
"Hentikan semua serangan kalian! Kerajaan Bibury telah kalah dan menjadi bagian dari kerajaan Khronos. Sekarang bereskan semua kekacauan ini dan ambil seluruh harta kerajaan." teriak Spencer pada seluruh prajurit kerajaan Khronos yang tersisa. Pria itu kemudian menarik Gazelle dengan kasar, hingga wanita itu terlihat merintih kesakitan karena luka di kakinya yang semakin menganga lebar. Melihat hal itu, Spencer mencoba mengeraskan hatinya sambil menatap lurus pada seluruh prajurit Khronos yang sedang meringkus seluruh prajurit kerajaan Bibury yang tersisa. Setelah ini mereka semua akan dimasukan ke dalam penjara bawah tanah, dan jika mereka selalu bersikap baik selama di dalam penjara, maka Aiden akan memberikan pengampunan pada mereka dan mengijinkan mereka untuk bebas atau menjadi bagian dari kerajaan dengan bekerja sebagai prajurit. Tapi bagi mereka yang membangkang, mereka akan segera dijatuhi hukuman mati atau dijadikan menu makan malam bagi harimau-harimau peliharaan Aiden yang buas.
Dengan tertatih-tatih, Gazelle tampak sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya untuk memancing kemarahan Spencer. Ia tahu jika selama ini Spencer tengah menyimpan sebuah rasa padanya. Tapi, sayangnya ia sama sekali tidak mencintai Spencer dan justru mencintai Aiden, pria kejam yang meskipun sangat dibencinya, tapi juga sangat dicintainya hingga saat ini.
"Jadi, beginikah nasibmu?" tanya Gazelle mencemooh. Melihat Spencer yang sama sekali tidak terpengaruh dengan ejekannya membuat Gazelle geram dan semakin membuatnya ingin menjatuhkan Spencer dengan ucapannya yang pedas.
"Kau terus menjadi pengawal setia Aiden dan menjadi pembersih bagi seluruh kekacauan yang dilakukan oleh Aiden? Ckckckk, menyedihkan. Bahkan kau tidak diberikan hak untuk memilih jalan hidupmu sendiri. Aku benar-benar merasa prihatin padamu Spencer."
"Tutup mulutmu! Ucapanmu itu sama sekali tidak mempengaruhiku." balas Spencer tenang masih dengan menyeret tangan Gazelle untuk dikumpulkan bersama para anggota pemberontak yang lain.
"Kenapa kau kasar sekali Spencer, bukankah seharusnya kau bersikap lembut padaku, hmm?" tanya Gazelle dengan suara memprovokasi yang terdengar memuakan di telinga Spencer.
"Tutup mulutmu Gazelle, atau aku akan membungkamnya dengan tanganku sendiri jika kau tak mematuhinya. Lagipula, kau bukan jenis wanita yang harus diperlakukan dengan penuh kelembutan. Kau adalah wanita licik yang harus diperlakukan dengan kasar!" umpat Spencer marah.
"Maaf, tapi aku tidak akan menutup mulutku sebelum kau mengakui semuanya." ucap Gazelle lantang. Spencer seketika menghentikan langkahnya dengan gusar sambil menghemapaskan tangan mungil Gazelle begitu saja ke udara. Kesabarannya telah habis. Wanita itu benar-benar telah membuatnya marah dan hampir gila disaat yang bersamaan dengan sikapnya yang sangat pembangkang itu.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau sekarang bukanlah Gazelle yang kukenal. Kenapa kau memilih jalan ini hanya karena raja Aiden tidak memilihmu? Kau seharusnya tidak memilih jalan ini dan mencoba mencari pria lain yang dengan senang hati akan memberikanmu cinta yang tulus."
"Apakah pria itu adalah kau? Apakah kau akan memberikanku cinta dengan tulus meskipun aku tidak mencintaimu? Kau bodoh Spencer! Kau bodoh! Untuk apa kau tetap mempertahankan hatimu jika pada dasarnya aku tidak akan pernah mencintamu. Meskipun aku selalu berteriak pada semua orang jika aku membenci Aiden, tapi jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, hatiku selalu bergetar untuk Aiden. Hanya Aiden yang bisa membuatku menjadi gila. Dan hanya Aiden yang mampu menyakitiku hingga titik terparah seperti ini." ucap Gazelle mantap dengan suara kerasnya. Beberapa prajurit yang berlalu lalang disekitar mereka tampak melirik ingin tahu pada sepasang manusia yang saat ini sedang bertengkar hebat di tengah kekacauan perang yang terjadi di kerajaan Bibury.
