
Spencer tampak melangkah terburu-buru sambil melewati satu persatu undakan batu di depannya
dengan peasaan khawatir. Baru saja penjaga penjara melaporkan pada Aiden jika Gazelle membuat keributan di penjara dan hampir saja membunuh Tiffany dengan mencekik wanita itu. Raja kemudian memutuskan akan datang ke penjara sore ini setelah menyelesaikan tugas-tugasnya untuk menemui Gazelle. Dan sebelum sore
ini Aiden datang ke dalam penjara, maka Spencer dengan cepat langsung mengambil inisiatif untuk datang terlebihdahulu ke penjara. Ia sendiri merasa tak habis pikir dengan sikap Gazelle yang sangat sulit untuk dikendalikan itu. Padahal ia telah menasehati Gazelle supaya wanita itu senantiasa berbuat baik selama berada di penjara agar raja memberikannya keringanan. Tapi, belum genap dua hari ia berada di penjara, wanita itu sudah berbuat onar di dalam penjara dengan menyakiti Tiffany. Spencer tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Aiden
setelah ini. Tapi, mungkin saja Aiden akan semakin memberatkan hukuman Gazelle karena wanita itu berani-beraninya telah mengusik ketenangannya. Apalagi Tiffany adalah kakak kandung dari Calistha, tidak menutup kemungkinan jika setelah ini Calistha akan meminta pada Aiden untuk menambah masa hukuman Gazelle karena ia telah melukai kakaknya.
Ketika berada di ujung terbawah undakan, Spencer semakin mempercepat langkahnya untuk menuju ke salah satu penjara yang berada di ujung lorong-lorong gelap itu. Saat Spencer datang, para penjaga tampak tak menaruh curiga sedikitpun padanya, mereka langsung mengijinkan Spencer untuk masuk ke dalam untuk melihat kondisi Tiffany. Lagipula, Spencer adalah salah satu orang kepercayaan Aiden, sehingga mereka yakin jika kedatangan Spencer kali ini pasti atas perintah dari sang raja.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara penuh nada menuduh itu langsung terlontar begitu saja pada Gazelle ketika Spencer telah berada di depan sel penjara yang ditempati oleh Gazelle. Melihat Spencer datang, Gazelle hanya memasang wajah datar dan terlihat begitu acuh. Namun, Tiffany segera memberikan kode padanya agar ia mulai melakukan sandiwara yang telah mereka sepakati sebelumnya, karena ini adalah kesempatan bagi Gazelle untuk mendapat simpati dari Spencer agar ia dapat keluar dari penjara itu secepatnya.
"Aku tidak melakukan apapun, ia yang telah mengusikku dan membuatku merasa tidak nyaman berada di sini." ucap Gazelle akhirnya dengan gaya arogan dan juga angkuh yang terlihat sangat jelas dari cara pandang wanita itu pada Spencer. Pria itu kemudian beralih pada Tiffany dan mencoba untuk meneliti tubuh Tiffany dengan mata kepalanya sendiri karena para penjaga itu mengatakan jika Tiffany hampir saja kehilangan nyawa karena dicekik oleh Gazelle.
"Nona Tiffany, apa kau baik-baik saja?"
"Tuan, tolong aku. Aku tidak mau berada di dalam sel yang sama dengan wanita itu. Ia sangat mengerikan. Ia sering melakukan kekerasan padaku dan kemarin ia hampir saja membunuhku. Tolong aku tuan." rengek Tiffany dengan suara yang dibuat-buat. Spencer menatap prihatin pada Tiffany, dan setelah itu ia langsung menatap tajam pada Gazelle. Wanita itu kini dalam bahaya. Jika Aiden datang ke sini dan melihat ini semua, maka sudah dapat dipastikan jika hukuman yang didapatkan Gazelle akan semakin berat.
"Kau, bukankah sudah kukatakan padamu untuk bersikap baik selama berada di dalam penjara. Kenapa kau sama sekali tidak pernah mendengarkan kata-kataku dan terus berbuat kasar seperti ini pada orang lain? Jika raja Aiden melihat hal ini, raja pasti akan memberimu hukuman yang sangat berat."
"Huh, kau tidak berhak mengatur hidupku. Aku, memiliki kehidupanku sendiri. Lalu apa pedulimu jika aku harus berada di penjara ini lebih lama lagi, bukankah itu bagus? Jika aku berada di dalam penjara ini, maka aku tidak akan memiliki kesempatan untuk melukai Aiden atau membunuh Calistha. Jadi, lebih baik kau pergi dan jangan
pernah hiraukan aku." ucap Gazelle acuh tak acuh. Spencer menggeram marah dengan aksi nekat Gazelle yang dengan terang-terangan melawannya. Padahal ia hanya menginginkan yang terbaik untuk wanita itu. Tidak masalah jika cintanya tidak akan pernah terbalaskan, tapi biasakah wanita itu tetap menghargainya sebagai teman? Yah meskipun mereka telah berada di dua kutub yang berbeda, tapi tidak bisakah mereka tetap menjalin persahabatan seperti dulu?
