RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AI


__ADS_3

Shalome berlari tak tentu arah. Dia lari sekencang yang ia bisa. Ia merasa sudah berlari jauh, tetapi suara-suara para pria yang mencarinya tetap saja terdengar jelas. Shalome berhenti sambil bersandar di dinding, menetralkan nafas. Merasa sudah tidak aman lagi, Shalome melanjutkan pelariannya. Kemana pun gadis itu pergi, tak seorang pun dia jumpai.


Di tengah kebingungan, netra Shalome menangkap punggung seorang pria. Berbekal tenaga dan kesabaran yang sudah mencapai batasnya, Shalome berlari sekuat tenaga ke arah pria tersebut.


“P-per-misi,” ucap Shalome terbata-bata.


Pria tersebut balik badan. “Ya.”


Sekilas dia mengamati penampilan Shalome dari atas ke bawah. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tekan pria itu pada akhir kalimat sambil tersenyum ramah. Shalome langsung menatap waspada pria tersebut.


“Tidak.”


“Anda yakin, Nona?” Lagi-lagi pria tersebut menekan bagian nona. Seperti ada makna lain dari balik kata nona yang dia ucapkan. Keraguan mulai memenuhi Shalome. Di sisi lain, pria itu malah menunggu dengan sabar apa yang mau dikatakan Shalome.


Merasa tak punya pilihan lain. Shalome mengabaikannya. “Tolong saya,” lirih Shalome. Kembali tubuhnya terasa tidak nyaman.


“Teman saya dipukuli———”


“Oleh mereka?”


Shalome menatap bingung pria dihadapannya. “Apa mereka yang memukuli teman Anda?” tunjukan dengan dagu.


Reflek Shalome melihat ke belakang. Di sana sudah berdiri pria-pria yang beberapa saat lalu mengkroyok Derk. Pria yang sama yang sedari tadi mencarinya.


“Kenapa?” Shalome mundur, menjauhi pria yang sebelumnya mau dia mintai tolong.


Belum sempat menjauh, pandangan Shalome kabur sampai akhirnya kegelapan menelannya. Sebelum tubuh Shalome menyentuh lantai. Pria yang tak diketahui namanya itu, menangkap Shalome yang tak sadarkan diri.


“Bereskan semuanya!!” perintahnya arogan pada pria-pria kekar tersebut.


Dia memandang wajah cantik Shalome yang nampak sedikit berantakan. Hampir seluruh wajahnya dibanjiri keringat, tetapi tak mengurangi kecantikannya. Sebelah tangannya terulur, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah ayu Shalome.


“Selera Justin memang tidak perlu diragukan lagi.” Dia tanpa jijik, membelai penuh puja pipi mulus Shalome.


“Aku penasaran .... Apa yang sedang si brengsek itu lakukan sekarang?” Pria itu menggendong Shalome ala bridal style.


Beberapa saat kemudian pria itu sampai di sebuah suite room. Dengan perlahan dia membaringkan tubuh Shalome di atas ranjang. Selesai dengan tugasnya, ia tak langsung beranjak dari atas tubuh Shalome. Dengan berani, dia mengamati wajah Shalome dari atas. Ia tersenyum miring, ketika Shalome menggeliat tak nyaman. Tangannya terulur, menyusuri sisi kanan wajah Shalome yang berkeringat. Lalu turun ke leher, kemudian ke lengan Shalome.


Kelamaan sentuhan pria tersebut berubah semakin intim dan sensual. Shalome dibuat merintih di bawah belaiannya. Nafas Shalome yang tidak teratur, menambah semangat pria itu untuk bermain lebih. Puncaknya ketika kaki Shalome yang bergerak kesana-kemari tak sengaja menyentuh sesuatu yang terlarang di bawah sana.


“Akh ....” desah tertahan pria itu.

__ADS_1


Sudah tidak tahan lagi, pria itu mulai mencumbui Shalome. Mencecap kenikmatan yang sebentar lagi akan membawanya ke langit ketujuh. Shalome masih dalam keadaan setengah sadar, merespon dengan semestinya segala sentuhan pada tubuhnya. Apalagi dengan adanya obat perangsang yang membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Mata Shalome terbuka. “Kau siapa?” tanyanya parau.


Pria itu tersenyum miring. “Penolongmu.”


“Penolong?” ulang Shalome.


Pria itu mendekatkan wajahnya, sampai hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Shalome. Untuk sesaat dia memejamkan mata, menikmati hembusan hangat nafas Shalome.


“Iya.”


Pria itu sedikit menurunkan wajahnya. “Kau membuatku gila,” celetuknya, seraya mencumbu leher jenjang Shalome.


“Akh ....” Desahan sukses lolos dari bibir Shalome. Menambah kadar libido pria tak dikenal itu. Tangannya bergerak ke belakang punggung Shalome, mencari pengait gaun. Ketika Shalome hampir dia buat telanjang ....


BRUUK


Terdengar suara keras, mirip benda jatuh. Seketika dia tersentak. Belum sempat menyadari situasi yang ada. Suara keras pintu yang dibuka paksa, menggema. Disusul dengan sebuah hadiah bogeman mengenai wajahnya. Pria itu tersungkur ke lantai. Tanpa tahu apa pun, kemudian dia mendapatkan pukulan membabi buta. Sang pelaku baru melepasnya, sesaat setelah pria itu sudah hampir tak sadarkan diri dengan wajah babak belur.


