
Calistha menggeliat pelan sambil mengerjap-erjapkan matanya berkali-kali. Wanita cantik itu kemudian mendudukan dirinya di atas ranjang sambil menatap bingung pada sudut-sudut kamarnya dengan aneh.
"Kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah seharusnya......"
Calistha tiba-tiba menghentikan gumamannya saat ia merasa seluruh wajahnya terasa panas dan memerah padam. Semalam ia sangat ingat jika ia telah melakukan hal yang lebih jauh bersama Aiden, tapi ia sama sekali tidak tahu jika Aiden telah memindahkannya ke kamarnya sendiri. Dengan perlahan, Calistha mulai turun dari
atas ranjangnya sambil menatap jendela kamarnya yang terbuka lebar. Pemandangan di luar sana masih tampak gelap dan sunyi. Calistha kemudian menolehkan kepalanya ke kanan, dan mendapati jam klasik di kamarnya masih menunjukan pukul satu dini hari. Sambil mengernyit aneh, Calistha kemudian memutuskan untuk menghampiri Aiden di kamarnya. Semalam, ia merasa jika Aiden memeluknya dengan erat ketika jam dinding di kamar Aiden menunjukan angka sembilan. Lalu, ia kembali memejamkan mata karena ia terlalu lelah dengan pergulatan panasnya dengan Aiden.
"Jam berapa Aiden memindahkanku ke sini?"
Calistha terus berjalan di sepanjang lorong yang sepi itu dengan perasaan aneh. Jujur ia merasa bahagia dengan kedekatannya dengan Aiden semalam, tapi ia juga merasa malu jika harus bertemu dengan pria itu nantinya. Selama ini ia selalu menolak pria itu dan mengutuknya dengan berbagai macam sumpah serapah. Namun kini, ia justru terjerat ke dalam pesonannya dan justru bersikap seperti seorang ****** yang dengan senang hati langsung jatuh ke dalam pesona seorang raja Aiden. Tanpa sadar Calistha mengusap pipinya berkali-kali untuk menghilangkan rasa panas yang semakin menjalar di setiap permukaan kulitnya ketika ia mengingat seluruh percintaan panas mereka yang ia lakukan siang hari hingga malam. Tak terhitung berapa kali ia meneriakan nama Aiden dengan bibir tipisnya setiap Aiden menenggelamkan tubuhnya ke dalamnya. Sungguh percintaan itu benar-benar menakjubkan untuknya. Dan untuk pertama kalinya, ia dapat melihat sisi lembut Aiden yang tak pernah pria itu perlihatkan sebelumnya. Saat menyentuhnya, Aiden selalu meminta ijin dan memberikan kecupan-kecupan lembut untuk menggodanya. Lalu saat pria itu harus merobek kewanitaanya dengan kejantanannya, Aiden terus
mendekapnya erat sambil menenangkannya yang terisak pelan karena kesakitan luar biasa yang ia rasakan. Tapi, hal itu tak berlangsung lama, setelah ia berhasil melewati kesakitan itu, kenikmatan demi kenikmatan datang silih berganti merengkuh tubuh mereka hingga mereka lupa diri dan sama sekali tidak keluar dari kamar sepanjang siang, bahkan hingga malam menjelang.
Calistha mendorong pintu kayu besar itu perlahan sambil menatap was-was pada suasana di sekitarnya. Malam ini para penjaga sedang tidak berada di tempat, padahal biasanya para penjaga akan berdiri dengan kaku di samping pintu ruang pribadi Aiden untuk menjaga agar ruangan raja mereka bebas dari penyusup. Saat Calistha masuk ke dalam ruangan pria itu, hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin mencekam dengan suasana gelap pekat di sekitar kamar itu. Lalu tanpa ragu, Calistha mulai berjalan menuju sudut ruangan, dimana ranjang besar Aiden tampak berdiri kokoh di sana. Dari ujung pintu, Calistha dapat melihat siluet tubuh Aiden yang sedang tidur menyamping membelakanginya. Namun, saat langkahnya sudah semakin mendekat ke arah peraduan Aiden, langkah kakinya terhenti tiba-tiba ketika ia melihat sesosok bayangan lain yang sedang memeluk Aiden dengan posesif. Bayangan itu tampak bergerak-gerak liar di sana sambil terus menggoda Aiden dengan sentuhan-sentuhan tangannya yang menjijikan.
