
Brukk
Aiden melemparkan tubuh Calistha begitu saja di atas ranjang dengan kasar. Ia kemudian berjalan menuju
lemari pakaian Calistha sambil menahan rasa marah yang telah berkumpul di dalam hatinya. Kali ini ia tidak akan membiarkan Calistha bersikap kekanakan di kerajaanya, ia harus mendewasakan Calistha apapun yang terjadi.
Srakk
Aiden melemparkan gaun-gaun milik Calistha begitu saja di depan tubuh Calistha yang masih berada
di atas ranjang. Pria itu menarik secara kasar gaun-gaun itu dari dalam lemari pakaian Calistha hingga membuat sebagian kamar Calistha menjadi berantakan dan beberapa gaunnya juga rusak.
"Apa kau puas, hah! Pakai seluruh gaun itu, dan jangan membuat keributan lagi. Kau, telah mempermalukanku di hadapan seluruh bawahanku. Dan jika kau membuat masalah lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu." ancam Aiden terdengar mengerikan. Calistha tampak terdiam di tempatnya sambil menahan suara isak tangis yang sebentar lagi akan lolos dari mulutnya. Bukankah Aiden ingin mendapatkan cintanya? Tapi, mengapa pria itu berlaku kasar padanya? Kenapa pria itu justru memperlakukannya seperti binatang yang dapat disakiti sesuka hati olehnya?
"Kau....."
Calistha menghentikan ucapannya sejenak karena suaranya tercekat di ujung tenggorokannya, hingga membuatnya merasa sakit. Sebisa mungkin ia menahan semua gejolak rasa sakit itu di hatinya, dan mencoba untuk mengutarakan semuanya pada Aiden.
"Ini bukan masalah kau bersedia memilihkan pakaian untukku atau tidak. Aku hanya ingin melihat ketulusan hatimu. Bukankah kau ingin aku mencintaimu? Tapi, bagaimana mungkin
aku akan mencintaimu jikau kau tidak bisa menghargai keberadaanku? Sekarang pergilah, aku tidak akan membuat kekacauan lagi di kerajaanmu." ucap Calistha parau dengan butir-butiran bening yang mulai turun membasahi pipi mulusnya. Melihat Calistha yang terluka, Aiden hanya menatap datar pada wanita itu dan segera berjalan pergi dari kamar Calistha. Pengalaman ini terasa benar-benar baru baginya dan ia sama sekali tidak memiliki solusi untuk menenangkan seorang wanita yang sedang rapuh. Sejujurnya kini ia merasa begitu menyesal pada Calistha karena telah memperlakukan wanita itu dengan buruk. Tapi, sikap wanita itu benar-benar sudah keterlaluan dan melebihi batas. Ia merasa harga dirinya sebagai raja telah diinjak-injak oleh Calistha karena wanita itu dengan penuh keberanian menantangnya didepan seluruh penghuni istana yang lain. Namun, Calistha sendiri tidak pernah bermaksud untuk menantang Aiden, ia hanya ingin diperhatikan oleh pria itu. Ia ingin menguji seberapa besar cinta Aiden untuknya? Karena tak selamanya cinta dapat diukur dengan materi, ia ingin Aiden menunjukan rasa cintanya dengan sebuan tindakan, karena ia yakin Aiden pasti dapat mencukupi semua kebutuhan materinya dengan mudah. Bahkan pria itu dapat dengan mudah membuatkannya sebuah pesta penyambutan yang mewah. Tapi, apa
artinya harta jika pria itu tidak memiliki cinta. Baginya cinta adalah segalanya. Harta bisa dicari dengan mudah, sedangkan cinta? Kau perlu bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan cinta. Jadi, Calistha benar-benar merasa
kecewa dengan sikap Aiden hari ini.
