
"Sial! Kenapa Calistha bisa hamil secepat itu?" maki Gazelle marah di sebuah gudang kosong di belakang dapur. Tiffany yang saat ini sedang bersama Gazelle juga tampak mengepalkan kedua tangannya kesal karena ia tidak menyangka jika adik bungsunya itu akan hamil secepat itu. Padahal selama ini ia pikir hubungannya dengan
Aiden tidak pernah berjalan baik dan hanya sebatas kepalsuan semata, tapi nyatanya adik bungsunya itu sedang mengandung keturunan Aiden, itu berarti hubungan diantara mereka akan semakin kuat dan tidak akan terpisahkan.
"Kupikir mereka tidak akan pernah melakukan hal itu karena mereka sering bertengkar satu sama lain. Huh, adikku memang wanita murahan. Ia sengaja menggoda Aiden dan menjual tubuhnya dengan mudahnya pada pria itu. Aku benar-benar malu memiliki adik sepertinya. Selain pengkhianat, ia juga ******." tambah Tiffany penuh kemarahan. Kedua wanita licik itu saling terdiam satu sama lain untuk memikirkan rencana berikutnya yang akan mereka jalankan. Mereka tidak akan membiarkan Calistha dan bayi dalam kandungannya hidup. Sebentar lagi mereka pasti akan menghancurkan Calistha dan bayinya hingga tak tersisa.
"Kita harus segera menyingkirkan Calistha dan bayinya, apapun yang terjadi. Kau harus cepat-cepat meminta kantong kutukan pada penyihir yang kau ceritakan padaku tadi. Dan aku akan segera menjalankan rencanaku hari ini. Apa kau bisa melakukannya?" tanya Gazelle pada Tiffany dengan wajah bersungguh-sungguh. Tiffany mengangguk yakin sambil menyeringai licik pada Gazelle. Siang ini juga ia akan menyelinap diam-diam dari istana dan pergi ke pasar untuk menemui penyihir tua yang sangat kuat dan sakti. Ia yakin, penyihir itu dapat membuatkan kutukan yang sangat kejam untuk Calistha agar ia dan bayinya segera mati saat ini juga.
"Kau tenang saja, aku pasti akan mendapatkan kantong kutukan itu hari ini. Tapi selama aku tidak ada, kau harus mengawasi Calistha dan perkembangan wanita itu, mungkin saja sesuatu akan terjadi selama aku pergi, karena kurasa Aiden tidak terlalu suka dengan berita kehamilan Calistha."
"Apa maksudmu dengan tidak suka?"
Gazelle mengernyitkan dahinya tidak mengerti sambil meminta penjelasan pada Tiffany. Sedangkan wanita bereyes smile itu tampak mengingat-ingat bagaimana ekspresi Aiden saat tabib memberitahukan padanya jika Calistha sedang mengandung. Saat itu wajah Aiden justru tampak pias dan datar. Bahkan pria itu tidak mau repot-repot menunggu Calistha hingga sadar dan memberikan selamat pada Calistha atas berita bahagia itu. Aiden justru langsung berjalan pergi begitu saja sambil memerintahkan Yuri dan Sunny untuk selalu menjaga Calistha. Entah apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, Tiffany sendiri terus bertanya-tanya di dalam hatinya, tapi ia
tidak terlalu ambil pusing atas hal itu, ia justru merasa senang jika Aiden sama sekali tidak mengharapkan kehadiran bayi itu, karena jika Aiden tidak menyukai berita mengenai kehamilan Calistha, maka mungkin saja Aiden akan membuang Calistha dan bayinya jauh-jauh dari kerajaan Khronos. Karena menurutnya Aiden bukan tipe pria penyayang yang baik hati. Selama ini ia yakin jika Aiden sebenarnya hanya ingin memanfaatkan Calistha untuk menyembuhkan kutukannya, selebihnya Aiden sama sekali tidak pernah mengharapkan Calistha berada di sisinya.
"Aiden sepertinya hanya ingin memanfaatkan Calistha sebagai penawar untuk kutukannya. Apa kau
tidak melihat bagaimana ekspresi wajah Aiden saat tabib mengatakan jika Calistha sedang mengandung? Pria itu justru terdiam di tempat dengan wajah datarnya yang pias. Menurutku ia sama sekali tidak suka dengan kabar itu dan berencana membuang Calistha dan bayi mereka sejauh-jauhnya dari Khronos jika kutukannya telah sembuh nantinya."