"Spencer, sedang apa kau di sini?"
Tiba-tiba Aiden datang diantara mereka, membuat Spencer sedikit terkejut, namun ia berhasil mengendalikan keterkejutannya dengan bersikap hormat pada Aiden dan membungkukan tubuhnya sedikit pada Aiden.
"Maafkan saya Yang Mulia, saya hanya ingin melihat kondisi nona Tiffanya, para penjaga itu mengatakan pada saya jika kemarin nona Tiffany telah dicekik oleh nona Gazelle."
"Hmm, begitukah? Lalu bagaimana kondisi Tiffany sekarang?"
"Tiffany..."
__ADS_1
"Calistha..."
Tiba-tiba Calistha muncul dari belakang tubuh Aiden sambil berteriak histeris memanggil nama kakaknya. Siang tadi ia mendengar kabar jika kakaknya menjadi korban dari
kekasaran Gazelle, lalu dengan panik ia mulai berlari menuju penjara bawah tanah untuk melihat bagaimana kondisi Tiffany. Tapi, karena ia belum meminta ijin pada Aiden, penjaga-penjaga itu tidak mengijinkan Calistha untuk masuk, dan terpaksa ia harus menunggu hingga sore hari saat Aiden telah selesai dengan seluruh pekerjaannya. Dan pada akhirnya di sinilah ia berada, di dalam penjara bawah tanah yang lembap dan juga kotor. Ketika Calistha datang, Tiffany langsung berjalan menuju jeruji besi untuk menggapai tangan Calistha yang telah bersiap untuk memeluknya.
"Tiffany, apa kau baik saja? Apa yang telah dilakukan Gazelle padamu?"
"Cals, dia sangat mengerikan. Sepanjang malam ia terus mengancamku dengan berbagai macam ancaman yang sangat mengerikan. Aku ingin keluar dari sini, tolong keluarkan aku. Aku tidak mau berada di dalam sel bersama dengan pembunuh itu." tunjuk Tiffany tegas dengan suara yang menyiratkan nada kebencian yang kental. Aiden yeng melihat Calistha telah berada di dalam penjara tanah ini langsung menatapCalistha dengan marah, ia mencengkeram lengan Calistha, dan membawa tubuh wanita itu agar semakin dekat ke arahnya, bukan pada Tiffany.
"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Seharusnya saat ini kau berada di dalam kamarmu dan mempersiapkan diri untuk besok." ucap Aiden dingin pada Calistha. Awalnya Calistha berniat untuk mengabaikan Aiden, tapi kemudian ia teringat jika saat ini hubungannya dengan Aiden telah berubah menjadi sedikit lebih baik, sehingga mau tidak mau akhirnya ia harus berbalik dan menghadapi kemarahan Aiden dengan sikap berani, namun sebisa mungkin ia akan menghindari sebuah konfrontasi.
"Tidak ada yang menyuruhku, aku ke sini atas inisiatifku sendiri. Aku ingin melihat kondisi Tiffany." ucap Calistha tenang. Aiden mengetatkan rahangnya marah di depan Calistha. Meskipun hubungan mereka telah berkembang menjadi lebih baik, tapi bukan berarti wanita itu dapat dengan seenaknya melakukan apapun tanpa persetujuan darinya. Disini ia adalah raja, dan Calistha seharusnya patuh terhadap perintahnya.
"Kembali ke kamarmu. Tidak ada gunanya kau berada di sini." ucap Aiden datar. Calistha akhirnya merasa jengah dengan sifat Aiden yang tidak pernah berubah itu, selalu bersikap arogan dan memaksa orang lain harus tunduk di bawah kakinya. Padahal apa yang dilakukannya terkadang belum tentu benar dan berakhir baik. Calistha kemudian berpikir untuk menantang Aiden saat ini karena ia ingin Aiden juga menghormatinya sebagai seorang calon ratu. Setidaknya Calistha ingin membuat Aiden memandang sebuah masalah dari sudut pandang lain, dari sudut pandangnya yang lebih mengutamakan jalan perdamaian daripada jalan kekerasan.
"Aku tidak akan kembali ke kamar sebelum kau mengambil tindakan atas masalah ini. Lepaskan Tiffany, biarkan ia keluar dari penjara yang lembab dan kotor ini. Bukankah kau sudah mendapatkanku? Sekarang aku ingin kau menuruti janjimu padaku."
