RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AH


__ADS_3

Kaya orang keserupan, Justin masuk ke setiap kamar. Mengecek satu persatu kamar tanpa terkecuali. Namun sebanyak kamar yang dia masuki dan periksa. Sebanyak itu pula dia harus menelan pil pahit. Orang yang dia cari sampai hampir gila rasanya, tak kunjung ditemukan.


“Shalome!” teriak Justin begitu membuka pintu kamar.


“Shalome!” Berlanjut ke bagian dalam sampai kamar mandi, tak luput dari pemeriksaan Justin.


Lalu beralih ke kamar lain. “Shalome!” panggil Justin untuk kesekian kalinya. Sama persis sepertinya yang dia lakukan sebelumnya. Justin mengecek setiap sudut kamar demi untuk menemukan sosok yang dia cari.


Tiga puluh menit sudah berlalu. Tetapi Shalome masih belum berhasil ditemukan. Jangankan ditemukan, sampai sekarang pun keberadaan wanita cantik itu masih belum diketahui.


BRAAKKK


Charles datang dengan nafas terengah-engah. “Justin!”


“Ketemu!?” Seketika Justin berhenti bergerak.


Justin dan Charles berlarian dikoridor Hotel J.A. Tepatnya, Charles sedang berlari mengejar Justin. Mengabaikan Charles yang tertinggal jauh di belakang. Justin tetap lari secepat yang ia bisa. Setelah Charles buru-buru datang dan memberitahunya. Pikiran buruk langsung memenuhi otaknya. Bahkan beberapa kali panggilan Charles, Justin abaikan. Satu-satunya, prioritasnya adalah secepatnya menemukan Shalome.


Sesampainya di lobby, tubuh Justin kaku. Mendapati adanya sebuah ambulance. Seketika dirinya dirasuki ketakutan yang teramat. Suara sirine semaki terdengar jelas saat Justin mendekati kerumuman. Sesuatu yang menjadi kerumunan itu tak lain adalah Derk.


Berbagai pikiran buruk terlintas di benak Justin, mendapati kondisi Derk yang bersimpah darah. Setelah mengumpulkan keberanian dan kerasionalannya.


Justin mendekati Derk dan menanyakan pertanyaan yang sejak tadi sangat gatal mau dia lontarkan pada pria yang terbaring lemah di tandu tersebut. Dalam kondisi setengah sadar, Derk menggerakkan tangannya. Seolah-olah mengenali sosok Justin yang berdiri di hadapannya.


“Dimana Shalome?”


Mendengar pertanyaan Justin. Mata Derk membulat, seakan-akan tersadar telah melupakan sesuatu yang amat penting. Derk mulai meronta, sampai petugas medis dibuat kualahan menenangkannya.


“Tenang, 'lah. Jangan banyak bergerak! Kau terluka,” ucap Justin menenangkan dengan kewarasan yang ia jaga agar tetap berada di tempatnya.


“No-nona,” lirihnya. Justin menyimak dengan seksama ucapan tak jelas Derk.


“No-no ... na ....” Suara Derk amat pelan, tak terdengar sedikit pun. Selain kata nona, tak ada lagi yang bisa Justin pahami dari ucapan Derk.


“Maaf, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit agar cepat mendapat penanganan,” ucap seorang petugas medis.


Justin semakin frustasi. Dia tidak dapat memahami apa pun selain kata nona yang merujuk pada Shalome. Rasanya Justin ingin mendesak Derk agar segera mengatakan dimana keberadaan Shalome. Tapi melihat kondisi Derk yang tidak memungkinkan.


Tidak hanya Justin yang frustasi setengah mati. Derk pun sama frustasinya. Bahkan dia sampai mencoba bangkit. Merasa kondisi Derk sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditanyai perihal keberadaan Shalome. Dengan perasaan campur aduk, Justin mengangguk. Memberi isyarat pada petugas medis untuk segera membawa Derk ke rumah sakit.


“Na ... No-no ... na ....” Suara Derk yang sudah pelan sejak awal semakin tak terdengar ketika tubuhnya dibawa menjauh menggunakan tandu.


“Nona ... le ....”

__ADS_1


“Tunggu!” cegah Justin. Dengan cepat dia mendekati Derk. Dia yakin betul telinganya menangkap kata lain. Kembali Justin mendengar dengan seksama ucapan Derk. Justin juga mengamati gerak pria tersebut.


“Justin,” panggil Charles pelan. Setelah ambulance yang membawa Derk pergi, Justin masih terpaku di tempat sembari bergumam tak jelas.


“Giselle,” ulang Justin setengah sadar. Entah kerasukan apa, tiba-tiba muncul pikiran tentang sosok mantan tunangan yang sudah mengkhianatinya itu.


“Ha, apa!?”


“Giselle,” tekan Justin dingin. Ekspresi frustasi persis orang yang kehilangan semangat hidupnya. Digantikan ekspresi marah dan tatapan penuh dendam.


“Jadi ini perbuatanmu!? Maka akan kuberikan padamu neraka sesungguhnya,” ujar Justin sarat akan kebencian.


Satu jam sebelumnya.


Setelah melakukan transaksi dengan Giselle. Kini gadis itu tengah berjalan berduan dengan Derk. Di sepanjang lorong tidak terlihat satu pun orang selain mereka berdua.


“Nona?” Derk menatap Shalome penasaran karena dia tiba-tiba berhenti.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Shalome seraya melanjutkan langkah kakinya.