"Benarkah? Sebenarnya sejak awal aku tidak terlalu yakin dengan kesungguhan Aiden untuk menikahi Calistha karena aku sangat mengenal Aiden. Ia bukan tipe pria yang ingin memiliki keluarga yang bahagia dan hangat. Ia adalah pria kejam yang lebih suka menghabiskan waktunya dengan menggenggam pedang selama berjam-jam di medan perang daripada menjaga keluarganya yang akan terus dibayang-bayangi rasa ketidakamanan karena ia sendiri memiliki banyak musuh di luar sana. Aku, juga sepemikiran denganmu. Setelah ini Calistha dan bayinya pasti akan dibuang oleh Aiden. Tapi sebelum Aiden benar-benar melakukannya, kita harus segera menyingkirkan Calistha dan bayinya agar Aiden tidak terus menerus memandangku sebelah mata dan meremehkan kekuatanku. Aku akan menunjukan padanya jika aku ini adalah wanita kuat yang licik." Seringai Gazelle mengerikan. Tiffany mengangguk-anggukan kepalanya setuju sambil berjalan keluar untuk segera menjalankan rencananya selanjutnya.
"Tetap awasi orang-orang disekitarmu, beritahu padaku jika kau mendapatkan berita baru nanti." pesan Tiffany serius sebelum berjalan pergi meninggalkan Gazelle yang tampak masih menyeringai licik sambil menerawang jauh ke depan. Aiden, kau pasti akan menjadi milikku!
-00-
Tiffany dengan tenang berjalan keluar dari gudang itu sambil menyapa beberapa pelayan dengan sapaan sekenanya. Selama ini ia tidak terlalu ramah pada pelayan, dan hanya sebatas menyapa mereka dengan sapaan sekedarnya yang menurutnya itu tidak terlalu penting. Ketika ia kembali berpapasan dengan seorang pelayan yang sering melayaninya di kamar, pelayan itu menghentikan langkahnya sambil membungkukan tubuhnya dalam.
"Selamat pagi nona, saya membawa kabar jika Yang Mulia Calistha telah sadar. Mungkin anda
ingin melihat bagaimana keadaan Yang Mulia Calistha sekarang." ucap pelayan itu sopan. Tiffany tampak hendak mengibaskan tangannya ke udara untuk mengusir pelayan itu. Tapi cepat-cepat ia menahan tangannya di udara karena tiba-tiba saja sekarang ia memiliki ide.
"Benarkah? Bagaimana keadaanya?" Tanya Tiffany penuh minat. Ia merasa penasaran bagaimana perasaan adiknya saat ia sadar, namun tidak mendapati Aiden di sebelahnya. Pasti Calistha sangat terguncang atas fakta itu.
"Yang Mulia Calistha tampak lebih murung, tapi Yang Mulia berusaha untuk tetap tegar." jawab pelayan itu jujur. Dengan senyum penuh kelicikan, Tiffany segera meninggalkan pelayan itu untuk menghampiri Calistha. Ia yakin saat ini adik bungsunya itu sangat sedih karena Aiden tidak berada di sisinya untuk membisikan kata-kata cinta atas kehamilannya saat ini. Hmm, kita lihat sejauh mana hubungan mereka akan bertahan dengan badai yang akan kuciptakan diantara mereka.
__ADS_1
"Calistha." Tiffany berseru pelan dari ujung pintu sambil mengeluarkan air mata harunya yang palsu. Wanita itu terlihat tersenyum penuh kerinduan pada Calistha sambil berlari untuk menghampiri sang adik yang masih terbaring di atas ranjang besar di kamarnya.
Calistha sendiri saat melihat Tiffany datang langsung mendudukan dirinya, dan bersandar pada kepala
ranjang sambil menatap penuh kerinduan pada saudara perempuannya yang sudah lama tak dilihatnya. Selama ia sakit, Aiden selalu melarangnya untuk bertemu dengan Tiffany dan selalu mengatakan jika Tiffany adalah wanita yang jahat. Tapi sepertinya ucapan Aiden sama sekali tidak terbukti. Bagaimana mungkin wanita tulus dan cantik seperti kakaknya adalah seorang monster jahat yang hendak mencelakainya? Aiden pasti berbohong padaku!
"Tiffany, lama tidak berjumpa denganmu."
Calistha merentangkan tangannya lebar-lebar dan Tiffany langsung menghambur ke dalam pelukan Calistha yang hangat dan tulus.
"Aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu adikku?" tanya Tiffany sambil berpura-pura menyeka air matanya. Yuri yang melihat perilaku penuh kedustaan yang ditunjukan oleh Tiffany hanya mampu memandang kesal dari kejauhan sambil menyenggol lengan Sunny.
