Queen Of Time

Queen Of Time
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)


__ADS_3

           "Keluar dari ruanganku sekarang!" teriak Aiden murka pada seluruh pelayan yang sedang membersihkan kamarnya. Pelayan-pelayan itu tampak bergetar ketakutan di tempat, tapi mereka juga tidak berani beranjak karena pekerjaan mereka sama sekali belum selesai. Seharusnya sesuai dengan rencana, Aiden tidak akan menggunakan


kamar ini hingga tiga hari ke depan karena mereka harus membersihkan sisa-sisa darah dan mengelurkan barang-barang yang berhubungan dengan Gazelle. Namun tanpa diduga malam ini Aiden justru sudah menempati kamarnya dengan wajah murka yang sangat mengerikan. Salah satu pelayan yang merupakan senior di sana


langsung bersimpuh takut di hadapan Aiden untuk menjelaskan keadaan yangs sebenarnya.


        "Maafkan kami Yang Mulia, kami belum selesai membersihkan kamar anda."


        "Sialan! Aku tidak peduli, keluar dari kamarku sekarang!" teriak Aiden lagi dengan nada suara yang menggelegar. Pelayan-pelayan itu segera berjalan pergi dengan langkah lebar-lebar dan dengan perasaan yang dipenuhi ketakutan. Lalu setelah pelayan-pelayan itu pergi meninggalkan ruangan Aiden, kepala pelayan itu segera bangkit dari posisi bersimpuhnya sambil menunduk dalam sebelum ia keluar dari ruangan rajanya.


        "Yang Mulia, sekali lagi maafkan kami."


        "Ambilkan aku wine!" perintah Aiden dingin dan datar. Pelayan itu mengangguk patuh dan segera meletakan sebotol wine yang ia ambil dari rak kaca yang berada di sudut ruangan. Setelah ia menyiapkan semuanya, pelayan senior itu langsung berpamitan dan segera berjalan pergi dari ruangan Aiden. Meskipun ia adalah pelayan


senior, ia tetap saja merasa takut melihat kemarahan Aiden yang sudah sering dilihatnya sejak bertahun-tahun lalu. Dan menurutnya kemarahan yang dikeluarkan oleh Aiden selalu berhasil membuat orang-orang disekitarnya menjadi merasakan ketakutan yang begitu mencekam.


Brakk


Prangg


            "Arghhhhhhhhh!!!"


             Aiden menyapu seluruh barang-barang yang berada di atas mejanya dengan tangan-tangannya yang kokoh. Seketika cairan merah yang berasal dari tumpahan wine langsung menggenang di atas kakinya yang bersepatu. Hari ini ia benar-benar merasa marah pada dirinya sendiri dan Calistha. Seharusnya ia memang tidak memperlakukan Calistha dengan sangat kasar seperti tadi. Tapi wanita itu berhasil memporak-porandakan perasaannya. Dan ia sudah lelah membohongi perasaanya sendiri yang merasa terluka.


            "Sial kau Calistha! Apa yang telah kau lakukan padaku. Arghh"


Prang!


            Aiden melemparkan gelas winenya pada tembok dengan kemarahan yang membara. Serpihan-serpihan beling yang terlihat tajam langsung berserakan di atas lantai marmer kamarnya yang putih. Kini kamar itu benar-benar berantakan dan sangat kotor. Bahkan keadaanya saat ini jauh lebih parah daripada kemarin saat Gazelle dan Spencer bercinta di kamarnya. Aiden kemudian mengacak rambutnya frustrasi sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja. Ia sekarang merasa benar-benar kacau. Tak pernah ia mengalami hal sekacau ini semur hidupnya. Bahkan ketika kedua orangtuanya meninggal ia masih bisa memikirkan langkah-langkah yang harus ia ambil untuk menumpas seluruh kejahatan yang terjadi di kerajaan Khronos. Tapi sekarang, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalahnya dengan Calistha. Dan ia juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Calistha jika ia sangat terluka dengan sikap wanita itu. Ia kecewa dengan sikap Calistha yang terus menerus memikirkan perasaan orang lain, namun wanita itu sama sekali tidak memikirkan perasaanya yang terluka. Ia terluka dengan sikap Calistha yang seakan-akan menggantungkannya dengan perasaannya yang tidak pasti, padahal ia telah memberikan segalanya pada Calistha, perlindungan, tempat bersandar, dan cinta. Semua itu telah ia berikan dengan penuh perasaan dan penuh kesungguhan hati. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang pernah ia berikan ketiga hal itu dengan hati ikhlas yang begitu dalam selain Calistha. Tapi nyatanya hal itu tidak berarti apa-apa bagi Calistha. Wanita itu sama sekali tidak menghargai ketulusan hatinya dan hanya memikirkan keadaan orang lain yang jelas-jelas ingin menghancurkan hidupnya. Lalu apa lagi yang harus ku berikan padamu?


            Aiden mengerang pilu di dalam kegelapan kamarnya yang pekat. Saat-saat seperti ini memang selalu membuatnya merasa benar-benar terpuruk dan tampak mengenaskan.


