Queen Of Time

Queen Of Time
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)


__ADS_3

            Calistha menggeliat kecil sambil mengusap matanya pelan. Semalam tidurnya sedikit tidak nyaman karena Aiden terus memeluknya dengan posesif. Setelah ia menghabiskan semangkuk supnya hingga tandas, pria itu langsung menggiringnya menuju kamar dan menyuruhnya tidur. Pria itu sama sekali tidak menyentuhnya seperti apa yang pria itu katakan di dalam dapur. Terkadang Aiden suka menggodanya atau menipunya dengan bualan yang tidak lucu dan sengaja membuatnya panas dingin dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan pria itu lakukan di malam hari.


            Sambil mengamati langit-langit kamar tidurnya, Calistha memikirkan berbagai hal yang terjadi pada hidupnya akhir-akhir ini. Semenjak ia tinggal di istana Khronos, kehidupannya benar-benar berbalik seratus delapan puluh derajat. Semua hal yang dulu tak pernah dibayangkannya akan terjadi saat ini, tiba-tiba saja telah terjadi dan membuatnya merasa sedikit aneh. Ditambah lagi saat ini ia sedang mengandung anak Aiden, rasanya itu sedikit sulit untuk dipercaya. Masih teringat jelas di dalam ingatannya bagaimana ia selalu menghina Aiden dan mengatakan kata-kata kasar yang menyakitkan hati pada pria itu, tapi ia justru termakan omongannya sendiri. Ia dengan mudahnya jatuh bertekuk lutut pada Aiden dan seolah-olah telah melupakan masa lalunya yang sangat anti pada Aiden. Apakah Aiden selama ini juga mengolok-olok kemunafikanku?


            Sekelebat bayangan Aiden yang tengah mencibirnya dengan ekspresi wajah kaku dan pias tampak hadir di dalam benak Calistha. Entah mengapa ia tiba-tiba berpikir jika mungkin saja selama ini Aiden selalu mengolok-olok kemunafikannya di belakangnya. Tapi sejujurnya itu hanya pikirannya saja, terkadang ia memang terlalu berburuk


sangka pada Aiden mengenai hal-hal yang memang selalu dikhawatirkannya, termasuk mengenai wanita-wanita yang mungkin saja dimiliki oleh Aiden di luar sana. Chalistha kemudian berbaring miring menghadap Aiden yang sedang tertidur di sebelahnya dengan wajah damai. Dalam hati Calistha memuji wajah tampan Aiden yang begitu menakjubkan saat tidur. Menurutnya Aiden akan berubah menjadi sosok yang berbeda saat tidur seperti ini. Ia akan terlihat lebih manusiawi dan terlihat lebih menikmati hidup.


            Lama Calistha mengamati wajah Aiden sambil memikirkan masa depannya. Jika dihitung-hitung waktu bulan purnama tinggal sembilan belas hari lagi. Itu berarti ia akan segera menikah dengan Aiden dalam kurun waktu sembilan belas hari ke depan. Betapa waktu berjalan begitu cepat disekitar mereka. Tapi rasanya ia belum terlalu mengenal Aiden dengan baik. Ia hanya sekedar tahu kebiasaan-kebiasaan unik Aiden dan perangai pria itu yang kasar namun penuh dengan maksud tersembunyi di belakangnya. Selain itu ia belum pernah pergi ke luar dari istana untuk mengunjungi calon rakyat-rakyatnya di luar sana. Ia merasa sebagai seorang calon ratu, ia harus melakukan hal itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Aiden. Ia terlalu takut akan memancing pertengkarang lagi diantara mereka, padahal ia sedang tidak ingin memuali pertengkarang apapun pada Aiden. Mulai sekarang ia hanya ingin hidup damai hingga nanti saat persalinannya tiba dan hingga nanti Tuhan mencabut nyawanya dari raganya.


