Queen Of Time

Queen Of Time
Have A Blast (Fifty Eight)


__ADS_3

            Calistha membuka matanya perlahan ketika dirasakannya sentuhan lembut tangan seseorang sedang


membelai rambutnya pelan. Sembari menggeliat kecil, Calistha tersenyum manis pada Aiden yang saat ini sedang duduk di tepi ranjangnya sambil membelai surai coklatnya lembut.


            "Hmm, apa yang kau lakukan?" tanya Calistha dengan suara serak. Seharian ini mereka melakukan berbagai macam hal yang selama ini tidak pernah mereka lakukan. Mulai dari berkuda bersama berkeliling kota Khronos, memancing di sungai, dan melakukan piknik di tengah hutan perbatasan timur yang selama ini belum pernah ia kunjungi. Lalu pada akhirnya merasa kelelahan dan langsung jatuh tertidur ketika mereka tiba di istana.


            Calistha melirik jam coklatnya sekilas untuk menerka sudah berapa lama ia tertidur. Tapi sayangnya jam itu masih berhenti berdetak, dan saat ia melirik wajah Aiden sekilas, tampaknya sang pengendali waktu belum memiliki niat untuk mengembalikannya dalam waktu dekat. Aiden belum mengembalikan waktunya seperti semula?


            "Kau sangat lelah."


            Kalimat pernyataan pertama yang dilontarkan Aiden setelah ia membuka matanya membuat Calistha sedikit tertegun bingung. Ia pikir saat ini Aiden sedang tidak ingin membicarakan hal itu, karena raut wajah pria itu mengatakan hal yang sebaliknya.


            "Kau sedang memiliki masalah? Emm, dan mengenai waktunya, apa kau tidak ingin mengembalikannya seperti semula?" tanya Calistha hati-hati. Aiden tampak termenung sejenak dan tidak langsung menjawab pertanyaan Calistha. Ia terlihat seperti sedang memiliki beban yang sangat berat di pundaknya.


            "Aku merasa takut. Untuk pertama kalinya aku merasakan takut, Cals."


            Calistha langsung membawa Aiden kedalam pelukannya sambil mengelus kepala pria itu pelan. Ia pikir setelah ia bangun dan menjadi sosok yang baru untuk Aiden, semua masalah pria itu akan hilang seketika. Tapi nyatanya semua itu tidak semudah yang ia pikirkan. Aiden ternyata masih memiliki ganjalan lain di hatinya selain keadaanya yang sudah lebih dewasa dan mulai menerima takdirnya. Tapi sebenarnya apa lagi yang dipikirkan pria itu? Bukankah semua masalah yang terjadi diantara mereka sudah selesai


            "Takut? Bukankah hal itu wajar terjadi? Semua orang memiliki ketakutan Aiden, mungkin kau hanya tidak menyadarinya selama ini. Jauh di dalam lubuk hatimu kau masih memilikinya, karena kau bukan monster." ucap Calistha menenangkan. Aiden mengambil kedua tangan Calistha dan mengecup punggung tangan itu penuh cinta. Meskipun sebenarnya Calistha adalah sumber ketakutannya, namun wanita itu pula yang bisa menenangkan hatinya dan menghangatkannya.


            "Terimakasih, kau membuat hatiku menjadi lebih baik. Sebenarnya aku sangat merindukan Spencer dan seluruh rakyatku, tapi aku takut. Aku takut kau akan berubah pikiran saat bertemu Max dan memutuskan untuk melakukan semuanya. Bagaimanapun juga semua yang kau alami di dunia mimpi, sebagian besar adalah hasil penglihatanku di masa depan. Selama ini semua penglihatanku tidak pernah salah Cals, apa yang kulihat pasti akan benar-benar terjadi dan tidak dapat kucegah. Aku takut kau juga akan melakukan hal itu, pergi bersama Max dan membuatku hancur."


