Queen Of Time

Queen Of Time
Still Stuck In That Time (Fifthy)


__ADS_3

Malam hari yang dingin dan sunyi, Spencer masih terjaga sambil mengamati ribuan bintang-bintang yang bertaburan di atas langit Khronos. Musim panas di kerajaan Khornos memang selalu tanpa hujan, sehingga ia dapat mengamati bintang-bintang di atas langit sambil merenungkan banyak hal. Sekilas ia mirip sekali dengan pemuda-pemuda desa yang norak, yang suka meratapi nasib di bawah langit malam yang sunyi. Tapi mau bagaimana lagi, hanya inilah satu-satu cara dan satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk memikirkan semua hal yang telah terjadi padanya akhir-akhir ini.


            "Huuuhhh."


            Helaan nafas lelah lolos begitu saja dari bibir Spencer. Hari ini pekerjaannya begitu banyak dan melelahkan. Aiden seharian ini juga terlalu sibuk mengurusi Calistha dan mayat Gazelle, sehingga semua tanggungjawab sang raja harus ia kerjakan sendiri. Tapi sepertinya ia harus lebih bersyukur dengan pekerjaanya sekarang, karena semuanya terasa lebih baik tanpa peperangan. Dulu saat Calistha belum datang ke dalam kehidupan Aiden, dan Aiden masih mencari Calistha, hampir setiap minggu Aiden pasti akan mengibarkan bendera perang pada seluruh musuh-musuhnya yang terbukti menyembunyikan putri-putri kerajaan Kairos. Setiap hari Aiden juga selalu merekrut prajurit baru demi memenangkan setiap peperangan yang ia pimpin. Tapi setelah Calistha datang ke dalam kehidupan Aiden, Aiden menjadi lebih lunak dan tidak terlalu garang seperti sebelumnya. Pria itu kini jauh lebih bisa mengontrol emosinya yang meluap-luap, yang dulu hampir-hampir tidak pernah bisa dikuasainya. Namun hari ini sang raja kembali berubah menjadi monster setelah pertengkarannya dengan Calistha, dan itu cukup mengejutkan


Spencer. Pasalnya kebiasaan Aiden yang suka menyiksa tahanan dengan sangat kejam seperti itu sudah lama tak dilakukannya. Kehadiran Calistha benar-benar sangat menakjubkan untuk Aiden. Calistha seperti seorang dewi yang turun dari kayangan untuk menolong jiwa rusak Aiden. Tapi terkadang ia merasa Aiden terlalu memuja Calistha. Ia merasa sang raja sudah berubah terlalu jauh dan ia terlihat seperti seorang remaja labil yang sedang dimabuk asmara. Semua ketegasan yang dulu selalu ditampakan oleh Aiden perlahan-lahan mulai melemah. Pria itu tidak lagi menggunakan cara-cara kasar untuk memperingatkan seseorang yang memiliki kesalahan ringan, justru sekarang Aiden selalu memberikan kesempatan pada bawahannya yang terbukti telah melakukan kesalahan ringan, termasuk para menteri yang akhir-akhir ini justru semakin tidak disiplin saat bekerja. Sebenarnya ia ingin memperingatkan hal ini pada Aiden, tapi ia takut akan membuat Aiden tersinggung karena kedudukannya sebagai pengawal setia Aiden masih belum pantas untuk memberikan wejangan pada Aiden. Ia hanya dapat berharap semoga dengan kehadiran sang ratu, raja tidak serta merta menjadi lemah dan kembali menunjukan kekuasaanya yang kejam seperti dulu.


            Sembari memikirkan Aiden dan juga nasib kerajaan Khronos, tak sengaja ekor mata Spencer melihat sebuah bayangan hitam yang bergerak dibalik semak-semak rimbun di bawah sana. Refleks kedua matanya langsung terbuka lebar untuk mengamati bayangan hitam yang semakin lama semakin terlihat mencurigakan. Merasa penasaran, akhirnya Spencer memutuskan untuk turun dan mengikuti bayangan hitam itu yang terlihat seperti siluet seorang manusia yang sedang menyelinap keluar dari kerajaan Khronos.


