
Charles mengalah. “Oh ya, Aku sudah melakukan apa yang kamu suruh. Dan aku tidak menemukan informasi apa pun yang berhubungan dengan wanita itu.” Charles menatap Justin dengan tatapan tanpa dosa. Seketika Justin mendengus. Sia-sia tadi dia merasa antusias.
“Yang jelas dia bukan seorang wanita panggilan dan juga bukan pegawai club.” Meski terlihat cuek. Diam-diam Justin menyimak semua penjelasan Charles.
“Berdasarkan uji laboratorium, di tubuhnya ditemukan obat perangsang dan obat tidur dalam dosis tinggi.” Seperti yang sudah Justin duga sebelumnya.
“Bagaimana dengan si brengsek itu?” tanya Justin dingin. Mood pria itu mendadak buruk ketika mengingatnya perlakuan kejam pria gila yang ditemukan bersama wanita asing itu.
“Aku masih menunggu laporan rinci dari anak buahku. Tapi aku menemukan tanda kalau dia adalah orang bayaran dan ....” Charles menggantung perkataannya.
“Satu jam yang lalu dia ditemukan meninggal. Sepertinya dia lebih memilih bunuh diri daripada membocorkan informasi pada orang-orang kita.”
Mentari mengintip malu-malu di ufuk timur. Sedari tadi Justin sudah sibuk di dapur. Dia sedang membuat sarapan. Pria itu semalam tak bisa tidur. Otaknya penuh dengan berbagai masalah. Mulai dari rencana untuk menangkap basah sang tunangan yang tidak berjalan mulus. Sampai misteri tentang wanita asing yang dia tolong.
Justin bergerak lincah. Kesibukan dan image-nya, tak membuat dia canggung berada di dapur. Justin merupakan pembisnis yang punya banyak relasi baik itu sebagai seorang bisnisman maupun dunia gelap. Ya, Justin tak akan ragu-ragu untuk berurusan dengan dunia terkutuk itu bila dirasa masalah yang dia hadapi, tak bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Tapi pagi indah Justin tiba-tiba hancur.
BRUKK
__ADS_1
Beberapa pria kekar lengkap dengan setelan jas hitam, mendobrak masuk.
“Angkat tangan!” teriak salah satu dari mereka. Tanpa perlawanan, Justin mengikuti intruksi orang-orang asing itu. Justin menatap nanar pintu rumahnya yang hancur berkeping-keping, seraya membiarkan salah satu pria menggeledah tubuhnya.
“Aman!” teriak seorang pria yang bertugas memeriksa kemungkinan adanya senjata yang Justin sembunyikan.
“Cari Nona Muda! Geledah semua ruangan!” perintah tegas seorang pria yang merupakan pemimpin.
“Siap!!” teriak serempak pria-pria itu. Lalu ketika semuanya sudah siap melakukan tugas.
“Peter, tidak perlu! Aku sudah di sini.” Suara lembut seorang wanita berhasil mengalihkan pandangan semua orang.
Justin terpaku di tempat. Wajah wanita asing itu memang sangat cantik. Apalagi sekarang terlihat lebih segar. Tidak sepucat seperti semalam. Ketika dia menemukan wanita itu terbaring tak berdaya di salah satu kamar suite di club malam kemarin. Ah, mengingat kejadian itu, mood Justin kembali buruk.
Tanpa diduga wanita asing itu berjalan mendekati Justin yang masih dalam posisi setengah badan menempel di meja makan dengan keadaan kedua tangan yang ditahan ke belakang oleh salah satu pria berjas hitam. Begitu wanita itu berdiri di seberang meja makan, cengkeraman di tangan Justin dilepas. Setelah mendapat anggukan dari wanita itu. Otomatis Justin tanpa membuang waktu, berdiri dari posisi yang tidak nyaman itu.
“Ehem ehem!! Terima kasih atas kebaikan Tuan. Sebagai ungkapan terima kasih. Majikan saya bersedia memberikan apa pun yang Anda minta,” ucap Peter sopan, 180° berbeda dengan tatapan sangar pria itu beberapa menit lalu.
“Uang, emas, rumah ....”
__ADS_1
“Tapi, aku tidak menginginkan semua itu, deh.” Meski terlihat tenang. Justin menatapan tajam Peter.
Ternyata pria itu masih kesal atas perilaku bar-bar Peter dan anak buahnya yang dengan seenaknya menerobos masuk rumahnya sampai pintunya juga ikut jadi korban.
“Jika majikan Anda sekaya itu. Lebih baik suruh majikan Anda itu untuk memberikan pendidikan sopan santun pada bawahanya. Supaya lain kali kalau mau bertamu ke rumah orang lain itu. Ketuk pintu terlebih dahulu.” Peter yang tahu kalau Justin tengah menyindirnya berhasil dibuat kikuk. Tadi Peter begitu mengkhawatirkan majikannya sampai tak pikiran panjang.
“Saya meminta maaf mewakili orang-orang saya,” lerai wanita asing itu.
“Terima kasih, atas saran Anda. Saya akan pastikan mereka mendapatkan pendidikan sopan santun.” Wanita asing itu melirik Peter sejenak.
“Lalu ....” ucapnya lagi seraya menyodorkan tangan kirinya pada Peter. Paham akan hal itu, dengan cepat Peter meletakan sesuatu pada telapak tangan wanita.
“Jika sudah tahu, apa yang Anda inginkan. Sebagai tanda terima kasih, karena sudah menolong saya. Anda bisa menghubungi nomor di kartu nama ini.” Wanita asing itu mendorong sebuah kartu nama berwarna putih ke arah Justin.
💕💕💕
Ace Blue Charlotte
25 Agustus 2020
__ADS_1