            Aiden bercerita dengan penuh perasaan dan mata sendu seperti seorang pesakitan yang sedang dilanda patah hati. Namun Calistha langsung tersenyum menenangkan dan menggenggam tangan lebar itu erat di atas pangkuannya.


            "Apa kau percaya padaku? Apa kau yakin dengan perasaanku? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Aiden, aku akan selalu berada di sampingmu. Meskipun kau memang telah melihat banyak kejadian menyakitkan di masa depan, tapi percayalah padaku dan pada hatiku, aku bukan Calistha yang dulu lagi, aku telah berubah. Banyak hal yang mengubahku dan membuatku menjadi Calistha yang lebih baik. Jadi kumohon lupakan semua penglihatan itu dan untuk kali ini percayalah padaku. Jika aku terbukti mengkhianatimu, kau boleh menghukumku dengan hukuman yang sangat berat atau bahkan memenggal kepalaku dan menggantungkannya di tengah alun-alun sama seperti yang kau lakukan pada Gazelle di dalam mimpiku."


            Aiden terkekeh pelan dengan ucapan Calistha sambil mengacak-acak surai coklat itu sedikit cepat.


            "Kau pikir aku akan sampai hati melakukan hal itu padamu? Yang benar saja Cals. Meskipun kau mati, aku tetap akan memperlakukanmu dengan sangat terhormat. Aku akan meletakanmu di dalam peti kaca dan mengawetkan tubuhmu. Tentu aku tidak akan memperlakukanmu sama seperti Gazelle."


            "Ck, kau justru akan terlihat seperti raja sakit karena menyimpan sebuah mayat di dalam istanamu. Dan aku jelas-jelas tidak ingin diperlakukan seperti itu, terdengar sangat mengerikan." ucap Calistha sambil bergidik ngeri. Aiden kemudian menyipitkan mata di depan Calistha sambil menatap wajah cantik wanita itu bersungguh-sungguh.


            "Apa kau tahu jika ruangan yang berada tepat di bawah kamarmu ini adalah ruang eksekusi untuk para tahanan yang membangkang, jadi sudah pasti ruangan itu berisi banyak mayat dan juga hantu-hantu dari para pesakitan yang mungkin saja akan melayang-layang di dalam kamarmu. Kamarmu ini mungkin saja berhantu Cals."


Bugh


            Calistha melemparkan sebuah bantal besar ke arah Aiden sambil bersungut-sungut kesal. Pria itu jelas tahu jika ia sedikit takut dengan hal-hal yang berbau mistis seperti itu, tapi dengan jahilnya pria itu justru mengarang cerita yang sangat tidak pantas untuk diceritakan padanya.


            "Itu tidak lucu Aiden! Aku tidak percaya padamu!" teriak Calistha kesal. Aiden tertawa terbahak-bahak di depan Calistha dengan wajah yang sangat menyebalkan, membuat Calistha ingin memukul pria itu lagi dengan bantal atau benda lain yang mungkin lebih keras daripada bantal.


            "Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya pada Spencer nanti."


            "Lebih baik kau segera mengembalikan waktu ini seperti semula dan hadapi semua ketakutanmu yang aneh itu, kita lihat apa yang akan terjadi setelah ini."


             Aiden menghembuskan nafasnya pelan dan setelahnya ia langsung menjentikan jari tangannya tanpa banyak berpikir atau menimbang nimbang niatannya lagi.


Tekk


            "Selamat datang di dunia yang sesungguhnya Cals."


            Refleks kedua mata Calistha langsung melihat jam dinding coklat besar yang berada di sudut ruangannya, sekarang jam itu benar-benar berdetak dan berputar kembali seperti semula. Dengan penuh sukacita Calistha langsung memeluk Aiden dan mengucapkan banyak terimakasih pada pria itu.


           "Terimakasih banyak Aiden, mulai detik ini mari kita hadapi semuanya bersama-sama. Kau dan aku, kita akan bersama-sama hingga akhir."