“Singkirkan sampah ini dari sini!” perintah dingin Justin. Tatapan dingin Justin setia mengikuti proses para bawahannya membereskan pria tak dikenal itu.


“Aku akan mengurusnya.” Charles menepuk punggung Justin. Charles harus mengambil langkah cepat, mengamankan pria itu. Sebelum Justin menghabisinya. Sorot matanya jelas sekali menunjukan, kalau ia belum puas menghajar pria itu.


Keesokan harinya, di ruang kerja Justin.


“Bagaimana?”


“Seperti dugaan kita,” jawab Charles seraya duduk di sofa.


“Mereka bekerjasama dengan Giselle. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Di sini, Giselle bertugas mendekati Nona Valkyrie——termasuk mengundangnya ke pesta.” Charles menatap serius Justin yang sedang menahan amarah.


Imbuh Charles, “sedikit mengejutkan, memang. Nona Valkyrie, bisa terjebak oleh trik rendahan semacam ini. Tapi di sini, kau juga ikut ambil andil dalam masalah ini.”


“Aku yakin, mereka memanfaatkan kecurigaan Nona Valkyrie padamu,” tandas Charles.


“Kau sudah menemukan dalang dibalik inside obat perangsang?” tanya Justin, mengabaikan tatapan menyalahkan Charles.


“Entahlah. Aku tidak terlalu yakin. Siapa pun bisa menjadi perlakunya,” jawab judes Charles.


Dia masih kesal, sarannya diabaikan oleh Justin. Sejak awal. Jauh sebelum terjadinya berbagai inside yang melelahkan. Dia sudah berkali-kali menyarankan Justin untuk mengatakan segalanya pada Shalome. Namun, Justin justru kekeh, tetap merahasiakan dari Shalome.

__ADS_1


“Walaupun wanita itu satu-satunya orang yang memiliki banyak kesempatan. Aku bisa jamin ... mungkin saja bukan dia pelakunya,” aku Charles enggan. Bukan karena hal lain. Selain sejak awal Charles benar-benar tidak menyukai Giselle. Dia juga tidak terima hanya karena Giselle——Justin berubah jadi lembek. Kalau Charles boleh berpendapat. Demi apa pun, Shalome seribu kali lebih baik dibandingkan Giselle.


“Jangan khawatir! Aku hanya mengatakan sesuai fakta yang ada di lapangan,” lanjut Charles cepat. Dia tak mau disalah pahami Justin lagi.


“Tetap awasi dia.” Justin tak mau memperpanjang sindiran Charles.


“Begitu kau menemukan sesuatu ....” Justin tersenyum miring. Charles berkedip dengan polosnya sambil menatap Justin.


“Kau tahu, 'kan harus melakukan apa?” Senyuman miring Justin berbalas senyuman licik Charles. Keduanya satu pemikiran.


“Jangan kasih kesempatan lagi!” Justin beranjak dari kursinya.


“Selesaikan semuanya! Kalau perlu ... jangan sisa, 'kan apa pun!” pesan terakhir Justin sebelum menghilang di balik pintu.


Di sebuah ruangan luas temaram yang penuh dengan barang-barang mewah dan mahal. Giselle duduk tenang sambil menikmati wine langka nan mahal. Walaupun dia tidak menyukai rasa dari wine itu. Dia tetap tak mau ambil pusing. Toh, kapan lagi dia bisa menikmati minuman mahal yang belum tentu bisa ia beli—— apalagi kalau gratis pula.


“Aku sudah melakukan bagianku.” Giselle meletakan gelasnya dengan anggun.


“Masalahnya, bukan terletak pada rencana kita. Tetapi ....” Giselle menatap berani pria tampan yang duduk di depannya.


“Salahkan orang-orangmu yang terlambat menemukan Tuan Putri.”


Rekan tak resmi Giselle menggemertakan gigi. Dia ingat betul, bagaimana Justin menghancurkan kesenangan yang hampir saja dia dapat. Di wajahnya masih menyisakan jejak kenangan pemberian Justin.


“Harus aku, akui Justin pandai menghargai keindahan seorang wanita,” ujarnya seraya tersebut mesum. Dia juga masih ingat betul, kulit halus Shalome yang sempat dia belai.


“Saat bibir wanita itu, mengeluarkan desahan dan rintihan rendah. Kira-kira bagaimana kalau bibir sexy itu mendesah dan merintih keras di bawah tindihan tubuhku?”


“Akh!!! Sial, aku bisa gila!! Bagaimana pun caranya. Aku harus memilikinya!” pekiknya. Hanya membayangkannya saja, miliknya sudah mengeras.


Giselle memutar bola matanya. Dia tidak mau ikut campur dengan apa pun yang akan pria gila itu lakukan nanti. Satu-satunya alasan dia mau bekerjasama dengan pria itu. Semata hanya demi uang, tidak lebih.


“Akan kuberikan kamu, sekali lagi kesempatan untuk mendapatkannya. Tapi aku juga punya syarat ....”


“Dasar wanita murahan!?” kekeh pria itu.


“Selama aku bisa mendapatkan wanita milik Justin. Tidak peduli berapa pun jumlah uang yang kau inginkan. Pasti akan kuberikan,” janjinya.


“Setuju,” sepakat Giselle.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


03 November 2020


__ADS_2