Queen Of Time

Queen Of Time
Blooming Flower (Thirty Seven)


__ADS_3

            Di dalam kegelapan malam yang mencekam, Spencer tampak mengendap-endap turun ke dalam penjara


bawah tanah untuk mengeluarkan Gazelle. Hari ini ia telah menyiapkan semua rencananya dengan matang. Dimulai dengan menidurkan para penjaga penjara dengan memasukan obat tidur ke dalam makanan mereka, kemudian ia menyiapkan alibi agar seolah-olah Gazelle sendiri yang telah kabur dari dalam penjara, bukan karena bantuannya.


            Saat Spencer tiba di ujung terbawah penjara itu, Spencer dapat melihat para penjaga sedang tertidur pulas karena makanan-makanan yang telah mereka makan dengan rakus petang tadi. Sambil menyeringai licik, Spencer langsung mengambil kunci-kunci yang berada di samping pinggang salah satu penjaga yang berwajah paling garang, kemudian ia segera melangkah ke dalam sel penjara Gazelle dengan perasaan senang yang meluap-luap. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana ekspresi wajah Gazelle nanti saat melihatnya dengan segrendel kunci penjara yang sangat berharga ini. Mungkinkah Gazelle akan langsung memeluknya dengan penuh haru atau bersikap biasa saja? Pertanyaan itu terus bersarang di dalam kepala Spencer hingga membuatnya menjadi gugup.


            "Gazelle."


            Spencer memanggil nama wanita itu pelan sambil menunggu wanita itu muncul dari dalam sel tahanannya


yang gelap. Tak berapa lama Gazelle muncul dengan wajah kumal sambil memandang Spencer dengan pandangan mencemoohnya seperti biasa.


                "Ada apa? Kau ingin mengumbar janji palsumu lagi? Ini sudah lebih dari seminggu sejak terakhir kau datang untuk mengeluarkanku dari penjara ini, tapi mana? Kau sama sekali tidak pernah mengeluarkanku dari sini dan justru membuatku semakin muak dengan wajahmu yang menyedihkan itu." sembur Gazelle tak berperasaan.


Spencer tampak tersenyum kecut sambil menunjukan segrendel kunci yang digengganggamnya. Khayalannya mengenai Gazelle yang akan menangis haru di depannya dengan penuh rasa terimakasih hancur begitu saja, setelah meleihat bagaimana reaksi Gazelle kepadanya. Wanita itu ternyata tidak akan pernah berubah sedikitpun hanya karena ia membebaskannya dari penjara kotor dan pengap ini. Wanita itu tetap saja bersikap sinis dan justru semakin bersikap semena-mena padanya.


            "Aku akan membebaskanmu sekarang."


            "Oh, akhirnya kau berhasil menyusun rencana untuk mengeluarkanku dari sini. Tapi, tetap saja kau ini pria yang lambat." ejek Gazelle lagi dengan wajah angkuhnya. Mendengar hal itu Spencer hanya mampu berdiam diri di tempatnya sambil menunjukan wajah datar untuk menyembunyikan kesakitannya. Andaikan saja ia bukan wanita yang dicintainya, ia pasti sudah membunuh wanita itu sejak dulu karena perilakunya yang angkuh dan sangat tidak tahu terimakasih itu. Sekarang ia benar-benar merasa kesal dengan dirinya sendiri. Hanya karena sebuah cinta, ia menjadi pria yang lemah dan menjijikan seperti ini. Bahkan ia rela mengkhianati raja dan juga kerajaanya hanya demi membebaskan seorang penjahat seperti Gazelle. Sungguh, cinta telah membutakan segalanya.


            "Terserah apa yang ingin kau katakan padaku. Tapi sebelum kau keluar dari sini, aku memiliki syarat untukmu. Kau harus keluar seolah-olah kau kabur, bukan karena bantuanku. Apa kau mengerti?"


              "Ya, aku mengerti. Tapi sebelum aku pergi sejauh-jauhnya dari Khronos, aku ingin merasakan tinggal di sini selama tiga hari. Aku akan menyamar sebagai pelayan agar aku tidak dicuragai oleh penghuni istana yang lain. Apa kau bisa mengabulkan keinginanku?"