              Aiden membalas pelukan itu sambil menganggukan kepalanya pelan. Kali ini ia akan memberikan kepercayaan itu pada Calistha. Karena ia yakin Calistha tidak akan pernah mengkhianatinya dan membuatnya menyesal karena telah meletakan kepercayaan itu pada Calistha.


            "Tepati janjimu Cals, dan selesaikan masalahmu dengan Max hari ini sebelum pernikahan kita dilangsungkan esok pagi."


-00-


            Max berlari tergesa-gesa menyusuri lorong-lorong panjang yang berada di dalam istana Khronos. Pagi ini entah mengapa ia merasa berbeda, seperti ia baru saja dibangunkan dari sebuah mimpi yang panjang. Tapi tentu saja hal itu sangat konyol untuk dipikirkan mengingat pagi ini ia baru saja tiba di kerajaan Khronos setelah menempuh perjalanan panjang dari hutan terlarang di kerajaannya, kerajaan Hora. Dari kejauhan Max melihat sang pengawal setia Aiden, Spencer, tengah berjalan dalam diam sambil menatap pergerakannya yang berisik. Dengan hormat Max berpura-pura menundukan kepalanya dan berusaha bersikap seperti seorang prajurit pada umumnya.


            "Mengapa kau berlari-lari seperti itu, apakah sesuatu yang buruk telah terjadi?"


            "Tidak tuan, semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Saya.. saya hanya ingin menyampaikan pesan pada Yang Mulia ratu Calistha jika raja Aiden sedang menunggu ratu di dalam ruangannya."

__ADS_1


            Spencer terlihat tidak menunjukan ekspresi apapun ketika Max mengatakan hal itu. Ia hanya menganggukan kepalanya sekilas dan sedikit menggeser tubuhnya ke kanan untuk memberikan jalan pada Max untuk lewat.


            "Kalau begitu bergegaslah." ucap Spencer sambil lalu tanpa mempedulikan kernyitan heran di mata Max. Ia pikir Spencer akan memberikan berbagai macam pertanyaan untuknya dan menyulitkan langkahnya untuk menemui Calistha, ternyata pria itu cukup mudah untuk dilewati dan tidak perlu melakukan kebohongan lebih untuk menipu sang pengawal setia. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku.


            Max mengendikan bahunya ringan dan segera berjalan kembali menyusuri lorong-lorong panjang untuk menuju ke tempat kamar Calistha berada. Sembari berjalan, Max juga mengamati setiap pintu yang ia temui di lorong-lorong panjang yang cukup remang-remang itu, menurut Gazelle kamar yang ditempati oleh Calistha adalah kamar yang memiliki ukiran pintu paling indah dan berada di ujung lorong bangunan utama istana. Ukiran itu...


            Max langsung bersorak girang ketika ia menemukan sebuah pintu di ujung lorong dengan ukiran yang


terlihat lebih indah dari pintu-pintu yang dilewatinya. Dengan penuh keyakinan Max langsung mengetuk pintu itu dan mendorong gagang logam itu hingga pintu kayu dengan ukuran yang cukup besar itu terbuka lebar di depannya.


Kriettt


            Calistha yang mendengar bunyi pintu yang berderit langsung melepaskan pelukannya dari Aiden sambil menatap terkejut pada Max yang saat ini juga sedang menatap terkejut pada Calistha.


            "Mmaafkan saya." ucap Max terbata-bata. Ia pikir ia hanya akan menemukan Calistah sendiri di dalam kamarnya, tapi ternyata ia justru mendapatkan kejutan dengan keberadaan Aiden di dalam kamar Calistha dan sedang memeluk wanita itu dengan erat. Bahkan meskipun Calistha telah melepaskan pelukannya dari pria itu, salah satu tangan Aiden masih setia bertengger di atas pinggang Calistha dengan posesif seakan-akan menunjukan pada Max jika Calistha adalah wanitanya.


            "Kita rupanya sedang kedatangan tamu. Ada perlu apa kau datang ke sini?"


