RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AD


__ADS_3

“Omong kosong apa yang kau katakan ini?” Di dalam hati, Shalome kesal atas respon yang Justin berikan. Tetapi, bukan Shalome namanya kalo tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Dengan tenang Shalome membebaskan diri dari pelukan Justin. “Entahlah.” Tak tahu mengapa hanya satu kata itu yang meluncur dari bibirnya.


“Jangan khawatir. Sejak awal aku tidak berharap lebih pada hubungan bisnis ini,” celetuk Shalome cepat. Shalome berusaha terlihat percaya diri di depan Justin. Dia tak ingin dikecewakan lebih dari yang sekarang ia rasakan.


Tak ada respon dari Justin. Selesai sudah, pikir Shalome. Keterdiaman Justin sudah cukup untuk dijadikan jawaban.


“Pergilah! Aku tahu ada banyak hal yang harus kau urus sekarang.” Shalome tersenyum, menyembunyikan hatinya yang hancur. Shalome berbalik, pergi meninggalkan Justin beserta harapannya akan pria tersebut.


Justin tidak mencegah kepergiannya. Menyadarkan Shalome dari angan-angan kosong yang selama ini telah dia bangun.


Beberapa hari sudah berlalu. Sejak kejadian pertengkaran terakhir, baik Shalome mau pun Justin disibukan dengan urusan masing-masing. Entah, itu bisa disebut pertengkaran yang lazim terjadi diantara pasangan. Sama sekali tak ada yang berteriak atau memaksakan kehendak. Keduanya hanya berbicara seperti biasanya, selayaknya orang normal pada umumnya. Tidak ada tuh, perdebatan saling menyalahkan atau lainnya. Satu-satunya hal yang membuat Shalome yakin menyebut kejadian tersebut sebagai pertengkaran adalah menghilangnya Justin tanpa kabar.


“Nona, jadwal makan malam Anda kosong. CEO Alexander mengirim pesan, beliau berhalangan karena mendadak ada rapat.”


Shalome menghela nafas. Sudah beberapa hari keduanya tidak bertemu. Semua janji makan malam Mereka berdua, dibatalkan secara sepihak oleh Justin. Meski setiap pembatalan pasti menyertakan alasan yang logis. Tetapi Shalome tahu, itu hanya alibi Justin untuk menghindarinya.


Jika Justin saja merasa baik-baik. Lalu kenapa justru Shalome yang terus-terusan kepikiran. Toh, semuanya akan terselesaikan dengan cepat, jika sejak awal Justin mau lebih terbuka. Masalahnya semakin berlarut-larut karena keterdiaman Justin. Bila pilihan Justin adalah diam, maka tidak ada lagi yang bisa Shalome lakukan.


“Dimana Peter?” tanya Shalome saat mendapati Derk——ajudan sang kakek. Bukannya Peter yang selalu diutus Sonny untuk melindungi dan mengawasi Shalome.


“Presdir meminta Peter melakukan sesuatu,” jelas Derk sopan.


Shalome mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencari seseorang yang dia sendiri pun ragu. Apa yang akan dia lakukan, bila bertemu nanti.


“Derk,” panggil Shalome. Jenuh dengan kesunyian di mobil. Shalome sudah terbiasa dengan kepribadian Peter yang ceroboh dan banyak berbicara. Tipikal orang yang menghidupkan suasana.


“Kau tidak nyaman?” tanya Shalome tanpa melihat ke arah Derk.


“Tidak.”


“Lalu ....” Shalome mengangkat kepalanya. Mengalihkan perhatiannya dari tab-nya. “Kenapa dari tadi, kau terus melihat ke arah luar?”


“Kita tidak tahu, kapan dan bagaimana mereka datang,” jawab tegas Derk.


“Apa kau selalu begini ketika bersama Presdir?”


“Benar,” jawab cepat Derk.

__ADS_1


Shalome menghela nafas panjang. “Rileks, 'lah!”


“Maaf, Nona. Saya tidak bisa melakukannya.” Derk mengamati dengan seksama segala hal. Kendaraan-kendaraan yang melaju di samping mobil yang mereka tumpangi. Juga tidak luput dari pengawasannya.


“Memastikan keamanan Anda adalah prioritas dari tugas saya,” terang Derk kaku, masih dalam mode siaga.


Shalome sampai rumah, bertepatan dengan waktu makan malam. “Apa kalian sudah baikan?” tanya Sonny tenang.


Shalome mengernyitkan alisnya. “Kami tidak bertengkar.”


“Lalu kenapa beberapa hari ini Justin tidak ikut makan malam?”


“Dia sibuk. Sebaiknya Grandpa tidak macam-macam padanya.”


“Bukan, 'kah kalimat itu lebih tepat untukmu,” ledek Sonny.


“Sudah-sudah! Kalian ini ....” lerai Margaret.


Selesai makan malam, Shalome langsung masuk ke dalam kamarnya. Mengecek handphonenya, siapa tahu Justin menghubunginya. Tetapi, jangankan telephone, Justin bahkan tidak mengirim pesan.


Merasa bosan dan tidak ada kegiatan, Shalome iseng membuka laman gosip dan berita. Perhatian Shalome langsung terpusat pada sebua artikel berjudul 'Wanita Idaman CEO Alexander'. Semakin di-scroll ke bawah, ekspresi Shalome tambah datar dan dingin. Terutama ketika mengenali pria di dalam foto yang dimuat di artikel tersebut.