                Spencer tampak berpikir lama untuk menyanggupi permintaan Gazelle. Melepaskan Gazelle seperti ini saja sudah sangat berbahaya bagi keselamatannya dan juga wanita itu, bagaimana dengan mengijinkan Gazelle tinggal di sini? Jika Aiden tahu, ia dan Gazelle justru akan dibunuh secara tak terhormat di alun-alun kerajaan Khronos. Dan tentu saja ia tidak ingin hal itu terjadi.


                "Aku tidak bisa. Jika raja Aiden mengetahui penyamaranmu, kau dan aku akan dibunuh olehnya. Jadi aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu." tolak Spencer tegas. Gazelle menyeringai licik di depan Spencer dan berjalan mendekat pada pria itu. Salah satu tangannya yang bebas kemudian ia julurkan keluar untuk menarik kerah kemeja Spencer agar pria itu semakin mendekat padanya.


            "Jadi, kau takut dengan pedang Aiden?" bisik Gazelle dengan kalimat bernada provokasi yang kental. Spencer berusaha melepaskan cengkeraman tangan Gazelle dari kerah bajunya sambil menatap tidak suka pada Gazelle yang telah meremehkannya.


                "Aku sama sekali tidak takut mati, aku hanya tidak ingin usahaku ini berakhir sia-sia. Jika kau keluar dari penjara ini hanya untuk ditebas oleh pedang milik raja Aiden, lebih baik kau tetap berada di penjara ini hingga raja Aiden memberikan keringanan hukuman untukmu." jawab Spencer tegas. Gazelle tertawa terbahak-bahak di


depan Spencer sambil berjalan menjauh dari pria itu. Meskipun saat ini Spencer menolaknya, ia yakin dengan sedikit bumbu-bumbu provokasi, setelah ini pria itu pasti akan mengabulkan permintaanya, karena ia tahu, Spencer adalah pria yang lemah!


                "Kau tidak perlu beralasan seperti itu jika kau memang takut akan dipenggal oleh Aiden. Kalau kau memang tidak mau mengabulkan permintaanku, lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak membutuhkan bantuan dari pria lemah dan penakut sepertimu."


            Spencer mengetatkan rahangnya marah sambil mengepalkan buku-buku jarinya kuat hingga memutih. Suara gemerincing kunci yang digenggamnya menjadi bukti betapa marah dan tersinggungnya Spencer dengan ucapan Gazelle. Pria itu kemudian menatap kedua manik Gazelle dengan sungguh-sungguh sambil berucap lantang bahwa ia akan mengabulkan permintaan Gazelle, namun dengan sebuah alasan logis.


            "Berikan aku sebuah alasan yang masuk akal, mengapa kau ingin tinggal di kerajaan ini. Kau tidak sedang berencana untuk mencelakai Yang Mulia ratu bukan?" selidik Spencer curiga. Gazelle kembali mendekat pada Spencer sambil berbisik pelan tepat di depan wajah Spencer yang sedang menahan marah.


            "Aku hanya ingin melihat Aiden untuk terakhir kalinya." bisik Gazelle mantap dengan seringaian licik di  wajahnya. Mendengar hal itu, Spencer semakin merasa sebenarnya dirinya telah dimanfaatkan oleh Gazelle. Tapi lagi-lagi ia merasa tak berkutik dan tidak bisa mengabaikan wanita itu begitu saja. Setiap malam, di hari-hari sebelumnya, ia terus memikirkan Gazelle dan bagaimana cara membawa wanita itu keluar dari dalam penjara pengap dan kotor ini. Tidak ada hal lain yang dipikirkannya selama tujuh hari ini selain Gazelle, Gazelle, dan Gazelle. Padahal jika dipikirkan secara logis, semua pengorbanan ini sama sekali tak ada artinya. Justru ia terlihat semakin lemah di hadapan wanita itu dan harga dirinya juga semakin terinjak-injak. Tapi, ia tidak berdaya. Kau bodoh Spencer! Kau idiot!


            "Alasanmu cukup logis. Tapi apakah aku bisa memegang kata-katamu, kau benar-benar tidak akan melukai Yang Mulia Calistha?"


            "Hmm, aku bersumpah demi langit dan seluruh penguasa alam semesta, aku tidak akan melukai Calistha. Aku benar-benar hanya ingin melihat Aiden." Ucap Gazelle lantang dengan tangan kanan yang terangkat di sebelah wajahnya. Spencer mengamati raut wajah meyakinkan Gazelle sekali lagi, dan kemudian ia segera mengangguk mengiyakan, sebagai tanda bahwa ia setuju untuk megabulkan permintaan Gazelle.