            "Aku harus mengambil tindakan secepatnya. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Calistha, harus membayar semua ini dengan seluruh jiwa dan raganya." seriangai Aiden kejam. Jiwa iblisnya malam ini kembali bangkit karena kemarahannya yang terlalu meluap-luap.

__ADS_1


                "Spencer, masuk!"


                Spencer datang tergopoh-gopoh dari luar kamar sambil menatap ngeri pada ruangan rajanya yang tampak berantakan. Sambil menunduk hormat Spencer langsung memberitahukan pada Aiden jika semuanya sudah siap.


                "Para tahanan sudah siap Yang Mulia."


                "Bagus. Malam ini aku akan menguliti mereka satu persatu dan menikmati setiap kesakitan yang


mereka rasakan." gumam Aiden pelan dengan nada dingin yang begitu mencekam. Bahkan Spencer sendiri merasa merinding dengan aura membunuh yang meguar dari tubuh rajanya. Siapa yang bisa membangkitkan aura iblisnya hingga seperti ini? Spencer membatin pelan sambil ekor matanya memperhatikan Aiden yang telah berjalan keluar dengan langkahnya yang lebar.


-00-


                Sementara itu Calistha saat ini sedang menangis tersedu-sedu di depan Tiffany sambil menelungkupkan


kepalanya. Wanita itu terlihat begitu menyesal dengan semua hal yang telah ia lakukan pada Aiden, ia juga mengatakan jika ia tidak tahu jika perkataannya akan membuat Aiden semarah itu padanya karena ia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Aiden. Ia hanya sebatas mengutarakan apa yang dipikirkannya dan dirasakannya sebagai seorang wanita.


                "Sudahlah, bukankah Aiden memang kejam dan jahat. Lebih baik kau hapus air matamu dan kembalilah ke istana. Aiden pasti sedang mencarimu." hibur Tiffany lembut. Wanita itu mengelus puncak kepala Calistha pelan sambil membisikan kata-kata penyemangat agar Calistha tenang. Di dalam hatinya kini bergejolak rasa gembira yang begitu besar karena ia berhasil membuat Calistha mempercayainya setelah Aiden meracuni pikiran adiknya itu dengan fakta-fakta mengenai dirinya. Kali ini ia tidak akan terlalu ambil bagian dalam menghancurkan Aiden, karena yang akan menghancurkan pria itu adalah wanita yang sangat dicintainya sendiri, Calistha.


menggeram tanpa suara. Ia pikir adiknya ini memang merepotkan dan cengeng. Padahal dulu Calistha selalu tampak kuat dan keras kepala, tapi setelah ia hamil, emosinya menjadi sering berubah-ubah dan terkadang ia terlalu melankolis seperti ini. Ck, apa yang harus kulakukan pada wanita sialan ini? Tiffany membatin gusar sambil terus membelai rambut Calistha lembut. Sekarang ia merasa kehabisan kata untuk menghibur Calistha karena wanita itu semakin kencang menangis setelah ia menghiburnya.


               Suasana di sekitar mereka yang sunyi dan senyap juga semakin mendukung aura kesedihan Calistha untuk menguar di udara yang dingin dan mencekam. Apalagi saat ini mereka masih berada di alun-alun kota, tempat dimana mayat Gazelle masih tergantung di atas tiang dengan posisi yang sangat mengenaskan. Jika dipikir-pikir sebenarnya ini adalah saat yang tepat untuk membawa Calistha pergi. Andai saja Gazelle masih hidup, wanita itu pasti akan bersorak senang di sebelahnya sambil membisikan rencana jahat untuk Calistha. Tapi ia tidak ingin terlalu terbawa emosi mengenai Gazelle. Sekarang sudah menjadi tanggungjawabnya untuk mengambil alih rencana balas dendam ini. Ia bersumpah akan membuat Gazelle bahagia di surga dengan kemenangannya atas Aiden dan Calistha nanti.


            "Calistha..." panggil Tiffany lembut. Seketika Calistha langsung mendongak menatap Tiffany dengan mata sembabnya yang merah. Kedua matanya yang berair tampak redup dan kehilangan sinar. Namun meskipun begitu Tiffany tetap menariknya untuk berdiri dan menggandeng tangannya erat sambil berjalan menjauh keluar dari area alun-alun.


            "Ada apa?"


            "Ikutlah denganku." ajak Tiffany dengan penuh keyakinan sambil menuntun Calistha keluar dari area alun-alun dan berjalan menjauhi pusat kota Khronos.


-00-


            Tetes demi tetes darah mengalir membasahi lantai kayu yang kotor dan lembab. Seorang pesakitan saat ini tengah mengerang keras di hadapan Aiden dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Malam ini Aiden kembali melakukan rutinitasnya yang dulu sering ia lakukan sebelum Calistha datang kedalam hidupnya, yaitu menyakiti para pesakitan yang tinggal di dalam penjara bawah tanahnya. Binar bahagia tampak terpancar di mata Aiden kala ia melihat korbannya terus berteriak-teriak memohon ampun padanya sambil merintih kesakitan karena Aiden baru saja menyayat wajahnya.


