
Aiden duduk termenung di atas kursi kebesarannya sambil mengamati tubuh Calistha yang tampak pucat di
atas ranjangnya. Sejak tabib pergi tiga jam yang lalu, Calistha belum juga membuka matanya. Padahal sang tabib mengatakan jika ratu akan segera sadar sebentar lagi, tapi sudah tiga jam ia menunggunya, wanita itu belum juga
membuka matanya. Sembari menyesap anggur merah kesukaannya, Aiden mulai memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi padanya dan juga Calistha. Sekarang kemampuannya untuk melihat masa depan sudah sedikit berkurang, dan hal itu karena ia telah bercinta dengan Calistha beberapa hari yang lalu. Seharusnya mereka memang tidak diijinkan untuk bersentuhan sebelum mereka benar-benar menikah di malam bulan purnama. Tapi hasrat untuk memiliki Calistha benar-benar kuat, hingga ia tidak terlalu memikirkan dampak buruk yang
akan menimpanya di kemudian hari.
"Mungkinkah Calistha akan mengandung setelah ini?"
Pertanyaan itu terus berkelebatan di dalam benak Aiden sejak ia melakukan percintaannya dengan Calistha malam itu. Namun saat itu ia masih merasa tidak yakin karena Calistha mungkin saja tidak akan mengandung hanya dengan sekali bercinta. Tapi melihat kekuatannya yang semakin lama semakin melemah, ia sekarang menjadi yakin jika Calistha pasti akan segera mengandung setelah ini. Menurut ramalan itu, kekuatannya akan menghilang secara perlahan seiring dengan bertambah tuanya usia kandungan Calistha. Dan sekarang ramalan itu benar-benar terbukti, dari hari ke hari kekuatannya untuk melihat masa depan semakin melemah. Dan mungkin saja setelah ini ia akan kehilangan kekuatan untuk hidup kembali, nyawanya tidak akan bisa kembali seperti dulu.
Aiden kemudian mendesah frustrasi sambil menyesap anggur merahnya gusar. Andai saja saat itu ia dapat menahan diri, maka semua ini tidak akan terjadi. Seharusnya disaat-saat seperti ini ia dapat menggunakan kekuatannya untuk melindungi Calistha, tapi kekuatannya justru semakin melemah dari hari ke hari karena sebentar lagi Calistha akan mengandung anaknya. Padahal di luar sana banyak sekali orang-orang jahat yang akan mencelakai Calistha, termasuk Tiffany yang sudah semakin menunjukan kelicikannya padanya. Setelah ini ia harus segera megambil tindakan untuk menghukum Tiffany. Wanita itu harus disingkirkan terlebihdahulu agar ia tidak semakin mencelakai Calistha, atau bahkan membunuhnya. Secepatnya ia harus mengirimkan seseorang untuk mengawasi pergerakan wanita ular itu.
"Eughhh." Samar-samar Aiden mendengar suara lenguhan Calistha dan gerakan tubuh wanita itu perlahan. Dengan sigap Aiden langsung melompat dari kursinya untuk melihat keadaan Calistha yang telah membuka matanya.
"Apa kau merasa sakit?" tanya Aiden tidak sabar ketika ia melihat Calistha telah membuka matanya sempurna dan sedang menatap manik matanya dengan mata sayunya. Calistha menggelengkan kepalanya lemah dan berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya, tapi Aiden langsung menahan pergerakan tubuhnya dan memerintahnya untuk tetap berbaring.
"Jangan bangun, kau harus banyak-banyak istirahat." peringat Aiden tegas dan langsung dipatuhi Calistha begitu saja. Malam ini ia tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja. Daripada ia menghabiskan tenaganya untuk berdebat dengan Aiden, lebih baik ia menggunakan waktunya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa
lelah. Calistha kemudian mencoba mengingat semua kejadian hari ini yang telah dilewatkannya. Tiba-tiba ia teringat jika saat memasuki aula istana, ia merasa kakinya terasa sakit, sakit seperti tertusuk sesuatu, tapi ia berusaha untuk mengabaikannya karena ia pikir itu hanya efek dari menggunakan sepatu bertumit tinggi. Tapi ternyata rasa sakit itu terus berlanjut dan semakin lama ia semakin merasa tidak kuat untuk menahannya dan setelah itu ia... tak mengingat apapun lagi.