"Aiden... Sentuhlah aku sekali lagi." desah wania itu cukup keras di sebelah Aiden. Lalu, Calistha melihat Aiden mulai bergerak dan menindih tubuh wanita itu di bawahnya. Mereka kemudian mulai melakukan kegiatan panasnya tanpa menyadari kehadiran Calistha diantara mereka.
"Bukankah itu... Gazelle?" gumam Calistha dengan suara tercekat. Wanita itu masih setia berdiri di sudut tergelap ruangan sambil menyeka bulir-bulir air mata kepedihan di matanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Aiden akan melakukan ini padanya. Padahal ia sudah meletakan kepercayaan pada pria itu untuk memilikinya, tapi Aiden justru mengkhianatinya dan bermain dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya.
"Calistha..... Calistha. Calistha!"
Calistha mendengar suara Aiden memanggilnya berkali-kali. Namun, ia memilih untuk tidak mempedulikan panggilan itu dan terus menangis terisak di tempatnya. Lalu, sebuah sentuhan lembut tiba-tiba mengejutkannya dan membuatnya segera mendongak dan membuka matanya untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Calistha, hey.. bangulah. Ada apa? Kenapa kau menangis?"
Calistha menatap Aiden bingung sambil memandang pemandangan di sekitarnya dengan pandangan buram karena bulir-bulir air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
"Apa kau bermimpi buruk?" tanya Aiden khawatir sambil menyeka bulir-bulir air mata yang telah turun membanjiri wajah Calistha. Wanita itu kemudian segera bangkit dari atas ranjang Aiden sambil menatap nyalang pada pemandangan disekitar kamar raja tampan itu.
"Aku.. masih berada di sini?" tanya Calistha bingung pada dirinya sendiri. Aiden yang tidak mengerti maksud Calistha hanya menatap wanita itu datar dari balik mata elangnya.
"Kita belum pergi kemanapun setelah percintaan panas kita." Ucap Aiden santai. Mendengar hal itu, Calistha langsung memekik kaget setelah menyadari jika setengah tubuhnya benar-benar telanjang dan tak tertutupi apapun. Padahal saat ini Aiden sedang berada di sebelahnya, dan sedang menatapnya dengan tatapan tajam setajam mata elang. Dan sialnya, mata itu tampak seperti sepasang mata elang yang kelaparan.
"Kyaa, apa yang kau lihat!" teriak Calistha marah, namun dengan wajah merah padam. Aiden terkekeh pelan di tempatnya sambil menarik tangan Calistha agar wanita itu kembali berbaring di sebelahnya.
__ADS_1
"Aku akan menjawab jujur, aku melihat tubuhmu." goda Aiden menyebalkan dengan mata mengerling menatap wajah Calistha. Calistha menepis tangan Aiden dari lengannya sambil merapatkan selimut merah tebal yang digenggamnya untuk menutupi sebagian tubuh atasnya yang terbuka.
"Jauhkan matamu dari tubuhku. Dasar raja cabul!" teriak Calistha kesal. Aiden tampak tak peduli dan justru tersenyum kecil pada Calistha. Sepertinya hari ini akan menjadi hari paling bahagia bagi Aiden setelah bertahun-tahun ia tidak pernah merasakan kebahagiaan. Ia kemudian merengkuh tubuh Calistha ke dalam pelukannya, meskipun harus dengan sedikit tenaga esktra karena Calistha terus meronta-ronta untuk dilepaskan.
"Tenanglah, aku tidak akan menggigitmu." goda Aiden lagi pada Calistha. Rasanya Calistha sudah ingin berteriak lagi pada Aiden karena pria itu hari ini terlihat sangat menyebalkan dengan berbagai macam godaan yang dilontarkan pria itu padanya. Belum lagi dengan keadaan mereka yang masih sama-sama tak menggunakan apapun, hal itu semakin membuat Calistha merasa malu dan salah tingkah.