            Dibelaianya pipi Aiden pelan sambil menatap dalam pada pria itu. Pada usapan pertama, kedua mata pria itu langsung terbuka sempurna sambil menyingkirkan tangan Calistha dari wajahnya, Aiden rupanya tidak terlalu suka mendapatkan sentuhan tiba-tiba dari Calistha sejak insiden Gazelle yang menyusup ke dalam kamarnya dan membelai seluruh tubuhnya hingga ia merasa jijik. Meskipun ia tahu jenis sentuhan itu berbeda, tapi ia merasa tubuhnya sekarang tidak terlalu menyukai belaian dari siapapun.


            "Ada apa? Apa kau mengalami mimpi buruk lagi?"


            Calistha menggeleng pelan dan semakin menyusupkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat Aiden. Sudah beberapa hari ini ia tidak mengalami mimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya. Dan ia cukup bersyukur akan hal itu karena ia tidak perlu merasa cemas dan ketakutan saat akan memejamkan mata. Sedikit banyak mimpi buruk itu mempengaruhi kondisi mentalnya. Meskipun ia telah mengatakan pada dirinya sendiri jika semua itu tidak nyata dan hanya bunga tidur, tapi tetap saja ia merasa takut. Semua kilasan yang ia lihat di dalam mimpinya terasa begitu nyata dan bukan semata-mata hanya bunga tidurnya saja.


            "Aku baik-baik saja. Aiden, sembilan belas hari lagi kita akan menikah bukan? Apa yang seharusnya kulakukan untuk mempersiapkan hal itu?" pancing Calistha tenang. Ia harap Aiden akan menjawab pertanyaannya seperti apa yang diinginkannya. Tapi harapannya itu langsung pupus karena Aiden justru menjawabnya dengan jawaban lain yang terdengar begitu tegas dan tak terbantahkan.


            "Kau hanya perlu sehat dan hidup."


            Jawaban itu mengalun dengan mantapnya dari dalam bibir Aiden, seakan-akan pria itu hanya menginginkan diri Calistha yang hidup dan sehat. Padahal tujuan Calistha menanyakan hal itu agar Aiden menjawabnya mengenai seputar kehiduan ratu yang akan ia jalani di Khornos, tapi nyatanya tidak. Bagi Aiden keadaan Calistha dalam keadaan yang sehat dan hidup jauh lebih penting dari apapun. Ditambah lagi dengan banyaknya orang-orang jahat yang ingin menghancurkannya dan menyakitinya melalui Calistha, mereka pasti akan terus melakukan berbagai macam cara untuk mewujudkan rencana licik mereka.


            "Hanya itu? Yah, itu jawaban yang sangat bagus. Tapi, apakah kau tidak memiliki jawaban yang lain, seperti masukan-masukan untukku sebelum aku menjadi ratu Khronos yang sesungguhnya?"

__ADS_1


            "Tidak. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting seperti itu. Menjadi ratu akan jauh lebih mudah jika keadaanmu sehat dan kau juga dalam keadaan hidup. Lagipula siapa yang membutuhkan seorang ratu yang sakit-sakitan dan juga mati, lebih baik aku mencari wanita lain yang bersedia menuruti perintahku dan tidak suka membangkang sepertimu." jawab Aiden telak. Rasanya Calistha ingin mencubiti seluruh tubuh Aiden dengan tangannya yang ganas. Pria itu! Calistha benar-benar merasa kesal padanya.


            "Arghh, kenapa kau justru menjawabnya dengan seperti itu? Apa kau memang berencana untuk mencari wanita lain di luar sana? Kalau kau memang ingin mencari wanita lain, carilah. Aku tidak peduli!" ucap Calistha kesal. Wanita itu langsung membalikan tubuhnya ke samping kiri, membelakangi posisi Aiden yang saat ini sedang


terkekeh geli dengan sikap Calistha yang manja. Masih teringat jelas di dalam kepalanya bagaimana dulu sikap Calistha yang sangat keras kepala dengan segala pikiran nekatnya. Namun dalam sekejap wanita itu dapat berubah menjadi sosok yang sangat manis dan juga lucu serta suka sekali merajuk seperti ini. Bukankah wanita memang makhluk yang membingungkan?


            "Kau marah? Kau bilang kau tidak akan peduli jika aku mencari wanita lain dan menikahinya? Kau..."