Ia tak sadarkan diri
"Apa aku pingsan?" tanya Calistha kemudian pada Aiden. Pria itu menganggukan kepala mengiyakan dan mendudukan diri di sebelah Calistha. Iris gelapnya sejak tadi terus mengamati perubahan raut wajah Calistha yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Dan ternyata benar, Calistha sedang mencoba mengingat-ingat kejadian malam ini.
"Kau pingsan karena kakimu terluka. Aku menemukan tiga buah paku di masing-masing sepatumu yang telah melukai telapak kakimu. Apa kau tidak merasakan sakit sebelumnya?" tanya Aiden dingin. Saat ini pria itu sedang menahan gejolak emosi yang menusuk-nusuk rongga hatinya. Di satu sisi ia merasa marah pada dirinya sendiri karena ia tidak bisa melindungi Calistha malam ini, dan di sisi lain ia sangat mengkhawatirkan Calistha karena wanita itu tampak begitu pucat. Calistha malam ini benar-benar terlihat lemah dan ia seperti kehilangan cahayanya. Ia benar-benar tidak suka Calistha yang pucat!
"Aku.. sebenarnya merasakan sakit, tapi aku berusaha untuk menahannya karena kupikir itu hanya efek dari menggunakan sepatu bertumit tinggi. Apa kakiku tidak apa-apa?"
"Lihat saja sendiri. Lihat dan resapi baik-baik keadaan kakimu." jawab Aiden datar yang terkesan kasar. Calistha cemberut mendapat jawaban yang tidak bersahabat dari Aiden, tapi ia berusaha untuk tidak memikirkannya dan segera menyingkap selimut merah yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Ya Tuhan!" pekik Calistha terkejut saat melihat kondisi kakinya yang tengah dibebat berlapis-lapis perban yang cukup tebal. Wanita itu berusaha untuk menggeraka-gerakan kakinya ke depan dan ke belakang, tapi ia tidak bisa melakukannya dengan maksimal dan justru merasa sakit setelahnya.
"Apa yang terjadi pada kakiku?" erang Calistha frustrasi dengan mata berkaca-kaca. Aiden menghela napas pelan dan mencoba untuk menenangkan Calistha dengan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ia turut merasa sedih saat Calistha tengah menahan tangis sepert ini. Andai saja waktu bisa diputar, maka ia akan
melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan Calistha dari malapetaka ini. Sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu lagi. Jika ia mencoba untuk bunuh diri sekarang dan mengulang waktu, ia tidak yakin ia dapat hidup lagi untuk mengulang semuanya. Justru mungkin ia akan mati dan tidak akan pernah hidup lagi.
__ADS_1
"Kakimu hanya terluka ringan, dan itu efek dari paku yang menancap di telapak kakimu. Tapi setelah seminggu, semuanya akan baik-baik saja."
"Kau yakin, kelihatannya itu sangat parah. Apa aku tidak akan bisa berjalan dalam waktu seminggu?" isak Calistha frustrasi di pundaknya. Aiden menganggukan kepalanya pelan dan semakin mengeratkan pelukannya untuk memberikan kekuatan pada Calistha. Dan benar saja, wanitu itu langsung terisak dengan keras sambil mencengkeram kuat lengannya yang kokoh.
"Apa seseorang ingin mencelakaiku?"
"Aku sedang mencari siapa pelakunya, kau tenang saja. Saat aku menemukannya nanti, aku pasti akan langsung memenggalnya tanpa ampun, karena ini adalah salah satu percobaan pembunuhan. Ia harus dihukum dengan seberat-beratnya." ucap Aiden berapi-api. Ketika mengucapkan hal itu, dalam benaknya langsung terbayang wajah licik Tiffany yang sedang menyusun berbagai macam rencana jahat untuk membunuh Calistha. Ia bersumpah akan secepatnya menemukan bukti-bukti itu dan menghukum Tiffany dengan hukuman berat yang sangat mengerikan. Mungkin sebelum ia membunuh Tiffany dengan pedang peraknya, ia terlebihdahulu akan menyiksa Tiffany dengan mengulitinya secara perlahan-lahan hingga wanita itu sendiri yang memohon kematian padanya.
"Apakah aku jahat?"
"Hmm?"
"Apakah aku jahat, sehingga orang itu ingin mencelakaiku dan membunuhku?"