            Calistha sedikit menyikut pinggang Aiden yang sedang berseru dingin pada Max. Meskipun Aiden sudah mengetahui penyamaran pria itu tapi Calistha ingin setidaknya pria arogan itu berpura-pura tidak tahu dan hanya menganggap Max sebagai seorang prajurit biasa. Lagipula seharusnya Aiden juga kembali ke kamarnya untuk bertemu dengan Gazelle yang sedang menunggunya di sana.


            "Saya hanya ingin melaporkan jika prajurit yang ditugaskan untuk mengawal Yang Mulia ratu Calistha hari ini sedang sakit, sehingga saya yang akan menggantikan tugas prajurit itu untuk mengawal Yang Mulia Calistha."


            "Oh, kalau begitu lakukan tugasmu dengan baik. Jangan sampai terjadi sesuatu pada calon istriku,


karena besok kami akan melangsungkan pernikahan." peringat Aiden tegas pada Max. Aiden kemudian beralih pada Calistha dan menyempatkan diri untuk mencium bibir Calistha sekilas sebelum ia berjalan acuh melewati Max yang tampak syok dengan pemandangan pasangan kasmaran dihadapannya. Sedangkan Calistha sendiri tampak tersipu malu dan hanya menerima perlakukan dari Aiden tanpa banyak membantah.


                Sepeninggal Aiden, suasana di dalam kamar Calistha tampak hening. Calistha yang sudah mengetahui penyamaran Max hanya mencoba untuk berpura-pura tidak tahu dan hanya menunggu Max untuk mengungkapkan jati dirinya. Sedangkan Max yang masih setia berdiri di depan Calistha tampak sedikit ragu untuk menunjukan jati dirinya yang sebenarnya dan mengatakan pada Calistha mengenai maksud dan tujuannya datang ke kerajaan Khronos. Padahal sebelumnya ia begitu yakin akan membawa Calistha pergi dan mengungkapkan seluruh perasaanya pada wanita yang sangat dicintainya itu. Tapi melihat bagaimana sikap Calistha pada Aiden dan aura kebahagiaan yang dipancarkan Calistha saat Aiden memperlakukan wanita itu dengan lembut membuat


Max kehilangan seluruh semangatnya yang menggebu. Kini yang tersisa hanyalah perasaan ragu yang begitu meluap-luap di dalam hatinya.


            "Ehem, apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?"


            Calistha berdeham sekali untuk menyadarkan Max dari kebisuannya yang panjang. Pria itu kemudian mendongakan wajahnya dan dengan ragu mulai melepas helm prajurit yang menutupi wajahnya dari Calistha.


            "Cals, ini aku."


            "Max! Ya Tuhan, ini sungguh-sungguh kau? Oh Max, aku sangat merindukanmu." ucap Calistha girang dan langsung menghambur ke dalam pelukan Max. Max dengan senang hati juga membalas pelukan hangat dari Calistha dengan senyum bahagia yang terpancar di wajah frustasinya.


            "Aku juga sangat merindukanmu Cals, sangat. Bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?"


            Calistha melepaskan pelukannya dari Max dan membawa Max untuk duduk di atas sofa empuk yang berada


di tengah-tengah kamarnya. Ada banyak hal yang akan ia bicarakan dengan Max, dan ia membutuhkan tempat yang nyaman untuk membicarakan semua hal sensitif itu pada Max.


            "Duduklah, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu."


            Max dengan senang hati mendudukan dirinya di sebelah Calistha sambil tetap menggenggam telapak tangan kanan Calistha dengan erat. Sedangkan Calistha yang menerima perlakuan itu hanya mampu menatap nanar pada ekspresi wajah Max yang tampak bahagia. Saat ini ia merasa menjadi wanita yang sangat jahat. Setelah ini mungkin ia akan mematahkan hati seorang pria yang sedang dilandan kasmaran itu.