            "Aku tidak mengatakan aku tidak akan peduli jika kau menikahi wanita lain! Jika kau memang berencana untuk menikahi wanita lain, kau akan mati." ancam Calistha galak. Seketika tawa Aiden pecah dengan sangat keras di hadapan Calistha. Pria itu benar-benar tidak menyangka jika Calistha akan mengancamnya seperti itu. Apakah wanita itu baru saja bersikap posesif padanya?


            "Reaksimu benar-benar sangat tak terduga. Apa kau baru saja bersikap posesif padaku, hmm?"


            Calistha tampak kelabakan untuk menjawab pertanyaan Aiden. Ia tidak tahu jika reaksinya akan menjadi sasaran empuk bagi Aiden untuk menggodanya. Padahal itu semua benar-benar murni karena sikap spontanitasnya, bukan karena ia posesif pada Aiden. Tapi jika hal itu benar-benar terjadi, sepertinya ia memang akan membunuh Aiden.


            "Aap apa, posesif? Aa aku tidakk... Bukan begitu! Aku tidak posesif. Justru jika kau memang berniat mencari wanita lain aku akan membunuhmu dan setelah itu aku akan mencari pria lain yang lebih baik daripada dirimu." jawab Calistha akhirnnya dengan suara lantang. Aiden tiba-tiba langsung memeluk Calistha dan membawa tubuh wanita itu mendekat padanya. Pria itu menatap kedua mata Calistha tajam tanpa mengatakan sepatah kata apapun sambil tetap mengurung tubuh Calistha dengan tangan kekarnya, membuat Calistha cukup merinding dengan sikap pria itu yang terkadang terlihat misterius dan mengerikan.


kamarku, seumur hidupmu." bisik Aiden bersungguh-sungguh. Calistha merasa dirinya kehilangan kata dengan ucapan Aiden. Ia benar-benar tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk membalas ucapan Aiden karena ia cukup merinding dengan ucapan Aiden yang mengatakan jika ia adalah pria yang posesif. Membayangkan Aiden yang akan mengurung dirinya seumur hidup di dalam kamar pria itu rasanya... benar-benar sangat mengerikan. Lebih mengerikan daripada harus melihat kepala Gazelle yang ditebas oleh Spencer. Dan ia tidak akan mau diperlakukan seperti itu. Ia adalah wanita bebas. Bahkan jika ia tidak sedang hamil seperti saat ini, ia berencana untuk mengikuti latihan pedang dan berkuda di halaman belakang istana. Sejak dulu ia sangat ingin bisa menguasai


teknik-teknik berkuda sambil melakukan serangan pada musuh-musuhnya, pasti akan sangat menakjubkan.


            "Kau mengancamku? Hmm, ternyata kau cukup licik dan menyebalkan. Kau menggunakan ancaman yang sangat tidak kusukai untuk membuatku tetap berada di sisimu. Baiklah, tidak masalah. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?" tawar Calistha dengan wajah yang berubah cerah. Entah apa yang dipikirkan wanita itu hingga ia tiba-tiba berubah menjadi sangat berbinar-binar seperti itu. Mungkinkah ia akan menawarkan kompromi diantara mereka?


            "Apa? Kau sedang berusaha untuk mengajakku berkompromi denganmu?"

__ADS_1


            "Anggap saja seperti itu. Jadi begini, diantara kita harus ada kesepakatan tentang komitmen yang akan kita bangun, bagaimana?"


            Aiden tampak berpikir sebentar sebelum ia menganggukan kepalanya. Sejujurnya ia tidak terlalu paham


dengan jalan pikiran Calistha. Tapi kali ini demi menyenangkan hati Calistha, ia akan menurut pada wanita itu dan mengiyakan semua keinginannya, selama keinginannya bukan sesuatu yang aneh dan merugikan untuknya.


            "Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku akan menuruti semua keinginanmu asalkan keinginanmu masuk akal dan tidak merugikanku."