"Ya, aku memang bodoh! Bahkan aku sangat ***** karena telah mencintaimu dengan sangat dalam. Tapi, apakah aku bisa memilih? Apakah hatiku bisa memilih? Bahkan raja pun yang terkenal kejam dan beringas sama sekali tidak dapat memilih wanitanya sendiri dan harus menderita setiap hari karena menahan begitu banyak kesakitan yang menderanya. Cinta adalah sesuatu yang rumit. Disisi lain cinta dapat membawa kebahagiaan, namun di sisi lain cinta juga dapat menghancurkan. Tapi, semua itu tergantung padamu. Kau yang memutuskan akan menjadi apa cinta itu nantinya, apakah akan memberimu kebahagiaan atau justru akan menghancurkanmu dengan kesakitannya yang teramat sakit seperti ini."
"Cih, aku tidak percaya dengan kata-kata busukmu itu. Kau pikir aku akan percaya dengan semua ucapanmu itu, sementara kau sendiri tidak bisa menerapkannya pada dirimu sendiri. Sadarlah Spencer, kau adalah pria yang lemah dan pengecut. Kau hanya pesuruh Aiden dan derajatmu tidak akan pernah sama denganku." sembur Gazelle dengan kata-kata menyakitkan. Spencer mengepalkan kedua tangannya marah hingga buku-buku jarinya memutih. Wanita itu benar-benar sangat keras kepala dan hampir tidak mungkin untuk disadarkan. Memang sejak awal wanita itu lebih baik membusuk di dalam penjara atau menjadi santapan hewan-hewan peliharaan Aiden yang buas daripada ia harus memberinya berbagai macam petuah, yang ia yakin tidak akan pernah didengar oleh Gazelle.
"Masuklah. Setelah ini kau dan seluruh anggota pemberontakmu yang lain akan mendekam di penjara. Tapi sebaiknya kau bersikap baik di dalam penjara, jika kau ingin Aiden mengampunimu dan membebaskanmu..."
"Aku tidak sudi memohon ampun pada Aiden. Lebih baik aku mati membusuk di dalam penjara daripada aku harus mengemis pengampunan pada pria arogan itu." potong Gazelle sengit dengan wajah marahnya yang sangat memuakan. Tapi, Spencer tampaknya sudah tidak terpengaruh dengan sikap kasar Gazelle sekarang karena pria itu tampak tidak peduli dan justru menyobek lengan bajunya untuk mengobati luka sayatan di kaki Gazelle yang menganga.
Srek
"Jika kau tidak mau melakukannya, maka setidaknya kau melakukan hal itu untuk keluargamu. Ayahmu pasti akan sangat sedih melihat putri satu-satunya yang telah lama menghilang ternyata adalah bagian dari anggota kaum pemberontak." ucap Spencer datar sambil melilitkan kain yang disobeknya pada betis Gazelle. Melihat perlakukan Spencer yang begitu lembut dibalik suara datarnya, membuat Gazelle lagi-lagi terenyuh dengan sikap pria itu. Dan saat Spencer bangkit berdiri, dengan cepat Gazelle segera ******* bibir pria tampan itu tanpa mempedulikan sikap terkejut Spencer yang hampir saja melepaskan tautan bibirnya. Tapi, dengan erat Gazelle langsung menahan tengkuk Spencer hingga pria itu tidak dapat melepaskan tautan bibirnya dan hanya membalas setiap lumatan yang diberikan olehnya dengan lumatan yang menggebu-gebu.
"Terimakasih atas kebaikan hatimu. Tapi jangan pernah berharap lebih padaku, karena aku tidak akan menjadi wanita yang kau inginkan." ucap Gazelle datar setelah ia melepaskan tautan bibirnya pada Spencer. Beberapa anggota kaum pemberontak tampak mencuri-curi padangkan ke arah mereka. Tapi saat Gazelle menatap mereka dengan tatapan tajam, mereka semua langsung mengalihkan perhatian mereka pada hal lain.
Sementara itu, Spencer masih termenung di tempatnya sambil mencerna semua hal yang baru saja terjadi.
Sungguh ia tidak pernah mengira jika Gazelle akan menciumnya seperti itu. Ia kemudia menatap nanar pada Gazelle yang saat ini sedang meringkuk sendirian di atas tanah bersama dengan kaum pemberontak yang lain. Ia yakin, sebenarnya Gazelle masih memiliki sebagian dirinya yang dulu, tapi sayangnya semua itu telah tertutupi dengan rasa dendam dan rasa sakit yang ditorehkan oleh Aiden pada hati rapuhnya.