            Sesampainya di halaman belakang, Spencer berjalan mengendap-endap mengikuti sosok bayangan hitam yang ternyata adalah Tiffany yang sedang mencoba menyelinap keluar melalui pintu rahasia kerajaan. Wanita itu terlihat melihat sekitarnya dengan was-was sambil terus mencengkeram erat jubah hitamnya yang bertudung. Kemudian saat suasana disekitarnya benar-benar aman, Tiffany langsung berjalan keluar, tanpa suara untuk pergi ke rumah sang penyihir.


            Dibelakangnya, Spencer terus mengikuti langkah cepat Tiffany yang tampak terburu-buru. Meskipun ia


ingin sekali menegur Tiffany dan melaporkan wanita itu pada Aiden, tapi rasa ingin tahunya tentang tujuan wanita itu menyelinap dari kerajaan Khronos lebih besar, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti wanita itu dalam diam. Lagipula selama ini ia tahu jika Tiffany bukanlah wanita baik-baik. Sejak awal Aiden membawanya dari kerajaan Diamond, wanita itu telah menunjukan sisi jahatnya, dan hendak menyerang Aiden, namun saat itu ia tidak berhasil melukai Aiden, dan justru berakhir di dalam penjara bawah tanah. Tapi sayangnya sang ratu begitu bodoh dan dengan mudahnya langsung percaya begitu saja pada sikap Tiffany yang busuk. Dan yang paling menyebalkan adalah, Aiden dengan mudahnya langsung menyetujui permintaan Calistha untuk melepaskan Tiffany, padahal jelas-jelas wanita itu adalah wanita yang berbahaya, meskipun wanita itu sempat berkelahi dengan Gazelle dan hampir saja terbunuh oleh Gazelle. Tapi rasanya raja lagi-lagi terlalu lunak pada Calistha.


Duk


Tanpa sengaja Spencer tersandung sebuah batu yang berukuran cukup besar di tengah jalan. Hampir saja ia akan tersungkur di atas tanah yang keras dan kotor. Tapi untung saja ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan hanya merasa nyeri pada ujung jari-jari kakinya. Namun Tiffany yang berada di depannya beberapa meter langsung


menghentikan langkahnya sambil berbalik arah. Cepat-cepat Spencer melompat ke sisi jalan dan bersembunyi di belakang sebuah bak sampah besar yanga baunya sebenarnya cukup busuk, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain menahan bau busuk itu sedikit lebih lama, hingga Tiffany tidak mencurigainya dan segera pergi dari tempatnya berdiri.


            "Siapa di sana?" teriak Tiffany lantang dan terdengar begitu nyaring di tengah suasana sunyi yang tercipta di sekitarnya. Spencer yang mendengar hal itu hanya mampu membungkam bibirnya rapat-rapat sambil berharap semoga Tiffany segera pergi dan tidak mencurigainya. Jangan sampai wanita itu menemukannya di balik bak sampah ini dan menggagalkan rencananya untuk memata-matai wanita itu. Rencananya untuk mengetahui perbuatan busuk Tiffany akan musnah jika wanita itu sampai menemukannya di sana.


            "Keluarlah, aku tidak akan menyakitimu." teriak Tiffany lagi masih dengan ekspresi wajah was-was. Namun tak ada seorang pun yang muncul untuk menunjukan wujud aslinya di hadapannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menemukan sosok itu sendiri, karena ia yakin jika ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya, sebelum suara gedebuk berisik yang menghentikan langkahnya yang terburu-buru.


            "Ck, dasar tikus pengganggu." decak Tiffany gusar sambil terus melangkah maju untuk menemukan sosok menyebalkan yang telah membuang-buang waktunya sia-sia. Ia bersumpah jika ia menemukan sosok itu, ia akan meminta sang penyihir untuk mengutuk sosok itu dan menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat.


            Samar-samar Spencer mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya. Merasa yakin jika itu Tiffany, Spencer pun mulai mengambil ancang-ancang untuk keluar dan menyergap Tiffany karena menurutnya ia tidak bisa pergi kemanapun lagi selain bersembunyi dibalik bak sampah itu.


Tap tap tap


Langkah itu semakin lama semakin mendekat dan semakin nyaring bergema di tengah jalanan pasar yang sepi. Dalam hati Spencer menghitung derap langkah Tiffany untuk mempersiapkan ancang-ancangnya. Dan saat ini ia telah siap untuk menyergap Tiffany sekarang.


