RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter S


__ADS_3


Seusai pesta dan acara amal tahunan Valkyrie Group's, Shalome kembali ke rutinitasnya. Dia benar-benar dibuat sibuk dengan berbagai urusan perusahan. Apalagi sekarang, dia harus segera menyelesaikan masalah yang terjadi di rapat rutin pemegang saham utama Valkyrie Group's.


“Nona,” panggil Monica. Wanita itu masuk sambil menenteng sebuah buket bunga mawar merah. Tanpa basa-basi menaruh buket tersebut di depan Shalome. Lalu dia dengan santainya membacakan semua jadwal Shalome selama seminggu.


“Anda memiliki janji makan malam bersama Presdir dan Tuan Alexander di———”


“Lagi?” potong Shalome. Monica hanya tersenyum.


“Batalkan saja!” tegasnya.


“Presdir berpesan, kalau Anda tidak datang. Posisi Anda di perusahaan akan diturunkan.”


“Bagus, 'lah.”


“Setidaknya aku tidak perlu lagi berurusan dengan para pemegang saham utama kolot itu,” imbuh Shalome.


Tidak! Monica ingin rasanya berteriak tidak, sekencang mungkin. Bagaimana bisa Shalome pergi begitu saja tanpa menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Sebenarnya, Monica juga tidak ingin menekan Shalome. Tapi mau dikata apa. Atasan sebenarnya adalah Sonny. Dia 'lah yang memperkerjakan Monica sebagai asisten pribadi cucunya.


“Nona, bisakah Anda jadi orang yang memperkerjakan saya,” gumam Monica. Sadar akan situasi, Monica berdehem. Menata ulang suasana hatinya yang sempat dilema sesaat.


“Presdir juga berpesan lagi. Bila ancaman pertama tidak berhasil. Beliau bilang ... Anda harus keluar dari rumah.”

__ADS_1


“Tidak masalah. Aku tidak kekurangan uang untuk membeli rumah,” komentar cuek Shalome seraya fokus memeriksa sebuah berkas.


“Jika ancaman ini juga tidak berhasil. Presdir menyuruh saya untuk menyampaikan kepada Anda. Semua fasilitasi Anda akan dita———”


“Okey. Bukan masalah, tuh,” celetuk Shalome.


“Aku juga tak semiskin itu. Sampai tidak bisa bertahan hidup tanpa sokongan darinya,” lanjut Shalome enteng.


“Presdir bilang, Anda bisa segera mengurus cabang di luar negeri. Semua tugas Anda di sini akan———”


“Baik, 'lah. Kapan aku bisa berangkat?” jawab tenang Shalome.


Sunyi. Monica terdiam. Dia tertengun, semua ancaman yang dia sampaikan ditanggapi dengan tenang oleh Shalome. Bahkan dia cenderung tak menganggap penting semua ancaman tersebut.


Tak ada sahutan dari Monica. Itu membuat Shalome semakin di atas angin. “Tidak mungkin Presdir cuma ingin kamu menyampaikan beberapa pesan ancaman itu. Bukan, 'kah terlalu sedikit?”


Tepat. Masih ada. Monica belum menyampaikan semuanya. Tapi, kini justru dirinya yang tidak tenang. Setelah serangan yang dia lancarkan tak memberi dampak apa pun.


“Sejauh aku mengenalnya. Dan selama dua puluh tahun lebih aku menjadi cucunya. Beliau bukan orang yang semurah hati, itu,” sambung Shalome, masih dengan ketenangan yang sama.


Monica tahu dan sangat yakin. Sekali pun Shalome, tidak didukung Valkyrie Group's. Dia masih bisa bertahan hidup. Karena Shalome adalah seorang yang jenius dan berbakat.


Monica tanpa sadar menghela nafas. Dadanya berdegup kencang. Dia siap menyampaikan pesan terakhir yang dia terima dari Sonny. Sekaligus serangan terakhirnya. Entah itu akan berhasil atau tidak. Dia hanya menjalankan tugas.

__ADS_1


“Presdir bilang, bila Anda masih tidak datang. Nama Anda akan dicoret dari kartu keluarga.” Bersamaan dengan itu, gerakan tangan Shalome yang sedang menandatangani sebuah berkas ikut terhenti.


Setelah Monica selesai berbicara, Shalome masih diam. Membuat Monica berpikir dan yakin serangan terakhir pun tidak berhasil.


“Sampai segitunya,” gumam marah Shalome.


Shalome mengangkat wajahnya. “Siapa dia? Apa istimewanya orang itu?” marahnya.


“Ah!?” Monica buru-buru mengendalikan ekspresi wajahnya.


“Soal itu, Anda bisa menanyakan langsung pada Presdir nanti atau .... Mencari tahu sendiri saat kalian makan malam bersama.” Dalam hati Monica bersorak heboh. Dia benar-benar tidak percaya baru saja melihat ekspresi marah Shalome yang sangat langka.


“Aku akan mengurusmu nanti.” Shalome menutup kasar map berkas yang sedang dia pegang. Lalu beranjak dari duduknya dan menyambar buket bunga yang tadi dibawa Monica.


“Nona, Anda mau pergi kemana?” tanya Monica ketika Shalome berjalan ke arah pintu.


“Siap-siap.” Shalome berbalik. “Aku akan bertemu orang penting. Bukan, 'kah aku harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dan memberi kesan baik dipertemukan pertama kami.”


Monica melihat kepergian Shalome. Dia juga bisa melihat dari tempatnya berdiri sekarang. Lagi-lagi Shalome membuang begitu saja buket bunga mawar yang cantik dan mahal ke tempat sampah. Seakan itu tidak ada harganya.


💕💕💕


Ace Blue Charlotte

__ADS_1


10 September 2020


__ADS_2