"Apapun yang terjadi, kau tetap satu-satunya wanita yang mengisi hatiku Gazelle."
-00-
Sementara seluruh prajurit Khronos sedang membereskan kekacauan yang terjadi di kerajaan Bibury, Aiden dan Calistha tengah berada di sebuah pondok tua sambil menghangatkan diri mereka di depan api unggun yang dibuat oleh Aiden. Setelah mereka terjatuh dari kuda, kuda hitam itu langsung pergi entah kemana karena Calistha telah membuat kuda itu terkejut dengan sentakannya yang tiba-tiba.
__ADS_1
Suara jangkirk dan beberapa hewan malam yang lain terus bersahut-sahutan meramaikan suasana hening yang terjadi diantara mereka. Dari balik bulu matanya yang lentik, Calistha terus mencuri-curi pandang ke arah Aiden untuk melihat bagaimana keadaan pria itu saat ini. Beberapa jam yang lalu, ia telah membersihkan luka di punggung Aiden dengan selembar kain yang ia temukan di pondok ini. Lalu dengan sedikit kain dari gaunnya, Calistha menutup luka menganga itu agar tidak membusuk terkena udara berdebu disekitar mereka.
Krukk
Tiba-tiba Calistha merasa sangat lapar dan ingin memakan sesuatu. Tapi ia tidak dapat menemukan apapun di dalam pondok ini, sehingga sejak tadi ia hanya mengganjal perutnya dengan kaki yang sengaja ia lipat di depan dada agar perutnya tidak semakin meronta-ronta minta diisi.
"Apa kau baik-baik saja?"
Tiba-tiba Aiden mendudukan diri di sebelahnya sambil menatap kedua manik matanya dengan lembut.
Sekilas, Calistha merasa terpana dengan tatapan itu. Tapi cepat-cepat ia mengalihkan wajahnya pada kobaran api yang saat ini sedang menari-nari di hadapannya karena ia merasa begitu malu berdekatan dengan Aiden. Apalagi setelah ia menangis cukup lama di pundak pria itu, menangisi segala kesedihan yang menyesakan dadanya hingga ia merasa ingin mati dan menyusul Max. Tapi, entah mengapa setelah ia menumpahkan semuanya, kini perasaannya menjadi lebih baik dan ia tidak merasa sedih lagi. Bahkan, keinginan untuk mati itu sudah tidak
ada lagi. Benar-benar aneh.
"Ya, aku baik-baik saja. Apa prajurit-prajuritmu akan datang besok pagi?"
"Seharusnya mereka akan melewati jalan ini karena jalan ini adalah jalan satu-satunya yang akan membawa mereka ke Khronos."
Hening. Suasana diantara mereka menjadi hening kembali setelah Aiden menyelesaikan ucapannya. Calistha sendiri sedang tidak memiliki bahan pembicaraan apapun yang ingin dibicarakan pada Aiden, sehingga ia lebih memilih untuk memejamkan matanya agar rasa lapar yang mendera perutnya sejak tadi segera hilang ditelan rasa kantuknya. Tapi...
Krukk
Lagi-lagi suara itu menggema di dalam perutnya, membuat Calistha langsung membuka matanya nyalang sambil menatap Aiden yang saat ini sedang menatapnya dengan wajah geli menahan tawa. Ia sangat yakin, setelah ini pria itu pasti akan mengolok-oloknya dengan kejam karena ia tertangkap basah sedang kelaparan, padahal baru saja ia mentakan pada pria itu jika ia baik-baik saja.
bangkit berdiri untuk melihat keadaan disekitar pondok. Sore tadi sepertinya ia melihat sebuah pohon peach yang berbuah rimbun tak jauh dari pondok tempat mereka bermalam, mungkin saja ia bisa mengambil beberapa dan diberikan pada wanita keras kepala itu untuk mengganjal perutnya yang lapar.
"Kau mau kemana?"
Suara gerakan Aiden yang berisik, mau tidak mau membuat Calistha menolehkan kepalanya untuk melihat keadaan pria itu. Melihat Aiden yang sedang berdiri sambil merapikan jubah kebesarannya yang terlihat lusuh membuat Calistha langsung mengangkat alisnya dan segera berdiri dari duduknya. Ia tidak mau ditinggalkan sendiri di pondok tua ini. Ia terlalu takut berada di pondok tua ini sendirian karena suasana di sini begitu gelap dan mencekam.
