
“Tiga persen———”
“Lima ... Tidak! Tujuh. Berikan tujuh persen saham Valkyrie Group's padaku,” tawar Shalome percaya diri.
“Bagaimana?” Shalome menopang dagunya.
“Hitung-hitung sebagai hadiah pernikahan. Aku lebih suka dibayar dimuka.” Shalome tahu betul, watak Sonny. Pertunangan sudah diputuskan. Urusan pernikahan, hanya tinggal menunggu waktu saja. Jika tidak bisa meloloskan diri. Lebih baik, menikmatinya saja. Sembari meraup keuntungan sebanyak mungkin.
“Kau akan mendapatkannya,” putus Sonny.
“Bagus. Ternyata Presdir———” potong Sonny.
“Sampai kapan?”
Sonny balas menatap wajah cantik cucunya. “Berhenti memanggilku, Presdir!”
Shalome tersenyum bisnis. “Aduh .... Anda menempatkan saya pada situasi yang sulit rupanya ....”
“Jika Daddy-mu, melihat kamu sekarang. Dia pasti kecewa,” ujar sendu Margaret.
Tangan Shalome terkepal. “Kecewa?” kekeh Shalome. “Kalau Daddy, sekarang berada di sini. Aku yakin dia akan membelaku.”
“Shalome,” panggil Margaret.
“Jangan pikir aku akan seperti Daddy.” Shalome berdiri.
“Karena Mommy sudah memilih untuk berpihak pada siapa. Aku harap Mommy tidak menyesalinya,” tambahnya, kemudian ia pergi tanpa melihat ke belakang.
“Shalome,” lirih Margaret sambil melihat punggung putrinya yang menjauh.
__ADS_1
Sudah genap dua hari, Shalome dikurung di rumah. Tak diperbolehkan pergi kemana-mana. Shalome menghabiskan hari-harinya seperti biasanya, tak ada yang spesial. Dilihat dari luar, tak ada orang yang menyangka. Bahwa dara cantik itu sedang dalam masa kurungan di rumahnya sendiri. Lebih parahnya lagi, dia dikurung oleh kakeknya sendiri. Tetapi, bukan itu yang membuat mood-nya buruk. Melainkan pria tampan yang sekarang tengah duduk di hadapannya.
Beberapa menit lalu, Shalome menikmati waktu bersantainya. Ia sedang bersantai dengan nyaman di dekat kolam sambil membaca buku di bawah langit sore. Sekarang dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Itu karena Shalome tidak memiliki kegiatan lain yang bisa ia lakukan di rumah.
Tak jauh dari sana. Sepasang mata tajam mengamati Shalome yang tenang dengan buku di pangkuannya. Sesekali angin menyapu anak rambutnya. Menyaksikan pemandangan indah secara live. Membuat siapa pun ingin berlama-lama menikmati pemandangan yang memanjakan mata tersebut. Begitu pun dengan Justin.
Shalome bukan tidak menyadari keberadaan Justin. Dia sudah menyadari kehadirannya atau apa yang sedang pria tampan itu lakukan. Tapi Shalome mengabaikannya. Tak mau ambil pusing. Merasa jengkel terus-terusan diabaikan, Justin memutuskan untuk mendekati Shalome.
“Dua hari, kita tidak bertemu. Tetapi, kau semakin terlihat cantik,” puji Justin. Dia dengan tak tahu malunya, menampakan dirinya di depan Shalome. Mengabaikan peringatan Shalome tempo hari.
Justin tanpa permisi, duduk di depan Shalome. “Aku setengah mati merindukanmu. Tetapi, sepertinya tidak denganmu.”
“Ini pertama kalinya, aku diabaikan seperti ini,” tutur Justin setelah Shalome tidak mengatakan apa pun. Jangankan bersuara, sedikit pun Shalome tidak melirik Justin.
“Kata orang .... Wajah tampanku, magnet untuk menarik para wanita.”
“Itu karena mata mereka bermasalah.”
“Wah .... Baru kali ini aku bertemu orang sejujur kamu.” Justin masih tersenyum. Tidak tersinggung dengan apa yang Shalome katakan.
“Bawa kembali semua yang kau bawa tadi!” pesan Shalome, sebelum masuk ke dalam rumah.
Imbuh Shalome, “sisanya, aku akan meminta seseorang untuk mengirimnya.”
Justin menatap punggung Shalome. Semakin gadis itu menjaga jarak darinya. Keinginan Justin untuk memilikinya semakin bertambah besar. Justin tak memungkiri lagi, perasaannya. Dia sudah yakin untuk menjadikan pewaris tunggal Valkyrie Group's itu sebagai wanitanya. Cepat atau lambat, dia yakin bisa memiliki Shalome.