            "Ck, selalu saja memberikan syarat. Permintaanku sama sekali tidak akan merugukanmu karena aku hanya ingin kau berjanji padaku untuk tidak menikah dengan wanita lain selama aku masih hidup, begitupun denganku, aku tidak akan menikah dengan pria lain selama kau masih hidup. Kau setuju?"


            Rasanya Aiden ingin tertawa mendengar persyaratan konyol yang diajukan oleh Calistha. Bukankah wanita itu tahu jika ia tidak bisa menikahi wanita lain selain dirinya. Justru ia yang seharusnya mengajukan persyaratan itu pada Calistha karena ia bisa saja menyukai pria lain selain dirinya. Tapi berhubung persyaratan itu tidak merugikannya dan sedikit banyak dapat membantunya untuk mengikat Calistha agar tetap di sisinya, ia akan menerima persyaratan itu.


            "Baiklah, kurasa itu tidak sulit. Tapi mengapa tiba-tiba mengajukan persyaratan seperti itu? Apa kau takut kehilangan posisimu sebagai ratu?" goda Aiden dengan tatapan menyelidik. Wajah Calistha seketika berubah menjadi merah padam karena godaan Aiden. Ia sebenarnya ingin mengelak, tapi mengingat wajahnya yang sudah berubah menjadi semerah tomat itu rasanya tidak mungkin ia akan menyangkal semua godaan Aiden. Ia sudah tertangkap basah oleh Aiden, dan mau tidak mau ia harus mengakuinya.


            "Ttentu saja, untuk menjadi ratu seperti sekarang ini sama sekali tidak mudah, jadi aku tidak akan membiarkan wanita lain merebutnya dariku. Dan lagi, persyaratan itu bukan semata-mata karena aku takut posisiku sebagai ratu digantikan oleh orang lain, tapi untuk menjamin kesetianmu. Apapaun dapat terjadi di masa depan, termasuk fisik dan wajahku yang mungkin saja akan berubah menua dan terlihat tidak sempurna di matamu. Aku ingin saat menua nanti kau tetap menjadi Aiden yang selalu mencintaiku."


            Aiden merengkuh Calistha ke dalam pelukannya sambil mengelus punggung wanita itu lembut. Kata-kata yang diucapkan Calistha terasa begitu menyentuh hatinya. Bahkan cintanya untuk Calistha tidak akan sebatas hingga wanita itu menua, tapi selamanya. Selamanya hingga ia tidak dapat merasakan oksigen ini mengaliri paru-parunya lagi.


            "Tentu. Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi Aidenmu." janji Aiden pasti. Calistha tersenyum lembut di dalam pelukan Aiden. Sekarang ia merasa begitu mudah untuk mempercayai apapun yang dikatakan oleh Aiden. Dan sekarang ia benar-benar merasa yakin jika selamanya Aiden akan tetap menjadi Aidennya yang berharga. Aidennya yang hanya diciptakan untuknya.


-00-


            Di dalam sebuah ruangan yang sepi seorang pria sedang menatap wajah seorang wanita yang sedang tertidur pulas dengan gaun berwarna putih yang tampak pas membalut tubuh mungilnya. Wanita itu begitu damai dan tenang, seakan-akan wanita itu sama sekali tidak memiliki beban. Pria yang tengah menatap wajah wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk membelai wajah sang wanita yang tiba-tiba tersenyum dalam tidurnya. Sembari mengamati wajah cantik sang wanita, pria itu membawa tangan kanan sang wanita untuk di dekatkan pada bibirnya, dan dengan penuh perasaan pria itu mencium punggung tangan sang wanita sambil tetap mengamati wajah damai sang wanita yang masih tertidur lelap di hadapannya.

__ADS_1


             "Bangunlah, dan temui aku di sini." gumam pria itu miris sambil menggenggam tangan itu erat. Tapi wanita itu tidak pernah mendengar bisikannya yang miris dan tetap memejamkan matanya dengan damai. Entah kapan wanita itu akan bangun dan mendekapnya penuh sukacita. Yang pasti ia akan tetap menunggu wanita itu hingga ia membuka mata.


            "Waktuku selamanya hanya untukmu, sayang."


__ADS_2