            "Jadi bagaimana? Apa raja itu memperlakukanmu dengan buruk selama kau berada di kerajaannya?"


tanya Max membuka percakapan. Calistha tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya pelan. Kali ini ia akan memperbaiki semua kesalahannya yang ia perbuat di masa lalu. Dan ini adalah awal dari petaka yang dulu pernah terjadi.


            "Raja Aiden sama sekali tidak memperlakukanku dengan buruk. Ia sebenarnya adalah raja yang baik. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan selama ini di luar sana?"


            Mendengar cerita Calistha yang tampak bahagia saat berada di kerajaan Khronos membuat Max sedikit tersenyum masam. Perasaan bahagia yang sebelumnya membuncah di dalam hatinya tiba-tiba menghilang begitu saja dan digantikan dengan perasaan sedih dan terguncang. Ia merasa takut dengan kenyataan yang akan menamparnya setelah ini.


            "Aku dan ibuku berhasil bertahan di luar sana, dan kami bertemu dengan Gazelle. Ia yang menyelamatkanku dan menyembuhkan lukaku."


            Calistha menatap sedih pada perut Max yang mengalami luka tusukan. Masih teringat jelas di dalam kepalanya bagaimana kondisi Max dulu ketika kerajaan Khronos menyerang kerajaan Hora dan Aiden melukai pria itu cukup parah dibagian perutnya. Tapi saat ini ia tidak bisa menyalahkan Aiden atau berbalik pada Max. Semua kejadian buruk itu adalah awal yang membawanya menuju kebahagiaan seperti ini. Dan ia hanya harus bersikap bijak untuk menyikapi semuanya.


            "Apakah ratu baik-baik saja? Maksudku... apakah ia bisa hidup dengan baik di luar kerajaan?"


            "Ibuku baik-baik saja, meskipun ia selalu menghabiskan seluruh harinya dengan menggerutu, tapi kupikir ia bisa menjalaninya dengan baik. Cals, maafkan sikap ibuku dulu, maafkan sikap ibuku yang telah menghinamu dan memberikanmu pada raja Aiden."


              Calistha menggenggam tangan Max erat dan mengangguk pelan pada pria itu. Ia sekarang telah melupakan semua kepahitan yang pernah melandanya di masa lalu. Sekarang ia hanya ingin menatap masa depannya yang indah bersama Aiden.

__ADS_1


            "Aku sudah memaafkan ibumu Max. Dan sebenarnya ia sama sekali tidak salah. Seharusnya aku memang berada di sini bersama Aiden."


                "Cals, apa kau ingin lepas dari cengkeraman pria itu? Apa kau ingin pergi dari sini? Aku bisa


membawamu pergi dari kerajaan ini dan membuatmu lepas dari cengkeraman raja


kejam itu."


            Tiba-tiba tubuh Calistha langsung menegang di tempat. Kejadian demi kejadian yang pernah ia alami di masa lalu membuatnya begitu takut untuk menjawab pertanyaan dari Max. Masih teringat jelas di dalam kepalanya bagaimana saat itu ia mengiyakan tawaran Max dengan penuh sukacita. Dan ternyata pilihannya itu justru membawa malapetaka yang sangat mengerikan untuknya. Max mati, Gazelle mati, Tiffany mati, lalu dirinya melakukan bunuh diri. Semua ingatan itu sungguh membuatnya merasa trauma.


            "Cals, apa kau baik-baik saja?" tanya Max khawatir sambil mengguncang bahu Calistha pelan. Tiba-tiba saja Calistha menjadi pucat ketika ia menawarkan sebuah kebebasan pada wanita itu. Entah ancaman apa yang diberikan oleh Aiden, ia pikir saat ini keadaan Calistha sedang terguncang dan wanita itu membutuhkan pertolongan segera.


