
Pagi-pagi sekali, saat matahari masih mengintip malu-malu dari balik peraduannya, Calistha dan Aiden
telah tiba di depan pintu utama kerajaan Khronos. Lima orang prajurit yang menjaga gerbang, dengan sigap langsung membukakan gerbang itu lebar-lebar untuk raja mereka dan juga calon ratu mereka yang baru saja tiba dari kerajaan Bibury. Dalam sekejap, suasana istana yang semula hening, langsung berubah menjadi ramai setelah berita kedatangan raja dan ratu mereka tersebar luas di telinga seluruh penghuni istana. Seorang pengawal yang diperintahkan oleh Aiden untuk memanggil tabib istana, segera berlari menuju kediaman sang tabib yang berada di belakang istana. Lalu, beberapa dayang yang lain tampak sedang sibuk mempersiapkan kamar dan bak berendam untuk raja dan ratu mereka yang terlihat begitu berantakan dan juga lelah setelah perjalanan panjang yang mereka lalui menembus hutan timur kerajaan Bibury yang begitu rimbun dan gelap.
Aiden menghentikan kudanya tepat di depan pintu istananya yang besar dan langsung disambut oleh beberapa menteri yang tidak ikut berperang. Mereka secara bergantian membungkuk hormat pada Aiden sambil mengungkapkan rasa syukur mereka karena akhirnya raja mereka dapat kembali dengan selamat ke kerajaan Khronos dengan membawa sang calon ratu. Meskipun mereka sendiri merasa cukup prihatin dengan keadaan Aiden yang tampak terluka cukup parah di punggungnya, tapi hal itu masihlah lebih baik daripada raja mereka pulang tanpa membawa sang ratu bersamanya.
"Selamat datang kembali Yang Mulia, kami telah menantikan kedatangan anda sejak kemarin." ucap menteri pembangunan membungkuk hormat. Calistha tersenyum tipis pada setiap menteri yang menyambutnya sambil menatap gamang pada pintu besar yang telah menunggunya untuk dimasuki. Tanpa sadar sebelah tangannya telah
menggenggam tangan Aiden dengan erat karena sebentar lagi kerajaan ini akan menjadi rumahnya. Ia akan segera menjadi ratu di kerajaan ini mendampingi Aiden yang akan memimpin seluruh rakyat Khronos menuju kejayaan. Tapi, entah mengapa ia masih merasa belum yakin untuk melangkah masuk ke dalam. Masih ada banyak pertanyaan yang bergelayut di hatinya sebelum ia benar-benar menjatuhkan keputusannya untuk menjadi pendamping Aiden. Dan salah satu pertanyaan itu adalah mengenai masa lalu Aiden yang begitu misterius.
"Ada apa? Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Aiden sebelum ia melangkah masuk ke dalam istananya. Calistha langsung menolehkan kepalanya sambil menggeleng kecil. Mungkin ia bisa mengatakannya nanti saat keadaannya sudah lebih baik. Sekarang lebih baik ia memberikan kesempatan pada Aiden untuk beristirahat dan menyembuhkan luka-lukanya agar pria itu tidak tampak menyedihkan seperti sekarang. Dengan ragu, Calistha mulai mengangkat tangannya dan mengusap pipi Aiden dengan lembut menggunakan jari-jarinya yang bergetar. Sedangkan Aiden tampak begitu menikmatinya sambil memejamkan matanya dengan damai. Sesuatu yang terasa menyejukan tiba-tiba menelusup ke dalam hati Aiden saat Calistha membelai lembut wajahnya dengan kelima jarinya yang tampak bergetar. Dan saat Calistha akhirnya melepaskan jari-jari itu dari wajahnya, ia
merasa begitu kehilangan dan kosong. Ia tidak ingin jari-jari lentik itu pergi dari wajahnya dan terus membelainya dengan lembut seperti tadi.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa lelah. Maafkan aku Aiden."
Entah apa maksud Calistha mengucapkan kata maaf itu padanya. Tapi, wanita itu langsung pergi begitu saja meninggalkannya yang masih terdiam di depan istananya sambil mencerna setiap kata-kata yang diucapkan oleh Calistha padanya.
"Ada apa denganmu sayang?"