Srugg

__ADS_1


Brukk!


"Kyaaaa! Dasar kucing sialan!"


Myeonggg!


Tiffany menjerit-jerit heboh di tengah jalan sambil menendang seekor kucing coklat yang tiba-tiba melompat ke arahnya. Spencer yang melihat hal itu langsung mengurungkan niatnya untuk menyergap Tiffany dan lebih memilih untuk tetap berdiam diri di tempat sambil mengamati pergerakan Tiffany berikutnya.


            "Ah dasar kucing sialan! Seharusnya aku membunuhnya dan memberikan mayatnya pada harimau-harimau kelaparan Aiden. Argghh! Sial!"


            Tiffany terus mengumpati kucing malang itu dengan berbagai sumpah serapah yang ia tahu. Dan hal itu berlangsung cukup lama, hingga membuat Spencer merasa geram pada sifat Tiffanya yang benar-benar sangat kasar. Bahkan pada seekor binatangpun Tiffany mampu bersikap sekasar itu, lalu bagaimana dengan manusia? Sungguh Spencer tidak mampu membayangkannya. Sudah pasti wanita itu akan sangat licik dan kejam jika berurusan dengan manusia.


            Spencer kemudian kembali mengintip dari celah-celah bak sampah yang sedikit terbukti. Dari jauh ia melihat Tiffanya yang telah berjalan pergi dengan langkah lebar-lebar meninggalkan jalanan sepi yang sebelumnya dipijakinya. Spencer kemudian segera berjalan keluar dari tempat persembunyiannya sambil setengah berlari untuk mengejar langkah lebar-lebar Tiffany yang kian menjauh. Untung saja kucing itu datang disaat yang tepat, jika tidak, ia pasti sudah tertangkap basah oleh Tiffany dan mungkin saja besok ia akan dilaporkan pada raja karena telah bersikap seperti seorang penguntit. Tapi meskipu begitu, malam ini ia akan menggunakan kesempatan yang ada untuk melihat apa yang sebenarnya dilakukan Tiffany di malama-malam dingin seperti ini. Tidak mungkin wanita itu pergi begitu saja tanpa memiliki tujuan. Ia yakin saat ini Tiffany pasti sedang menyusun sebuah rencana jahat untuk seseorang. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh wanita itu?


-00-


            Keesokan harinya, seperti biasa, Aiden kembali menjalani rutinitas paginya sebagai seorang raja. Setiap pagi ia akan mendengarkan setiap keluh kesah yang disampaikan oleh rakyat Khronos padanya. Kemudian ia akan melihat setiap laporan yang dikerjakan oleh para menterinya, dan setelah itu ia akan kembali disibukan dengan masalah-masalah kecil yang terjadi di dalam istananya, maupun masalah lain yang berada di luar kerajaanya. Tak berapa lama, Spencer muncul di hadapannya sambil membawa bergulung-gulung perkamen untuk diserahkan padanya. Setelah mendapat anggukan kecil dari Aiden, Spencer segera meletakan perkamen-perkamen itu ke hadapan sang raja sambil menunggu sang raja untuk mendongakan wajahnya ke arahnya.


            "Ada apa?" Akhirnya Aiden mendongakan wajahnya ke arahnya sambil menatap kedua manik matanya dengan tatapan datar penuh intimidasi. Tapi ia tampak tak menghiraukannya dan seolah-olah tidak terjadi apapun diantara mereka. Spencer kemudian segera menceritakan semua pengalamannya semalam saat mengikuti Tiffany yang menyelinap keluar dari istana Khronos.


            "Tiffany? Ada apa dengan Tiffany? Apa wanita itu berulah lagi?" geram Aiden tidak suka. Spencer yang melihat gelagat tidak senang Aiden langsung berinisiatif untuk menceritakan semuanya dan tidak akan menunda nundanya lagi. Menurutnya Aiden harus mengetahui hal ini karena masalah Tiffany kemungikinan besar masih berhubungan dengan Calistha dan juga rajanya, Aiden.


            "Kemarin saya melihat nona Tiffany menyelinap keluar dari istana. Karena mencurigakan, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kemana perginya nona Tiffany, dan ternyata nona Tiffany masuk ke dalam sebuah rumah yang terlihat paling suram diantara rumah-rumah yang lain. Tapi sayangnya saya tidak tahu apa yang dilakukan nona Tiffany di sana, karena saya tidak bisa masuk ke dalam rumah itu."