"Aiden, lepaskan. Kau membuatku tidak bisa bergerak dengan bebas." keluh Calistha tidak nyaman. Tapi, Aiden tetap terus memeluknya dan tampak tak berniat untuk melepaskan tubuh sang ratu darinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Belum, hingga aku merasa puas dan mengijinkanmu untuk keluar dari ruangan pribadiku." jawab Aiden tenang. Pria itu mulai memejamkan matanya sejenak untuk menikmati setiap momen kedekatannya dengan Calistha. Tapi, meskipun kebahagiaan ini begitu memabukan untuknya, masih ada masalah lain yang akan mengganggu kebahagiaannya hari ini. Setelah ia bercinta dengan Calistha semalam, sebagian kutukannya telah hilang. Jika Calistha setelah ini mengandung anaknya, maka ia harus lebihs siap untuk menghadapi berbagai macam masalah yang mungkin saja akan menghadang hubungan mereka setelah ini. Seharusnya ia tidak tergoda dengan tubuh Calistha hingga bulan depan, saat bulan purnama kembali muncul di langit Khronos. Tapi, ketertarikan antara tubuhnya dan Calistha benar-benar sangat kuat, hingga ia merasa tidak sanggup untuk melepaskan diri dari tubuh Calistha. Wanita itu benar-benar bagaikan candu untuknya.
"Kenapa kau menangis?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Aiden itu membuat Calistha kembali teringat akan mimpinya yang terasa begitu nyata baginya. Bayang-bayang saat Gazelle bergelung di atas tubuh Aiden kembali menampar wajah Calistha hingga Calistha merasa sakit dan pening. Ia tidak tahu apakah mimpi itu perlu ia takutkan atau tidak, tapi tetap saja mimpi itu akan menjadi bayangan mengerikan yang terus mengikutinya setelah ini.
"Aiden, kau tidak akan melepaskan Gazelle bukan?"
Aiden mengernyit bingung di atas pundak Calistha. Ia tidak menyangka jika tiba-tiba ratunya akan menanyakan hal ini, mengingat Calistha selama ini masih gigih membela Gazelle setelah apa yang dilakukan wanita licik itu padanya. Tapi, apapun yang terjadi, ia memang tidak akan melepaskan Gazelle dari penjara bawah tanahnya karena Gazelle adalah wanita yang sangat mengerikan. Kebencian yang mendarah daging di tubuhnya telah membuatnya tumbuh menjadi wanita paling jahat yang pernah dikenal oleh Aiden. Meskipun ia sadar jika semua itu masih ada kaitannya dengan dirinya, tapi ia sama sekali tidak menyangka jika kejadian itu akan berkembang menjadi kejahatan besar seperti ini. Andai saja saat itu ia tidak sedang dikuasai oleh amarah hingga membuatnya harus berbuat kasar pada Gazelle, pasti masa depannya tidak akan semakin rumit seperti ini. Sungguh ia sangat membenci jalan hidupnya yang penuh liku-liku seperti ini.
"Tidak. Meskipun kau yang memintanya sekalipun, aku tidak akan melepaskan Gazelle." jawab Aiden tegas. Calistha menghebuskan nafasnya lega sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang Aiden. Untuk saat ini ia akan mempercayai semua ucapan Aiden, tapi jika pria itu sekali saja melanggarnya, maka ia akan membenci pria itu seumur hidupnya.
"Aiden, apa yang kau lihat di masa depan?"