            "Baiklah, kupegang kata-katamu. Tapi jika kau melanggar sumpahmu dan raja Aiden memenggal kepalamu, aku tidak akan menolongmu. Ini yang terakhir." peringat Spencer sebelum ia meraih gembok besar yang ada di depannya dan mulai memasukan salah satu kunci untuk membuka gembok berkarat itu.


Cklek

__ADS_1


        Suara gembok yang terbuka, membuat Gazelle tersenyum sumringah dan ia semakin tidak sabar untuk melangkah keluar dari sel tahanannya yang kotor dan pengap itu. Spencer kemudian mulai membuka gembok itu satu persatu hingga gembok terakhir yang berada di ujung terbawah jeruji besi. Setelah Spencer membuka semua gembok yang terpasang di depan sel tahanan Gazelle, pria itu mulai membuka jeruj besi itu lebar-lebar dan mempersilahkan Gazelle untuk keluar dari sel tahanan itu dengan isyarat wajahnya.


            "Hahh, aroma kebebasan yang menyenangkan." komentar Gazelle saat pertama kali ia melangkah keluar dari dalam sel tahanannya. Spencer mengamati ekspresi wajah Gazelle dalam diam di sebelahnya. Ia tahu jika Gazelle saat ini tampak sangat bahagia, tapi entah mengapa ia justru merasa sebaliknya, ia tetap saja merasa


kosong setelah mengeluarkan Gazelle dari dalam sel tahanan ini. Padahal selama ini ia berpikir, kekosongan hatinya terjadi karena ia belum bisa mengeluarkan Gazelle dari dalam penjara kotor ini, tapi pikirannya ternyata salah. Kekosongan itu tetap saja ada setelah ia berhasil membebaskan Gazelle dari dalam sel tahanan ini. Sebenarnya apa yang kuinginkan?


            "Sekarang bagaimana? Apa aku harus keluar dari pintu rahasia yang berada di sebelah sana?" Tanya Gazelle tiba-tiba dan berhasil mengusik lamunan sesaatnya. Spencer mengikuti arah telunjuk Gazelle dan langsung mengiyakan pertanyaan wanita itu.


            "Ya, aku sudah membuka pintu itu dan mempersiapkan jalan teraman untuk keluar dari penjara ini. Tapi kau harus terlihat seolah-olah kau kabur, jadi kau tutup saja pintu itu secara serampangan dan setelah itu, bersembunyilah di kamarku untuk malam ini. Kau bisa memulai penyamaranmu esok pagi." pesan Spencer sebelum Gazelle melangkah pergi menuju pintu rahasia itu dan meninggalkan Spencer sendiri tanpa ucapan terimakasih atau penghargaan yang pantas untuk pengorbanan pria itu.


            "Cih, memangnya apa yang kau harapkan dari wanita angkuh dan tak tahu diri itu Spencer? Kau memang ******** idiot yang mengenaskan." gumam Spencer pada dirinya sendiri. Sambil memandang getir pada sel kosong yang berada di depannya, Spencer kemudian mulai berjalan pergi dengan terlebihdahulu ia melemparkan


segerendel kunci yang digenggamnya ke dalam sel tahanan kosong milik Gazelle. Semoga saja rencananya kali ini benar-benar berjalan sesuai rencana, dan semoga Aiden tidak mengetahui rencananya, karena jika hal itu terjadi, maka ia harus bersiap untuk kehilangan kepalanya mulai dari sekarang.


-00-


            Keesokan harinya, kegemparan langsung terjadi di istana Khronos setelah para penjaga itu sadar dan mengetahui jika Gazelle telah kabur. Mereka semua langsung berpencar untuk mencari keberadaan Gazelle yang kemungkinan belum terlalu jauh dari kerajaan Khronos. Sembari mereka berkeliling wilayah Khronos, mereka terus berdoa dalam hati agar raja mereka kali ini memberikan ampunan pada mereka, karena mereka telah lalai dalam menjalankan tugas. Bayangan kemarahan Aiden yang begitu mengerikan dan meledak-ledak terus berputar-putar di kepala setiap prajurit yang telah melakukan keteledoran dan menyebabkan tahanan mereka kabur.


            Sementara itu di dalam kamar yang hangat dan remang-remang, Aiden masih terlelap dengan nyaman di dalam rengkuhan Calistha. Dua manusia itu masih sama-sama lelah setelah semalam mereka melakukan pergulatan panas, dan mereka baru benar-benar memejamkan mata pukul empat pagi.