“Gagal lagi,” gumam Justin.
Malam pun tiba. Meja makan yang biasanya hanya diisi tiga orang, malam ini bertambah satu penghuni baru. Pemandangan Sonny yang ngobrol akrab dengan Justin. Sekarang bukan hal yang mengejutkan lagi bagi Shalome. Sejak dia dikurung, Justin rutin datang ke rumah menemui sang kakek. Entah ada urusan apa. Shalome tidak mempunyai niat untuk mengetahuinya.
“Sering-seringlah main ke rumah,” ucap Margaret lembut.
__ADS_1
“Baik, Tante,” jawab Justin cepat. Tak menyembunyikan raut kebahagiaannya.
Jarang-jarang mommy-nya yang biasanya bersikap anggun dan tenang, perhatian ke orang lain. Sikap grandpa-nya juga berbeda dari biasanya. Sonny yang terkenal sulit mengakui kemampuan seseorang. Kini menjelma jadi penjilat yang handal. Dia tak malu memuji atau mengatakan kata-kata manis kepada Justin.
“Jangan sungkan-sungkan!” Sonny melirik Shalome sekilas. “Sebentar lagi, kita juga akan menjadi keluarga,” ujar Sonny.
Shalome memilih diam, tak berkomentar. Juga tak berniat ikut masuk ke dalam lingkaran hubungan yang telah ketiganya bangun. Toh, dimata Shalome. Dirinya tak lebih dari aset investasi sang kakek demi mempertahankan kejayaan Valkyrie Group's. Yang selalu digembor-gemborkan, bakal diwariskan padanya.
“Apa makanan kesukaanmu? Katakan saja, semua makanan kau sukai! Supaya koki bisa menyiapkannya untukmu.”
“Ah, tidak perlu,” tolak Justin halus.
Shalome masih tetap makan dengan tenang. Kontras dengan sikapnya beberapa hari lalu. Keengganan Shalome untuk tak mau berurusan dengan Justin sampai membuat wanita cantik itu, mengambil langkah tegas. Pemutusan secara sepihak semua kerjasama diantara Valkyrie Group's dan Alexander Corporation's. Sampai rencana kabur ke luar negeri. Tetapi, sayangnya tak berjalan mulus. Sonny sudah mencium rencana sang cucu dan berhasil membawa Shalome kembali ke rumah dengan cara paksa.
“Saya sudah senang bisa makan malam bersama Anda sekeluarga.” Lagi-lagi Justin curi-curi pandang ke arah Shalome.
“Baiklah. Mulai sekarang, kau harus sering-sering datang. Kita makan malam bersama lagi, seperti ini.” Justin memang sedang berbincang dengan Sonny, tapi matanya melihat ke arah lain.
Shalome penasaran sekaligus heran. Apa yang sudah Justin lakukan. Sampai Sonny memperlakukannya dengan sangat baik.
“Benar. Dengan adanya kamu, suasana di meja makan pasti akan lebih hidup,” ujar Margaret, mendukung Sonny.
Shalome mengangkat wajahnya. Dia menyipitkan matanya, menatap Justin tak suka. Justin yang nyaman-nyaman saja meski ada seseorang yang terang-terangan tidak menyukai keberadaannya. Pandangan keduanya bertemu, Justin tersenyum tapi tidak dengan Shalome. Sikap dingin Shalome, tak semerta-merta bisa membuat Justin merasa tidak nyaman. Dengan isengnya, Justin mengerlingkan sebelah matanya. Justin terkekeh kecil saat Shalome mendengus.
Setelah itu, Justin dengan sengaja menjilat sensual bibirnya dan sukses mendapatkan pelototan dari Shalome. Justin benar-benar mendapatkan kesenangan tersendiri ketika mengganggu wanita dingin yang cantik itu. Wanita yang sudah mencuri hatinya. Shalome baru memutuskan kontak mata diantara mereka, ketika Justin tersenyum miring padanya. Lengkap dengan tatapan menginginkan.
“Terima kasih atas undangan.” Justin tetap melihat ke arah Shalome. “Tapi, takutnya kehadiran saya membuat seseorang tidak nyaman,” celetuk Justin, merasa tidak enak hati. Tentu saja itu tidak benar adanya.
“Syukurlah.” Justin tersenyum menang.
💕💕💕
__ADS_1
Ace Blue Charlotte
04 Oktober 2020