"Lihat, wanita ular itu sedang bersikap sok baik pada Yang Mulia Calistha. Kita harus selalu mengawasinya dan melaporkan sikapnya pada raja Aiden." bisik Yuri di telinga Suuny. Wanita imut itu menganggukan kepalanya setuju dengan ekor mata yang tidak pernah lepas dari Calistha dan Tiffany. Ia sendiri sejak awal juga tidak terlalu menyukai Tiffany karena sikap wanita itu yang sangat sombong dan angkuh. Wanita itu benar-benar terlihat berbeda dari Calistha.
"Aku baik-baik saja, luka di kakiku sudah sembuh sekarang. Apa kau suka tinggal di sini?"
Kedua wanita itu saling melepaskan pelukan satu sama lain untuk bertukar cerita mengenai rutinitas
mereka selama seminggu ini. Jujur, Tiffany cukup penasaran dengan kegiatan Calistha selama berada di dalam kamar Aiden. Ia sendiri sebenarnya cukup merasa bosan hanya dengan membayangkan bagaimana Calistha melewatkan waktu seminggunya hanya dengan berbaring di atas ranjang Aiden tanpa bisa berjalan-jalan keluar
dan menghirup udara segar. Ia yakin adiknya itu pasti juga merasakan kebosanan yang ia rasakan.
"Syukurlah jika kau menyukainya. Aiden tidak pernah menyakitiku, ia selalu menjagaku dengan
baik. Ia juga selalu bersikap ramah dan hangat, walaupun terkadang ia masih sering bersikap dingin jika aku mulai membantah kemauannya. Tiffany, apa aku benar-benar hamil?"
Tiba-tiba saja raut wajah Calistha berubah menjadi resah ketika wanita itu mulai menyinggung mengenai berita kehamilannya. Tiffany sendiri saat ini sedang mencoba menerka-nerka bagaimana perasaan adik bungsunya itu mengenai berita kehamilannya, karena sepertinya adik bungsunya itu sama sekali tidak terlihat senang, justru terlihat murung dan tidak bahagia.
"Ya, tabib mengatakan jika kau hamil. Ada apa? Kenapa dengan wajahmu, sepertinya tidak terlalu menyukai berita tentang kehamilanmu itu?" tanya Tiffany terlihat prihatin. Calistha menghembuskan nafasnya pelan sambil menatap Tiffany dengan mata sayunya. Entah mengapa ia merasa begitu sedih setelah ia tersadar dari pingsannya beberapa menit yang lalu. Ia merasa hatinya kosong ketika ia tidak mendapati Aiden di sampingnya, sedangkan ia dihadapkan pada sebuah fakta jika ia sedang mengandung. Ia pikir seharusnya Aiden berada di sini sekarang sambil menyambutnya dengan wajah haru dan penuh kebahagiaan karena saat ini ia sedang
mengandung keturunannya. Tapi nyatanya Aiden sama sekali tidak ada di sampingnya saat ia sadar, justru Sunny dan Yuri yang berada di sini sambil tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Apakah Aiden tidak menginginkan anak ini?
"Tidak, aku hanya sedang mencari Aiden. Apa kau melihat Aiden?"
"Aku belum melihat Aiden hari ini. Padahal pelayan dan tabib telah mengatakan bahwa kau hamil dan pingsan, tapi ia hanya bersikap datar dan memandangmu dari kejauhan. Setelah itu ia pergi entah kemana. Apa kalian sedang memiliki masalah?"
__ADS_1
Tiffany tampak tersenyum licik dibalik wajah prihatinnya. Wanita itu telah berhasil membuat wajah Calistha kembali keruh dengan kata-kata yang diucapkan olehnya. Sayangnya saat ini Yuri dan Sunny berada cukup jauh dari posisi Calistha dan Tiffany, sehingga mereka tidak dapat menyangkal ucapan Tiffany yang penuh kedstaan.
"Benarkah? Mungkin Aiden sedang memiliki banyak pekerjaan. Akhir-akhir ini ia sibuk sekali dan sering pulang larut malam. Ia sering meninggalkanku sendiri di siang hari." ucap Calistha menerawang. Tiffany menyimak penuh minat cerita yang dilontarkan oleh Calistha sambil memikirkan kalimat provokasi lain yang dapat membuat
Calistha semakin sedih.