"Jahat? Definisi jahat setiap orang itu berbeda-beda Cals. Seperti kau yang selalu mengganggapku jahat, tapi rakyatku tidak menganggapku demikian, mereka justru tunduk dan patuh padaku. Sama halnya denganmu, mungkin orang itu hanya merasa iri denganmu sehingga ia ingin mencelakaimu dan membunuhmu. Percayalah, tidak ada orang yang benar-benar jahat di muka bumi ini, karena kejahatan yang sesungguhnya hanya
dimiliki oleh seorang iblis." terang Aiden bijak. Calistha tertegun lama di dalam pelukan Aiden, mencoba mencerna semua ucapan Aiden yang terdengar sangat masuk akal itu. Pria itu benar, tidak ada orang yang benar-benar jahat
di muka bumi ini, dulu ia mengaggap Aiden jahat karena ia tidak mengetahui alasan dibalik semua sikap kejam Aiden, tapi setelah ia mengetahuinya, pemikiran mengenai Aiden adalah pria yang jahat perlahan-lahan mulai sirna,
digantikan dengan pemikiran jika Aiden adalah pria yang sangat bertanggungjawab dan tegar. Hanya saja selama ini ia tidak bisa memahami pria itu, sehingga ia langsung menganggap Aiden sebagai orang jahat. Lalu, kira-kira siapa yang hendak mencelakainya? Apakah orang itu telah salah paham padanya hingga ingin membunuhnya? Tapi siapa? Semua orang di istana ini selalu terlihat ramah dan sangat menyayanginya. Dan ia selalu membangun hubungan yang baik dengan mereka semua.
"Calistha, tidak semua orang yang kau pikir baik adalah orang baik. Apa kau masih ingat pada Gazelle? Kau mati-matian membelanya dan melindunginya dariku karena kau pikir ia adalah wanita yang baik, tapi kenyataannya ia justru akan membunuhmu. Berhati-hatilah dalam menilai orang, karena kau bukan orang yang pandai menilai orang lain." ucap Aiden tegas. Calistha langsung melepaskan pelukan Aiden begitu saja sambil menekuk wajahnya cemberut. Rupanya ia sedang merasa kesal pada Aiden karena pria itu lagi-lagi memojokannya dan secara tidak langsung Aiden menganggapnya bodoh karena ia tidak mampu membedakan sifat orang yang benar-benar baik dan buruk. Tapi mau bagaimana lagi, mereka semua benar-benar terlihat baik di depannya dan sama sekali tidak terlihat jahat. Diantara merekapun banyak yang menjadi teman dekatnya. Lalu bagaimana caranya ia menemukan orang jahat itu. Pasti akan sangat sulit menemukan orang jahat diantara orang-orang yang baik karena mereka dapat berpura-pura baik seperti yang lainnya.
"Sudahlah, aku lelah. Bisa kau tinggalkan aku sekarang?" usir Calistha dengan nada ketus. Aiden menaikan kedua alisnya tak habis pikir pada sikap Calistha yang mudah berubah-ubah seperti bunglon. Terkadang wanita itu bersikap manis dan penurut, namun terkadang wanita itu terlihat kembali kasar dan pemarah seperti singa betina yang kelaparan. Jujur saja ia merasa sulit untuk memposisikan diri jika berada disekitar wanita itu.
"Kau mengusirku dari kamarku sendiri? Bagus. Pertahankan sikap sopanmu itu Calistha." ucap Aiden sakarstik. Calistha tampak terkejut dan langsung mengamati seluruh kamar itu dengan seksama. Dan sekarang ia benar-benar menyadari jika kamar itu bukan kamarnya, melainkan kamar peraduan Aiden yang didominasi oleh suasana gelap yang mencekam.
"Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?"
"Apa kau sudah puas mengamati seluruh isi kamarku?"
"Kenapa aku bisa berada di sini. Aku akan kembali ke kamarku."
Calistha sudah bersiap untuk bengkit dari posisi tidurnya dan hendak berjalan turun dari ranjang besar itu, tapi Aiden langsung menahan lengannya dan menariknya kuat untuk mendekat ke arahnya yang telah merebahkan diri di samping Calistha sebelumnya.
"Mulai sekarang kau akan tidur di sini bersamaku."
__ADS_1
"Apa? Kau gila! Kita belum resmi menikah." teriak Calistha keras dan sama sekali tidak setuju. Tapi Aiden dengan santai langsung membalas wanita itu dengan kata-kata vulgarnya yang mampu membuat kedua pipi Calistha bersemu merah karena malu.