__ADS_1
Sepeninggal Aiden dari kamarnya, Calistha terus menangis tersedu-sedu di dalam kamar sambil meruntuki kebodohannya yang terlalu berharap lebih pada Aiden. Seharusnya sejak awal ia tidak perlu mengharapkan sikap lembut dan perhatian dari pria itu karena pada dasarnya ia hanyalah sebuah alat untuk melahirkan keturunan Aiden dan menjadi penyembuh bagi kutukannya. Sungguh sangat miris jalan hidupnya, ia harus ditakdirkan menjadi pendamping pria dingin dan kasar seperti Aiden. Padahal keinginannya sejak kecil adalah, ia ingin menikah dengan seorang pangeran yang baik hati dan menunggangi kuda putih yang cantik. Tapi, justru yang menjadi takdirnya adalah seorang raja berwatak kasar, berhati keras, dan menunggangi kuda hitam dengan pedang yang selalu menghunus di depan dada.
"Aiden brengsek! Aku membencimu. Kau tidak pantas hidup. Kau seharusnya mati! Arghhh."
Calistha menjerit-jerit sendiri di dalam kamarnya dengan tangisan pilu yang begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Dan tanpa sepengetahuan Calistha, saat ini Aiden sedang berdiri di depan kamarnya sambil memejamkan matanya pening. Ia merasa begitu menyesal karena telah bersikap kasar pada Calistha, padahal wanita itu hanya sekedar meminta pendapatnya untuk memilihkan gaun. Jika dipikir-pikir, apa yang sulit dari memilihkan sebuah gaun untuk Calistha? Andai saja ia tidak terlalu dibutakan dengan egonya, maka hal ini pasti tidak akan terjadi. Sungguh, ia tidak berniat untuk menghancurkan hati rapuh wanita itu. Ia hanya merasa marah karena wanita itu telah berbuat kasar di hadapan seluruh prajuritnya dan membuat kekacauan yang sangat kekanak-kanakan seperti itu. Sekarang ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan pada Calistha, karena ternyata wanita itu terlalu rapuh ketika ia melakukan tindakan kasar seperti tadi. Tapi, saat ia memberikan kelonggaran pada wanita itu, Calistha justru kerap menyepelekannya dan berusaha kabur darinya. Jadi, apa yang harus ia lakuka pada wanita itu? Calistha benar-benar terlihat seperti pasir yang akan jatuh saat ia menggenggamnya terlalu lemah, atau akan tumpah saat ia menggenggamnya terlalu kuat.
"Yang Mulia, para menteri telah menungg anda di aula."
Suara tenang Spencer yang menyusup ke dalam indera pendengarannya membuat Aiden mau tidak mau segera berjalan pergi meninggalkan kamar Calistha yang terasa mencekam untuknya. Lagi-lagi ia telah menyakiti Calistha dan membiarkan wanita itu berkubang dalam kesedihannya sendiri. Ia bersumpah, setelah semua pekerjaanya selesai, ia akan meluruskan masalah ini pada Calistha.
"Tolong maafkan pria brengsek ini ratuku."
-00-
Setelah perdebatannya dengan Yuri pagi ini, Tiffany memutuskan untuk pergi ke penjara bawah tanah
"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" tanya penjaga itu heran ketika melihat Tiffany yang sedang menuruni undakan batu itu dengan tenang. Tiffany kemudian berjalan mendekat pada penjaga itu dan mengatakan maksud tujuannya datang ke penjara ini, tentu saja dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan di dalamnya.
"Maaf jika kedatanganku hari ini mengejutkan kalian, tapi aku datang ke sini karena aku ingin melihat kondisi Gazelle. Wanita itu pasti sangat terpuruk karena masa hukumannya telah ditambah oleh Yang Mulia raja Aiden. Apakah aku diperbolehkan untuk masuk ke dalam?" tanya Tiffany pelan dan lembut. Penjaga itu langsung menganggukan kepalanya mengijinkan dan membiarkan Tiffany masuk ke dalam sel-sel penjara itu dengan mudah. Wajah cantiknya yang terlihat baik itu telah menipu seluruh penjaga yang ditemuinya di dalam penjara itu. Bahkan salah satu penjaga yang berpapasan dengannya di dalam lorong penjara justru memujinya secara terang-terangan atas kebaikan hati Tiffany yang mulia. Dan itu sebenarnya sangat bertolak belakang dengan isi hati Tiffany yang picik.