Calistha berkata tenang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sementara itu Aiden telah mengetatkan rahangnya sejak tadi dan masih mencoba untuk bersabar menghadapi calon ratunya yang keras kepala itu. Ia pikir Calistha akan benar-benar berubah menjadi wanita yang penurut dan juga kalem, ternyata tidak. Kedekatan mereka sama sekali tidak mengubah sikap Calistha menjadi lebih baik, dan justru wanita itu menjadikan kedekatan mereka sebagai senjata untuk melemahkannya. Benar-benar sial!
"Janji apa yang kau maksud? Tolong jangan membuatku melakukan hal-hal kasar yang akan membuatmu membenciku nantinya."
"Kau berjanji akan membahagiakanku. Sekarang kebahagiaanku adalah melihat satu-satunya saudara yang kumiliki bahagia. Jika Tiffany berada di sini dan selalu disakiti oleh Gazelle, bagaimana mungkin aku akan merasa bahagia? Kumohon keluarkan Tiffany dari sini. Aku yakin Tiffany tidak akan melakukan apapun setelah keluar dari
penjara ini, jika itu yang kau takutkan. Aku akan menjamin Tiffany." ucap Calistha bersungguh-sungguh. Spencer tampak memandang raut datar milik Aiden dengan dahi berkerut. Sebagai tangan kanan Aiden yang sangat dipercaya, ia merasa penasaran bagaimana sikap rajanya itu setelah kehadiran Calistha di sisinya. Meskipun ia menduga jika Calistha tidak akan berpengaruh apapun pada kekejaman dari sang raja, tapi melihat hal ini membuat Spencer menjadi ragu. Sepertinya kali ini Aiden akan mengabulkan permintaan Calistha dengan mudah.
Wanita itu sedikit banyak telah merubah sifat Aiden yang sebelumnya berwatk keras, menjadi sedikit lebih lunak dan juga tenang. Akhir-akhir ini Spencer merasakan adanya perubahan dari sikap Aiden yang mengaraha ke hal-hal yang lebih baik. Jika dulu Aiden sering membentak-bentak para menteri yang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik dan langsung mencopot jabatan mereka tanpa memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka, maka sekarang Aiden hanya akan menasihati menteri itu dengan kata-kata datarnya dan setelah itu ia akan memberikan kesempatan pada sang menteri untuk memperbaiki kesalahannya. Betapa kehadiran Calistha sangat berpengaruh besar pada diri Aiden. Namun di sisi lain Spencer merasa khawatir karena mungkin saja Aiden akan semakin lemah dengan adanya Calistha.
"Kau ingin aku membahagiakanmu dengan melepaskan saudara perempuanmu yang jahat ini? Baiklah, akan kulakukan. Tapi, kau harus bertanggungjawab penuh atas sikapnya. Jika ia melakukan kejahatan sekali saja, maka aku akan langsung memenggal kepalanya di hadapanmu."
Calistha bergidik ngeri mendengar ucapan Aiden. Ia kemudian melirik Tiffany sekilas, berusaha untuk menenangkan Tiffany yang tampak begitu ketakutan dengan ucapan Aiden yang sangat mengerikan itu. Tapi, ia yakin jika Tiffany tidak akan melakukan apapun setelah ini. Tiffany adalah saudara kandungnya, dan ia adalah satu-satunya orang yang sangat mengenal Tiffany dengan baik karena mereka terlahir dari rahim yang sama, sudah pasti jika sifat Tiffany tidak akan jauh berbeda dengan sifatnya.
"Aku yakin Tiffany tidak akan berbuat apapun. Aku saudaranya, dan aku sangat tahu bagaimana sifatnya karena kami terlahir dari rahim yang sama."
"Huh, begitukah? Ingat ucapanku baik-baik Calistha, Tiffany masih memiliki kemungkinan akan melakukan hal-hal jahat setelah ini karena kedua orangtua kalianpun adalah orang yang licik. Mereka adalah dalang dibalik semua penderitaanku selama ini. Jadi, kuharap kau bisa mengendalikannya agar ia tidak berakhir seperti kedua orangtuamu yang licik itu." ucap Aiden dingin. Setelah itu ia segera pergi meninggalkan Calistha yang masih terpaku di tempat dengan ucapan Aiden. Pria itu, meskipun sangat menyebalkan, tapi apa yang diucapkannya memang benar. Meskipun ia sangat sulit untuk mengakuinya, tapi kedua orangtuanya memang jahat, sehingga ia harus membuktikan ucapannya pada Aiden jika Tiffany tidak akan pernah sama dengan kedua orangtuanya yang licik.
__ADS_1
"Calistha, adikku.." panggil Tiffanya parau dengan air mata palsu yang mulai membanjiri wajahnya. Calistha kemudian segera berjalan mendekati Tiffany dan memeluk wanita itu seadanya dengan jeruji besi yang menjadi penghalang mereka.