Tok tok tok


            Suara ketukan yang nyaring itu berhasil mengusik tidur lelap Aiden dan Calistha hingga membuat mereka mau tidak mau harus membuka mata mereka dengan berat hati.


            "Arghh, siapa yang berani mengusik waktu pribadi raja seperti ini? Apa mereka sudah bosan hidup?" Erang Aiden kesal sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Sedangkan Calistha yang mendengar hal itu langsung tertawa geli sambil mengelus lengan Aiden lembut agar pria itu tidak semakin uring-uringan.


            "Ck, jangan terlalu keras pada mereka, mungkin mereka sedang membawa berita penting untukmu. Cepat keluarlah, aku akan membersihkan diriku." ucap Calistha lembut sebelum beranjak turun dari ranjang dan berjalan pergi menuju kamar mandi.


            "Ada apa?" tanya Aiden langsung setelah ia menarik pintu kamarnya lebar-lebar. Kedua prajurit yang saat ini berdiri di hadapannya tampak ragu untuk menyampaikan berita yang mereka bawa. Keduanya saling melemparkan tatapan ketakutan satu sama lain dan tampak tidak bisa berkata-kata di bawah tatapan mengintimidasi raja mereka yang terkenal kejam. Namun setelah Aiden mulai mengeluarkan geramannya, prajurit itu langsung bersikap hormat sambil memandang takut pada Aiden.


            "Kami memiliki berita penting Yang Mulia." ucap salah satu prajurit itu akhirnya. Aiden menatap mereka datar sambil menunggu mereka untuk mengatakan berita penting yang akan mereka sampaikan padanya. Tapi lagi-lagi dua prajurit itu saling bertatapan satu sama lain dan tak kunjung menyampaikan berita penting yang mereka bawa, membuat Aiden jengah dan akhirnya harus membentak mereka kasar.


            "Cepat katakan! Kalian benar-benar telah mengganggu waktuku."


            "Mmmaafkan kami Yang Mulia, nona Gazelle kabur. Pagi ini penjaga penjara bawah tanah menemukan sel tahanan nona Gazelle telah kosong dan nona Gazelle berhasil keluar dari penjara bawah tanah melalui pintu rahasia yang berada di balik pos penjaga." lapor prajurit itu dengan suara gemetar. Seketika wajah Aiden langsung berubah menjadi merah padam dan ia terlihat siap untuk menghabisi semua prajurit-prajuritnya yang tidak becus dalam bekerja.


            "Cari wanita itu ke seluruh penjuru Khronos dan umumkan pada semua rakyat Khronos agar mereka juga ikut mencari keberadaan Gazelle. Panggil Spencer sekarang, aku ingin bicara padanya!" teriak Aiden murka sambil mengepalkan tangannya marah. Dua prajurit itu langsung menunduk hormat dan segera berjalan pergi untuk menjalankan perintah raja.


               Sementara itu, seorang wanita dengan pakaian pelayan tampak sedang mengintip dari balik pilar dengan


wajah puas dan penuh kebahagiaan. Akhirnya ia dapat melihat Aiden dengan jarak sedekat ini. Betapa ia sangat merindukan pria itu dan sangat ingin memeluknya. Tapi ia tidak bisa melakukannya sekarang. Ia masih memiliki waktu dua hari lagi untuk memikirkan semua rencana yang ingin ia lakukan pada Aiden. Sekarang target utamanya adalah Aiden, bukan Calistha. Untuk masalah Calistha, ia akan menyerahkan semuanya pada Tiffany karena ia yakin wanita itu pasti bisa menyengsarakan hidup Calistha dengan berbagai macam rencana jahatnya.


            Gazelle kemudian segera berjalan pergi dari tempat persembunyiannya untuk menghampiri Tiffany di dalam


kamarnya. Ia sudah tidak sabar untuk mengejutkan wanita itu dengan kemunculannya pagi ini. Dan ia yakin, wanita itu pasti akan bersorak senang dengan keberhasilannya dalam menghasut Spencer.