            "Toloooonggggg, ampunn Yyy Yang Mulia, aarghhhhhhh......."

__ADS_1


            Suara teriakan melolong itu terdengar begitu nyaring di dalam ruangan sempit nan kotor yang digunakan


Aiden untuk mengeksekusi korban-korbannya. Tapi seperti seorang cacat yang tuli, Aiden seolah-olah tidak mendengar suara teriakan mereka dan terus menyayat bagian-bagian tubuh mereka dengan sesuka hati tanpa ampun.


            "Teruslah berteriak, dan aku semakin bernafsu untuk menguliti tubuhmu satu persatu." bisik Aiden kejam. Pesakitan itu mulai merinding ketakutan ketika Aiden mulai mengarahkan pisau belatinya pada bagian dada kiri. Ia tahu setelah ini Aiden akan mulai menyayati kulit dadanya hingga menembus ke dalam jantung dan hingga akhirnya nanti ia mati. Dan rasanya, sungguh ia tidak bisa membayangkannya. Andai saja ia bisa meminta, maka ia lebih baik dibunuh dengan cara dipenggal daripada dibunuh secara perlahan seperti ini dan harus merasakan kesakitan yang luar biasa.


            "Yyyang Mulia Aaaiden, bunuh saja sssaya. Jjjangan lakukan la...Argggggggghh."


            Pria itu kembali berteriak kesakitan seiring dengan tangan-tangan lihai Aiden yang mulai mengiris kulit dadanya perlahan. Sedangkan ekspresi wajah Aiden benar-benar terlihat kontras dengan wajah sang pesakitan yang tampak menitikan air mata. Saat ini Aiden sedang tersenyum bahagia atas penderitaan orang lain.


            "Ini adalah balasan bagi pengkhianat busuk sepertimu! Sudah berapa banyak informasi yang kau jual pada pihak musuh, hah? Dasar menjijikan! Kau memberi makan anak dan istrimu dengan sampah busuk dari musuh-musuhku. Kau memang pantas merasakan kesakitan ini."


           "Argggggggghhhhhhhhhhh!"


            Aiden lagi-lagi menyayat kulit pria itu dengan belati kecilnya yang tajam. Darah segar mengalir melewat belati yang digenggamnya hingga ke ujung jubah panjang yang dikenakannya. Saat ini ia terlihat seperti seorang psikopat yang haus akan darah. Tapi ia tidak peduli! Selama hal itu dapat mengobati rasa sesaknya yang mengganggu, ia akan melakukannya, menyakiti orang-orang yang memang harus disakiti dengan sangat kejam.


            "Yang Mulia, tolong hentikan sebentar."


            Tiba-tiba Spencer datang dengan wajah khawatir yang kentara. Sementara itu Aiden tampak gusar dan langsung melemparkan pisaunya begitu saja ke atas meja sambil mengelap tangannya yang penuh darah dengan kain putih yang telah dipenuhi oleh bercak darah.


            "Kau berani mengganggu kesenanganku. Cepat katakan berita apa yang kau bawa, jika kau membawa berita yang tidak penting, maka kau akan menggantikannya untuk menjadi korbanku." dengus Aiden kesal. Spencer tampak tenang dan hanya menundukan kepalanya dalam. Sekian tahun mendampingi Aiden sebagai pengawalnya, ia sudah terbiasa dengan semua ini, bahkan terkadang ia ikut membantu Aiden untuk menyiksa para pesakitan yang berada di penjara bawah tanah.


              "Maafkan saya Yang Mulia, ini mengenai Yang Mulia Calistha."


              "Ada apa lagi dengannya? Apa ia membuat kekacauan lagi dan saat ini sedang merepotkan penghuni istana?" tanya Aiden malas.


            "Bukan Yang Mulia, tapi.... saat ini Yang Mulia Calistha hilang."


            "Apa! Hilang. Keparat, apa lagi yang dilakukan wanita bodoh itu!" murka Aiden sambil menggenggam belati tajamnya yang ia letakan di atas meja. Lalu sedetik kemudian Aiden langsung menusukan belati itu ke dalam jantung sang pesakitan hingga pesakitan itu tewas di tempat dengan keadaan yang mengenaskan.


Jleb


            "Kalian memang selalu bekerja dengan tidak becus. Cari wanita bodoh itu sekarang dan bawa dia ke hadapanku!" perintah Aiden marah. Spencer yang melihat keganasan rajanya hanya mengangguk patuh sambil berlalu pergi untuk mencari calon ratunya yang menyusahkan. Padahal ia kira kehidupannya setelah Gazelle pergi akan sedikit lebih tenang dan damai. Tapi pada kenyataanya tidak ada perubahan yang berarti setelah Gazelle pergi. Keadaan di kerajaan masih tetap sama, dan rajanya yang kejam itu masih tetap kejam dan justru semakin kejam. Lalu apa artinya kematian Gazelle dan pengorbananya kemarin jika pada kenyataanya kematian Gazelle tidak membawa pengaruh apapun pada Aiden?

__ADS_1


__ADS_2