"Kita memang belum resmi menikah, tapi kita sudah pernah bercinta sebelumnya, jadi apa bedanya menikah atau tidak menikah, toh kita sudah pernah menghabiskan malam bersama."
"Ta tapi... tttapi.. itu berbeda. Kita tetap harus menikah terlebihdahulu sebelum memutuskan untuk tinggal di kamar yang sama. Bagaimana dengan pandangan orang-orang di luar sana mengenai kita. Mereka pasti akan berpikiran yang tidak-tidak tentangmu dan aku."
"Memangnya mereka berani melakukan hal itu? Menggunjing raja sama dengan kematian untuk mereka." balas Aiden santai dan terlihat tak peduli. Calistha menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada Aiden dan langsung mendaratkan pukulan keras di lengan pria itu.
"Ya Tuhan, kau mulai lagi. Kau kembali pada sifatmu yang semena-mena. Mereka memiliki hak untuk mengomentarimu jika kau memang bersikap tidak wajar." ucap Calistha gusar. Terkadang ia merasa jengah dengan sikap Aiden yan terlihat begitu mudah menghilangkan sebuah nyawa tanpa berpikir panjang terlebihdahulu. Apa ia pikir Tuhan menciptakan nyawa hanya untuk disia-siakannya begitu saja? Benar-benar raja yang arogan.
"Mereka memang berhak untuk mengomentari sikapku, tapi aku tidak pernah membuat peraturan
mengenai hal itu. Jadi, suka atau tidak suka, mereka harus selalu mematuhi keputusanku dan mereka dilarang untuk menggunjingku, karena aku tidak suka."
"Hey, kau.."
"Aku adalah raja, mereka harus tunduk dan patuh padaku." potong Aiden mutlak. Calistha tampak kehabisan kata-kata sambil memutar bola matanya gusar. Lagi-lagi pria itu menggunakan statusnya untuk mengintimidasi orang lain, bahkan dirinya pun pernah diperlakukan seperti itu, hingga pada akhirnya mereka bertengkar hebat dan berakhir dengan peristiwa menggemparkan hari ini. Apakah sebagai raja pria itu harus selalu memperjelas statusnya seperti itu? Benar-benar menyebalkan!
"Terserah apa katamu, aku malas mendebatmu." ucap Calistha akhirnya dengan ekspresi marah dan langsung berbalik memunggungi Aiden. Pria itu terkekeh pelan melihat sikap Calistha yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Ia sangat menikmati saat-saat seperti ini, saat-saat kebersamaannya dengan Calistha yang tidak akan pernah ia lupakan sampai kapanpun. Semoga semua cobaan ini segera berakhir agar ia dapat menjalani hidupnya dengan tenang bersama Calistha, dan juga anak-anaknya kela.
"Arghh..!"
Aiden mengerang pelan ketika ia merasakan kepalanya kembali berdentum. Setelah beberapa hari terakhir
ia tidak melihat kilasan kejadian di masa depan, akhirnya ia kembali
mendapatkannya lagi hari ini. Calistha yang mendengar suara Aiden di
belakangnya yang tengah mengerang kesakitan langsung berbalik untuk melihat
kondisi Aiden saat ini.
"Aiden, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" tanya Calistha khawatir. Aiden mengangakat sebelah tangannya kepayahan untuk memberikan kode jika ia baik-baik saja. Ia hanya perlu bersabar selama beberapa menit hingga dentuman itu menghilang dan kilasan-kilasan kejadian di masa depan itu memudar.
"Aarghh.. aaku baik-baik saja. Aku hanya sedang.... mendapatkan penglihatan di masa depan." ucap Aiden terbata-bata sambil menahan rasa sakit yang semakin menusuk-nusuk kepalanya. Calistha kemudian mendekap Aiden erat dan membisikan kata-kata penyemangat pada pria itu agar pria itu kuat menghadapi setiap kesakitan yang sedang mendera kepalanya.
Disisi lain, Aiden saat ini sedang menahan amarah di dalam dirinya karena ia baru saja melihat Gazelle dan Tiffany di dalam kepalanya. Dua wanita licik itu saat ini sedang menyusun rencana di penjara bawah tanah untuk kembali menyakiti Calistha setelah kejadian hari ini.
__ADS_1
"Brengsek, mereka benar-benar harus dihukum dengan seberat-beratnya."