"Padahal menurut para prajurit, Khronos dan negeri jajahannya yang lain sedang tidak memiliki masalah. Khronos aman dan semua rakyat hidup damai. Lalu kemana perginya Aiden selama ini? Apa menurutmu Aiden pergi menemuai wanita lain di luar sana? Ah, tapi itu tidak mungkin. Bukankan Aiden hanya mencintaimu? Dia pasti benar-benar memiliki urusan penting di luar sana." Ucap Tiffany dengan kekehan ringan sambil mengibas-ngibaskan tangannya santai di depan Calistha. Namun wajah Calistha justru terlihat mendung dan ia semakin merasa kesal dengan Aiden. Entah mengapa ucapan Tiffany itu berhasil mengganggu benaknya dan membuatnya
tidak mempercayai Aiden. Ia pikir mungkin saja Aiden memiliki wanita lain di luar sana, mengingat ia adalah raja yang tampan dan penuh kuasa. Ditambah lagi pria itu tidak terlalu senang dengan berita kehamilannya.
"Aiden pasti tidak mengharapkan kehadiran bayi ini."
Tiba-tiba Calistha berseru lirih sambil mengusap perutnya pelan. Hatinya saat ini benar-benar sakit dan sedih. Moodnya juga tiba-tiba menjadi buruk. Ia merasa ingin pergi dari kerajaan ini sekarang juga dan menghindari Aiden selama-lamanya jika Aiden memang benar-benar tidak mengharapkan bayi itu dan memiliki wanita lain.
Persetan dengan semua kutukan dan omong kosongnya mengenai takdir, sekarang ia benar-benar malas untuk memikirkan hal itu.
"Apa yang kau katakan, Aiden tidak mungkin seperti itu. Ia adalah raja yang bertanggungjawab. Ia tidak mungkin membenci bayi itu dan mengabaikanmu. Mungkin ia memang sedang memiliki banyak pekerjaan."
Tiffany kemudian mendudukan dirinya di sebelah Calistha sambil mengelus puncak kepala adiknya sayang. Calistha yang melihat adanya ketulusan yang terpancar di mata Tiffany menjadi sangat merasa bersalah karena ia pernah berpikir jika Tiffany jahat, seperti yang telah dikatakan Aiden padanya.
"Maafkan aku." ucap Calistha pelan. Tiffany menoleh bingung sambil mengenyitkan dahinya heran.
"Maaf? Untuk apa? Kurasa kau tidak pernah memiliki kesalahan padaku." ucap Tiffany bingung.
"Maafkan aku karena aku pernah berpikir kau jahat setelah insiden sepatu berpaku kemarin. Maafkan aku, aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal itu. Kau adalah kakakku, dan aku sangat yakin kau tidak sejahat itu."
Tiffany menggeleng pelan dan langsung membawa Calistha ke dalam pelukannya. Dalam hati Tiffany
puas karena telah berhasil mempengaruhi Calistha dan menanamkan benih-benih kebencian di hati Calistha untuk Aiden. Setelah ini ia yakin, hubungan Calistha dan Aiden pasti akan memburuk dan mereka akan semakin sering melakukan pertengkaran seperti dulu. Dan disaat Calistha lengah, ia akan menyerang Calistha tiba-tiba hingga wanita itu tak berdaya menghadapinya, bahkan Aiden sendiri pun juga tidak akan pernah bisa menyelamatkan Calistha dari kematiannya.
"Terimakasih, kau adalah saudara satu-satunya yang kumiliki. Jika kau membutuhkan sesuatu atau
kau ingin meminta bantuanku, katakan saja. Aku pasti akan melakukan apapun untukmu." janji Calistha tulus. Tiffany menganggukan kepalanya mengerti dan segera beranjak dari ranjang yang tempati Calistha.
"Beristirahatlah, aku harus pergi ke pasar untuk membeli sesuatu. Yuri dan Sunny akan menemanimu di sini, apa kau tidak keberatan?"
__ADS_1
"Tentu, aku akan baik-baik saja. Hati-hati di jalan." pesan Calistha sambil memeluk Tiffany sekali lagi. Setelah Calistha melepaskan pelukannya, Tiffany segera berjalan pergi meninggalkan Calistha yang kembali melamun dalam kesendiriannya.
Sementara itu, Tiffany tampak tersenyum sinis sambil menatap Yuri dan Sunny yang balas menatapnya dengan tatapan menusuk. Yuri bahkan dengan terang-terangan menunjukan sikap tidak sukanya pada Tiffany dengan cepat-cepat mengusir wanita itu keluar dari kamar Calistha. Seharusnya Tiffany memang tidak diijinkan untuk mendekati Calistha, tapi melihat sikap wanita itu yang tidak membahayakan, akhirnya Yuri dan Sunny memberikan Tiffany kesempatan untuk bertemu dengan Calistha. Tapi sayangnya pertemuan itu justru akan menjadi malapetaka bagi Calistha dan Aiden.