-00-
__ADS_1
Spencer mengawasi setiap gerak-gerik prajuritnya yang sedang memasukan para tawanan ke dalam penjara bawah tanah. Di ujung terdepan dari barisan itu, Spencer dapat melihat Gazelle sedang berjalan tertatih-tatih sambil menuruni undakan batu yang dilewatinya. Entah bagaimana perasaan Gazelle sekarang. Dulu wanita itu sering
datang ke penjara ini untuk menemani Aiden melihat para tawanan yang ditangkap oleh para prajuritnya, tapi kini justru ia sendiri yang menjadi tawanan dan akan menempati sel-sel kotor dan lembab yang berada di bawah sana. Merasa kasihan, akhirnya Spencer mencoba berdamai dengan egonya dengan membantu Gazelle menuruni tangga batu itu sambil merangkul pundak kecilnya yang rapuh di sebelah tubuhnya yang kokoh. Namun, niat baiknya justru mendapat penolakan dari Gazelle, karena wanita itu langsung berteriak keras padanya dan dengan terang-terangan mengusirnya agar Spencer segera pergi dari sisi tubuhnya.
"Aku bisa berjalan sendiri. Kau bisa melepaskan tanganmu dari pundakku." ucap Gazelle dingin dan datar. Spencer kemudian melepaskan rangkulan tangannya sambil menatap tajam pada Gazelle yang terlihat begitu keras kepala dan angkuh, meskipun saat ini wanita itu tampak begitu lemah dan tak berdaya.
Satu persatu para tawanan itu dimasukan ke dalam penjara yang kotor dan lembab itu dengan tanpa perlawanan. Kebanyakan dari mereka terlihat sudah begitu pasrah pada nasib mereka yang sial itu. Gazelle dan beberapa tawanan wanita yang lain dimasukan ke dalam sel yang khusus menampung tawanan wanita. Lalu, sebelum Spencer pergi meninggalkan penjara itu, Spencer menyempatkan diri untuk mengamati Gazelle lama dari balik jeruji dengan tatapan sedih dan sayu yang tampak tak begitu jelas karena tertutupi oleh suasana gelap yang tercipta di dalam penjara itu. Dan setelah puas memandangai Gazelle dengan cukup lama, akhirnya Spencer memutuskan untuk segera pergi dari sana dan menghadap pada Aiden. Tak ada gunanya ia terus menerus berada di sana, sedangkan wanita yang ia perhatikan sejak tadi tampak begitu acuh dan sama sekali tidak menganggapnya ada.
"Halo, selamat datang di rumah barumu."
Seorang wanita cantik dengan eyes smile di wajahnya tampak mendekati Gazelle sambil mengulurkan tangannya dengan ramah. Namun, Gazelle hanya menanggapi uluran tangan itu dengan dingin tanpa berniat untuk membalasnya sedikitpun.
"Emm, baiklah jika kau tidak mau bersalaman denganku. Aku Tiffany dari kerajaan Diamond. Dan aku adalah saudara kandung Calistha."
"Aku Gazelle, senang bertemu denganmu, partner." balas Gazelle dengan senyuman penuh arti pada Tiffany.
-00-
"Yang Mulia, akhirnya anda kembali. Kami sangat merindukanmu Yang Mulia."
Yuri dan Sunny langsung bergantian memeluk Calistha setelah wanita itu selesai berpakaian dan membersihkan diri. Dengan senang hati Calistha langsung memeluk mereka berdua dengan air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya. Kejadian kemarin saat berada di kerajaan Bibury, berhasil membuatnya tersadar jika sahabat tidak harus orang-orang yang selalu berada di sampingnya sejak lama, tapi sahabat baik adalah orang-orang yang selalu memberikannya nasihat jika ia berbuat salah dan orang-orang yang selalu memberikan kenyamanan disaat ia sedang terpuruk.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku telah mengabaikan nasihat kalian selama ini." ucap Calistha menyesal. Yuri dan Sunny saling berpandangan satu sama lain sambil membawa Calistha untuk duduk di atas ranjangnya yang empuk.
"Tidak apa-apa Yang Mulia, yang terpenting sekarang anda sadar dan dapat mengambil semua pelajaran dari peristiwa yang telah terjadi kemarin. Lalu, bagaimana dengan keadaan anda sekarang? Apa anda terluka?" tanya Yuri khawatir. Calistha mengangguk kecil pada Yuri sambil menunjukan luka goresan yang berada di pundak sebelah kanannya. Tapi, sekarang luka itu sudah terlihat lebih baik karena tabib istana telah mengobatinya.
