
“Cukup!”
“Hentikan semua saran mustahilmu!”
Shalome menatap tajam Monica. “Tidak ada mantel. Tidak ada ganti gaun. Aku juga tidak ingin menaikan suhu AC. Puas!?” Monica mengangguk. Tak gentar sedikit pun di bawah tatap pewaris Valkyrie Group's yang terkenal misterius dan dingin itu.
Waktu terus berjalan. Acara amal tahunan Valkyrie Group's sudah resmi dibuka beberapa menit lalu oleh kakek Shalome yang menjabat sebagai Presdir Valkyrie Group's.
Monica menatap hormat punggung Shalome yang tengah menyapa salah satu tamu undangan. Meski kedinginan, dia masih bersikap profesional. Bersikap ramah dan dengan sabar meladeni pertanyaan yang diberikan padanya. Walaupun sejak memasuki ballroom, ia sudah merasa tidak nyaman dengan gaun yang dipakainya. Shalome tak sedikit pun menunjukan semua itu di wajahnya. Justru, senyuman manis setia menghiasi paras rupawan wanita itu.
“Selamat malam, Nona Valkyrie. Saya datang mewakili Yield Group's,” sapa ramah seorang pria berumur.
“Selamat malam juga.” Keduanya berjabat tangan.
“Presdir menyampaikan permohonan maaf karena beliau tidak bisa hadir langsung, memenuhi undangan dari Valkyrie Group's. Beliau juga menitipkan salam untuk Anda dan Presdir Valkyrie.”
“Tolong sampaikan juga salam dari saya. Semoga Anda menikmati acaranya.” Shalome tersenyum ramah.
Jeda sebentar, seorang pria tampan berjalan mendekati Shalome.
“Magnolia Company,” bisik Monica.
“Acara yang luar biasa,” ujar pria itu.
“Terima kasih pujiannya.”
“Akhirnya, setelah menunggu sekian lama. Saya diberi kesempatan untuk bertemu Nona Valkyrie yang misterius.” Samuel mencium lembut punggung tangan Shalome.
“Anda datang sendiri?”
“Ya, seperti yang bisa Anda lihat sendiri. Tapi saya tidak keberatan ditemani wanita secantik Anda,” godanya.
“Sebelumnya, terima kasih atas tawarannya. Tapi tidak. Anda pasti tidak akan nyaman kalau pasangan pesta Anda justru sibuk sendiri,” tolak Shalome halus.
__ADS_1
“Ah .... Ya, mau bagaimana mana lagi. Memang tidak mudah untuk menarik perhatian Anda,” ringis pria itu.
“Tapi saya tidak terlalu kecewa. Karena sudah menduga hal ini akan terjadi. Seperti rumornya.”
“Rumor?”
“Ya. Rumor,” celetuknya masih setia memberikan Shalome senyuman terbaik yang dia punya.
“Saya penasaran. Anda sudah mendengar rumor apa saja tentang saya?”
“Kalau Anda penasaran. Anda harus meluangkan waktu untuk saya. Makan siang bersama, mungkin?” Keduanya tertawa bersama.
“Oh, ya. Saya juga datang mewakili Fredrickson Group's. Anda pasti terkejut. Pria setampan saya ini, datang mewakili dua perusahan besar sekaligus.”
“Jika Anda merasa tidak enak. Tolong jangan tolak ajakan saya,” lanjut pria itu setengah bercanda, karena lucu melihat ekspresi terkejut di wajah cantik Shalome.
“Hahaha .... Sepertinya saya harus mulai mempertimbangkannya,” kelakar Shalome.
“Rupanya kabar itu, juga sudah sampai ke telinga Anda. Ternyata Anda tahu lebih banyak dari kelihatannya, ya.” Pria itu pura-pura menatap curiga Shalome. Perbuatannya itu mengundang tawa lawan bicaranya.
“Saya undur diri dulu. Sudah cukup saya dicecar banyak pertanyaan dan ucapan selamat atas perjodohan yang sayangnya .... Bukan ditunjukan untuk saya,” ujar pria tampan itu pura-pura memelas. Dia memberikan senyuman terakhir sebelum meninggalkan Shalome dan berbaur dengan tamu undangan lain.
“Tuan Demian?”
Orang yang disebut namanya, terkejut. Tapi langsung mengkondisikan ekspresi wajahnya.
“Selamat malam, Nona Valkyrie. Bagaimana kabar Anda?” salam seorang pria bertubuh sedikit tambun.
“Anda datang?”
“Iya.” Pria yang merupakan direktur sebuah agensi itu tersenyum canggung.
“Saya datang mewakili artis saya,” jelasnya.
__ADS_1
Walaupun ini bukan pertama kali baginya menghadiri undangan acara besar. Tapi dia masih saja dibuat gugup. Apalagi sekarang, orang yang sedang berbicara dengannya adalah cucu tunggal pemilik Valkyrie Group's. Dia sudah panas dingin, bahkan sebelum acaranya dimulai. Entah bagaimana pria itu bisa melewati semuanya. Berada di satu atap dengan orang-orang paling berpengaruh di bidangnya masing-masing.
“Apa saya menakutkan?” tanya Shalome dengan nada humor. Dia tahu Demian sedang gugup.
“Apa? Ah!! Tidak, tidak.”
Shalome tertawa kecil melihat Demian yang bertambah gugup. Tapi tidak dengan Demian. Dia justru berkeringat dingin.
“Tuan Demian.”
“Ya.”
Demian yang tak kunjung bisa bersikap santai. Membuat sebuah ide tiba-tiba muncul di otak Shalome. Itu diketahui oleh Monica yang hanya bisa menghela nafas.
Shalome tersenyum. “Saya penasaran akan sesuatu. Boleh saya menanyakannya pada Anda?”
Demian dibuat tambah gugup, melihat senyuman Shalome.
“Apa gosip itu benar? Nona Rebecca ... wanita simpanan CEO Wenham Group's, itu benar atau tidak?”
“Tidak!” jawab cepat Demian. Dia berdehem, “maksud saya .... Mengkonfirmasi sebuah berita seperti ini, bukan tugas saya.”
Demian menunduk sedikit. “Maaf atas jawaban saya yang tidak memuaskan rasa penasaran Anda.”
“Begitu, ya. Anda beneran tidak bisa memberi saya bocoran? Sedikit saja?” bujuk Shalome.
“Maafkan saya.” Lagi-lagi Demian hanya biasa menundukkan kepala, meminta maaf. Tepatnya meminta belas kasih Shalome untuk berhenti mengoreksi informasi darinya. Walaupun Demian sekarang bisa menggunakan dalih menjaga privasi para artisnya. Sejujurnya, dia gugup setengah mati menghadapi para konglomerat yang berusaha mengorek informasi artis-artis di bawah besutan agensinya.
💕💕💕
Ace Blue Charlotte
31 Agustus 2020
__ADS_1