"Aku tidak melihat apapun. Apa kau melihat sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya bermimpi, mimpi yang sangat mengerikan dan membuatku dapat menangis karenanya. Tapi karena kau tidak melihat apapun, aku yakin jika mimpi itu hanya sekedar mimpi karena aku terlalu serius memikirkan semua ini." ucap Calistha getir. Aiden mengelus puncak kepala Calistha berkali-kali sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin membuat Calistha semakin bersedih dengan mimpinya karena ia tahu jika mimpi itu pasti sangat mengerikan untuk Calistha. Beberapa saat yang lalu, saat ia sedang menyesap winennya sendiri sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan yang mungkin akan terjadi pada hidupnya setelah ini. Tanpa sadar ekor matanya menangkap adanya gerakan tubuh Calistha yang disusul dengan isakan pelan wanita itu. Merasa penasaran, akhirnya Aiden memutuskan untuk meletakan gelas winenya di atas meja, dan beranjak untuk menenangkan Calistha yang semakin terisak dengan keras di dalam tidurnya. Berkali-kali ia mengguncangkan tubuh Calistha, agar wanita itu segera terbangun dan membuka mata, tapi Calistha tampak tidak terpengaruh, hingga membuatnya harus mengeluarkan suara yang cukup keras untuk menyadarkan wanita itu dari
mimpi buruknya. Tapi, ada satu hal yang ia sadari dari ekspresi wajah Calistha yang terlihat terluka itu, sesuatu yang buruk terngah terjadi di dalam mimpi Calistha, dan ia yakin jika hal itu masih ada kaitannya dengan dirinya. Dan dugaannya, saat itu Calistha sedang melihat masa depan, meskipun sebenarnya ia tidak sepenuhnya yakin.
"Lupakan semuanya yang mengganggu pikiranmu malam ini, karena aku berjanji akan selalu menjagamu dari orang-orang jahat yang mengincarmu di luar sana."
"Apa kau juga akan berjanji untuk tidak mengkhianatiku dan meninggalkanku?" tanya Calistha sendu. Aiden lalu menganggukan kepalanya yakin, tanpa menyadari jika mungkin saja janjinya itu akan memberatkannya suatu saat nanti.
"Aku janji."
Lalu keadaan disekitar mereka menjadi cukup hening untuk beberapa saat. Baik Calistha maupun Aiden, keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa berniat sedikitpun untuk membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu. Tapi, tiba-tiba Aiden mendapatkan ide untuk sedikit memberikan Calistha hadiah. Ia tahu jika wanita itu baru saja menghadapi berbagai masalah yang sangat pelik dalam hidupnya. Oleh karena itu ia ingin sedikit memberi hiburan pada Calistha dengan mengadakan sebuah pesta untuk wanita itu.
__ADS_1
"Aku ingin mengadakan pesta.... untukmu."
"Pesta? Untukku?"
"Hmm, pesta untuk penyambutanmu."
"Kurasa itu terlalu berlebihan." komentar Calistha acuh dan seakan-akan tidak suka. Aiden menipiskan bibirnya kesal karena sikap Calistha yang terkesan tidak menghargainya, padahal ia sudah berniat baik dengan memikirkan kebahagiaan ratunya yang tampak murung itu, tapi usahanya justru tidak dihagai sedikitpun
oleh Calistha. Sebenarnya apa yang harus ia lakukan untuk Calistha? Mengapa wanita itu sulit sekali untuk diraih? Bahkan dengan kelembutan sekalipun, wanita itu masih terasa mustahil untuk digapai.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku sudah berbaik hati ingin membahagiakanmu, tapi kenapa kau selalu menolakku dengan kata-katamu yang dingin itu? Apa kau masih meragukanku?"
Calistha mendongakan kepalanya heran sambil menatap wajah Aiden tidak mengerti. Sepertinya ia sedang
tidak memicu pertengkaran apapun pada pria itu, tapi kenapa tiba-tiba Aiden marah padanya? Apa pria itu sedang dalam mode sensitif sekarang?
"Kau kenapa? Bukankah aku tidak mengatakan apapun? Aku hanya mengatakan jika pesta penyambutan akan terlihat sedikit berlebihan, tapi aku tidak menolaknya. Kau marah?"
"Dengar, kau adalah ratuku, jadi aku ingin memperkenalkanmu pada rakyatku. Jadi, kuharap kau bisa menyiapkan dirimu sebaik mungkin untuk pesta penyambutan nanti."
