan hancur sebentar lagi. Aiden, sekarang aku mendapatkan ratumu.