Queen Of Time

Queen Of Time
Stay Beside Me (Thirty Five)


__ADS_3

            "Makan sarapanmu sekarang!"


            Aiden berdiri jengkel di sebelah Calistha sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Pagi ini Calistha kembali bersikap menyebalkan dengan mengabaikan sarapannya dan lebih memilih bergelung di dalam selimutnya yang nyaman. Sebenarnya Calistha tidak benar-benar ingin mengabaikan sarapannya, ia hanya sedang menggoda Aiden karena sikap pria itu yang menyebalkan.


            "Aku tidak mau makan jika kau tetap tidak mengijinkanku untuk keluar dari kamar ini." ucap Calistha keras kepala. Aiden menggeram kesal pada Calistha dan segera menarik kasar tangan wanita itu agar bangkit dari posisi tidurnya. Kesabarannya telah habis hanya untuk menunggu Calistha bangun dan mau memakan sarapannya dengan tenang. Lagipula ini semua ia lakukan demi kesembuhan Calistha, bukan untuk hal-hal lain atau keuntungannya semata.


            "Makan, atau aku yang akan menyuapimu dengan caraku sendiri." geram Aiden tidak sabar.


            Calistha mengerucutkan bibirnya sebal dan mulai mengambil sendok logam di depannya dengan kasar. Ia benci harus berhadapan dengan sikap arogan Aiden yang sangat menyebalkan seperti ini. Ia lebih suka sikap Aiden yang bijaksana dan penuh kelembutan seperti semalam.


            "Jika kau menginginkanku bersikap lembut, maka menurutlah padaku."


            Lagi-lagi pria itu membaca pikirannya tanpa permisi dan membuat Calistha semakin sebal pada pria

__ADS_1


itu. Andai saja ia dapat mengunci pikirannya agar pria itu tidak sembarangan membaca isi kepalanya tanpa permisi seperti itu.


            "Jangan membaca pikiranku sesuka hatimu seperti itu, aku tidak suka." ucap Calistha terang-terangan. Aiden meraih dagu Calistha lembut dan mengarahkan tatapan wanita itu padanya. Tiba-tiba saja ia merasa gemas pada Calistha, setelah sebelumnya ia merasa kesal karena sikap kekanakan wanita itu.


            "Jika kau tidak mau aku membaca pikiranmu, maka berhentilah untuk menggerutu nona keras kepala."


            Calistha menggerak-gerakan kepalanya brutal dan mencoba menyingkirkan tangan Aiden dari dagunya, namun Aiden kembali mencengkeram dagu putih itu dan lebih mendekatkannya pada bibirnya.


            Ucapan Aiden itu sukses membuat pipi Calistha bersemu merah karena malu. Aiden benar-benar pria yang sangat berbahaya. Selain ia bisa menaklukan musuh-musuhnya di medan perang, ia juga bisa menaklukan wanita keras kepala seperti Calistha dengan kata-katanya yang terlewat vulgar, namun romantis.


            "Jangan pernah menggodaku untuk mengalihkan rasa kesalku padamu, karena aku tetap merasa kesal dan ingin mencakar wajahmu sekarang." sembur Calistha sengit untuk menutupi rasa malunya dan juga rasa panas yang menjalar di seluruh wajahnya. Namun Aiden tampak tidak peduli, dan justru mengecup bibir Calistha pelan dan lembut.


            "Hal yang paling kusukai selain menumpahkan darah adalah mencium bibir merahmu. Kau begitu nikmat dan menggoda sayang. Apalagi saat kau tengah meneriakan namaku dengan suara serakmu yang sangat seksi itu, aku menyukainya." Bisik Aiden sensual di telinganya. Wajah Calistha semakin merah padam mendengar kata-kata vulgar yang diucapkan Aiden padanya. Rasanya ia ingin bersembunyi sejauh-jauhnya dari pria menyebalkan itu agar ia dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya yang terlihat begitu jelas saat ini.

__ADS_1


            "Kau juga semakin cantik saat merona."


            "Arghh hentikan semua ucapan menjijikanmu, aku muak mendengarnya." teriak Calistha kesal sambil mendorong tubuh sekokoh baja itu menjauh darinya. Tapi seakan-akan tidak terpengaruh dengan dorongan Calistha, Aiden masih tetap bergeming di tempatnya sambil terkekeh geli melihat reaksi Calistha yang selalu menggemaskan itu.


            "Sayang jika kau seperti ini, kau terlihat seperti seorang wanita."


            "Tentu saja aku wanita. Memangnya kau pikir aku pria." teriak Calistha kesal dan semakin mendorong-dorong Aiden menjauh darinya. Merasa gemas Calistha, Aiden kemudian mencium bibir merah itu dan menyesapnya dengan rakus seperti seorang musafir yang kehausan.


            Tanpa mereka sadari, seorang wanita paruh baya yang menyamar sebagai seorang pelayan tengah berdiri


kaku di depan pintu ruang pribadi Aiden yang sedikit terbuka. Wanita itu tampak tersenyum misterius dan setelah itu ia segera pergi dari ruangan itu sambil tersenyum samar dibalik wajahnya datar. Wanita itu tampak seperti sedang


memikirkan sesuatu yang sangat misterius di dalam kepalanya. Dan mungkin saja setelah ini wanita itu akan melakukan sesuatu yang menjadi alasannya harus menyamar sebagai seorang pelayan.

__ADS_1


__ADS_2