"Baiklah, kali ini aku akan menuruti semua keinginanmu. Kuakui, aku menyerah pada pesonamu raja Aiden. Kau membuatku tak berkutik dan bertekuk lutut memohon setuhanmu. Jadi, tolong jangan marah padaku."
Aiden tersenyum sumringah mendengar ucapan Calistha. Tak menyangka jika wanita itu akhirnya mengatakan hal itu padanya. Dengan erat, Aiden langsung memeluk Calistha ke dalam pelukannya dan memberikan beberapa ciuman ringan di puncak kepala wanita itu. Hatinya yang selalu terasa panas, kini terasa sejuk dan dingin, seolah-olah Calistha baru saja menyiram seluruh permukaan hatinya dengan air es yang begitu menyejukan. Penantian panjangnya, terbayar sudah. Calistha menerimanya. Calistha telah menerimanya dengan sepenuh hati.
"Aku merasa bahagia. Apa kau tahu jika sebagian hidupku hanya kuhabiskan untuk mencarimu dan mendengar kata-kata cinta dari wanita yang ditakdirkan untukku. Jadi aku akan mempertegasnya sekarang, apa kau mencintaiku?"
Calistha terdiam cukup lama untuk mencerna kata-kata dari bibir Aiden.
Apakah aku mencintai Aiden? batin Calistha tak yakin. Jujur ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan rasa cinta. Hanya saja ia merasa tenang dan aman bila berada di dekat Aiden. Dan hal itu baru disadarinya saat ia berada di kerajaan Bibury. Sebenarnya saat berada di kerajaan Hora, saat Aiden untuk pertama kalinya muncul di hadapannya, perasaan aneh itu telah muncul dan menyusup secara perlahan-lahan di hatinya. Tapi, saat itu ia masih terlalu membenci Aiden dengan segala kearogansian yang ditunjukan oleh pria itu padanya, sehingga ia sama sekali tidak menyadari adanya sebuah ikatan diantara mereka. Dan kali ini ia akan mengatakan apa yang dirasakannya pada Aiden, karena ia sama sekali tidak ingin mengecewakan pria itu. Ia tahu jika Aiden benar-benar tulus padanya, tapi siapa yang akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Apapun dapat berubah sewaktu-waktu dan tanpa terduga, termasuk perlakukan lembut pria itu padanya. Jadi, ia tidak akan terburu-buru untuk mengatakan kata cinta pada Aiden hari ini. Lagipula hubungannya dan Aiden baru saja akan dimulai, masih ada banyak waktu untuk mengetahui bagaimana perasaanya pada pria itu. Jadi, ia hanya ingin menjalani kehidupannya setelah ini dengan damai sambil menunggu adanya kejutan yang mungkin saja akan datang dan mengejutkannya.
"Kuakui, aku merasa nyaman dan merasa aman berada di sampingmu. Kau melindungiku dengan seluruh jiwamu, dan itu benar-benar sangat luar biasa untukku. Jadi, bisakah kita menjalani semuanya terlebihdahulu. Karena aku tidak tahu apakah aku men...."
Aiden langsung ******* bibir Calistha dalam sebelum Calistha berhasil menyelesaikan kata-katanya. Tidak masalah jika Calistha memang belum mencintainya. Tapi, melihat adanya kemajuan pada sikap wanita itu padanya, baginya itu sudah cukup.
"Tidak masalah jika kau belum mencintaiku, asalkan kau selalu berada di sampingku dan tidak mencoba untuk kabur, itu tidak masalah."
__ADS_1
Calistha tersenyum bahagia dengan ucapan Aiden. Wanita itu tidak menyangka jika Aiden akan bersikap selembut itu padanya.
"Terimakasih, dan aku berjanji akan berusaha untuk mencintaimu." ucap Calistha sungguh-sungguh. Kedua manusia yang telah dibutakan oleh gairah itu kembali saling ******* satu sama lain untuk menyalurkan rasa cinta mereka yang masih sama-sama terpendam oleh ego mereka. Tapi, meskipun begitu setidaknya hubungan mereka sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Calistha menyadari perasaanya dan Aiden dapat benar-benar terlepas dari kutukannya.