Tok tok tok


            Gazelle mengetuk pelan pintu coklat itu dengan ekspresi wajah tenang. Beberapa pelayan yang berlalu

__ADS_1


lalang disekitarnya sesekali menyapanya dengan sapaan ramah dan langsung dibalasnya dengan sapaan yang tak kalah hangat. Sebagai seorang pelayan, ia tidak boleh menonjolkan sisi arogannya dan harus membaur dengan mereka semua. Tapi sayangnya hal itu memang cukup sulit untuk dilakukannya, mengingat sikap arogannya yang sangat mendominasi selama ini.


            "Ada apa mengetuk pintu kamarku sepagi ini?" tanya Tiffany gusar dengan mata yang sedikit terpejam. Rupanya wanita itu masih belum terbangun sepenuhnya dari tidur lelapnya semalam. Sambil melihat keadaan sekitarnya, Gazelle langsung mendorong tubuh Tiffany cepat ke dalam kamarnya, dan setelah itu ia langsung mengunci pintu kamar itu rapat-rapat.


            "Hey, apa yang kau lakukan? Aku akan melaporkanmu karena ketidaksopananmu hari ini." marah Tiffany tidak terima sambil berkacak pinggang. Namun Gazelle langsung membungkam mulut cerewet Tiffany dengan telapak tangannya yang lebar sambil melepaskan topi pelayan yang dikenakannya.


            "Ssstt, pelangkan suaramu. Kau ini cerewet sekali." bisik Gazelle gemas. Tiffany yang melihat Gazelle telah berdiri di depannya langsung melebarkan matanya terkejut sambil melepaskan telapak tangan Gazelle kasar dari bibirnya.


            "Jadi kau telah berhasil memperalat kekasihmu." komentar Tiffany santai dengan pandangan menggoda pada Gazelle. Wanita itu mendengus kesal dan segera berjalan pergi untuk mendudukan dirinya di atas sofa empuk yang berada di tengah-tengah ruangan. Tiffany lantas mengikuti langkah Gazelle dan menyusul wanita itu untuk duduk di sebelahnya.


            "Sudah berapa kali kukatakan padamu jika Spencer bukan kekasihku, jadi diamlah sebelum aku menarik lidahmu keluar." umpat Gazelle galak. Tiffany terkekeh pelan sambil mengangsurkan secangkir teh pada Gazelle.


            "Ini minumlah, dan selamat datang di dunia luar yang bebas."


            Gazelle menerima cangkir putih itu dengan senang hati dan langsung meneguk isinya hingga tandas. Ternyata wanita itu memang sangat pengertian padanya karena ia memang sedang merasa haus.


            "Terimakasih, aku memang sedang membutuhkan minuman." ucap Gazelle sambil meletakan cangkir tehnya yang telah kosong ke atas meja. Tiffany kemudian mulai mengamati penyamaran Gazelle dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan puas.


            "Penyamaran yang bagus, bahkan aku sendiri tidak bisa mengenali wajah licikmu yang sesungguhnya. Apakah Spencer yang membantumu untuk menyamar menjadi pelayan?"


                "Haha, tentu saja. Pria bodoh itu sudah setuju untuk membiarkanku tinggal di kerajaan ini selama tiga hari. Ia dengan bodohnya mempercayai semua ucapanku yang kuucapkan padanya semalam."


           Tiffany tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan ekspresi bodoh Spencer yang telah termakan ucapan Gazelle yang berbisa. Ia benar-benar tak habis pikir dengan Spencer yang begitu mudahnya dimanfaatkan oleh Gazelle untuk membebaskan wanita itu dari penjara bawah tanah yang kotor itu. Jika alasan pria itu hanya karena cinta, maka menurutnya itu sudah terlalu berlebihan. Cinta bukan berarti menjadi bodoh dan dungu seperti itu bukan?


            "Yah, pria itu memang bodoh. Jadi aku tidak akan terkejut jika ia dengan mudahnya dapat mempercayai semua ucapanmu yang berbisa itu. Jadi, apa rencanamu selama kau berada di Khronos? Kau tidak mungkin pergi begitu saja tanpa melakukan suatu hal yang menggemparkan rakyat Khronos bukan?"


            "Tentu saja tidak. Rencanaku kali ini adalah untuk menjebak Aiden, dan aku tidak akan berurusan dengan Calistha."


            "Kau yakin?" tanya Tiffany dengan dahi berkerut. Sungguh ia tidak menyangka jika Gazelle akan beralih pada Aiden dengan mudahnya setelah wanita itu sebelumnya selalu menggebu-gebu untuk menghancurkan Calistha.