"Halo, bagaimana kabarmu Gazelle?" sapa Tiffany ringan ketika ia tiba di depan sel penjara Gazelle. Gazelle yang melihat Tiffany datang dengan pakaian mewah dan tubuh yang bersih hanya menatap wanita itu dengan pandangan sinis yang cemooh. Sedikit banyak, ia yang telah membuat Tiffany dapat hidup dengan layak di atas sana, jadi ia merasa wanita itu benar-benar menyebalkan karena telah muncul di hadapannya dengan gaya yang terlihat seperti bangsawan sombong yang menjijikan.
"Oh, apa kau merasa kesepian di sini? Hmm, baiklah tolong maafkan aku karena aku telah meninggalkanmu di sini sendiri dengan tambahan hukuman yang sangat mengerikan. Tapi percayalah jika aku tipe manusia yang tidak akan melupakan teman seperjuangan sepertimu, jadi mari kita saling bekerjasama untuk membalaskan dendam kita masing-masing. O ya, apa kau ingin mendengar berita menggemparkan hari ini?" tanya Tiffany dengan gaya memprovokasi yang sangat ahli. Gazelle kemudian segera mendekat menuju ke arah jeruji besi agar ia dapat mendengarkan berita yang dibawa oleh Tiffany dengan jelas.
"Wanita ini benar-benar jenis wanita yang sangat mengerikan! Bahkan, aku dengan mudahnya dapat terpancing oleh kata-katanya yang provokatif itu. Sialan!"
__ADS_1
"Hmm, jadi kau tertarik untuk mendengarkan berita dariku? Baiklah, simak dan dengarkan baik-baik. Pertama, aku ingin mengatakan padamu jika hari ini Aiden akan mengadakan pesta yang sangat mewah untuk penyambutan Calistha. Yahh, harus kuakui jika Aiden benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Di atas sana Aiden memperlakukan Calistha dengan sangat baik dan lembut. Bahkan aku melihat mereka melakukan ciuman beberapa kali di kamar Calistha dengan intim. Ahh, itu sungguh luar biasa. Andai saja kau dapat.."
"Apa kau ke sini hanya ingin mempermainkan perasaanku? Jika ya, maka lebih baik kau kembali ke duniamu di atas sana dan jangan pernah datang ke sini jika kau hanya ingin menaburkan garam di atas luka hatiku." ucap Gazelle sakarstik. Wanita itu hampir saja bangkit berdiri untuk meninggalkan Tiffany, tapi tangan mungil itu segera menahan lengannya dan menariknya kembali agar Gazelle mendekat ke arahnya.
"Maaf, kukira kau telah melupakan cinta bodohmu itu. Baiklah, kita langsung pada intinya. Jadi, hari ini Aiden membuat sebuah pesta yang sangat mewah untuk Calistha. Dan entah apa yang terjadi pada mereka, saat Calistha kembali dari kamar Aiden, pria itu terlihat begitu marah sambil menyeret tangan Calistha dengan kasar. Lalu, aku mendengar suara bentakan Aiden berkali-kali pada Calistha sebelum suasana di kamar itu menjadi hening, dan tak berapa lama Aiden keluar dari dalam kamar Calistha dengan mata merah yang menyala-nyala. Bukankah itu terdengar bagus? Sebuah pesta yang diawali dengan sesuatu yang buruk, pasti juga akan berakhir dengan sesuatu yang buruk juga. Sekarang adalah tugas kita untuk memikirkan akhir yang paling buruk untuk Calistha hari ini. Apa kau memiliki ide?"