            "Apa raja kejam itu mengancammu? Kau tidak perlu khawatir Cals, aku pasti akan melindungimu. Dan seteah ini kita bisa hidup bebas di luar sana. Aku mencintaimu Cals." tutup Max dengan suara tegas. Mendengar hal itu, Calistha tak kuasa untuk menitikan air mata. Ia sekarang merasa bingung dan tidak bisa mengatakan apapun pada Max. Tenggorokannya terasa kelu dan sakit hanya untuk mengatakan semua kebenaran yang ia sembunyikan dari pria itu.


            "Aiden sama sekali tidak mengancamku, ia sama sekali tidak melakukan apapun padaku. Hubungan kami selama ini berjalan baik."


            "Lalu, apa yang membuatmu menangis seperti ini? Apa aku menyakitimu?" tanya Max merasa bersalah. Calistha menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil menggenggam tangan Max agar pria itu berhenti untuk mengkhawatirkannya dan menyalahkan dirinya. Sejak awal Max adalah pria yang sangat baik, bahkan pria itu terlalu baik untuknya sehingga ia merasa tidak sampai hati untuk mengatakan semua kebenaran yang ia sembunyikan dan menghancurkan hati pria itu. Apalagi Max baru saja menyatakan perasaanya. Pasti akan sangat menyakitkan jika ia tiba-tiba mengatakan pada Max jika ia dan Aiden akan segera menikah dan ia mencintai Aiden.


            "Aku hanya... aku merasa tidak sanggup untuk mengatakannya padamu."


            Hening sesaat, tidak ada satupun diantara mereka yang mengeluarkan suaranya, dan itu semakin membuat Calistha frustasi. Akhirnya ia membulatkan tekad untuk mengatakan semuanya pada Max. Persetan dengan semua kesakitan dan kepedihan yang akan dirasakan oleh pria itu, karena ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah semua malapetaka itu terjadi.


            "Max, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesialan yang kau alami selama ini. Andai saja orangtuamu tidak menerimaku dan memberikanku perlidungan kau pasti akan tetap baik-baik dan akan menjadi raja yang hebat untuk kerajaanmu."


            "Cals...


            "Biarkan aku melanjutkan ucapanku, dan tolong dengarkanlah."


Max membungkam bibirnya rapat-rapat dan membiarkan Calistha menyelesaikan semua ucapannya. Ia pikir wanita itu sedang memiliki masalah dan ingin mengungkapkan sesuatu padanya.


            "Max, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku... aku mencintai Aiden."


Deg


            Max merasa jantungnya sedang diremas begitu kuat hingga ia merasa sesak dan tidak bisa bernafas.


Pernyataan Calistha mengenai perasaan wanita itu pada pria lain membuat Max merasa seluruh dunianya runtuh. Ia hidup dan bertahan hingga sejauh ini hanya demi Calistha, lalu wanita itu dengan teganya langsung menghancurkan hatinya saat ia mengharapkan sesuatu yang lebih pada wanita itu. Seperti inikah rasanya menjadi yang tidak diharapkan....


            "Max.. tolong maafkan aku, aku benar-benar tidak berdaya dengan perasaan ini. Aku mencintai Aiden, dan ini adalah yang terbaik untuk masa depan kita."


            "Begitukah? Jadi menurutmu ini adalah yang terbaik untuk masa depan kita? Aku kecewa padamu." desis Max marah. Pria itu hendak berjalan pergi meninggalkan Calistha yang masih terisak pelan di atas sofa nyamannya, tapi tangan lembut itu segera menahan lengan Max agar pria itu tidak pergi.


            "Max kumohon dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, aku memiliki alasan atas keputusanku ini Max. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya dan membuatmu bahagia."


            "Bahagia? Kau justru baru saja menghancurkan kebahagiaanku. Dan kau bukan seperti Calistha yang kukenal."


            Pria itu menghempaskan tangan Calistha begitu saja dan segera berjalan pergi meninggalkan Calistha yang sangat terkejut dengan perlakukan kasar pria itu. Percuma saja ia berada di sana jika wanita itu sama sekali tidak mengharapkannya dan justru mencintai musuhnya, lebih baik ia pergi dan memperbaiki hidupnya yang telah hancur dan berantakan.