            "Jadi kau sudah mengetahui dimana rumah penyihir itu?"


            Spencer mengernyit heran dan bersiap untuk melontarkan pertanyaan pada Aiden, namun Aiden langsung menyelanya dan menjawab semua rasa penasaran Spencer dengan jawabannya.


            "Tiffany saat ini sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkanku dan Calistha. Ia selama ini selalu bekerjasama dengan Gazelle. Untung saja aku berhasil menyingkirkan Gazelle, sehingga tugasku sekarang jauh lebih mudah untuk menyingkirkan Tiffany, tapi ia ternyata telah menemukan partner baru yang lebih mengerikan daripada Gazelle. Bahkan dimalam saat kau membunuh Gazelle, wanita itu diam-diam menyelinap ke dalam kamar Calistha dan menyelipkan sebuah kantong kutukan di bawah ranjang Calistha. Dan semalam mungkin ia sedang meminta penyihir itu untuk memberikan kantong kutukan lain, yang lebih kuat, karena rencananya yang sebelumnya berhasil kugagalkan."


            "Jadi sebenarnya Yang Mulia telah mengetahui semua kelicikan nona Tiffany? Tapi kenapa Yang Mulia melepaskan nona Tiffany begitu saja? Apa semua ini karena Yang Mulia Calistha?"


                Aiden menatap tajam pada Spencer dan ia terlihat sangat tidak suka dengan ucapan Spencer. Ia tidak


suka jika Spencer menuduhnya lemah hanya karena Calistha. Apapun yang ia lakukan pasti telah ia pikirkan matang-matang, dan ia tidak mungkin salah dalam mengambil keputusan. Termasuk keputusannya untuk melepaskan Tiffany dari penjara bawah tanah.

__ADS_1


            "Jaga ucapanmu Spencer, Calistha bukanlah alasan untuk melepaskan Tiffany, karena aku memang menginginkan Tiffany keluar dari penjara itu. Dan aku tidak mungkin melakukannya jika aku tidak memikirkan konsekuensinya matang-matang. Jadi singkirkan semua prasangkamu tentang Calistha dan sikapku yang sekarang


terlihat lebih lunak, karena semua itu tidak ada hubungannya dengan Calistha." geram Aiden marah. Spencer langsung menunduk dalam tanpa berani menatap wajah Aiden. Ia akui ia salah karena ia sudah melangkah terlalu jauh dan membuat rajanya menjadi tidak nyaman seperti ini.


            "Lebih baik kau pergi ke rumah itu dan bakar rumah itu beserta penyihir yang tinggal di sana. Kita harus memutus mata rantai antara Tiffany dan penyihir itu. Dan jangan lupa untuk memastikan jika penyihir itu benar-benar telah mati. Kuharap kali ini kau melakukan pekerjaanmu dengan baik, apa kau mengerti?"


            "Ya, saya mengerti Yang Mulia, saya akan membakar rumah itu beserta penyihir yang tinggal di dalamnya."


            Setelah menunduk dalam, Spencer segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aiden dengan seluruh pekerjaanya yang menumpuk. Namun ketika ia hendak menutup pintu di belakangnya, ia berpapasan dengan Calistha yang hendak berjalan masuk ke dalam ruangan Aiden. Sambil menunduk dalam, Spencer berniat membukakan pintu untuk Calistha, tapi tiba-tiba saja wanita itu menghentikan gerakan tangannya dan membuatnya harus menurunkan tangannya aneh karena terlanjur menggantung di udara.


            "Aku bisa membukanya sendiri, kau tidak perlu membukakannya untukku." ucap Calistha sungkan. Ia merasa bersalah karena telah mengurungkan niat Spencer untuk membukakan pintu untuknya, padahal tangan pria itu sudah menggantung di udara, siap untuk membukakan pintu untuknya. Mereka berdua kemudian sama-sama terdiam di tempat mereka masing-masing karena merasa canggung. Selama ini Calistha tidak pernah melakukan kontak apapun dengan Spencer, padahal Spencer adalah pengawal setia Aiden dan salah satu orang yang sangat dekat dengan Aiden. Tapi, entah mengapa mereka tidak pernah bertegur sapa satu sama lain. Ia merasa selama ini Spencer juga selalu menghindarinya dan tampak enggan untuk bertegur sapa. Pernah suatu hari ia melihat Spencer berada di aula kerajaan, hendak memberikan laporan pada Aiden. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja Spencer berbalik arah dan membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Aiden, padahal ia saat itu hendak menyapa Spencer dan sedikit bercakap-cakap dengan pria itu seputar kerajaan Khronos dan seluruh rakyatnya.