Gazelle masih mencoba untuk mencerna semua cerita Tiffany sambil memikirkan berbagai hal di dalam kepalanya dengan gusar. Bertahun-tahun hidup dan tinggal di dekat Aiden membuatnya sangat mengetahui bagaimana perangai Aiden sejak kecil. Pria itu selama ini tidak pernah memperlakukan seorang wanita itu dengan sangat istimewa seperti itu. Bahkan saat ia mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya, Aiden enggan untuk hadir di sana karena pria itu memang tidak menyukai keramaian. Selama ini pun jika kerajaan Khronos menggelar
sebuah pesta rakyat untuk merayakan hasil panen melimpah di desa Khronos, Aiden sama sekali tidak pernah datang dan hanya menyampaikan kata sambutan di awal. Selebihnya, pria itu memilih tinggal di dalam kamarnya yang gelap sambil menyesap anggur merahnya sendiri dengan perasaan kesepian. Lalu sekarang tiba-tiba
Aiden membuatkan sebuah pesta yang sangat mewah untuk untuk menyambut kedatangan Calistha di kerajaan ini? Bukankah itu sangat aneh. Seorang raja Aiden yang tidak pernah mau menghadiri sebuah pesta, tiba-tiba berinisiatif untuk mengadakan sebuah pesta? Sebesar itu kah rasa cinta Aiden pada Calistha? Pertanyaan itu terus menerus berputar di dalam kepala Gazelle hingga membuat wanita itu pening karena terlalu banyak kebencian yang menumpuk di dalam kepalanya. Ia benar-benar merasa tidak terima. Sekian lama ia menjadi sesosok sahabat yang selalu ada untuk Aiden, tapi pria itu sama sekali tidak pernah menghargainya maupun meliriknya. Mengapa Aiden begitu tega padanya? Mengapa usahanya selama ini untuk mengesankan Aiden tidak pernah dilirik oleh pria itu? Kenapa? Kenapa!
"Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh wanita pembangkang dan menjijikan itu pada Aiden? Kenapa Aiden dapat dengan mudahnya luluh pada Calistha? Aku.. merasa janggal dengan semua ini?"
Tiffany berdecak kesal pada sikap Gazelle yang mudah sekali berubah menjadi lembek hanya karena Aiden
mengadakan sebuah pesta untuk Calistha. Memangnya apa yang janggal dengan itu semua? Sudah jelas-jelas mereka memiliki keterikatan satu sama lain, sehingga Aiden akan lebih mudah menerima kehadiran Calistha dan menggilai wanita itu lebih dari wanita manapun di dunia ini.
"Ck, apa kau lupa jika dua manusia itu memiliki keterikatan yang tak kasat mata? Jadi menurutku tidak ada yang janggal dengan hubungan mereka. Justru aku merasa janggal dengan sikapmu yang terus menerus menggilai Aiden padahal pria itu sudah jelas-jelas menolakmu. Kau memang menyedihkan Gazelle." ucap Tiffany mencemooh. Gazelle mengetatkan giginya rapat rapat untuk menahan rasa marah yang semakin membuncah di hatinya akibat ucapan Tiffany yang menohok itu.
"Ya, aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Jadi, apa rencanamu selanjutnya." ucap Gazelle akhirnya setelah ia dengan susah payah berdamai dengan egonya yang tinggi. Tiffany tersenyum puas pada Gazelle, kemudian ia mulai membisikan sesuatu di telinga Gazelle, sesuatu yang membuat Gazelle menyeringai puas atas ide yang akan dilakukan Tiffany.
"Bagaimana? Bukankah ideku bagus?"
"Sangat bagus. Aku yakin rencanamu kali ini akan menjadi teror pertama yang akan mengahantui kehidupan Calstha setelah ini. Semoga kau berhasil dengam rencana pertamamu hari ini."
__ADS_1
"Hmm, tentu saja. Aku pasti akan berhasil melakukannya. Dan kau, jangan lupa untuk menggoda Spencer jika kau ingin cepat-cepat keluar dari penjara ini dan bergabung bersamaku untuk menghancurkan Calistha dan Aiden. Kalau begitu sampai jumpa. Aku harus melihat bagaimana keadaan Calistha saat ini setelah pertengkaran
hebatnya dengan Aiden pagi tadi. Seharusnya jika ia tidak mencintai Aiden atau berharap pada pria itu, maka ia akan baik-baik saja. Tapi, jika ia memang telah jatuh pada pesona Aiden yang mematikan itu, maka ia pasti akan hancur hanya karena pertengkaran kecil mereka hari ini. Sampai jumpa Gazelle, semoga kau bahagia dan nyaman tinggal di dalam kotak menjijikan ini." pamit Tiffany mencemooh sambil melenggang pergi meninggalkan Gazelle sendiri di dalam sel tahananya. Sembari berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dan kotor, Tiffany mulai memikirkan rencana yang akan dijalankannya hari ini. Ia yakin, pertunjukan yang akan terjadi malam ini pasti akan sangat menarik dan menghebohkan.