"Aku hanya ingin mencari makanan. Sepertinya tak jauh dari sini ada sebuah pohon peach yang sedang berbuah dengan lebat. Aku akan memetikanmu beberapa buah peach untuk mengganjal perutmu yang lapar." ucap Aiden datar. Tapi, entah mengapa hal itu dapat membuat hati Calistha menjadi hangat. Tidak peduli bagaimana nada bicara Aiden yang terdengar dingin dan datar, yang terpenting adalah sikap pria itu yang begitu lembut dan pengertian.
"Aku akan ikut bersamamu."
Aiden menganggukan kepalanya kecil dan segera berjalan keluar dari pondok diikuti Calistha di belakangnya. Udara malam yang begitu dingin langsung menyambut mereka ketika mereka berjalan perlahan, menyusuri rimbunnya pepohonan lebat yang berada di sekitar mereka. Beberapa kali Calistha menggosok-gosokkan tangannya pada kedua lengannya yang dingin dan juga wajahnya yang terasa beku. Tapi, rasanya ini lebih baik daripada ia harus berada di dalam pondok tua itu sendiri meskipun udara di dalam sana sangat hangat.
"Kau kedinginan?"
Nada tanya yang terdengar sedingin es itu menguar di udara tiba-tiba, membuat Calistha langsung mendongakan wajahnya ke arah Aiden. Tapi, pria itu sama sekali tidak membalikan tubuhnya ke arahnya. Pria itu jusru terlihat tanpa kata, tapi melalui gerak-gerik tubuhnya, Calistha tahu jika saat ini Aiden sedang melepas jubah
kebesarannya untuk diberikan pada Calistha.
"Pakai ini. Aku tidak ingin kau sakit saat kita kembali ke kerajaan besok karena itu akan merepotkanku." ucap Aiden lagi dengan nada dingin yang terdengar acuh. Dari balik punggungnya, Calistha terlihat sedang mendengus sebal pada pria arogan yang saat ini sedang berjalan di depannya. Dalam hati Calistha meruntuki sikap dingin pria itu yang sudah benar-benar tak tertolong.
__ADS_1
"Dasar pria es. Jika aku sakit, aku pasti bia mengurus diriku sendiri. Aku tidak membutuhkan bantuanmu." cibir Calistha pelan, namun terdengar lantang karena saat ini mereka sedang berada di tengah hutan yang sepi.
"Jadi kau tidak membutuhkan bantuanku? Baiklah, aku tidak akan mencarikanmu makanan. Aku akan
kembali ke pondok untuk menghangatkan tubuhku lagi." ucap Aiden santai. Pria itu kemudian segera berbalik untuk kembali ke pondok tua itu lagi. Tapi, suara berisik dari perut Calistha membuat pria itu berhenti dan tertawa terbahak-bahak di depan Calistha. Sedangkan Calistha yang awalnya tampak marah dan sebal, langsung terdiam sejenak sambil mengamati ekspresi wajah Aiden yang begitu lepas. Ini adalah pengalaman pertamanya melihat Aiden tertawa, dan itu berhasil membuatnya merasa tak percaya karena ia pikir Aiden adalah pria kejam dan kaku yang sama sekali tidak bisa tersenyum, apalagi tertawa. Tapi, melihat bagaimana Aiden tertawa saat ini, membuat Calistha mau tidak mau harus mengakui satu hal, jika Aiden sangat tampan jika sedang tertawa seperti itu.
"Aiden, apa kau benar-benar tertawa?" tanya Calistha tak percaya. Sejak tadi wanita itu masih saja menatap wajah Aiden dengan wajah sangsi yang terlihat begitu lucu di mata Aiden, hingga Aiden refleks mengangkat salah satu tangannya untuk mengusap kepala Calistha beberapa kali.
"Tentu saja aku benar-benar tertawa."
"Benarkah? Seberapa banyak kesedihan yang kau tahan hingga kau terlihat seperti ini, dingin, arogan, dan sombong? Kau pasti telah menyimpan begitu banyak di dalam hatimu." tebak Calistha bersimpati. Aiden tersenyum getir menanggapi ucapan Calistha dan lebih memilih untuk tidak menanggapi hal itu lebih lanjut. Tahu jika pada akhirnya ia akan mengungkapkan semuanya pada Calistha dan membuat dirinya lemah di hadapan wanita itu.
Karukk krauk
"Aiden, suara apa itu?" tanya Calistha was-was. Tiba-tiba sebuah suara asing yang terdengar seperti suara kunyahan itu menggema di sekitar mereka, membuat Calistha langsung berbalik waspada sambil mengamati keadaan sekitarnya yang gelap gulita. Berbeda dengan Calistha yang panik, Aiden terlihat begitu santai sambil terus berjalan ke depan tanpa memikirkan apapun. Selama suara itu bukan berasal dari hewan buas, maka ia akan tetap bersikap santai layaknya tak pernah mendengar apapun di sekitarnya.