"Aku hanya mengalami luka ringan, tapi raja Aiden mengalami luka yang cukup parah. Punggungnya terkena sabitan pedang dari Gazelle, dan juga lengannya terkena sabitan pedang dari prajurit kerajaan Bibury. Belum lagi ia terjatuh dari atas kuda karena kesalahanku. Yang jelas keadaanya jauh lebih parah dariku, dan aku merasa bersalah padanya."
"Tenanglah Yang Mulia, raja Aiden adalah raja yang tangguh dan kuat. Bahkan ia pernah mengalami hal yang lebih buruk daripada itu. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, raja Aiden terluka cukup parah di pinggang kanannya karena ditikam oleh raja Dave dari kerajaan Roma. Tapi, raja Aiden berhasil membunuh raja jahat itu ditengah
keadaanya yang sudah kehilangan darah yang cukup banyak. Tapi, sepertinya luka tikaman itu tidak bisa sembuh dengan sempurna, karena saya pernah mendengar raja mengerang kesakitan saat musim salju panjang melandan kerajaan Khornos dan menyebarkan hawa dingin yang begitu menusuk tulang yang membuat bekas lukanya menjadi terasa ngilu."
Mendengar penjelasan dari Sunny, tiba-tiba Calistha menjadi teringat akan Gazelle yang akan menyerang Aiden tepat di bagian pinggang kanannya kemarin. Ternyata Gazelle memang mengetahui titik kelemahan Aiden, sehingga ia sengaja menyerang pinggang itu untuk melukai Aiden. Tapi, karena itu lah Aiden justru mengetahui jati diri Gazelle yang sesungguhnya karena hanya wanita itu yang mengetahui seluk beluk dirinya dengan baik.
Tiba-tiba Calistha merasa hatinya tercubit dengan kenyataan itu. Ia merasa tidak sebanding dengan Gazelle yang jauh lebih baik dalam segalam hal dibandingkan dirinya. Apalagi Aiden pernah menyentuh Gazelle di masa lalu, yang membuat Calistha merasa semakin kerdil jika dibandingkan dengan Gazelle. Dan untuk pertama kalinya,
Calistha merasa dirinya sangat buruk dan terlalu rendah untuk Aiden. Padahal selama ini ia selalu menilai tinggi dirinya dan menganggap Aiden adalah pria yang tidak sebanding dengannya. Tapi, sekarang ia justru merasa dirinya rendah karena ia sama sekali tidak memiliki apapun untuk dibanggakan. Bahkan meskipun Gazelle jahat, wanita itu begitu tangguh dan pantang menyerah untuk membela kehormatannya. Sedangkan dirinya, ia justru langsung bertekuk lutut begitu saja pada Aiden setelah semua kekalahan yang terjadi padanya kemarin.
"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya Sunny khawatir. Mendengar yang begitu mengkhawatirkannya, membuat Calistha segera tersadar dari lamunanya sambil tersenyum lembut pada Sunny.
"Aku baik-baik saja. Emm, sepertinya aku akan pergi menemui Aiden di kamarnya. Apa kalian tidak keberatan jika aku meninggalkan kalian?" tanya Calistha dengan wajah yang sedikit memerah. Entah mengapa ia begitu ingin melihat kondisi Aiden saat ini. Apalagi pria itu sedang terluka karena perbuatannya. Rasanya tidak etis jika mengabaikan pria itu begitu saja setelah semua pengorbanan yang dilakukan oleh pria itu. Setidaknya untuk saat ini ia ingin bersikap manis di depan Aiden dengan memberinya perhatian dan juga tidak berbicara kasar pada pria itu.
"Tentu saja kami tidak keberatan Yang Mulia. Kebetulan saya juga akan mengantarkan secangkir teh untuk raja Aiden, apa anda ingin membawakannya?" Tanya Sunny menawarkan. Tanpa pikir panjang Calistha langsung menganggukan kepalanya antusias karena dengan begitu ia akan memiliki alasan untuk datang menemui Aiden. Rasanya akan sangat aneh jika ia tiba-tiba datang hanya karena mengkhawatirkan pria itu. Aiden pasti akan merasa besar kepala karena ia telah mengkhawatirkannya sepanjang hari ini.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa." ucap Calistha ringan.