            "Eemm, apa raja sedang sibuk?" tanya Calistha kikuk. Ia merasa suasana diantara dirinya dan Spencer benar-benar canggung dan sangat tidak enak. Lalu pikiran mengenai Gazelle yang dibunuh oleh pria itu setelah mereka berdua bercinta muncul di dalam kepalanya, membuatnya merasa bersalah dan merasa mual. Ia pikir ia perlu menyampaikan rasa simpatinya pada pria itu karena ia turut merasa berduka cita atas meninggalnya Gazelle.


            "Aku turut berdua cita atas meninggalnya Gazelle."


            Untuk sesaat Spencer hanya mampu mematung di tempat sambil menatap lurus pada kedua manik mata Calistha yang cemerlang. Akhirnya ia mendongakan wajahnya untuk menatap manik cemerlang milik Calistha. Dan saat kedua mata itu saling bertatapan satu sama lain, tiba-tiba saja Spencer menyadari sesuatu. Tatapan matanya.... benar-benar mampu menghipnotisku.


            "Aku tahu, pasti sangat sulit."


            "Sulit? Apa maksud anda dengan sulit Yang Mulia?" tanya Spencer setelah ia berhasil mengembalikan seluruh kesadarannya pada Calistha. Wanita itu menatap Spencer salah tingkah dan mulai menyadari jika ucapannya terdengar sedikit sok tahu dan terkesan terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Spencer.


            "Eee, maksudku kau pasti merasa... merasa..."


            Calistha terlihat bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Tatapan mata Spencer yang mengintimidasi membuatnya menjadi gugup dan tidak bisa berpikir jernih. Rasanya ia sangat menyesal karena telah membuka topik ini dan menyebabkan dirinya harus terjebak di dalam situasi yang tidak mengenakan bersama Spencer.


            "Maksud anda saya akan merasa bersalah begitu? Tidak Yang Mulia, saya sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesal telah melakukan hal itu. Justru saya merasa terhormat karena telah melakukan tugas saya sebagai seorang prajurit sejati yang patuh pada perintah raja." jawab Spencer tegas. Pria itu terlihat benar-benar


mengerikan dan sangat jauh dari kata baik-baik saja. Ekspresi wajahnya saat ini begitu dingin, dan menurut Calistha sebenarnya Spencer sangat terbebani dengan tugas membunuh Gazelle. Bahkan saat ini Calistha dapat melihat sorot kesakitan dari kedua mata Spencer, namun pria itu mencoba menutupinya dengan mengalihkan perhatiannya ke arah lain dan tidak mau bertatapan dengan manik matanya lagi.


            "Selamat pagi Yang Mulia, saya permisi." pamit Spencer dingin dan langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Calistha.


            Sementara itu Calistha masih berdiri mematung di tempatnya sambil menatap punggung tegap Spencer yang mulai berjalan pergi menjauhinya. Setitik perasaan sesal tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya dan membuatnya merasa tidak nyaman. Kini ia merasa menyesal karena telah mengangkat sebuah topik yang sangat sensitif untuk dibahas. Seharusnya ia tidak menyinggung masalah Gazelle pada Spencer dan hanya menyapa


pria itu untuk menciptakan kesan yang baik di mata pengawal setia Aiden. Tapi kesan pertamanya hari ini bersama Spencer justru berakhir buruk. Dan kini ia tidak tahu apakah pria itu akan tetap seperti itu, bersikap dingin dan muram saat berhadapan dengannya, atau pria itu akan melupakan semua kejadian hari ini begitu saja dan bersikap ramah layaknya seorang bawahan kepada ratunya?

__ADS_1


            "Huh, kenapa aku justru menyakitinya? Dasar bodoh!" umpat Calistha pada dirinya sendiri sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Aiden.


__ADS_2