"Aaiden, suara apa itu? Bagaimana jika tiba-tiba seekor harimau keluar dari semak-semak itu dan memakan kita? Berhentilah sebentar, aku... aku takut."
Susah payah Calistha mengucapkan kata-kata itu pada Aiden. Ia merasa saat ini harga dirinya telah
benar-benar jatuh ke tingkat yang paling dasar. Tapi ia tidak peduli. Masih ada banyak waktu untuk mengembalikan harga dirinya yang sudah terlanjur jatuh di hadapan Aiden. Toh pria itu sudah terlanjur mengetahui sifat baik dan buruknya selama ini.
"Harimau? Yang benar saja. Tidak mungkin ada harimau di sini. Kau terlalu berlebihan." ucap Aiden mencibir. Pria itu terus berjalan maju menembus rimbunnya semak-semak yang menghalangi jalannya. Sedangkan Calistha yang berada di belakangnya tampak terus mengekor sambil melirik takut pada setiap semak-semak yang dilewatinya.
"Aiden, lebih baik kita kembali ke pondok tua tadi dan menunggu prajuritmu datang esok pagi. Sepertinya rasa laparku sudah hilang."
"Apa yang kau katakan? Lihatlah, aku baru saja menemuka kuda hitam kita yang hilang. Kita bisa kembali ke kerajaanku sekarang." ucap Aiden senang namun tersamarkan dengan nada suaranya yang datar. Seketika Calistha langsung melongokan tubuhnya ke depan untuk melihat kuda hitam yang saat ini sedang asik memakan buah peach di depan sana. Sungguh rasa lega dan bahagia langsung membuncah di dadanya karena ia dapat segera pergi meninggalkan hutan yang mengerikan ini, meskipun ia akan pulang ke kerajaan Khronos, itu tidak masalah. Ia akan memikirkan bagaimana nasibnya nanti setelah ia tiba di kerajaan Khronos.
"Ayo, apa kau tidak ingin pulang ke kerajaanku?" tanya Aiden sambil mengulurkan tangannya pada Calistha yang masih sibuk melamun di bawahnya. Dengan ragu, Calistha mulai mengulurkan tangannya sambil bersiap untuk menaiki kuda hitam itu. Dan dalam sekali hentakan, Calistha langsung mendaratkan tubuhnya dengan sempurna di depan Aiden, membuat jantung wanita itu tiba-tiba berdegup kencang karena posisi mereka yang begitu dekat seperti ini.
"Jangan coba-coba bertindak bodoh lagi dengan menyentak tanganku dari tali kekang ini dan membuatku jatuh." peringat Aiden dengan suara mengancam. Melihat aura mengerikan Aiden yang kembali terpancar, Calistha hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah sambil menganggukan kepalanya pelan. Setelah itu Aiden
segera melajukan kudanya dengan kencang, membelah kesunyian malam dengan suara hentakan kudanya yang begitu keras.
"Aiden, apa aku memiliki pilihan lain selain menjadi takdirmu?" gumam Calistha pelan, namun ternyata ucapannya itu masih terdengar jelas di telinga Aiden, dan dengan
tegas pria itu mengatakan tidak sambil menatap kedua manik matanya dalam untuk
sesaat.
"Tidak, takdirmu adalah bersamaku dan mendampingiku menjadi raja. Jadi kau tidak memiliki takdir lain selain hidup bersamaku, atau jika kau mau kau bisa terus berlari dan menghindar dariku. Tapi, sejauh apapun kau berlari dan menghindariku, maka aku akan tetap mengejarmu dan mencarimu Calistha."
Mendengar jawaban Aiden yang begitu tegas dan tak terbantahkan itu, membuat Calistha hanya mampu menghembuskan napasnya pasrah sambil menerka-nerka bagaimana hidupnya setelah ini. Apakah hanya sejauh ini perjuangannya untuk lepas dari Aiden, atau apakah ia masih memiliki kesempatan untuk lepas dari Aiden dan memilih takdirnya sendiri? Entahlah, pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab, bahkan ia sendiri tidak yakin apakah ia bisa melakukan semua itu setelah apa yang terjadi padanya dan semua nyawa tak berdosa yang ia korbankan. Sungguh ia tidak ingin melibatkan siapapun lagi dalam masalahnya. Cukup hanya dirinya saja yang menanggung semua konsekuensi dari tindakan yang diambilnya, bukan orang lain ataupun orang-orang yang disayanginya.
__ADS_1