"Tiffany, kau bebas. Setelah ini kau akan tinggal bersamaku dengan layak."
Calistha menangis haru di dalam pelukan Tiffany. Sedangkan Gazelle yang melihat itu semua hanya mampu
bertepuk tangan kagum pada sandiwara Tiffany yang sangat sempurna itu. Ia yakin setelah ini kesempatannya untuk melakukan balas dendam pada Aiden akan terbuka lebar.
"Tunggu pembalasanku Aiden, kau tidak akan pernah hidup tenang dengan ratu sialanmu itu."
-00-
Spencer berlari mengejar Aiden yang tampak berjalan dengan langkah cepat di depannya. Setelah pertengkarannya dengan Calistha di penjara bawah tanah, Aiden memutuskan untuk segera pergi menjauh dari Calistha karena emosinya saat ini benar-benar sedang sulit untuk dikendalikan. Jika ia tetap berada di sana, maka besar kemungkinan ia justru akan menyakiti Calistha dan membuat hubungannya dengan wanita itu menjadi memburuk.
"Yang Mulia."
Spencer berteriak keras pada Aiden agar pria itu sedikit memelankan laju langkahnya yang cukup cepat itu. Dengan enggan, Aiden langsung berbalik ke arah Spencer sambil menatap wajah pengawal kepercayaannya itu dengan wajah datar tak bersahabat.
"Ada apa?" tanya Aiden datar. Merasa tatapan dingin itu menusuk manik matanya, Spencer menjadi salah tingkah tanpa berani menatap wajah sang raja lebih lama.
"Maafkan saya Yang Mulia, tapi mengapa anda melepaskan nona Tiffany dengan mudah? Bukankah ia wanita yang berbahaya? Ia hampir..."
"Aku tahu, Tiffany memang wanita yang berbahaya, tapi aku sedang tidak ingin memancing
pertengkaran dengan Calistha hanya karena wanita sial itu. Lebih baik aku mengijinkan Calistha untuk membebaskan Tiffany daripada aku harus dipusingkan dengan sikap keras kepalanya dan juga sikap membangkangnya. Lagipula, dengan begini ia akan tahu bagaimana sifat Tiffany yang sesungguhnya." jelas Aiden gamblang. Spencer mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil menatap penuh hormat pada Aiden.
"Baiklah Yang Mulia, kalau begitu saya akan pergi untuk mengerjakan tugas-tugas saya saya yang tertunda."
Spencer hampir saja berbalik dan melangkahkan kakinya pergi sebelum suara bas nan dingin itu menggema pelan, menyiratkan nada peringatan untuknya.
"Hati-hati dengan perasaanmu Spencer jika kau tidak ingin dimanfaatkan oleh Gazelle." Spencer membeku di tempat sambil menatap gugup pada Aiden. Rupanya pria itu mengetahui perilakunya akhir-akhir ini yang sering mengunjungi Gazelle diam-diam.
"Apakah Yang Mulia mengawasi gerak-gerikku?"
"Aku tahu jika kau memiliki perasaan lebih pada Gazelle sejak dulu, tapi sayangnya ia tidak mencintaimu dan justru tergila-gila padaku yang jelas-jelas sudah menolaknya. Kuharap kau tidak terjebak dengan perasaanmu sendiri karena Gazelle yang sekarang bukanlah Gazelle yang dulu. Ia telah berubah menjadi sosok yang berbeda, bahkan aku hampir-hampir tidak mengenalinya. Jadi, bersikaplah bijak sebelum kau menuruti egomu sendiri Spencer."
__ADS_1
Spencer mengangguk-angguk mengerti dan langsung menundukan kepalanya dalam di depan Aiden. Ia merasa telah melakukan kesalahan besar karena telah terhanyut dengan perasaanya. Ia berjanji, setelah ini ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak, terutama mengenai masalah Gazelle.
"Saya mengerti Yang Mulia, dan tolong maafkan saya." Aiden kemudian berjalan pergi meninggalkan Spencer yang masih berdiri kaku di belakangnya. Pria itu diam-diam membatin prihatin dengan nasib Spencer yang harus mengalami cinta sepihak. Dan sayangnya wanita yang menjadi cintanya adalah Gazelle, wanita keras kepala yang sangat sulit untuk dikendalikan. Dalam hati Aiden merasa bersyukur pada Tuhan karena wanita yang ditakdirkan untuknya adalah Calistha, karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dirinya jika ia ditakdirkan dengan tipikal wanita yang keras dan kejam seperti Gazelle, sudah pasti kerajaannya akan hancur secara perlahan-lahan karena ia harus terus berperang melawan kekeraskepalaan wanita itu.