Sesampainya di dalam lift pun, kesunyian lebih mendominasi diantara keduanya. Tangan Shalome bertopang pada dinding lift. Dia merasa ada yang salah dengan tubuhnya.


“Nona, Anda baik-baik saja?” tanya Derk, berhasil menyadari keanehan dari Shalome.


“Tidak.”


“Derk.” Nafas Shalome mulai memburu. “Siapkan mobil!” perintahnya seraya menegakan kepalanya karena sebentar lagi pintu lift terbuka.


“Baik, Nona.”


Di bawah naungan langit malam, Shalome berjalan hanya dengan ditemani Derk seorang. Cukup jauh, jarak yang harus mereka tempuh untuk sampai ke lobby. Tempat dimana sebuah mobil sudah Derk atur untuk sang nona. Walaupun suhu AC ruangan rendah, Shalome tetap dibanjiri keringat. Bahkan ketika melewati jalan terbuka dan taman kecil yang berada area outdoor, Shalome tetap merasa kepanasan. Padahal bagi orang lain sudah dipastikan menggigil kedinginan dengan suhu luar.


Shalome menyeka dahinya untuk kesekian kalinya. “Kenapa di sini panas banget, sih!?”


Derk heran dengan ucapan Shalome. Padahal dia merasa udara cenderung dingin. Tadinya dia berpikir, nonanya akan kedinginan karena pakaian kurang bahan yang dikenakannya.


“Mau saya carikan tisu atau sapu tangan?” tawar Derk setelah melihat Shalome yang banjir keringat.


“Tidak perlu,” tolak Shalome langsung.


“Apa Anda baik-baik saja?” Derk khawatir karena suara nafas Shalome yang terdengar memburu. Sedari tadi, nonanya juga terus bergerak gelisah.


“Ya,” jawab Shalome sedikit tidak yakin. Pikirkan Shalome terlihat sedang berada di dunia lain. Derk ingin bertanya lebih, tetapi dia urungkan. Derk merasa aneh. Suasana hotel yang amat sepi dan tenang, mengganggunya.

__ADS_1


Shalome mendadak berhenti lagi. Dia menggigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu dalam tubuhnya yang mendesak meminta dikeluarkan.


“Nona!?” Derk langsung menopang tubuh Shalome. Mencegah gadis itu terjatuh.


“Aku baik-baik saja.” Shalome berusaha berdiri tegak dan kembali berjalan. Tetapi tubuhnya mengkhianatinya. Tubuhnya sempoyongan. Jalannya juga tidak lurus. Jika gerak reflek Derk tidak cepat, pasti Shalome sudah jatuh.


“Nona mau istirahat du———”


“Shalome Valkyrie?” tanya seorang pria.


Derk menatap waspada pria tak dikenal tersebut.


“Shalome Valkyrie?” tanya pria tersebut untuk kedua kalinya.


“Nona, mari,” ajak Derk, mengabaikan pertanyaan pria dihadapannya.


“Tunggu!” Hadang pria tersebut. Derk menatap dingin pria tersebut. Dia melirik Shalome dan menghembuskan nafas. Seraya kembali menuntun Shalome, berniat pergi. Namun lagi-lagi jalan mereka dihadang.


“Kau tuli, ya!?” Muncul beberapa pria lagi. Ikutan menghalangi jalan Derk dan Shalome.


“Nona tunggu di sini sebentar. Saya akan mengurus mereka.” Derk tahu kalau pria-pria tak dikenal yang tiba-tiba menghadang mereka tanpa sebab itu. Tidak akan membiarkan dia dan nona-nya pergi begitu saja.


Shalome yang sudah kehilangan setengah kesadarannya, hanya mengangguk pasrah. Berusaha keras menjaga keseimbangannya, di tengah kesadaran yang semakin menipis.


“Mau kemana, Bung?” Seorang pria menahan bahu Derk. Mencegah dia untuk semakin mendekat.


Tanpa ragu Derk langsung memegang tangan pria tersebut dan membanting dengan keras ke lantai. Perkelahian pun tak terelakan lagi.


Firasat Shalome sudah tidak enak. Benar saja, selang beberapa waktu sejak kedatangan beberapa pria yang tiba-tiba menghadang mereka. Samar-samar, Shalome melihat Derk berkelahi dengan pria-pria tak dikenal itu.


Sial, Shalome mengumpat dalam hati. Sadar bahwa ia tidak membawa handphone atau apa pun yang bisa digunakan.


Shalome melihat Derk mulai kualahan. Setiap kali Derk berhasil menjatuhkan seorang pria, muncul pria lain membantu——menyerang Derk balik. Derk semakin terdesak. Dia hanya seorang diri dan harus melawan tujuh sampai sepuluh pria disatu waktu. Sehebat apa pun Derk, dia pasti akan mencapai batasnya juga.


Shalome sadar dia harus segera pergi dari sana. Entah itu untuk menyelamatkan dirinya atau mencari bantuan. Belum juga melaksanakan niatnya. Shalome merasakan tubuhnya semakin tidak nyaman. Dia merasa kepanasan dan kesadarannya perlahan semakin terengut.


“NONA!!” Teriakan Derk menyadarkan Shalome.


“NONA, LARI!!” Teriakan Derk menggema. Derk berjuang, sampai titik darah penghabisan. Mencegah para pria tak dikenal itu mendekati Shalome.


“LARI! Jangan lihat ke belakang!” Derk tersungkur ke lantai karena pukulan dari pria bertubuh besar.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


01 November 2020


__ADS_2