        "Sangat yakin. Kurasa aku akan mengubah sedikit rencanaku. Aku akan menyerahkan urusan mengenai Calistha padamu, karena aku yakin kau pasti bisa melakukannya." ucap Gazelle penuh keyakinan. Lagi lagi Tiffany mengernyit heran dengan ucapan Gazelle. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu, tiba-tiba saja wanita itu datang padanya sambil berseru lantang jika ia akan menyerahkan masalah Calistha padanya. Lalu, apa yang akan dilakukan wanita itu pada Aiden?


            "Tunggu, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Bisakah kau jelaskan padaku?"


              Gazelle tersenyum licik pada Tiffany, dan setelah itu ia mulai menjelaskan semua rencananya pada partner liciknya. Sementara itu, Tiffany tampak menyimak semua penjelasan Gazelle dengan senyum licik yang sama-sama terkembang di wajahnya. Ternyata wanita itu benar-benar memiliki rencana yang sangat bagus untuk menjebak Aiden, dan rencana yang akan dilakukan oleh Gazelle dapat menjadi senjata baginya untuk menyerang Calistha.


            "Rencana yang bagus, partner. Dengan rencana itu, Aiden pasti tidak akan melepaskanmu begitu saja. Ia justru akan mempertahankanmu di kerajaan ini, sehingga kau bisa tetap tinggal di sini selamanya."


            "Aku sudah memikirkan rencana ini sejak jauh-jauh hari. Lalu bagaimana denganmu? Selama beberapa hari ini kau tidak datang ke sel tahananku, apa kau memiliki masalah?"


            Gazelle menatap wajah Tiffany penuh keingintahuan sambil bertopang dagu di hadapan wanita itu. Tiffany kemudian mulai menceritakan semua kesulitan yang ia alami selama beberapa hari ini karena ia tidak bisa menembus pertahanan Aiden. Pria itu benar-benar tidak main-main untuk menjauhkan Calistha darinya. Bahkan ia sama sekali tidak memiliki celah sedikitpun untuk menyusupkan seseorang ke dalam kamar itu karena yang diijinkan masuk ke dalam kamar itu hanya Sunny dan Yuri. Sedangkan hubungannya dengan dua wanita itu sama sekali tidak baik, bahkan sangat buruk, terutama pada Yuri. Wanita menyebalkan itu kerap kali menyerangnya dengan sindiran-sindiran halus yang menyebalkan. Belum lagi sikapnya yang tak kenal takut itu, membuatnya selalu merasa gemas jika bertemu dengan wanita itu di dalam istana Khronos.


            "Beberapa hari ini aku tidak melakukan apapun. Aiden benar-benar membawa Calistha menjauh dariku, sehingga aku tidak bisa mendekatinya. Hanya pelayan pribadinya yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam kamar itu, Yuri dan Sunny. Tapi bukan berarti aku hanya berdiam diri di kamar ini dan bersantai-santai. Aku juga memikirkan rencana lain untuk menyakiti Calistha. Dan kau pasti akan suka dengan ceritaku ini." akhir Tiffany dengan mata berbinar-binar. Gazelle kemudian mulai menerka-nerka, kira-kira rencana apa yang akan dijalankan oleh Tiffany setelah ini? Wanita itu tampaknya telah memiliki rencana lain yang lebih bagus dari rencana-rencananya yang sebelumnya.


           "Apa? Kau sepertinya sangat bersemangat untuk menceritakan rencanamu."


            "Aku bertemu dengan seorang penyihir tua di pasar. Tiga hari yang lalu saat aku sedang berjalan-jalan di pasar, aku melihat orang-orang sedang mengantre untuk diramal. Kemudian aku mendekati penyihir itu dan memintanya untuk meramalku. Tanpa kuduga, penyihir itu justru menawarkan bantuan padaku untuk menghancurkan Calistha. Ia tahu jika aku memiliki dendam yang sangat besar pada Calistha. Dan malam ini aku akan menemuinya lagi untuk meminta kantung kutukan padanya."


            "Jadi kau akan menyakiti Calistha tanpa harus berada di dekat wanita itu? Hmm, itu bagus. Kita memang tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan fisik, kita juga harus menggunakan kekuatan hitam untuk mencelakai Calistha."

__ADS_1


                Kedua wanita itu saling bertatapan satu sama lain dengan tatapan jahat penuh kelicikan yang terpancar di mata mereka masing-masing.


__ADS_2