“Kencan Romantis Bersama Mantan Tunangan berinisial G,” baca Shalome pelan.


Ketidakhadiran Justin menguatkan opini .... Baik fakta bahwa Justin masih ada kemungkinan memiliki rasa dengan wanita yang bernama Giselle.


Tuk ... tuk ....


Bunyi ketukan jari telunjuk Shalome menjadi satu-satu yang memecah kesunyian di dalam ruang kerjanya.


“Kenapa ekspresi kalian serius begitu?” seloroh Shalome pada Monica dan Derk.


Melihat Monica memandangnya cemas, sisi usil Shalome bangun. “Monica.” Shalome menatap jahil Monica.


“Ya, Nona.” Monica menelan ludahnya. Tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan apa pun yang sedang Shalome pikirkan.


Shalome menopang dagunya, membuat Monica tambah gugup. Monica tidak tahu saja, sikapnya sekarang malah


membuat Shalome semakin semangat mengganggunya. “Apa jadwalku hari ini?”

__ADS_1


“Tidak ada, 'kan.” Shalome bangkit dari kursi kebesarannya. “Ada tempat yang mau aku kunjungi.” Monica mencium sesutu yang mencurigakan.


“Kalau boleh tahu .... Nona mau kemana?”


Shalome tersenyum lebar, seketika firasat Monica tidak enak. “Membuat masalah?” jawabnya asal.


“Nona, Nona, tunggu!” cegah Monica, tetapi Shalome tetaplah Shalome. Sekali memutuskan maka tidak ada yang bisa mengubahnya.


“Kau ....” Derk melirik Shalome lewat kaca depan. “Tidak ada apa gitu yang mau kau katakan?”


“Tidak,” jawab Derk tegas. Untuk pertama kalinya, Shalome bersyukur Derk 'lah orang yang mengawalnya. Kalau Peter yang mengawalnya, pasti telinganya sudah tuli. Saking cerewet pengawalnya satu itu. Dengan tidak adanya Peter, Shalome bisa bernafas lega. Terhindar dari berbagai pertanyaan yang mungkin akan Peter ajukan.


“Kalau boleh saya berpendapat ....” Derk melanjutkan ucapannya, setelah diberi izin Shalome. “Bijaksana, 'kah pilihan Nona sekarang ini?”


“Benar. Memang Nona mau melakukan apa di sana?” Monica yang sedari tadi menekuk wajah, masih tidak setuju dengan keputusan Shalome.


“Terlebih lagi dengan bahaya———”


“Di sini, 'kan ada Derk dan kau.” Enteng Shalome. “Jangan bilang kalau nanti ada bahaya, kalian akan lari menyelamatkan diri, meninggalkan aku!?”


Derk dan Monica terdiam. Shalome tahu arti kebisuan Derk. Seberbahaya apa pun situasi yang mungkin saja nanti hadapi, Derk pasti akan mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan Shalome. Bertolak belakang dengan keterdiaman Monica. Wanita itu tak ingin dilibatkan dalam bahaya. Disaat bersamaan dia tidak bisa mengabaikan ucapan Shalome. Singkatnya, Monica terpaksa mengikuti Shalome.


“Toh, apa pun yang bakalan aku lakukan nanti ... juga tidak akan merugikan kalian.” Shalome menatap Monica. “Jadi Jangan khawatir. Aku akan bertanggung jawab penuh.”


“Sebenarnya, kalian harus berterima kasih kepadaku!” Shalome melirik Derk sebentar. Sesuai yang diharapkan. Derk bersikap tenang dan yang paling penting, tidak banyak bertanya.


Shalome mengalihkan tatapannya ke Monica. “Aku mengajak kalian menonton hal seru. Satu-satunya di dunia. Tidak ada duanya. Aku jamin kau akan menyukainya.”


Monica diam-diam mengamati perubahan air muka Shalome. Ekspresi jenaka dan tatapan jahil Shalome sudah berganti. Tatapan tajam dan dingin, ekspresi datar khasnya sudah kembali.


Shalome mulai memasang ekspresi serius. Meski tidak menginginkannya, pikirannya lagi-lagi terbang ke memori-memori yang baginya adalah sebuah gangguan. Sambil menatap ke arah luar jendela mobil, Shalome berpikir. Dia yakin, mantan tunangan berinisial G disebut dalam artikel yang semalam dia baca adalah Giselle. Orang yang Justin minta untuk dia jauhi. Jika deduksinya tepat. Bukanlah sebuah kebetulan pesan-pesan tentang Justin. Ketidaksengajaan pertemuan Shalome dengan Giselle.


Dia akan percaya, bila itu hanya terjadi sekali atau dua kali. Lalu, sikap Justin yang berubah bersamaan dengan munculnya banyak artikel yang menyinggung hubungan keduanya di masa lalu. Dengan bukti sebanyak itu, tidak mungkin bila tidak ada sesuatu diantara Justin dan Giselle. Bukannya Shalome kegeeran, dari semua deduksinya. Shalome menyimpulkan, tujuan utamanya adalah dia.


💕💕💕


Ace Blue Charlotte


23 Oktober 2020

__ADS_1


__ADS_2