            "Max tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya. Kau harus mendengarkan semua penjelasanku." mohon


Calistha sambil mengejar langkah Max. Pria itu dengan berat hati akhirnya menghentikan langkahnya dan tanpa diduga langsung memeluk Calistha dengan erat.


            "Maafkan aku karena aku baru saja menjadi pria egois, tapi aku sangat mencintaimu Cals, tak bisakah kau kembali padaku dan melupakan Aiden, ia bukan raja yang baik, ia yang telah menghancurkan kerajaanmu."


            Calistha memejamkan matanya sedih tanpa tahu apa yang harus ia katakan pada Max.


            "Aku tidak bisa Max, kami sudah terikat. Aku dan Aiden, kami sudah ditakdirkan untuk berpasangan. Jika aku melawan takdir ini, malapetaka akan datang pada kami dan orang-orang yang berada disekitar kami, termasuk dirimu. Tolong merketikah sedikit Max, merketilah posisiku sebagai seorang wanita yang tidak memiliki pilihan." erang Calistha frustasi. Max melepaskan pelukannya pada Calistha sambil menatap wanita itu nanar. Ia merasa sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk bersanding dengan Calistha. Dan kini ia merasa seperti seorang gelandangan yang tidak memiliki apapun untuk bertahan hidup.


               "Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sudah tidak memiliki apapun lagi di dunia ini Cals, semua harta berharga yang kumiliki telah direnggut oleh raja kejam itu, bahkan wanita yang sangat kucintaipun juga harus direbut paksa olehnya, aku.. memang pria yang tak berguna. Aku sangat menyedihkan Cals. Pantas saja raja itu dapat merebut kerajaanku dengan mudah, ini semua memang karena salahku. Ini semua karena ketololanku dalam menjadi penerus ayahku."


                Max terus memaki-maki dirinya sendiri di depan Calistha seperti seorang ***** yang sudah tidak memiliki semangat hidup. Dan Calistha sendiri seperti tidak memiliki daya untuk menghentikan pria itu. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah mencari Aiden dan meminta pria itu untuk setidaknya memberikan Max kerajaanya kembali agar pria itu kembali mendapatkan arti dalam hidupnya.


                "Max, tolong hentikan semua racauanmu yang tidak berguna itu. Meskipun kita tidak bisa saling memiliki satu sama lain, tapi kau tetap bagian dari hidupku. Aku tidak akan pernah melupakanmu Max, kau adalah pria yang sangat berarti untukku. Kau adalah kakakku. Tak bisa kubayangkan jika aku tidak memilikimu sebagai seorang kakak, pasti aku tidak akan menjadi seorang wanita tegar dan tangguh seperti ini. Dan yang terpenting aku tidak akan bisa menjadi seorang Calistha yang kau kenal. Jadi kumohon, berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri atas semua hal yang telah terjadi. Semua ini adalah kehendak dari sang pencipta. Kita hanya harus melewatinya dengan kepala terangkat dan semangat yang membara, seperti yang dikatakan oleh ayahmu saat kita masih kanak-kanak." hibur Calistha riang. Max tersenyum getir pada Calistha ketika wanita itu mengingatkannya pada sosok sang ayah yang menjadi panutannya.


            "Terimakasih Cals, sampai kapanpun kau akan menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hatiku."

__ADS_1


            "Oh Max akhirnya kau..."


            Calistha tak kuasa membendung air matanya dan rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya. Akhirnya Max dapat menerima keputusannya dan memahami keadaanya yang serba sulit ini. Dan hari ini Calistha merasa benar-benar bahagia karena satu masalah terbesarnya telah berhasil ia atasi. Kini ia telah siap untuk melangkah ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Dunia kehidupan yang akan menuntunnya menjadi seorang wanita dewasa yang akan membina hubungan rumah tangganya kelak bersama Aiden dan anak-anaknya nanti.


__ADS_2